Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Mengenang Pahlawan Proklamator: Soekarno Pejuang Pemikir

Sejarah Indonesia mencatat Soekarno sebagai manusia yang penuh kontroversi dalam kepribadiannya dan telah menimbulkan pendapat-pendapat yang berbeda di kalangan bangsanya. Dia adalah manusia yang memiliki kelebihan-kelebihan besar dibandingkan manusia biasa tetapi sekaligus memiliki kekurangan–kekurangan yang membuat dia gagal. Soekarno adalah nama yang pernah dipuja bagaikan seorang dewa, tetapi juga dikutuk bagaikan seorang bandit, Kalimat terakhir ini adalah kata-kata Soekarno yang ditulis dalam bukunya yang berjudul ”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.” Dan setelah lama orang bertanya, dimanakah sebenarnya tempat Soekarno dalam sejarah Indonesia, setahun yang lalu, ketika hendak memperingati Hari Pahlawan, pemerintah Soeharto telah mengambil suatu keputusan yang bijaksana dengan menganugerahkan Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Pahlawan Proklamator. Peringatan semacam ini hendaknya dilihat sebagai manifestasi jiwa besar bangsa Indonesia yang mau menghargai jasa pahlawannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa-jasa para pahlawannya, begitu kata Soekarno.

Walaupun Soekarno tidak lagi berada ditengah kita, sumbangan pikirannya senantiasa tidak terlupakan dalam kalbu bangsa Indonesia. Betapapun ada banyak orang yang bertentangan dengan Soekarno, tetapi ada satu hal yang harus diakui bahwa dia tetap teguh dengan pendiriannya sampai akhir hayatnya. Bernhard Dahm dalam bukunya yang berjudul” Soekarno and the Struggle for Indonesia Independence” menulis bahwa pesan Soekarno selalu sama, yaitu berjuang melawan imperialisme sanpai titik akhir di satu pihak, dan di lain pihak, membangun orde yang baru dan memulai perkawinan ideologis menuju harmoni secara menyeluruh. Bagi kita yang ditinggalkan, ada beberapa buah pikiran Soekarno yang merupakan butir-butir mutiara yang perlu dipelajari lebih lanjut. Seperti halnya, kumpulan karangan dalam 80 Tahun Bung Karno, yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan pada tahun 1981 dalam rangka memperingati 80 tahun Soekarno, tampak ada usaha untuk mempelajari pemikiran Soekarno secara seksama dan mendalam. Usaha awal itu patut dipuji dan diberi apresiasi.

 

Buah Pikiran

Rasanya sulit untuk diingkari bahwa Pancasila merupakan suatu hasil pergumulan pemikiran Soekarno dalam merumuskan dasar negara Republik Indonesia. Hasil pergumulan pemikirannya yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945, kini merupakan pandangan hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk ini.  Berkaitan dengan Pancasila, Dr Taufik Abdullah memberi komentar, Pancasila – ternyata telah memperlihatkan kemampuan integrative yang luar  biasa. Pancasila bukan saja memancarkan integrasi kebangsaan dari lapisan-lapisan sosial, tetapi juga integrative kesejarahan antara masa lampau, kini dan akan datang dan sesama umat manusia serta mahluk dengan al-Khalik. Sedangkan Dr Alfian menegaskan bahwa Pancasila merupakan pantulan kepribadian kita bersama, karena dia memberikan corak atau ciri khas kepada bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain.

Anhar Gonggong dalam makalahnya yang berjudul”Tema Sentral Persatuan dan Alur Pemikiran Soekarno (1926-1966)” yang disampaikan dalam Seminar Sejarah Nasional IV di Yogyakarta menyatakan bahwa Soekarno tetap konsisten dengan pemikirannya tentang persatuan. Artinya, sejak penampilannya sebagai pemimpin pergerakan nasional bangsanya. Dia telah menjadikan tema persatuan (1926/1927) sebagai landasan perjuangannya hingga sampai saat kejatuhannya (1967).

Persatuan yang dicita-citakan Soekarno itu justru berantakan karena ulah komplotan PKI. Ini  merupakan suatu tragedi yang menimpa seorang pemimpin yang justru ingin mempertahankan keyakinannya. Bahkan ketika Presiden Soekarno mulai surut dari kekuasaannya, kata John D Legge, banyak lawannya melupakan sumbangan Soekarno terhadap persatuan. Soekarno mempunyai kemampuan untuk mendamaikan dan menyeimbangkan kekuatan-kekuatan yang bertentangan yang mungkin memecah belah Indonesia di tahun 1950-an dan tahun 1960-an.

Berkaitan dengan jasa Soekarno ini, cukup menarik untuk menyimak hasil pengamatan dua sarjana asing. Dalam bukunya yang berjudul ” Indonesia Foreign Policy and the Dilemma of Dependence : From Soekarno to Soeharto,” Franklin B Weinstein mengatakan bahwa berdasarkan hasil wawancara dari sejumlah generasi 1928,1945 dan 1966, menunjukan bahwa Soekarno telah dianggap mampu meletakkan Indonesia di atas peta dunia, disebabkan keberhasilannya memperjuangkan posisi Indonesia sebagai pemimpin yang merdeka dan berdikari ditengah bangsa-bangsa lain. Kebanyakan pemimpin dari ketiga generasi itu menyatakan bahwa politik luar negeri Soekarno telah membangkitkan rasa kebanggaan nasional.“ Dunia mengenal Indonesia, karena mengenal Soekarno,” Sedangkan dalam buku yang berjudul” Indonesia:s Elite : Political Culture and Culture Politics “diungkapkan, banyak anggota elite politik dan pemerintah yang diwawancarai oleh Donald K Emerson menyatakan pengalaman menghadiri rapat-rapat umum kaum nasionalis pada awal tahun 1930-an telah meninggalkan sesuatu yang bertahan lama. Itu merupakan jasa Soekarno. Soekarno mampu memainkan peanan sebagai seorang agitator yang ulung dan tanpa tanding. Soekarno telah berhasil mempopulerkan cita-cita kaum nasionalis sekuler dan menanamkan kesadaran politik pada suatu lapisan yang cukup luas.

 

Selengkapnya…..

About these ads

One response

  1. Sukma sina

    bapak proklamator Ir. Soekarno adalah tokoh idola generasi muda yang sedang mencari jati diri.

    14 Juni 2012 pukul 6:35 pm

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.