Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Dari Buku Hari-hari Terakhir Sukarno: Tulang Rusuk Sang Proklamator Retak

Selasa, 2 Oktober 2012

Peter Kasenda, sejarawan dan penulis buku Hari-Hari Terakhir Soekarno, di Universitas Negeri Malang

Peter Kasenda, sejarawan dan penulis buku Hari-Hari Terakhir Soekarno, di Universitas Negeri Malang

SURYA Online, MALANG – Sungguh menyedihkan nasib Presiden (pertama) RI Ir Soekarno pada hari-hari terakhir menjelang tutup usia. Tak sebanding dengan perjuangannya memerdekakan bangsa, Bung Karno justru menjadi pesakitan saat Indonesia benar-benar lepas dari belenggu kolonialisme

Begitu kekuasaannya beralih ke tangan Jenderal Soeharto, 1965, Bung Karno kehilangan peran. Ia bahkan menjadi tahanan politik selama dua tahun. Kisah inilah yang dituturkan Peter Kasenda, dosen sejarah Universitas Tujuh Belas Agustus Jakarta, lewat bukunya, Hari-hari Terakhir Sukarno.

Setelah menulis Sukarno Muda, Peter yang konsen terhadap perjuangan Bung Karno (panggilan populer Soekarno atau Sukarno) menceritakan kembali kisah tokoh kebanggaannya. Kali ini dimulai sejak runtuhnya pemerintahannya pada 30 September 1965.

Usai tragedi nasional G 30 S PKI pada 1 Oktober 1965, Pemerintahan Soekarno luluh lantak. Masa kejayaannya berakhir. Bahkan tidak banyak yang tahu bagaimana nasib dan perjalanannya setelah itu.

Peter menyoroti sosok Soekarno yang pada puncak kejayaannya dijuluki ‘Pemimpin Besar Revolusi’, ‘Penyambung Lidah Rakyat’, ‘Presiden Seumur Hidup’, ‘Bapak Marhaenisme’, ‘Panglima Tertinggi’, namun hidupnya berakhir menyedihkan. Semua gelar itu dicopot saat ia lengser dari kursi kepresidenan.

“Melalui buku ini, saya ingin menceritakan titik balik kehidupan Soekarno yang tidak banyak diketahui masyarakat. Ketika kekuasaannya runtuh, pidato-pidatonya pun disensor. Perintah-perintahnya juga diputar sedemikian rupa. Bahkan, jasa perjalanan bangsa Indonesia dan peranannya sebagai pemimpin ditiadakan,” urai Peter tatkala membuka launching buku Hari-hari Terakhir Sukarno di Gedung A3 Universitas Negeri Malang (UM), Senin (1/10/2012).

Saat itu, Soekarno benar-benar berada dalam kondisi kemunduran total . Ketika dia hendak mengarahkan jalan revolusi yang belum selesai, tidak seorang pun menemaninya. Dia berdiri sendiri di tengah para penentang.

Peran Soekarno semakin terkikis habis. Sementara peran Soeharto semakin menanjak. “Saat itu ibaratnya Soekarno duduk di kursi dan Soeharto berdiri tegak. Semakin lama Bung Karno semakin tenggelam dan Soeharto semakin tinggi,” ujarnya.

Jasa melepas bangsa dari penjajah dibalas dengan ringkukan di penjara Banceuy dan Sukamiskin di Bumi Priyangan. Tak hanya itu, ia bahkan sempat diasingkan di Ende, Flores dan Bengkulu. “Yang paling menyedihkan, Soekarno meninggal sebagai tahanan politik, setelah sakit berkepanjangan,” ujarnya.

Soekarno diisolasi di Wisma Yaso, Bogor. Hidup di sini, tutur Peter, justru menjadi siksaan luar biasa. Dia harus berjauhan dengan istri dan anak-anak. Ia diisolasi. Keluarganya tidak bisa leluasa menengok.

Kondisi kesehatannya dari hari ke hari bertambah buruk. Dia mengidap penyakit paru-paru basah, tulang rusuk yang retak, jantung dan ginjal. Penjaga wisma memperlakukan Soekarno yang sakit itu dengan kekerasan.

“Tidak hanya sakit fisik, batin Soekarno juga menderita karena diperlakukan seperti itu. Ia sama sekali tidak diberi kesempatan bercengkerama dengan rakyat. Ia dilarang menerima tamu selain keluarga dan dokter, itu pun dengan waktu terbatas dan pengawasan ketat,” tambah Peter.

Sebenarnya, ditahan bukanlah hal baru bagi Soekarno, apalagi pada masa Hindia-Belanda. Tapi ditahan dalam kondisi kesehatan yang kian kritis dan tubuh yang ringkih, sangatlah tidak manusiawi dilakukan. Apalagi ia tidak ditangani dokter ahli. Ia ditangani Soerojo, dokter hewan.

Melihat fisik Bung Karno yang kian parah, akhirnya tim dokter memutuskan merawat Soekarno di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) di Jakarta hingga ia menutup usia pada 21 Juni di usia ke-69. Soekarno yang lahir di Surabaya, 6 Juni 1901, akhirnya dimakamkan di Makam Pahlawan Soekarno di Kota Blitar.

Tak hanya kisah sedih Soekarno, Peter dengan gaya tuturnya juga menulis pembunuhan besar-besaran terhadap sejumlah jenderal TNI Angkatan Darat.

Launching buku itu dihadiri sejarawan JJ Rizal. Menurut Rizal, Peter mengulas semua kisah Soekarno dengan sangat gamblang. Semua peristiwa menjelang wafatnya Sang Proklamator dituturkan dengan sangat bagus dan terurai.

Meski gaya bahasa yang digunakan Peter bukan popular, tetapi apa yang ditulis Peter termasuk bacaan yang sangat menarik. “Terlebih Peter menulisnya dengan pandangan nasionalis atau dari kaca mata Soekarno sendiri. Jadi sangat menarik sekali,” ujar Rizal.

Link: http://surabaya.tribunnews.com/2012/10/02/tulang-rusuk-sang-proklamator-retak

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.