Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Tokoh Indonesia

Tahi Bonar Simatupang dari Militer menuju Gereja

 

Semasa hidupnya Tahi Bonar Simatupang telah mengabdikan diri sebagai prajurit, penggembala umat, pendidik dan penulis. Dalam usianya yang ketiga puluh, ia diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia menggantikan Pangklima Besar Sudirman yang meninggal dunia. Saat itu pangkatnya yang semula  adalah Kolonel kemudian dinaikkan menjadi Mayor Jendral. Beberapa tahun lamanya setelah itu, boleh dibilang ia satu-satunya jendral di Republik ini. Namun pada akhirnya, ia dipensiunkan sebelum menginjak 40 tahun, karena adanya pertentangan dengan Presiden Soekarno. Sesudah itu ia kemudian aktif dalam bidang keagamaan, ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (sekarang Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), Ketua Dewan Gereja –Gereja se-Asia dan menjadi salah seorang Presiden dari Dewan-Dewan Gereja-Gereja se-Dunia yang mewakili benua Asia. Perpindahannya dari dunia militer ke dunia kegerejaan ,sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang mengejutkan. Ini mengingat semua aktivitasnya itu dilakukan demi untuk kepentingan masyarakat. Dari dunianya sana ia menjadi salah satu peletak dasar pemikiran etika untuk mengekspresikan keprihatinan gereja terhadap persoalan masyarakat Indonesia. Perhatiannya terhadap masyarakat pula yang mengantarkannya sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pembinaan dan Pendidikan Manajemen .

 

Kegiatan ceramah di berbagai forum dan juga menulis sejumlah buku dan artikel di Harian Sinar Harapan, (sekarang Suara Pembaruan), di mana dia salah satu pendirinya, menyebabkan banyak orang menyebutkan sebagai intelektual ABRI. Tulisan-tulisan atau buah pikiran Tahi Bonar Simatupang yang pernah mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Tulsa (AS) dalam masalah Kemanusian (1969), meliputi berbagai bidang kajian seperti masalah militer, agama, manajemen serta kenegaraan. Dan kelihatannya bidang militer merupakan masalah yang paling banyak menarik perhatiannya. Tulisan ini menaruh perhatian yang khusus terhadap riwayat kehidupan TB Simatupang yang dikaitkan dengan dunia militer. Suatu dunia yang digelutinya untuk pertama kali, dan bahkan sering disebutkan sebagai cinta pertamanya. Tentu saja tidak dilupakan dunia agama yang merupakan cinta kedua

 

Latar belakang Sosial

Kehadiran sejumlah pengusaha Onderniming yang mencari untung di daerah Sumatra Timur, yang mempunyai tanah subur itu, pada kenyataannya yang menghasilkan sejumlah penderitaan saja bagi masyarakat setempat. Kedatangan para penguasa Onderniming tersebut telah dimanfatkan oleh para penguasa setempat, yang rakus akan kekayaan, dengan memberikan konsesi-konsesi kepada mereka, kaum pendatang dengan tanpa memperdulikan kesejahteraan rakyatnya. Situasi semacam ini hanya membuat penguasa setempat mampu membangun tempat-tempat kediaman yang luas serta mewah, dan sebaliknya uang-uang yang bertaburan dari para pendatang itu tidak menyentuh kehidupan rakyat jelata.Dan bahkan lebih jauh lagi, mereka telah diperlakukan sebagai budak di negerinya sendiri.[1] Keadaan seperti itu pada gilirannya justru menyuburkan lahirnya partai-partai yang berusaha mempertahankan kepentingan anak negeri yang diperlakukan secara semena-mena.

 

Sejak tahun 1910-an, terdapat partai-partai seperti Sarekat Islam, National Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1920, terjadi pemogokan kaum buruh yang sudah tidak tahan lagi diperlakukan dengan tidak adil, dan boleh dibilang ini dilakukan dengan berhasil yang membuat perusahaan Kereta Deli lumpuh. Awal tahun 1930-an rapat-rapat umum Partindo diadakan di Pematang Siantar.[2] yang mana bertindak sebagai ketua pada masa itu adalah Adam Malik.[3] Pada situasi seperti itu ayah Tahi Bonar Simatupang yang bernama Simon Simatupang, gelar Mangaraja Soadun yang bekerja sebagai pegawai Hindia Belanda, adalah salah seorang yang mempunyai minat besar terhadap pergerakan kebangsaan. Pada tahun 1930-an, ia ikut mendirikan Persatuan Kristen Indonesia, yang kemudian dianggap sebagai salah satu pendahulu dari Partai Kristen Indonesia yang didirikan kemudian setelah sesudah Indonesia Merdeka. Kegiatan kehidupan gereja dan persekolahan Krsiten tidak luput juga dari perhatiannya. Simon Simatupang yang mengikuti dengan seksama surat kabar dan majalah – dari Batavia yang menyebarkan cita-cita kebangsaan, adalah orang yang rajin menulis artikel tentang kebudayaan di dalam media massa yang berbahasa Batak. Indonesia dan juga Belanda.[4] Dalam latar belakang sosial seperti itu, Tahi Bonar Simatupang lahir dan berkembang di Sidikalang, yang pada waktu itu terletak di Kresidenan Tapanuli.

 


[1] Karl J. Pelzer, Toean Keboen dan Petani – Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria, (Jakarta: Sinar Harapan, 1985).

[2] Anthony Reid, Perjuangan Rakyat – Revolusi dan Hancurnya Kerejaan di Sumatra Timur, (Jakarta: Sinar Harapan, 1987), hal. 110–126.

[3] Adam Malik, Mengabdi Republik – Adam dari Andalas, Jilid I, (Jakarta: Gunung Agung, 1982 , hal. 17.

[4] H.M. Victor Matondang  (ed), Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang, (Jakarta: BPK Gunung Mulia dan Patenta Sejati, 1986), hal. 66–67.

 

Klik Selengkapnya…..


Soedjatmoko Dekan Intelektual Bebas Indonesia

 

le role d’un clrec n’est’pas de changer le  monde , mais de rester fidele  a un ideal don’t le mainten me semble necessaire a la moralite de’espece humaine

(Julien Benda)

 

Kursi Dekan Intelektual Bebas Indonesia kosong . Pendengarnya tak mungkin mendengar pandangan Soedjatmoko yang cemerlang dengan bobot kearifan yang dilakukan  hampir empat puluh tahun ini. Kini Soedjatmoko meninggalkan warisan yang merupakan buah pikiran Soedjatmoko yang tertuang dalam lebih dari seratus tulisan mengenai masa depan umat manusia.

 

Tulisan-tulisan Soedjatmoko mempunyai dimensi luas . Ia bergerak pada masalah kebudayaan , sastra, sejarah , pembangunan , ilmu pengetahuan , politik, diplomasi , percaturan internasional dan agama. Perhatian Soedjatmoko yang begitu luas dan besar menyebabkan tidak gampang bagi pendengarnya menunjukkan kotak mana Soedjatmoko berada.

 

Soedjatmoko berbicara berbagai masalah ditengah arus kuat berpikir dislipiner dengan ketat membatasi pembahasan masalah dalam bidang –bidang spesialisasi . [1] Ia benar-benar mewaspadai apa yang dipandang sebagai spesialisasi yang berlebihan dalam disiplin akademis dan mencoba belajar tak begitu percaya pada fragmentasi yang mewarnai metode ilmiah . [2] Disiplin ilmu hanya merupakan konsensus yang dihasilkan manusia. Seorang tidak boleh memutlakkan tetapi boleh menerima sehingga membatasi kebebasan berpikir seharusnya disiplin ilmu membantu kebebasan  berpikir dan bukan mengintimidasinya dengan menetapkan batas-batas yang terlanggar [3]

 

Kalau boleh memakai kata-kata Ignas Kleden . Tulisan Soedjatmoko lebih menekankan pada kesungguhan menghadapi masalah ketimbang sebagai usaha membangun suatu pemikiran atau mengadakan penerobosan dalam suatu disiplin ilmu. [4] Dalam bahasa yang hampir sama . Frans von Magnis Suseno menyatakan bahwa Soedjatmoko bukan seorang filsuf yang melahirkan suatu sistim sendiri . Atau melahirkan sebuah bangunan intelektual yang bisa dikagumi oleh generasi berikutnya bukan menjadi tujuan dari Soedjatmoko . Tantangan spiritual dan etis yang dihadapi Soedjatmoko menyebabkan ia menggumuli tema-tema yang begitu luas . [5]

 

Keadaan dunia yang sedemikian suram menyebabkan Soedjatmoko menjadi kecewa sebagaimana tercermin dalam tulisan-tulisannya. Ia menyaksikan dunia dilanda penderitaan , kekecewaan maupun jurang kaya-miskin terus melebar. Pertentangan politik ,resesi ekonomi dan pencemaran lingkungan hidup melanda segenap sistim internasional. Pertumbuhan penduduk yang memusingkan, teknologi yang mengasingkan

dan kekuatan destruktif yang mengerikan    hanya membuat Soedjatmoko gusar. Tulisan-tulisan Soedjatmoko merupakan refleksi atas   prestasi upaya pembangunan pasca Perang Dunia II.

 

Kendati pun demikian tak menyebabkan Soedjatmoko menjadi apatis . Ia pun percaya bahwa langkah-langkah pertama ke arah kelangsungan hidup umat manusia harus diambil, ketika masyarakat menyadari kerentanan yang mengancam masa depan mereka . Soedjatmoko tak memiliki obat untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia karena tak percaya pada adanya obat serba mujarab. Soedjatmoko lebih menyukai memberi jawaban yang tidak sederhana pada masalah yang begitu kompleks yang menjadi perhatiannya. [6]

 

Kalau bisa menggunakan kata-kata Umar Kayam [7] Dalam memberi jawaban Soedjatmoko bukanlah seorang yang akan menjelaskan dalam perjalanan itu ada satu lorong dimensi melainkan mengambil posisi sebagai penunjuk jalan yang memperlihatkan ada beberapa pilihan lorong yang bisa ditempuh . Kemungkinan besar Soedjatmoko tidak akan menjatuhkan pilihan pada satu lorong saja, tetapi yang dikerjakan adalah membeberkan betapa rumitnya lorong-lorong itu. Melalui cara itu membuat para pendengarnya merasa tidak kecewa tidak digurui atau diremehkan kecerdasannya.

 

Soedjatmoko menghargai proses pencarian jawaban sama dengan atau mungkin lebih daripada , hasil pencarian itu.Pendekatan semacam itu dilakukan Soedjatmoko karena ia tak mempunyai keinginan menawarkan jalan pintas sampai ke tempat tujuan . Ia menyadari bahwa ada kemungkinan terdapat lorong-lorong yang tersembunyi dalam menuju suatu perjalanan . [8]

 

Dunia Buku

 

Soedjatmoko merupakan anak kedua dari buah perkawinan Dr. Mohammad Saleh dengan R.A Ismadikun Bt Tjitrokusumo .[9] Ia dilahirkan di Sawahlunto , Sumatra Barat pada tanggal 10 Januari l919 , ketika ayahnya bertugas  sebagai dokter pada Rumah Sakit Umum Sawahlunto  dan kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Kediri ( tahun l922 – 1924 ). Ketika Dr. Mohammad Saleh mendapat bea siswa untuk memperdalam keachliannya di Amsterdam , Negeri Belanda .  Keluarganya dibawa serta . Soedjatmoko hidup di lingkungan Belanda , bukan di lingkungan Jawa  . Ia mulai pendidikan taman kanak-kanak di sana, suatu pengalaman yang tidak lazim

 

Setelah memperoleh gelar doktor . DR. Mohammad Saleh bekerja pada Rumah Sakit Umum Menado ( Tahun l929-1933 ). Di kota itu Soedjatmoko dimasukan sebagai murid Europese Legere School dan mulai menunjukkan sifat mencari . Kelihatannya betapa intens Soedjatmoko kecil menjelajahi pikiran dunia anak-anak. Bacaan yang paling memukaunya adalah seri sejarah dunia dan kisah-kisah petualangan fiksi Jules Verme. Ini memberi kesadaran akan sejarah dan perhatian luas terhadap pengalaman manusia . Ketekunan dan kegemaran membaca telah membawanya pada sifat pendiam . [10]


[1] Aswab Mahasin ,” Soedjatmoko dan Dimensi Manusia : Sekapur Sirih , “ dalam Dimensi Manusia dalam Pembangunan ( Jakarta : LP3ES , 1983 ) , hal. ix – xxvii.

[2] Kahtleen Newland dan Kemala Candrakirana Soedjatmoko , “ Pengantar Penyunting “, dalam , Sopedjatmoko , Menjelajah Cakrawala – Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko ( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan Soedjatmoko , 1994 ) , hal. xxv – lii . .

[3] Ignas Kleden , “ Soedjatmoko : Sebuah Psikologi Pembebasan “, dalam  Soedjatmoko , Etika Pembebasan ( Jakarta : LP3ES , 1984 ) hal. ix – xliii .

[4] Ibid .

[5] Frans Magnis – Suseno , “ Pengantar ,” dalam Nusa Putra , Pemikiran Soedjatmoko Tentang Kebebasan ,” ( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Bekerja Sama Dengan Yayasan Soedjatmoko , 1993 ) , hal. xiii – xv.

[6] Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko .

 

[7] Umar Kayam, “ Sambutan ,” dalam , Soedjatmoko , Menjelajah Cakrawala – Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko , hal. xix – xxiv .

[8] Ibid dan  Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko, op. cit.

[9] Solichin Salam , “ In Memoriam Prof. Dr. KRT Saleh Mangundiningrat ,” Berita Buana , 1 Desember 1989 .

[10] Aswab Mahasin , op.cit dan  MATRA No. 45 – April 1990 .

 

Klik Selengkapnya…..


Soe Hok Gie Sang Demonstran yang Selalu Gelisah

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.1

 

Itulah kata-kata filsuf Yunani yang disukai Soe Hok Gie. Ia merupakan salah satu dari mereka yang menjadi arsitek gerakan-gerakan mahasiswa tahun 1966. Ia pula yang mengotaki Long March Salemba-Rawamangun, aksi mahasiswa memenuhi jalan kota Jakarta yang menuntut penurunan harga bensin dan karcis bis kota. Tulisan-tulisannya yang kritis dan tajam yang tersebar di berbagai media massa mampu menggetarkan hati nurani para pembaca yang berada dalam lingkaran kekuasaan maupun yang menjadi korban perubahan politik.2 Kata-kata yang mengusik kalbu serta yang membayangi langkahnya telah menjadi kenyataan. “Berbahagialah mereka yang mati muda”. Dalam pendakiannya ke Gunung Semeru. Sang maut telah menjemputnya. Ia menjadi korban sesak nafas akibat gas beracun yang mematikan tanpa bau, tanpa warna, dan lebih berat daripada udara yang merembes dari permukaan gunung berapi itu. Ia tewas bersama dengan anggota Mahasiswa Pencinta Alam UI lainnya, Davantari Lubis. Sehari sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh.

Soe Hok Gie meninggal di tengah berbagai kegelisahan. Ia dihadapkan pada kenyataan, bekas teman aktivis mahasiswanya telah melupakan perjuangan sebelumnya. Sebagai tokoh mahasiswa Angkatan ’66 lebih memburu hal-hal yang berbau keduniawian ketimbang memikirkan perubahan menuju masyarakat adil dan makmur. Mantan aktivis mahasiswa yang duduk dalam DPR-GR justeru berbuat mendapatkan kredit murah mobil mewah Holden.3 Bukankah sebelum ia berangkat ke gunung Semeru, Soe Hok Gie bersama sejumlah teman rencana mengirimkan hadiah ‘Lebaran-Natal’ kepada tiga belas perwakilan mahasiswa yang duduk di DPR-GR, berupa pemulas bibir, cermin, jarum dan benang, di sertai surat terlampir yang berisi kumpulan tanda tangan dengan harapan agar mereka lebih menarik di mata penguasa.4

Tokoh-tokoh mahasiswa 1966 yang kecewa dengan keduniawiaan. Mereka mulai menyingkir dari dunia ramai bertani, berternak serta berladang di daerah pedesaan untuk memenuhi panggilan hati nuraninya. Soe Hok Gie memilih ke gunung sebagai upaya yang lebih baik untuk menenangkan ledakan-ledakan hati nuraninya. Ia tak kuasa berjuang sendiri melawan anarki dan verlicht diktator yang telah berhasil menjinakkan rekan-rekannya sendiri.5 Intelektual muda ini berkeinginan mengadakan parlemen jalanan seperti dahulu, tetapi kelihatannya aksi semacam itu akan semakin tidak populer atau akan ditindas penguasa baru dengan alasan keamanan.6

Senjata yang digunakan gerakan mahasiswa dalam menumbangkan pemerintahan Soekarno dan dilarang digunakan oleh pemerintahan yang menggantinya. Kenyataan ini menjadi salah satu alasan Soe Hok Gie menulis. Tulisan-tulisan yang kelewat berani telah mempersulit dirinya sendiri. Seperti sikap permusuhan, banyak teman yang mulai meninggalkannya dan bahkan ia mendapat surat yang akan mengancam akan membuat cacat seumur hidup. ‘Nasibmu telah ditentukan suatu ketika, kau sekarang mulai dibuntuti. Saya nasehatkan jangan pergi sendirian atau malam hari.7 Ibunda Soe Hok Gie pun gelisah dan menyatakan bahwa tulisan-tulisan yang kritis hanya mencari musuh saja dan tidak mendapatkan uang.

Mengapa Soe Hok Gie berbuat demikian? Mengenai maksud Soe Hok Gie bersuara keras dalam tulisan-tulisannya. Sang kakak Arief Budiman menceritakan apa yang dikatakan Soe Hok Gie tentang persoalan tersebut.

 

Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ni. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saja dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.8

 

Kesepian akan datang dan ia siap menerimanya. Soe Hok Gie menyadari bahwa seorang intelektual yang bebas adalah pejuang yang selalu sendirian. Semual ia membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang lebih bersih. Tetapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti dirinya akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Soe Hok Gie tetap bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka, sendirian, kesepian dan menderita. Mungkin yang tetap setia dengan cita-cita kemanusiaan.

 

Bibit-bibit Pembentukan

Kakek buyut Soe Hok Gie, Soe Hoen Tjiang, adalah penduduk asli kepulauan Hainan Cina Selatan. Ia tiba di Batavia sebagai seorang imigran yang miskin, mungkin sekitar tahun 1870-an, yakni masa ketika ribuan orang Cina, hampir semuanya pria muda yang belum menikah dan berasal dari propinsi-propinsi di salatan, mulai berimigran ke Asia Tenggara untuk mencari pekerjaan dan peluang baru, kendati ia tidak membawa apa-apa dari kelahirannya, kecuali pakaian yang ia kenakan, ia cukup beruntung bisa menikahi anak perempuan dari keluarga peranakan yang terkemuka. Atas bantuan mertuanya, Soe Hoen Tjiang yang tampak cerdas, berhasil menjadi pengusaha yang sukses. Tetapi anak dan cucu-cucunya ternyata gagal untuk melipatgandakan keuntungan tersebut, yang membeuktikan bahwa mereka tidak mampu mengelola kekayaan dan aset yang mereka warisi.

Soe Hoen Tjiang kemudian berputra tujuh orang. Salah seorang adalah Soe Ho Sei, yang sukses menjalankan sebuah perusahaan roti di Tanah Abang selama permulaan abad ini. Tetapi bisnis roti bangkrut ketika hutang yang menumpuk tidak bisa dibayar. Ia mempunyai anak empat orang dari Soe Lie Piet, ayah Soe Hoe Gie, anak pertama yang lahir di Tanah Abang, Batavia pada 20 Februari 1904. Sebagai anak pertama ia sangat disayangi kakeknya, Soe Hoen Tjiang, yang meminta agar anak itu dibesarkan dirumahnya. Meskipun kakeknya totok, lingkungan sekitarnya adalah lingkungan peranakan sehingga Soe Lie Piet tumbuh dengan menggunakan bahasa Melayu, dengan dialek Cina-Melayu yang menjadi karakteristik komunitas peranakan Cina-Batavia.


1 Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta: LP3ES, 1983, hal 125-126.

2 Ia menulis lebih dari seratus artikel dan sebagian tulisannya dikumpulkan dalam Soe Hok Gie, Zaman Peralihan, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1995.

3 Sri Lestari dan Esti Adi, “Soe Hok Gie, Biodata Tentang Pribadi yang Paradoksal”, dalam Soe Hok Gie, 1995, hal 247—261.

4 John Maxwell, Soe Hok Gie, Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 2001, hal 364-366.

5 Zaenal Arifin, “Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang Mati Muda”, Sinar Harapan, 27 November 1979.

6 A. Muis, “Soe Hok Gie Dalam Kenangan”, Sinar Harapan, 30 Desember 1970.

7 SN. Lestari dan Esti Adi, Soe Hok Gie, Op. cit.,

8 Arief Budiman, “Soe Hok Gie: Sebuah Renungan”, dalam Soe Hok Gie, 1983, hal 1-5.

 

Klik Selengkapnya…..


Sarwo Edhie Wibowo Perintis Orde Baru yang Tersisih

Nama Sarwo Edhie Wibowo tidak terlalu berarti apa-apa bagi kebanyakan orang sampai sebelum peristiwa kudeta Gerakan 30 September 1965. Namanya menjadi begitu dikenal ketika dia dengan kedudukan strategis sebagai Komandan RPKAD, melalui momentun yang tepat berhasil melumpuhkan markas Gestapu di Halim, dan mengeliminasi PKI di Jawa Tengah. Sarwo Edhie Wibowo mempunyai sikap tanpa kompromi dalam mempertahankan prinsip-prinsip sehingga menjauh dirinya dari pusat kekuasaaan. Sebagai Komandan RPKAD yang terlalu keras dalam menurunkan Presiden Soekarno dari kursi kekuasaannya sehingga Sarwo Edhie Wiwobo harus berpindah tempat jauh dari Jakarta. Sebagai Pangdam Bukit Barisan sikap Sarwo Edhie Wibowo yang ingin membubarkan PNI karena dianggap menganut ajaran Marxisme dan dekat dengan Presiden Soekarno, karena pilihannya itu Sarwo Edhie Wibowo harus berpindah tempat jauh di ujung Timur Indonesia Keberhasilan Sarwo Edhie Wibowo memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Irian Jaya) ternyata hanya mengantar Sarwo Edhie Wibowo menjadi Gubernur AKABRI Umum dan Darat. Sebuah jabatan tanpa memiliki pasukan  dan tanpa ada alasan yang bisa diketahui dengan pasti, Sarwo Edhie mengundurkan diri sebelum Indonesia diguncang dengan Persitiwa Lima Belas Januari 1974. Sejak itu Sarwo Edhie Wibowo tidak pernah terlibat dalam dunia militer dan perjalanan kariernya lebih banyak dihabiskan dalam Kekaryaan. Ketika Sarwo Edhie Wibowo menjadi calon anggota DPR mewakili Golkar daereh pemilihan Jakarta dengan nomor urut 1 pada tahun 1987. Ada dugaan kalau Sarwo Edhie Wibowo akan menjadi orang nomor satu dalam lembaga legislatif tersebut. Ternyata dugaan tersebut meleset, Sarwo Edhie Wibowo malahan mengundurkan diri dari DPR yang baru disandang belum sampai tujuh bulan. Perjalanan waktu  telah memperlihatkan bahwa semakin jauhnya dari peristiwa yang menyebabkan nama Sarwo Edhie Wibowo menjadi sedemikian terkenal, posisi Sarwo Edhie Wibowo selanjutnya, banyak dinilai orang, tidak sepandan dengan jasa yang dimiklikinya. Tulisan ini sendiri  menyoroti sumbangan Sarwo Edhie Wibowo dalam ikut menegakkan Orde Baru.

 

 

Berawal dari  Purworejo

Sarwo Edhie Wibwo, lahir di Purworedjo, Jawa Tengah, Sabtu Pon 25 Juli 1925. Ia anak bungsu dari empat bersaudara keluarga R. Kartowilogo, kepala rumah gadai di  Zaman Belanda. Pekerjan ayahnya adalah gambaran ideal bagi Sarwo Edhie Wibowo, model seorang pegawai negeri. Namun cita-cita itu kandas, setelah Sarwo Edhie yang doyan membaca mulai terpesona akan kemampuan serdadu Jepang mengalahkan Rusia di Manchuria. Juga karena melihat kenyataan bahwa pasukan Jepang menggulung serdadu serdadu Belanda yang menduduki Nusantara. Oleh karena itu, Sarwo Edhie Wibowo setelah tamat MULO mohon izin pada ibunya R.A. Sutini Kartowilogo untuk menjadi Heiho (pembantu tentara). Ibunya menangis, karena dia merupakan anak bungsu dan gambaran tentang militer ketika itu, mabuk-mabukan, kasar, tinggal di tangsi dan anak-anaknya tinggal di kolong ranjang. Ketika Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk dididik menjadi Heiho, selama beberapa hari ibunda tercinta menangis.[1]

 

Di asrama, Sarwo Edhie hanya memotong rumput, membersihkan WC dan mengatur tempat tidur tentara Jepang. Ia nyaris keluar. Tiga bulan di sana, ajudan Kohara Butai membawa Sarwo Edhie ke Magelang untuk mengikuti latihan calon bintara Pembela Tanah Air. Belum selesai dididik di sana, ia diboyong ke Bogor buat megikuti latihan sebagai calon perwira. Ternyata Sarwo Edhie memang berbakat. Ia menjadi salah satu lulusan Shodancho (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Ketika dia kembali ke Purwokerto, ibunya merasa senang, karena anaknya menjadi seorang tentara yang terhormat dan gagah.[2]

 

Kemampuan militer Sarwo Edhie diuji, setelah Jepang kalah perang melawan Sekutu. Ketika itu bangsa Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaannya, mendapat ancaman dengan akan kembalinya Belanda. Para pemuda Indonesia berusaha mencegah kedatangan kembali Belanda ke Indonesia, tetapi tidak mempunyai senjata. Untuk memperoleh senjata para pemuda Indonesia (termasuk Sarwo Edhie) terlibat dalam bentrokan dengan alat kekuasaan Jepang. Di sinilah pertama kalinya pemuda eks PETA itu diuji ketrampilan militernya bahkan melawan guru-gurunya .Sesudah itu Sarwo Edhie mengikuti ajakan sahabatnya semasa pendidikan PETA Achmad Yani agar bergabung dalam Batalyon III Badan Keamanan Rakyat, yang dikomandani oleh Achmad Yani sendiri. Kemudian Sarwo Edhie pun terlibat dalam pertempuran melawan Sekutu (yang datang untuk melucuti bala tentara Jepang) yang diboncengi tentara NICA di Magelang. Kapten Sarwo Edhie yang ketika itu dikenal sebagai Komandan Batalyon V Brigade IX/Diponogoro bertempur bukan saja melawan kekuatan asing tetapi dia harus melakukan penumpasan terhadap Pemberontakan PKI-Madiun dan DI/TII di Jawa Tengah.

 

Pada saat perang kemerdekaan, Sarwo Edhie selalu menyelipkan sebilah keris dipinggangnya dan sekaligus membawa mortir 3 inci dipundaknya. Tembakan Sarwo Edhie senantiasa tepat mengenai sasran karena lewat perhitungan yang matang, yang diterimanya ketika dididik menjadi tentara. Karena kebisaan membawa sebilah keris    itu menyebabkan ada orang-orang tertentu yang menganggap kalau Sarwo Edhie sebelum menembak dengan mortir, terlebih dahulu memutar-mutar keris.[3] Keberhasilan tak selalu berpihak pada Sarwo Edhie , ia pun pernah mengalami kegagalan. Ketika terjadi Agresi Militer II, daerah Kulon Progo , yang merupakan daerah Achmad Yani bergerilya sudah dibom. Sarwo Edhie dari Pring Surat mencari Komandan Brigade IX/Diponogoro Achmad Yani daerah yang disebut Wetan Elo dengan cara memecah-mecah menjadi kecil pasukannya. Ternyata Sarwo Edhie melakukan kesalahan besar dengan pilihan semacam itu. Anak buah Sarwo Edhie ternyata belum terlatih untuk bergerilya sehingga banyak yang menangis, bingung dan minta pulang.[4]

 

Dalam dunia militer,  Sarwo Edhie menghadapi cobaan yang nyaris membuat Sarwo Edhie mengundurkan diri dari dunia ketentaraan. Kejadian pertama terjadi pada masa perang kemerdekaan. Sarwo Edhie bentrok dengan Sukamdani mengenai kebijaksanaan, yang mana menyebabkan Sarwo Edhie patah semangat dan meninggalkan kompinya dan akhirnya menganggur di Purworedjo. Komandan Batalyon III, Kapten Achmad Yani yang mengetahui peristiwa itu menyusul ke Purworedjo untuk mencari Sarwo Edhie dan mengajak Sarwo Edhie untuk bergabung kembali. Sarwo Edhie tak kuasa menampik ajakan teman dan atasannya itu. Kejadian serupa tapi tak sama terjadi pula pada masa sesudah  revolusi Indonesia. Sarwo Edhie yang berpangkat Kapten diturunkan menjadi Letnan Satu, sebagai hukuman dari komandannya yang menganggap Sarwo Edhie tak becus mengatasi anak buahnya yang tak berdisiplin. Sarwo Edhie mengundurkan diri  dan keinginan tersebut diurungkan  setelah mendapat hadrikan serta wejangan orang tua.[5]

 


[1] Pertiwi No. 62-5 September 1988.

[2] Sarinah No. 48-9 Juli 1984.

[3] Ibid.

[4] Amelia Yani, Achmad Yani Seorang Prajurit TNI, (Jakarta: Sinar Harapan, 1988), hal. 52-59.

[5] Ibid dan JAKARTA-JAKARTA No. 223, 6-12 Oktober 1989.

 

Klik Selengkapnya…..


Sartono Kartodirdjo: Sejarawan Multi Dimensional

Tanggal 1 November 1987 di kampus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ada seminar sehari bertema – The Development of Interdisiplinary Approaches in The Study History in Indonesia and Southesst, yang dihadari oleh sejumlah ilmuwan yang mendalami mengenai Indonesia dari manca negara. Bernhard Dahm, A. Teeuw, M.C. Ricklefs, Joseph Fischer dan sejarawan tenar lainnya. Kegiatan seminar ini diselenggarakan untuk dosen untuk menhormati Prof. Dr. Sartono Kartodirjo yang telah memasuki masa pensiun sebagai dosen selama tiga puluh tahun pada Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Sebenarnya Sartono Kartodirdjo telah memasuki masa pensiunnya pada tanggal 1 Maret 1986, tetapi acara seminar diadakan pada tanggal itu, semata-mata untuk mengormati Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo yang menempuh ujian disertasinya, The Peasants’ Revolt of Banten 1888 : Its Conditions, Course dan Sequel ; A Case Study of Social Movement in Indonesia, dengan mendapat nilai Cum Laude pada tanggal yang sama duapuluh satu tahun yang lalu.[1]

 

Sejumlah puja-puji terhadap diri Sartono Kartodirdjo mewarnai acara tersebut. M.C. Ricklefs, guru besar Monash University menyatakan bahwa Sartono Kartodirdjo dalam melakukan pendekatan maupun metode tidak berhenti pada pendekatan konvensional saja, tetapi telah bergerak pada pendekatan sosiologi, sastra dan filsafat. Karena itulah Sartono Kartodirjo lebih terbuka terhadap pendekatan-pendekatan baru dibandingkan dengan kebanyakan sejarawan diluar negeri, maka ia selangkah lebih maju dibandingkan rekan-rekannya. Kalau dulu Sartono Kartodirdjo banyak dipengaruhi oleh bekas guru besarnya seperti Harry J. Benda dan W.F. Weterheim. Tetapi sekarang dia lebih maju dibandingkan keduanya terutama di dalam masalah metedologi.[2]

 

Mendengar puji-puji serta pembacaan riwayat hidup, rupanya Sartono Kartodirjo di luar sekenario upacara langsung minta waktu untuk berbicara. Dengan sigap Rektor UGM Prof. Dr. Koesnadi Hardirdjo mempersilahkan Sartono yang penglihatannya berapa tahun terakhir semakin berkurang itu kemimbar. Dari mimbar Sartono Kartodirdjo berkata, “meski menderita karena menjadi objek, saya juga merasa berbahagia sekali. Karena ….. saya bisa mendengar riwayat hidup tadi ketika saya masih hidup dan sehat”. Segera terdengar gemuruh tepuk tangan. Merujuk pada puja-puji yang didengar siang hari itu, Sartono Kartodirdjo kemudian menyitir salah satu nasihet dalam kitab Ajurna Wihaha, saya akan tetap berusaha . . . . tak menjadi takabur dalam saat mendapatkan anugerah.”

 

Seminar sehari itu bukan berisi puja-puji tetapi juga penghargaan. Sebagai tanda kekaguman serta terima kasihnya Joseph Fischer, mahaguru Universitas California, Amerika Serikat yang sekarang menjadi pengusaha penerbitan dan bekas kolega Sartono Kartodirdjo ketika mengajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM dengan sukarela menyediakan dua tanda penghargaan yang dinamakan : The Profesor Sartono Kartodirjo Prezes in History and Social Thought. Satu diperuntukan setiap mahasiswa UGM yang berhasil menulis skripsi atau tesis terbaik mengenai sejarah Indonesia. Sisanya untuk setiap dosen atau mahasiswa yang menulis Manuskrip terbaik mengenai sejarah Indonesia dan diterbitkan oleh Gajah Mada University Press.

 

Sebagai puncak acara penghargaan kepeda Sartono Kartodirdjo. Gajah Mada University Press menyerahkan kepada Sartono Kartodirdjo sebuah festschrift – Dari Babad dan Hikayat Sampai Sejerah Kritis, yang merupakan karangan yang ditulis sejumlah kolega dan bekas  murid-muridnya. Sebaliknya Sartono Kartodirdjo tidak mau kalah, ia sendiri menyerahkan karya terbarunya – Kebudayaan Pembangunan Dalam Perspekif Sejarah yang merupakan kumpulan artikel, baik yang berasal dari seminar maupun yang tersebar dalam media massa. Sebagai seorang sejarawan tak dapat disangsikan reputasinya. Ia telah menghasilkan puluhan buku dari buah tangannya serta kualitas tulisannya benar-benar bermutu. Tetapi sebagaimana dengan Sartono Kartodirjo sebagai pendidik. Untuk mengetahui itu ada baiknya mendengar apa yang diutarakan oleh Ibrahim Alfian, yang merupakan doktor pertama yang dibimbing oleh Sartono Kartodirdjo.

 

“Persoalan, apakah parameter yang harus dipakai untuk menilai guru yang baik ? kalau parameternya bisa melahirkan sekian banyak penerus dan penyebar ide-idenya, beliau memang seorang guru yang baik dan berhasil … tapi kalau parameternya seorang guru yang baik harus sanggup melahirkan murid yang berkemampuan melebihi gurunya, guru mengajarkan 10 jurus baru, dan sang murid harus bisa menciptakan 60 jurus baru, saya kuatir, beliau belum bisa menghasilkan murid setarap atau melebihi sang guru … beliau ingin menghasilkan harimau namun yang tercipta hanya kambing-kambing. Seperti saya sediri, hanya kambing. Tapi, ini bukan salahnya sang guru mungkin karena kami-kami ini, muridnya, kenyataannya belum bisa menyamai ketekunan, keteladanan, semangat kerja beliu. Saya suadah diajarkan 10 jurus, tetapi jangankan mengembangkan jadi 60 jurus, mungkin hanya sekedar 2 jurus yang saya kuasasi.[3]

 

Kesadaran Sejarah

Sartono Kartodirdjo dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1921, di Wonogiri Salatiga, Jawa Tengah, merupakan buah hasil perkawinan dari Tjiro Sarojo yang berkerja sebagai seorang Posterij Amtenar (PPT) dengan Soetimah, setelah memperoleh dua anak peremuan, Sarsini dan Sarsijem. Ketika Sartono Kartodirjo masih kecil ibunya meninggal dunia dan kemudian ayahnya menikah kembali Sartono memperoleh dua adik perempuan, Sri Soebekti dan Sri Soekesi. Atas terkabulnya keinginan keluarga Tjipto Sarojo memperoleh anak laki-laki, keluarga Sarojo memenuhi nazarnya untuk membawa sang bayi yang belum berusia satu tahun itu menuju Candi Prambanan yang terletak di perbatsan Yogyakarta – Klaten. Sebenarnya ongkos perjalanan berpergian Yogyakarta – Klaten. Sebenarnya ongkos perjalanan berpergian ke Candi Prambanan ketika itu termasuk mahal. Ketika itu kereta api dari Wonogiri, dimana Sartono Katodirdjo dilahirkan menuju Solo saya saja menghabiskan ongkos sebesar tiga puluh sen. Kepergian keluarga Sarojotersebut dengan harapan agar anak laki-lakinya itu menjadi pandai. Harapan orang tua terhadap Sartono Kartodirdjo dianggap telah memberikan kengan khusus. Kenangan seperti itu telah memberi bimbingan supranatural terhadap diri Sartono Kartodirdjo mengenai bangai mana seharusnya hidup itu dijalankan. Sartono Kartodirdjo menganggap bahwa dibawanya dia ketempat bersejarah itu rupanya telah mempengaruhi bawah sadar sehingga menyebabkan Sartono mencintai lapangan yang sampai kini dilakoninya. Ayahnya sebenarnya menginginkan agar putranya menjadi seorang dokter. Hal itu tidak mungkin terlaksana karena Sartono Kartodirdjo takut melihat darah dan beberapa kali semaput kalau melihat darah, karena itu dia menyadiri bahwa masa depan menjadi dokter telah tertutup. Walaupun demikian, Sartono Kortodirdjo menyatakan dirinya tidak merasa mengecewakan hati orangtuanya setelah menjadi sejarah dengan alasan.[4]

 

“Sebab fungsinyakan sama. Saya juga memberikan terapi pada orang lain. Sebab dengan berpegang pada sejarah yang benar. Kemajuan sebuah bangsa dapat terjaga, Keperibadian bangsa juga berakar dari sejarahnya.”

 


[1] Kompas, 2 November 1987.

[2] Editor, 7 November 1987.

[3] Kompas, 2 November 1987.

[4] Wawancara dengan Sartono Kartodirdjo, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Sarinah, 5 September 1989 dan Editor, 7 November 1987.

 

Klik Selengkapnya…..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.