Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Soedjatmoko Dekan Intelektual Bebas Indonesia

 

le role d’un clrec n’est’pas de changer le  monde , mais de rester fidele  a un ideal don’t le mainten me semble necessaire a la moralite de’espece humaine

(Julien Benda)

 

Kursi Dekan Intelektual Bebas Indonesia kosong . Pendengarnya tak mungkin mendengar pandangan Soedjatmoko yang cemerlang dengan bobot kearifan yang dilakukan  hampir empat puluh tahun ini. Kini Soedjatmoko meninggalkan warisan yang merupakan buah pikiran Soedjatmoko yang tertuang dalam lebih dari seratus tulisan mengenai masa depan umat manusia.

 

Tulisan-tulisan Soedjatmoko mempunyai dimensi luas . Ia bergerak pada masalah kebudayaan , sastra, sejarah , pembangunan , ilmu pengetahuan , politik, diplomasi , percaturan internasional dan agama. Perhatian Soedjatmoko yang begitu luas dan besar menyebabkan tidak gampang bagi pendengarnya menunjukkan kotak mana Soedjatmoko berada.

 

Soedjatmoko berbicara berbagai masalah ditengah arus kuat berpikir dislipiner dengan ketat membatasi pembahasan masalah dalam bidang –bidang spesialisasi . [1] Ia benar-benar mewaspadai apa yang dipandang sebagai spesialisasi yang berlebihan dalam disiplin akademis dan mencoba belajar tak begitu percaya pada fragmentasi yang mewarnai metode ilmiah . [2] Disiplin ilmu hanya merupakan konsensus yang dihasilkan manusia. Seorang tidak boleh memutlakkan tetapi boleh menerima sehingga membatasi kebebasan berpikir seharusnya disiplin ilmu membantu kebebasan  berpikir dan bukan mengintimidasinya dengan menetapkan batas-batas yang terlanggar [3]

 

Kalau boleh memakai kata-kata Ignas Kleden . Tulisan Soedjatmoko lebih menekankan pada kesungguhan menghadapi masalah ketimbang sebagai usaha membangun suatu pemikiran atau mengadakan penerobosan dalam suatu disiplin ilmu. [4] Dalam bahasa yang hampir sama . Frans von Magnis Suseno menyatakan bahwa Soedjatmoko bukan seorang filsuf yang melahirkan suatu sistim sendiri . Atau melahirkan sebuah bangunan intelektual yang bisa dikagumi oleh generasi berikutnya bukan menjadi tujuan dari Soedjatmoko . Tantangan spiritual dan etis yang dihadapi Soedjatmoko menyebabkan ia menggumuli tema-tema yang begitu luas . [5]

 

Keadaan dunia yang sedemikian suram menyebabkan Soedjatmoko menjadi kecewa sebagaimana tercermin dalam tulisan-tulisannya. Ia menyaksikan dunia dilanda penderitaan , kekecewaan maupun jurang kaya-miskin terus melebar. Pertentangan politik ,resesi ekonomi dan pencemaran lingkungan hidup melanda segenap sistim internasional. Pertumbuhan penduduk yang memusingkan, teknologi yang mengasingkan

dan kekuatan destruktif yang mengerikan    hanya membuat Soedjatmoko gusar. Tulisan-tulisan Soedjatmoko merupakan refleksi atas   prestasi upaya pembangunan pasca Perang Dunia II.

 

Kendati pun demikian tak menyebabkan Soedjatmoko menjadi apatis . Ia pun percaya bahwa langkah-langkah pertama ke arah kelangsungan hidup umat manusia harus diambil, ketika masyarakat menyadari kerentanan yang mengancam masa depan mereka . Soedjatmoko tak memiliki obat untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia karena tak percaya pada adanya obat serba mujarab. Soedjatmoko lebih menyukai memberi jawaban yang tidak sederhana pada masalah yang begitu kompleks yang menjadi perhatiannya. [6]

 

Kalau bisa menggunakan kata-kata Umar Kayam [7] Dalam memberi jawaban Soedjatmoko bukanlah seorang yang akan menjelaskan dalam perjalanan itu ada satu lorong dimensi melainkan mengambil posisi sebagai penunjuk jalan yang memperlihatkan ada beberapa pilihan lorong yang bisa ditempuh . Kemungkinan besar Soedjatmoko tidak akan menjatuhkan pilihan pada satu lorong saja, tetapi yang dikerjakan adalah membeberkan betapa rumitnya lorong-lorong itu. Melalui cara itu membuat para pendengarnya merasa tidak kecewa tidak digurui atau diremehkan kecerdasannya.

 

Soedjatmoko menghargai proses pencarian jawaban sama dengan atau mungkin lebih daripada , hasil pencarian itu.Pendekatan semacam itu dilakukan Soedjatmoko karena ia tak mempunyai keinginan menawarkan jalan pintas sampai ke tempat tujuan . Ia menyadari bahwa ada kemungkinan terdapat lorong-lorong yang tersembunyi dalam menuju suatu perjalanan . [8]

 

Dunia Buku

 

Soedjatmoko merupakan anak kedua dari buah perkawinan Dr. Mohammad Saleh dengan R.A Ismadikun Bt Tjitrokusumo .[9] Ia dilahirkan di Sawahlunto , Sumatra Barat pada tanggal 10 Januari l919 , ketika ayahnya bertugas  sebagai dokter pada Rumah Sakit Umum Sawahlunto  dan kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Kediri ( tahun l922 – 1924 ). Ketika Dr. Mohammad Saleh mendapat bea siswa untuk memperdalam keachliannya di Amsterdam , Negeri Belanda .  Keluarganya dibawa serta . Soedjatmoko hidup di lingkungan Belanda , bukan di lingkungan Jawa  . Ia mulai pendidikan taman kanak-kanak di sana, suatu pengalaman yang tidak lazim

 

Setelah memperoleh gelar doktor . DR. Mohammad Saleh bekerja pada Rumah Sakit Umum Menado ( Tahun l929-1933 ). Di kota itu Soedjatmoko dimasukan sebagai murid Europese Legere School dan mulai menunjukkan sifat mencari . Kelihatannya betapa intens Soedjatmoko kecil menjelajahi pikiran dunia anak-anak. Bacaan yang paling memukaunya adalah seri sejarah dunia dan kisah-kisah petualangan fiksi Jules Verme. Ini memberi kesadaran akan sejarah dan perhatian luas terhadap pengalaman manusia . Ketekunan dan kegemaran membaca telah membawanya pada sifat pendiam . [10]


[1] Aswab Mahasin ,” Soedjatmoko dan Dimensi Manusia : Sekapur Sirih , “ dalam Dimensi Manusia dalam Pembangunan ( Jakarta : LP3ES , 1983 ) , hal. ix – xxvii.

[2] Kahtleen Newland dan Kemala Candrakirana Soedjatmoko , “ Pengantar Penyunting “, dalam , Sopedjatmoko , Menjelajah Cakrawala – Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko ( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan Soedjatmoko , 1994 ) , hal. xxv – lii . .

[3] Ignas Kleden , “ Soedjatmoko : Sebuah Psikologi Pembebasan “, dalam  Soedjatmoko , Etika Pembebasan ( Jakarta : LP3ES , 1984 ) hal. ix – xliii .

[4] Ibid .

[5] Frans Magnis – Suseno , “ Pengantar ,” dalam Nusa Putra , Pemikiran Soedjatmoko Tentang Kebebasan ,” ( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Bekerja Sama Dengan Yayasan Soedjatmoko , 1993 ) , hal. xiii – xv.

[6] Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko .

 

[7] Umar Kayam, “ Sambutan ,” dalam , Soedjatmoko , Menjelajah Cakrawala – Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko , hal. xix – xxiv .

[8] Ibid dan  Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko, op. cit.

[9] Solichin Salam , “ In Memoriam Prof. Dr. KRT Saleh Mangundiningrat ,” Berita Buana , 1 Desember 1989 .

[10] Aswab Mahasin , op.cit dan  MATRA No. 45 – April 1990 .

 

Klik Selengkapnya…..

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.