Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Sarwo Edhie Wibowo Perintis Orde Baru yang Tersisih

Nama Sarwo Edhie Wibowo tidak terlalu berarti apa-apa bagi kebanyakan orang sampai sebelum peristiwa kudeta Gerakan 30 September 1965. Namanya menjadi begitu dikenal ketika dia dengan kedudukan strategis sebagai Komandan RPKAD, melalui momentun yang tepat berhasil melumpuhkan markas Gestapu di Halim, dan mengeliminasi PKI di Jawa Tengah. Sarwo Edhie Wibowo mempunyai sikap tanpa kompromi dalam mempertahankan prinsip-prinsip sehingga menjauh dirinya dari pusat kekuasaaan. Sebagai Komandan RPKAD yang terlalu keras dalam menurunkan Presiden Soekarno dari kursi kekuasaannya sehingga Sarwo Edhie Wiwobo harus berpindah tempat jauh dari Jakarta. Sebagai Pangdam Bukit Barisan sikap Sarwo Edhie Wibowo yang ingin membubarkan PNI karena dianggap menganut ajaran Marxisme dan dekat dengan Presiden Soekarno, karena pilihannya itu Sarwo Edhie Wibowo harus berpindah tempat jauh di ujung Timur Indonesia Keberhasilan Sarwo Edhie Wibowo memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Irian Jaya) ternyata hanya mengantar Sarwo Edhie Wibowo menjadi Gubernur AKABRI Umum dan Darat. Sebuah jabatan tanpa memiliki pasukan  dan tanpa ada alasan yang bisa diketahui dengan pasti, Sarwo Edhie mengundurkan diri sebelum Indonesia diguncang dengan Persitiwa Lima Belas Januari 1974. Sejak itu Sarwo Edhie Wibowo tidak pernah terlibat dalam dunia militer dan perjalanan kariernya lebih banyak dihabiskan dalam Kekaryaan. Ketika Sarwo Edhie Wibowo menjadi calon anggota DPR mewakili Golkar daereh pemilihan Jakarta dengan nomor urut 1 pada tahun 1987. Ada dugaan kalau Sarwo Edhie Wibowo akan menjadi orang nomor satu dalam lembaga legislatif tersebut. Ternyata dugaan tersebut meleset, Sarwo Edhie Wibowo malahan mengundurkan diri dari DPR yang baru disandang belum sampai tujuh bulan. Perjalanan waktu  telah memperlihatkan bahwa semakin jauhnya dari peristiwa yang menyebabkan nama Sarwo Edhie Wibowo menjadi sedemikian terkenal, posisi Sarwo Edhie Wibowo selanjutnya, banyak dinilai orang, tidak sepandan dengan jasa yang dimiklikinya. Tulisan ini sendiri  menyoroti sumbangan Sarwo Edhie Wibowo dalam ikut menegakkan Orde Baru.

 

 

Berawal dari  Purworejo

Sarwo Edhie Wibwo, lahir di Purworedjo, Jawa Tengah, Sabtu Pon 25 Juli 1925. Ia anak bungsu dari empat bersaudara keluarga R. Kartowilogo, kepala rumah gadai di  Zaman Belanda. Pekerjan ayahnya adalah gambaran ideal bagi Sarwo Edhie Wibowo, model seorang pegawai negeri. Namun cita-cita itu kandas, setelah Sarwo Edhie yang doyan membaca mulai terpesona akan kemampuan serdadu Jepang mengalahkan Rusia di Manchuria. Juga karena melihat kenyataan bahwa pasukan Jepang menggulung serdadu serdadu Belanda yang menduduki Nusantara. Oleh karena itu, Sarwo Edhie Wibowo setelah tamat MULO mohon izin pada ibunya R.A. Sutini Kartowilogo untuk menjadi Heiho (pembantu tentara). Ibunya menangis, karena dia merupakan anak bungsu dan gambaran tentang militer ketika itu, mabuk-mabukan, kasar, tinggal di tangsi dan anak-anaknya tinggal di kolong ranjang. Ketika Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk dididik menjadi Heiho, selama beberapa hari ibunda tercinta menangis.[1]

 

Di asrama, Sarwo Edhie hanya memotong rumput, membersihkan WC dan mengatur tempat tidur tentara Jepang. Ia nyaris keluar. Tiga bulan di sana, ajudan Kohara Butai membawa Sarwo Edhie ke Magelang untuk mengikuti latihan calon bintara Pembela Tanah Air. Belum selesai dididik di sana, ia diboyong ke Bogor buat megikuti latihan sebagai calon perwira. Ternyata Sarwo Edhie memang berbakat. Ia menjadi salah satu lulusan Shodancho (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Ketika dia kembali ke Purwokerto, ibunya merasa senang, karena anaknya menjadi seorang tentara yang terhormat dan gagah.[2]

 

Kemampuan militer Sarwo Edhie diuji, setelah Jepang kalah perang melawan Sekutu. Ketika itu bangsa Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaannya, mendapat ancaman dengan akan kembalinya Belanda. Para pemuda Indonesia berusaha mencegah kedatangan kembali Belanda ke Indonesia, tetapi tidak mempunyai senjata. Untuk memperoleh senjata para pemuda Indonesia (termasuk Sarwo Edhie) terlibat dalam bentrokan dengan alat kekuasaan Jepang. Di sinilah pertama kalinya pemuda eks PETA itu diuji ketrampilan militernya bahkan melawan guru-gurunya .Sesudah itu Sarwo Edhie mengikuti ajakan sahabatnya semasa pendidikan PETA Achmad Yani agar bergabung dalam Batalyon III Badan Keamanan Rakyat, yang dikomandani oleh Achmad Yani sendiri. Kemudian Sarwo Edhie pun terlibat dalam pertempuran melawan Sekutu (yang datang untuk melucuti bala tentara Jepang) yang diboncengi tentara NICA di Magelang. Kapten Sarwo Edhie yang ketika itu dikenal sebagai Komandan Batalyon V Brigade IX/Diponogoro bertempur bukan saja melawan kekuatan asing tetapi dia harus melakukan penumpasan terhadap Pemberontakan PKI-Madiun dan DI/TII di Jawa Tengah.

 

Pada saat perang kemerdekaan, Sarwo Edhie selalu menyelipkan sebilah keris dipinggangnya dan sekaligus membawa mortir 3 inci dipundaknya. Tembakan Sarwo Edhie senantiasa tepat mengenai sasran karena lewat perhitungan yang matang, yang diterimanya ketika dididik menjadi tentara. Karena kebisaan membawa sebilah keris    itu menyebabkan ada orang-orang tertentu yang menganggap kalau Sarwo Edhie sebelum menembak dengan mortir, terlebih dahulu memutar-mutar keris.[3] Keberhasilan tak selalu berpihak pada Sarwo Edhie , ia pun pernah mengalami kegagalan. Ketika terjadi Agresi Militer II, daerah Kulon Progo , yang merupakan daerah Achmad Yani bergerilya sudah dibom. Sarwo Edhie dari Pring Surat mencari Komandan Brigade IX/Diponogoro Achmad Yani daerah yang disebut Wetan Elo dengan cara memecah-mecah menjadi kecil pasukannya. Ternyata Sarwo Edhie melakukan kesalahan besar dengan pilihan semacam itu. Anak buah Sarwo Edhie ternyata belum terlatih untuk bergerilya sehingga banyak yang menangis, bingung dan minta pulang.[4]

 

Dalam dunia militer,  Sarwo Edhie menghadapi cobaan yang nyaris membuat Sarwo Edhie mengundurkan diri dari dunia ketentaraan. Kejadian pertama terjadi pada masa perang kemerdekaan. Sarwo Edhie bentrok dengan Sukamdani mengenai kebijaksanaan, yang mana menyebabkan Sarwo Edhie patah semangat dan meninggalkan kompinya dan akhirnya menganggur di Purworedjo. Komandan Batalyon III, Kapten Achmad Yani yang mengetahui peristiwa itu menyusul ke Purworedjo untuk mencari Sarwo Edhie dan mengajak Sarwo Edhie untuk bergabung kembali. Sarwo Edhie tak kuasa menampik ajakan teman dan atasannya itu. Kejadian serupa tapi tak sama terjadi pula pada masa sesudah  revolusi Indonesia. Sarwo Edhie yang berpangkat Kapten diturunkan menjadi Letnan Satu, sebagai hukuman dari komandannya yang menganggap Sarwo Edhie tak becus mengatasi anak buahnya yang tak berdisiplin. Sarwo Edhie mengundurkan diri  dan keinginan tersebut diurungkan  setelah mendapat hadrikan serta wejangan orang tua.[5]

 


[1] Pertiwi No. 62-5 September 1988.

[2] Sarinah No. 48-9 Juli 1984.

[3] Ibid.

[4] Amelia Yani, Achmad Yani Seorang Prajurit TNI, (Jakarta: Sinar Harapan, 1988), hal. 52-59.

[5] Ibid dan JAKARTA-JAKARTA No. 223, 6-12 Oktober 1989.

 

Klik Selengkapnya…..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.