Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Sejarah dan Masa Depan

Situs dalam Pojok, Kediri

Bung Karno Kediri (12)

Peter Kasenda menjadi narasumber pada acara di Situs Dalam Pojok Kediri, tempat masa kecil Bung Karno (Situs Bung Karno). Tanggal 13 Agustus 2014.


Revolusi Mental dan Pancasila

Terpilihnya Jokowi sebagai presiden ketujuh kita rayakan. Sekarang sudah terbayar segala jerih payah perjalanan kampanye bahkan sudah dimulai jauh sebelum masa kampanye. Namun, seperti setiap perayaan yang ada, setelah pesta usai kita segera dihadapkan akan tantangan yang dihadapi, akan harapan yang masih harus diperjuangkan Indonesia dengan 240 juta penduduk dan sejumlah pekerjaan menunggu untuk digarap lebih baik bersama seluruh rakyat.

Di sinilah kita bisa merasakan betapa kekuasaan yang diperoleh berkonsekuensi tanggung jawab yang besar. Bagaimana bila kontrol terhadap sekolah-sekolah tidak menjangkau daerah-daerah terpencil ? Bagaimana bila pangan tetap menjadi supermahal di daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau ? Bagaimana bila pembabatan hutan tetap berjalan tanpa ada yang mampu menghentikan ? Bagaimana bila perikanan tetap dijarah nelayan negara asing tanpa kita mampu mengejar para pencoleng itu ? Bagaimna bila politik transaksional tetap terjadi tanpa ada yang mampu mencegahnya ? Bagaimana bila politik dinasti tetap berlangsung tanpa ada yang mampu menghalangi ?

Disinilah Jokowi sebagai pemimpin akan mendapatkan tatapan penuh harap sekian juta rakyat Indonesia dan bahkan masyarakat global, yang sungguh menunggu tindakan nyata dari segala yang dijanjikan selama masa kampanye. Akankah dilakukan terobosan-terobosan yang membuat negara kita lebih gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja ? Akankah kita melihat budaya yang bisa kita banggakan di kawasan regional, serta dihargai sebagai manusia-manusia professional, produktif, pandai, dan jago berkreasi? Akankah kita mengantar anak-anak kita ke pendidikan yang aman, nyaman, terjangkau kantong, dan terpercaya ?

Lewat kampanye Pemilihan Presiden 2014, Jokowi menawarkan pada kita untuk melakukan Revolusi Mental sebagai paradigma dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa yang galau ini. Menurut, Jokowi selama 16 tahun menjalankan reformasi kita hanya mencapai kemajuan sebatas kelembagaan. Pembangunan belum menyentuh paradigma, mindset dan budaya politik, dari manusia yang menjalankan sistem sehingga nation building tak mengantarkan Indonesia pada cita-citanya.

Baca Selengkapnya…..


Mencari Sosok Ekonomi Nasional

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar
mengambil nasib bangsa  dan nasib tanah
air  di  dalam  tangan  kita  sendiri. Hanya
bangsa    yang   berani   mengambil  nasib
dalam  tangan  sendiri,  akan dapat berdiri
dengan kuatnya.

Soekarno, 17 Agustus 1945

 

 

Satu Tahun Ketentuan ( 1957 )
Revolusi Indonesia adalah Revolusi Rakyat, yang bertujuan menuju
Masyarakat Adil dan Makmur

Tahun Kemenangan (1958)
Rakyat sekarang lebih sadar siapa lawan, tidak  lagi  tak terang siapa yang setia dan siapa penghianat….siapa  pemimpin  sejati,  dan siapa pemimpin anteknya  asing…..siapa  pemimpin  pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan ….

Penemuan Kembali Revolusi Kita  (1959 )
Tiga Kerangka Revolusi
(1) Pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(2) Pembentukan Masyarakat Adil dan Makmur
(3) Pembentukan satu persahabatan baik antara Republik Indonesia dan
semua negara didunia, terutama sekali dengan negara Asia-Afrika, atas
dasar   hormat-menghormati    satu   sama   lain,  dan atas dasar bekerja
sama  membentuk   yaitu   Dunia   Baru   yang  bersih dari imperialisme
dan kolonialisme .

Lima Persoalan-Persoalan Pokok Indonesia
(1)   Dasar/tujuan dan kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia
(2)   Kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia
(3)    Sifat Revolusi Indonesia
(4)    Hari depan Revolusi Indonesia
(5)    Musuh-musuh Revolusi Indonesia

Laksana Malaekat Yang Menyerbu Dari Langit, Jalannya Revolusi Kita ( Jarek ) – 1960
Bersatunya Nasionalisme, Agama dan Komunisme ( Nasakom )
Mutlak dilaksanakan   Land-Reform   sebagai   bagian   mutlak    Revolusi Indonesia ; Mutlak   dibasmi   segala   phobi-phobian     terutama  Komunis-phobi;  perlu   dikonfrontasi  segenap  kekuatan nasional terhadap kekuatan-kekuatan  imperialis-kolonialis  dan keharusan dijalankan  revolusi dari atas dan dari bawah

Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional (Resopim )  –  1961 Perjuangan harus disertai  Tritunggal Revolusi,  ideologi  nasional  progresif dan pimpinan nasional

Tahun Kemenangan ( Takem )  — 1962
Memperhebat pekerjaan Front Nasional serta menumpas rongrongan revolusi dari dalam
Revolusi Indonesia mengalami satu “ self propelling frowth “ – satu yaitu mau atas dasar kemajuan, mekar atas dasar kemekaran

Genta Suara Revolusi Indonesia (Gesuri) – 1963
Revolusi Indonesia harus disertai dengan konfrontasi terus-menerus dan adanya disiplin yang hidup serta diperlukan puluhan ribu kader di segala lapangan
Deklarasi Ekonomi ( Dekon ) harus dilaksanakan dan tidak boleh diselewengkan karena Dekon adalah Manipolnya ekonomi
Abad kita ini abad Nefo

Tahun Vivere Pericoloso ( Tavip )  –  1964
Revolusi Indonesia harus mengambil sikap tepat terhadap lawan dan kawan
Revolusi Indonesia harus dijalankan dari atas dan dari bawah
Destruksi dan kontruksi harus dijalankan sekaligus dalam Revolusi
Tahap pertama harus dirampungkan dulu kemudian tahap kedua ,
Setia kepada Program Revolusi sendiri yaitu Manipol
Mempunyai sokoguru, punya pimpinan yang tepat dan kader-kader yang tepat
Diformulasikan Trisakti “ berkedaulatan dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan

Capailah Bintang-Bintang Di Langit (Tahun Berdikari )  –  1965
Panca Azimat Revolusi
Nasakom, Pancasila, Manipol-Usdek, Trisakti dan Berdikari

Periode penjajahan telah mewariskan kepada Indonesia suatu struktur perekonomian yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan asing dan para pedagang Tionghoa. Perusahaan besar milik orang-orang Barat, terutama Belanda, mendominasi bidang-bidang seperti perkebunan, pertambangan, perdagangan luar negeri, industri dan perbankan. Boleh dikatakan semua perusahaan besar berada di tangan orang-orang Belanda.  Diperkirakan ,pada tahun 1950 hanya 10 persen saja dari kekayaan swasta dalam sektor non-pertanian berada ditangan orang-orang Indonesia. Dalam sektor impor barang-barang konsumsi, 50 persen ditangani oleh perusahaan “ Lima Besar“ milik Belanda, sementara dalam sektor ekspor, 60 persen dikelola oleh perusahaan-perusahaan asing. Sebelum tahun 1951, mayoritas bank swasta dikuasai oleh perusahaan “ Sepuluh Besar “ milik Belanda.

Golongan Tionghoa, yang pada tahun 1950 mencakup kurang dari tiga persen penduduk Indonesia dan yang sebagian besar dari mereka dilahirkan di luar negeri atau mengindentifikasikan diri dengan masyarakat Cina di Cina daratan, menguasai sektor menengah, yang menjadi perantara antara perusahaan-perusahaan asing dengan orang-orang Indonesia. Kebijaksanaan kolonial Belanda telah memberikan kepada orang-orang Tionghoa kedudukan penting ekonomi di dalam suatu susunan piramidal yang dinamakan “struktur kasta kolonial” yang didasarkan pada suatu sistem stratifikasi sosial yang pada pokoknya bersifat rasial. Kelompok pedagang Tionghoa ini menguasai industri kecil dan menampung hasil para petani kecil dan menguasai sebagian besar lalu lintas kegiatan pedagang kecil.

 

Baca Selengkapnya…..


Masa Gelap Pancasila

Pemikiran tentang imperialisme dan kolonialisme bergumul dengan pertanyan : Mengapa bangsa-bangsa di Eropah melakukan ekspansi keluar dan menguasai bangsa-bangsa lainnya. Apa yang menjadi dorongan utamanya ? Ada tiga kelompok teori yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, yakni (1) Teori God menyatakan idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajaran Tuhan, untuk menciptakan dunia yang lebih baik; (2) Teori Glory menyatakan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi maupun kebesaran masyarakat dan negaranya; dan (3) Teori Gold menekankan pada keserakaan manusia, yang selalu berusaha mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi.

Teori Gold bisa dirujuk dari pendapat John A Hobson, yang menjelaskan, imperialisme terjadi karena dorongan untuk mencari pasar dan investasi yang lebih menguntungkan. Imperialisme terkait dengan kapitalisme. Pada suatu saat, perkembangan kapitalisme mencapai sebuah keadaan di mana produktivitas menjadi semakin meningkat tetapi pasar di dalam negeri terbatas. Buruh yang dibayar dengan upah yang rendah tidak mampu membeli kelebihan produksi yang ada. Karena itu, hasil-hasil produksi ini harus dicarikan pasar di luar negeri.

Pada titik ini juga, investasi di dalam negeri menjadi kurang menguntungkan, karena pasar dalam negeri sudah jenuh. Maka, modal yang ada diekspor keluar. Modal diinvestasikan di negara-negara lain yang pasarnya masih belum jenuh. Kedua hal inilah, yakni usaha untuk mencari pasar baru dan usaha untuk menemukan daerah investasi yang lebih menguntungkan, yang mengakibatkan terjadinya imperialisme. Dengan pertolongan negara yang menggunakan armada militernya, pasar dan investasi di luar negeri diamankan. Imperialisme menguntungkan kaum kapitalis finansial, yakni kaum kapitalis yang menguasai uang. Merekalah yang mendesak pemerintahnya untuk melakukan ekspansi kekuasaan politiknya. Imperialisme bisa dicegah kalau upah buruh dinaikkan, sehingga peningkatan produksi barang-barang industri bisa diserap di dalam negeri sendiri, sehingga tidak usaha mencari penyalurannya keluar.

Pendapat ini kemudian mendapat tanggapan dari VI Lenin di dalam bukunya yang berjudulnya Imperialism : The Highest Stage of Capitalism (1916). Menurut Lenin, imperialisme merupakan puncak tertinggi dari perkembangan kapitalisme. Kapitalisme yang mula-mula berkembang melalui kompetisi di pasar bebas, kemudian setelah tumbuh perusahaan-perusahaan raksasa (sementara yang lemah mati), muncullah kapitalisme monopoli. Beberapa perusahaan besar praktis menguasai pasar. Unsur baru dari kapitalisme yang baru ini adalah berkuasanya kaum monopolis yang baru ini adalah berkuasanya kaum monopolis yang merupakan gabungan dari pengusaha-pengusaha yang paling besar.

Baca Selengkapnya…..


Indonesia: Sebuah Proyek Bersama

Meskipun “ bangsa “ dibangun oleh anggota-anggota yang konkret, tetapi ia hanya mungkin ada di dalam wujud yang abstrak. Bangsa adalah sesuatu yang ada di dalam pikiran setiap orang ketika ia “mengimajinasikan“ keberadaan dirinya dalam kaitannya dengan diri orang lain di dalam sebuah wilayah negara. “Bangsa”, sebagaimana dikatakan Benedict Anderson di dalam Imagined Community, adalah komunitas terimajinasikan, karena para anggotanya tidak seluruhnya saling kenal, bertemu dan bertatap muka. Meskipun demikian .”… di benak setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka  Hidup dalam imajinasi kebersamaan di dalam sebuah wilayah itulah esensi dari sebuah bangsa.

Bangsa yang kita sebut sebagai bangsa Indonesia sendiri, tentu saja bukan sebuah bangsa yang sudah ada sejak dahulu. Pembentukan bangsa Indonesia sebagai reaksi dari kolonialisme Belanda di Nusantara. Dalam konteks Indonesia, negara (dalam hal ini, negara kolonial) ada lebih dulu, menyusul terjadinya kesadaran nasional sekaligus pembentukan sebuah bangsa yang bersatu sebagai reaksi terhadap keberadaan negara kolonial) yang asing.  Jadi, sejak awal pembentukan Indonesia bukanlah perwujudan suatu “nation-state”, melainkan “state-nation”. Dalam hal ini, bangsa Indonesia adalah, memijam istilah Benedict Anderson – sebuah proyek bersama.

Sebagai bangsa, kita perlu menengok ke belakang dan melakukan refleksi diri. Melihat proses sosial-politik yang telah terjadi sejak kemerdekaan, kita memang perlu khawatir terhadap pembinaan solidaritas emosional yang telah terabaikan selama ini. Dialog antar generasi tersumbat. Yang ada, lebih  pada komunikasi satu arah yang menempatkan generasi muda sekedar pewaris nilai-nilai (yang dianggap) luhur dari generasi tua, tanpa sempat memberikan ruang yang leih luas pada generasi muda untuk mendefinisikan sendiri nilai-nilai yang dianggap baik bagi generasinya. Akibatnya rasa persatuan dan kebersamaan dalam konteks-baru tidak tumbuh sehat. Ada kesenjangan antargenerasi dalam memahami nilai-nilai kebersamaan dan kebangsaan.

Karena itu kini saatnya kita menyadari kembali bahwa bangsa ini adalah bangsa yang terbangun dari hasil serangkaian interaksi panjang, yang melibatkan ratusan etnis, dengan ratusan bahasa yang berbeda, dan menempati wilayah lebih dari 17.000 pulau. Bangsa ini terbentuk sebagai hasil dialog intensif dari hampir seluruh agama-agama besar dunia serta agama-agama lokal di wilayah Nusantara. Bangsa ini terbangun dari jutaan manusia yang merasakan kepedihan sama di bawah penindasan penjajah yang berlangsung ratusan tahun lamanya. Karena itu tumbuhnya rasa solidaritas kebersamaan sebagai akibat kesamaan tantangan, kebulatan semangat dan tekad untuk membangun kehidupan yang layak di alam merdeka, yang terbebas daro dominasi kekuasaan penjajah, harus terus dipupuk. Keseluruhan faktor yang tergabung inilah yang merupakan modal sosial, yang menjadi fondasi kokoh bagi terbentuknya sebuah Indonesia.

Atas dasar modal sosial ini para pendiri bangsa meramu dan mengembangkan fondasi bangsa ini. Sejarah mencatat banyak pemimpin negeri ini di awal kemerdekaan yang secara cerdas telah menunjukkan arah perjalanan bangsa dengan memberikan semangat, inspirasi dan visi arah pembangunan bangsa. Namun kini apa yang telah terjadi dengan seluruh cita-cita luhur dan modal sosial yang telah kita miliki bersama ? Tampaknya dalam perjalanan selama ini, terlalu banyak elemen bangsa, sadar atau tidak telah banyak yang mengkhianati cita-cita luhur dan menyia-nyiakan modal sosial yang telah dicoba dibangun dengan susah payah.

Persoalan nation dan character building kembali menjadi perhatian utama kita sekarang ini. Sejak berdirinya republik ini para pendiri bangsa tak henti-henti mengingatkan kita bahwa proses nation dan character building menjadi agenda penting yang tak boleh berhenti dikembangkan. Soekarno, misalnya  sejak awal telah berbicara tentang pentingnya membangun rasa kebangsaan. Ia selalu berupaya membangkitkan sentimen nasionalisme yang ia maknai sebagai menumbuhkan “suatu itikad, suatu keinsyafaan rakyat, bahwa rakyat itu adalah satu golongan, (yaitu) satu bangsa”.

 

Baca Selanjutnya…..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.