Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Tokoh Indonesia

Tahi Bonar Simatupang dari Militer menuju Gereja

 

Semasa hidupnya Tahi Bonar Simatupang telah mengabdikan diri sebagai prajurit, penggembala umat, pendidik dan penulis. Dalam usianya yang ketiga puluh, ia diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia menggantikan Pangklima Besar Sudirman yang meninggal dunia. Saat itu pangkatnya yang semula  adalah Kolonel kemudian dinaikkan menjadi Mayor Jendral. Beberapa tahun lamanya setelah itu, boleh dibilang ia satu-satunya jendral di Republik ini. Namun pada akhirnya, ia dipensiunkan sebelum menginjak 40 tahun, karena adanya pertentangan dengan Presiden Soekarno. Sesudah itu ia kemudian aktif dalam bidang keagamaan, ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (sekarang Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), Ketua Dewan Gereja –Gereja se-Asia dan menjadi salah seorang Presiden dari Dewan-Dewan Gereja-Gereja se-Dunia yang mewakili benua Asia. Perpindahannya dari dunia militer ke dunia kegerejaan ,sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang mengejutkan. Ini mengingat semua aktivitasnya itu dilakukan demi untuk kepentingan masyarakat. Dari dunianya sana ia menjadi salah satu peletak dasar pemikiran etika untuk mengekspresikan keprihatinan gereja terhadap persoalan masyarakat Indonesia. Perhatiannya terhadap masyarakat pula yang mengantarkannya sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pembinaan dan Pendidikan Manajemen .

 

Kegiatan ceramah di berbagai forum dan juga menulis sejumlah buku dan artikel di Harian Sinar Harapan, (sekarang Suara Pembaruan), di mana dia salah satu pendirinya, menyebabkan banyak orang menyebutkan sebagai intelektual ABRI. Tulisan-tulisan atau buah pikiran Tahi Bonar Simatupang yang pernah mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Tulsa (AS) dalam masalah Kemanusian (1969), meliputi berbagai bidang kajian seperti masalah militer, agama, manajemen serta kenegaraan. Dan kelihatannya bidang militer merupakan masalah yang paling banyak menarik perhatiannya. Tulisan ini menaruh perhatian yang khusus terhadap riwayat kehidupan TB Simatupang yang dikaitkan dengan dunia militer. Suatu dunia yang digelutinya untuk pertama kali, dan bahkan sering disebutkan sebagai cinta pertamanya. Tentu saja tidak dilupakan dunia agama yang merupakan cinta kedua

 

Latar belakang Sosial

Kehadiran sejumlah pengusaha Onderniming yang mencari untung di daerah Sumatra Timur, yang mempunyai tanah subur itu, pada kenyataannya yang menghasilkan sejumlah penderitaan saja bagi masyarakat setempat. Kedatangan para penguasa Onderniming tersebut telah dimanfatkan oleh para penguasa setempat, yang rakus akan kekayaan, dengan memberikan konsesi-konsesi kepada mereka, kaum pendatang dengan tanpa memperdulikan kesejahteraan rakyatnya. Situasi semacam ini hanya membuat penguasa setempat mampu membangun tempat-tempat kediaman yang luas serta mewah, dan sebaliknya uang-uang yang bertaburan dari para pendatang itu tidak menyentuh kehidupan rakyat jelata.Dan bahkan lebih jauh lagi, mereka telah diperlakukan sebagai budak di negerinya sendiri.[1] Keadaan seperti itu pada gilirannya justru menyuburkan lahirnya partai-partai yang berusaha mempertahankan kepentingan anak negeri yang diperlakukan secara semena-mena.

 

Sejak tahun 1910-an, terdapat partai-partai seperti Sarekat Islam, National Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1920, terjadi pemogokan kaum buruh yang sudah tidak tahan lagi diperlakukan dengan tidak adil, dan boleh dibilang ini dilakukan dengan berhasil yang membuat perusahaan Kereta Deli lumpuh. Awal tahun 1930-an rapat-rapat umum Partindo diadakan di Pematang Siantar.[2] yang mana bertindak sebagai ketua pada masa itu adalah Adam Malik.[3] Pada situasi seperti itu ayah Tahi Bonar Simatupang yang bernama Simon Simatupang, gelar Mangaraja Soadun yang bekerja sebagai pegawai Hindia Belanda, adalah salah seorang yang mempunyai minat besar terhadap pergerakan kebangsaan. Pada tahun 1930-an, ia ikut mendirikan Persatuan Kristen Indonesia, yang kemudian dianggap sebagai salah satu pendahulu dari Partai Kristen Indonesia yang didirikan kemudian setelah sesudah Indonesia Merdeka. Kegiatan kehidupan gereja dan persekolahan Krsiten tidak luput juga dari perhatiannya. Simon Simatupang yang mengikuti dengan seksama surat kabar dan majalah – dari Batavia yang menyebarkan cita-cita kebangsaan, adalah orang yang rajin menulis artikel tentang kebudayaan di dalam media massa yang berbahasa Batak. Indonesia dan juga Belanda.[4] Dalam latar belakang sosial seperti itu, Tahi Bonar Simatupang lahir dan berkembang di Sidikalang, yang pada waktu itu terletak di Kresidenan Tapanuli.

 


[1] Karl J. Pelzer, Toean Keboen dan Petani – Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria, (Jakarta: Sinar Harapan, 1985).

[2] Anthony Reid, Perjuangan Rakyat – Revolusi dan Hancurnya Kerejaan di Sumatra Timur, (Jakarta: Sinar Harapan, 1987), hal. 110–126.

[3] Adam Malik, Mengabdi Republik – Adam dari Andalas, Jilid I, (Jakarta: Gunung Agung, 1982 , hal. 17.

[4] H.M. Victor Matondang  (ed), Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang, (Jakarta: BPK Gunung Mulia dan Patenta Sejati, 1986), hal. 66–67.

 

Klik Selengkapnya…..


Soedjatmoko Dekan Intelektual Bebas Indonesia

 

le role d’un clrec n’est’pas de changer le  monde , mais de rester fidele  a un ideal don’t le mainten me semble necessaire a la moralite de’espece humaine

(Julien Benda)

 

Kursi Dekan Intelektual Bebas Indonesia kosong . Pendengarnya tak mungkin mendengar pandangan Soedjatmoko yang cemerlang dengan bobot kearifan yang dilakukan  hampir empat puluh tahun ini. Kini Soedjatmoko meninggalkan warisan yang merupakan buah pikiran Soedjatmoko yang tertuang dalam lebih dari seratus tulisan mengenai masa depan umat manusia.

 

Tulisan-tulisan Soedjatmoko mempunyai dimensi luas . Ia bergerak pada masalah kebudayaan , sastra, sejarah , pembangunan , ilmu pengetahuan , politik, diplomasi , percaturan internasional dan agama. Perhatian Soedjatmoko yang begitu luas dan besar menyebabkan tidak gampang bagi pendengarnya menunjukkan kotak mana Soedjatmoko berada.

 

Soedjatmoko berbicara berbagai masalah ditengah arus kuat berpikir dislipiner dengan ketat membatasi pembahasan masalah dalam bidang –bidang spesialisasi . [1] Ia benar-benar mewaspadai apa yang dipandang sebagai spesialisasi yang berlebihan dalam disiplin akademis dan mencoba belajar tak begitu percaya pada fragmentasi yang mewarnai metode ilmiah . [2] Disiplin ilmu hanya merupakan konsensus yang dihasilkan manusia. Seorang tidak boleh memutlakkan tetapi boleh menerima sehingga membatasi kebebasan berpikir seharusnya disiplin ilmu membantu kebebasan  berpikir dan bukan mengintimidasinya dengan menetapkan batas-batas yang terlanggar [3]

 

Kalau boleh memakai kata-kata Ignas Kleden . Tulisan Soedjatmoko lebih menekankan pada kesungguhan menghadapi masalah ketimbang sebagai usaha membangun suatu pemikiran atau mengadakan penerobosan dalam suatu disiplin ilmu. [4] Dalam bahasa yang hampir sama . Frans von Magnis Suseno menyatakan bahwa Soedjatmoko bukan seorang filsuf yang melahirkan suatu sistim sendiri . Atau melahirkan sebuah bangunan intelektual yang bisa dikagumi oleh generasi berikutnya bukan menjadi tujuan dari Soedjatmoko . Tantangan spiritual dan etis yang dihadapi Soedjatmoko menyebabkan ia menggumuli tema-tema yang begitu luas . [5]

 

Keadaan dunia yang sedemikian suram menyebabkan Soedjatmoko menjadi kecewa sebagaimana tercermin dalam tulisan-tulisannya. Ia menyaksikan dunia dilanda penderitaan , kekecewaan maupun jurang kaya-miskin terus melebar. Pertentangan politik ,resesi ekonomi dan pencemaran lingkungan hidup melanda segenap sistim internasional. Pertumbuhan penduduk yang memusingkan, teknologi yang mengasingkan

dan kekuatan destruktif yang mengerikan    hanya membuat Soedjatmoko gusar. Tulisan-tulisan Soedjatmoko merupakan refleksi atas   prestasi upaya pembangunan pasca Perang Dunia II.

 

Kendati pun demikian tak menyebabkan Soedjatmoko menjadi apatis . Ia pun percaya bahwa langkah-langkah pertama ke arah kelangsungan hidup umat manusia harus diambil, ketika masyarakat menyadari kerentanan yang mengancam masa depan mereka . Soedjatmoko tak memiliki obat untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia karena tak percaya pada adanya obat serba mujarab. Soedjatmoko lebih menyukai memberi jawaban yang tidak sederhana pada masalah yang begitu kompleks yang menjadi perhatiannya. [6]

 

Kalau bisa menggunakan kata-kata Umar Kayam [7] Dalam memberi jawaban Soedjatmoko bukanlah seorang yang akan menjelaskan dalam perjalanan itu ada satu lorong dimensi melainkan mengambil posisi sebagai penunjuk jalan yang memperlihatkan ada beberapa pilihan lorong yang bisa ditempuh . Kemungkinan besar Soedjatmoko tidak akan menjatuhkan pilihan pada satu lorong saja, tetapi yang dikerjakan adalah membeberkan betapa rumitnya lorong-lorong itu. Melalui cara itu membuat para pendengarnya merasa tidak kecewa tidak digurui atau diremehkan kecerdasannya.

 

Soedjatmoko menghargai proses pencarian jawaban sama dengan atau mungkin lebih daripada , hasil pencarian itu.Pendekatan semacam itu dilakukan Soedjatmoko karena ia tak mempunyai keinginan menawarkan jalan pintas sampai ke tempat tujuan . Ia menyadari bahwa ada kemungkinan terdapat lorong-lorong yang tersembunyi dalam menuju suatu perjalanan . [8]

 

Dunia Buku

 

Soedjatmoko merupakan anak kedua dari buah perkawinan Dr. Mohammad Saleh dengan R.A Ismadikun Bt Tjitrokusumo .[9] Ia dilahirkan di Sawahlunto , Sumatra Barat pada tanggal 10 Januari l919 , ketika ayahnya bertugas  sebagai dokter pada Rumah Sakit Umum Sawahlunto  dan kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Kediri ( tahun l922 – 1924 ). Ketika Dr. Mohammad Saleh mendapat bea siswa untuk memperdalam keachliannya di Amsterdam , Negeri Belanda .  Keluarganya dibawa serta . Soedjatmoko hidup di lingkungan Belanda , bukan di lingkungan Jawa  . Ia mulai pendidikan taman kanak-kanak di sana, suatu pengalaman yang tidak lazim

 

Setelah memperoleh gelar doktor . DR. Mohammad Saleh bekerja pada Rumah Sakit Umum Menado ( Tahun l929-1933 ). Di kota itu Soedjatmoko dimasukan sebagai murid Europese Legere School dan mulai menunjukkan sifat mencari . Kelihatannya betapa intens Soedjatmoko kecil menjelajahi pikiran dunia anak-anak. Bacaan yang paling memukaunya adalah seri sejarah dunia dan kisah-kisah petualangan fiksi Jules Verme. Ini memberi kesadaran akan sejarah dan perhatian luas terhadap pengalaman manusia . Ketekunan dan kegemaran membaca telah membawanya pada sifat pendiam . [10]


[1] Aswab Mahasin ,” Soedjatmoko dan Dimensi Manusia : Sekapur Sirih , “ dalam Dimensi Manusia dalam Pembangunan ( Jakarta : LP3ES , 1983 ) , hal. ix – xxvii.

[2] Kahtleen Newland dan Kemala Candrakirana Soedjatmoko , “ Pengantar Penyunting “, dalam , Sopedjatmoko , Menjelajah Cakrawala – Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko ( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan Soedjatmoko , 1994 ) , hal. xxv – lii . .

[3] Ignas Kleden , “ Soedjatmoko : Sebuah Psikologi Pembebasan “, dalam  Soedjatmoko , Etika Pembebasan ( Jakarta : LP3ES , 1984 ) hal. ix – xliii .

[4] Ibid .

[5] Frans Magnis – Suseno , “ Pengantar ,” dalam Nusa Putra , Pemikiran Soedjatmoko Tentang Kebebasan ,” ( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Bekerja Sama Dengan Yayasan Soedjatmoko , 1993 ) , hal. xiii – xv.

[6] Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko .

 

[7] Umar Kayam, “ Sambutan ,” dalam , Soedjatmoko , Menjelajah Cakrawala – Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko , hal. xix – xxiv .

[8] Ibid dan  Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko, op. cit.

[9] Solichin Salam , “ In Memoriam Prof. Dr. KRT Saleh Mangundiningrat ,” Berita Buana , 1 Desember 1989 .

[10] Aswab Mahasin , op.cit dan  MATRA No. 45 – April 1990 .

 

Klik Selengkapnya…..


Soe Hok Gie Sang Demonstran yang Selalu Gelisah

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.1

 

Itulah kata-kata filsuf Yunani yang disukai Soe Hok Gie. Ia merupakan salah satu dari mereka yang menjadi arsitek gerakan-gerakan mahasiswa tahun 1966. Ia pula yang mengotaki Long March Salemba-Rawamangun, aksi mahasiswa memenuhi jalan kota Jakarta yang menuntut penurunan harga bensin dan karcis bis kota. Tulisan-tulisannya yang kritis dan tajam yang tersebar di berbagai media massa mampu menggetarkan hati nurani para pembaca yang berada dalam lingkaran kekuasaan maupun yang menjadi korban perubahan politik.2 Kata-kata yang mengusik kalbu serta yang membayangi langkahnya telah menjadi kenyataan. “Berbahagialah mereka yang mati muda”. Dalam pendakiannya ke Gunung Semeru. Sang maut telah menjemputnya. Ia menjadi korban sesak nafas akibat gas beracun yang mematikan tanpa bau, tanpa warna, dan lebih berat daripada udara yang merembes dari permukaan gunung berapi itu. Ia tewas bersama dengan anggota Mahasiswa Pencinta Alam UI lainnya, Davantari Lubis. Sehari sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh.

Soe Hok Gie meninggal di tengah berbagai kegelisahan. Ia dihadapkan pada kenyataan, bekas teman aktivis mahasiswanya telah melupakan perjuangan sebelumnya. Sebagai tokoh mahasiswa Angkatan ’66 lebih memburu hal-hal yang berbau keduniawian ketimbang memikirkan perubahan menuju masyarakat adil dan makmur. Mantan aktivis mahasiswa yang duduk dalam DPR-GR justeru berbuat mendapatkan kredit murah mobil mewah Holden.3 Bukankah sebelum ia berangkat ke gunung Semeru, Soe Hok Gie bersama sejumlah teman rencana mengirimkan hadiah ‘Lebaran-Natal’ kepada tiga belas perwakilan mahasiswa yang duduk di DPR-GR, berupa pemulas bibir, cermin, jarum dan benang, di sertai surat terlampir yang berisi kumpulan tanda tangan dengan harapan agar mereka lebih menarik di mata penguasa.4

Tokoh-tokoh mahasiswa 1966 yang kecewa dengan keduniawiaan. Mereka mulai menyingkir dari dunia ramai bertani, berternak serta berladang di daerah pedesaan untuk memenuhi panggilan hati nuraninya. Soe Hok Gie memilih ke gunung sebagai upaya yang lebih baik untuk menenangkan ledakan-ledakan hati nuraninya. Ia tak kuasa berjuang sendiri melawan anarki dan verlicht diktator yang telah berhasil menjinakkan rekan-rekannya sendiri.5 Intelektual muda ini berkeinginan mengadakan parlemen jalanan seperti dahulu, tetapi kelihatannya aksi semacam itu akan semakin tidak populer atau akan ditindas penguasa baru dengan alasan keamanan.6

Senjata yang digunakan gerakan mahasiswa dalam menumbangkan pemerintahan Soekarno dan dilarang digunakan oleh pemerintahan yang menggantinya. Kenyataan ini menjadi salah satu alasan Soe Hok Gie menulis. Tulisan-tulisan yang kelewat berani telah mempersulit dirinya sendiri. Seperti sikap permusuhan, banyak teman yang mulai meninggalkannya dan bahkan ia mendapat surat yang akan mengancam akan membuat cacat seumur hidup. ‘Nasibmu telah ditentukan suatu ketika, kau sekarang mulai dibuntuti. Saya nasehatkan jangan pergi sendirian atau malam hari.7 Ibunda Soe Hok Gie pun gelisah dan menyatakan bahwa tulisan-tulisan yang kritis hanya mencari musuh saja dan tidak mendapatkan uang.

Mengapa Soe Hok Gie berbuat demikian? Mengenai maksud Soe Hok Gie bersuara keras dalam tulisan-tulisannya. Sang kakak Arief Budiman menceritakan apa yang dikatakan Soe Hok Gie tentang persoalan tersebut.

 

Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ni. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saja dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.8

 

Kesepian akan datang dan ia siap menerimanya. Soe Hok Gie menyadari bahwa seorang intelektual yang bebas adalah pejuang yang selalu sendirian. Semual ia membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang lebih bersih. Tetapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti dirinya akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Soe Hok Gie tetap bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka, sendirian, kesepian dan menderita. Mungkin yang tetap setia dengan cita-cita kemanusiaan.

 

Bibit-bibit Pembentukan

Kakek buyut Soe Hok Gie, Soe Hoen Tjiang, adalah penduduk asli kepulauan Hainan Cina Selatan. Ia tiba di Batavia sebagai seorang imigran yang miskin, mungkin sekitar tahun 1870-an, yakni masa ketika ribuan orang Cina, hampir semuanya pria muda yang belum menikah dan berasal dari propinsi-propinsi di salatan, mulai berimigran ke Asia Tenggara untuk mencari pekerjaan dan peluang baru, kendati ia tidak membawa apa-apa dari kelahirannya, kecuali pakaian yang ia kenakan, ia cukup beruntung bisa menikahi anak perempuan dari keluarga peranakan yang terkemuka. Atas bantuan mertuanya, Soe Hoen Tjiang yang tampak cerdas, berhasil menjadi pengusaha yang sukses. Tetapi anak dan cucu-cucunya ternyata gagal untuk melipatgandakan keuntungan tersebut, yang membeuktikan bahwa mereka tidak mampu mengelola kekayaan dan aset yang mereka warisi.

Soe Hoen Tjiang kemudian berputra tujuh orang. Salah seorang adalah Soe Ho Sei, yang sukses menjalankan sebuah perusahaan roti di Tanah Abang selama permulaan abad ini. Tetapi bisnis roti bangkrut ketika hutang yang menumpuk tidak bisa dibayar. Ia mempunyai anak empat orang dari Soe Lie Piet, ayah Soe Hoe Gie, anak pertama yang lahir di Tanah Abang, Batavia pada 20 Februari 1904. Sebagai anak pertama ia sangat disayangi kakeknya, Soe Hoen Tjiang, yang meminta agar anak itu dibesarkan dirumahnya. Meskipun kakeknya totok, lingkungan sekitarnya adalah lingkungan peranakan sehingga Soe Lie Piet tumbuh dengan menggunakan bahasa Melayu, dengan dialek Cina-Melayu yang menjadi karakteristik komunitas peranakan Cina-Batavia.


1 Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta: LP3ES, 1983, hal 125-126.

2 Ia menulis lebih dari seratus artikel dan sebagian tulisannya dikumpulkan dalam Soe Hok Gie, Zaman Peralihan, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1995.

3 Sri Lestari dan Esti Adi, “Soe Hok Gie, Biodata Tentang Pribadi yang Paradoksal”, dalam Soe Hok Gie, 1995, hal 247—261.

4 John Maxwell, Soe Hok Gie, Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 2001, hal 364-366.

5 Zaenal Arifin, “Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang Mati Muda”, Sinar Harapan, 27 November 1979.

6 A. Muis, “Soe Hok Gie Dalam Kenangan”, Sinar Harapan, 30 Desember 1970.

7 SN. Lestari dan Esti Adi, Soe Hok Gie, Op. cit.,

8 Arief Budiman, “Soe Hok Gie: Sebuah Renungan”, dalam Soe Hok Gie, 1983, hal 1-5.

 

Klik Selengkapnya…..


Sarwo Edhie Wibowo Perintis Orde Baru yang Tersisih

Nama Sarwo Edhie Wibowo tidak terlalu berarti apa-apa bagi kebanyakan orang sampai sebelum peristiwa kudeta Gerakan 30 September 1965. Namanya menjadi begitu dikenal ketika dia dengan kedudukan strategis sebagai Komandan RPKAD, melalui momentun yang tepat berhasil melumpuhkan markas Gestapu di Halim, dan mengeliminasi PKI di Jawa Tengah. Sarwo Edhie Wibowo mempunyai sikap tanpa kompromi dalam mempertahankan prinsip-prinsip sehingga menjauh dirinya dari pusat kekuasaaan. Sebagai Komandan RPKAD yang terlalu keras dalam menurunkan Presiden Soekarno dari kursi kekuasaannya sehingga Sarwo Edhie Wiwobo harus berpindah tempat jauh dari Jakarta. Sebagai Pangdam Bukit Barisan sikap Sarwo Edhie Wibowo yang ingin membubarkan PNI karena dianggap menganut ajaran Marxisme dan dekat dengan Presiden Soekarno, karena pilihannya itu Sarwo Edhie Wibowo harus berpindah tempat jauh di ujung Timur Indonesia Keberhasilan Sarwo Edhie Wibowo memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Irian Jaya) ternyata hanya mengantar Sarwo Edhie Wibowo menjadi Gubernur AKABRI Umum dan Darat. Sebuah jabatan tanpa memiliki pasukan  dan tanpa ada alasan yang bisa diketahui dengan pasti, Sarwo Edhie mengundurkan diri sebelum Indonesia diguncang dengan Persitiwa Lima Belas Januari 1974. Sejak itu Sarwo Edhie Wibowo tidak pernah terlibat dalam dunia militer dan perjalanan kariernya lebih banyak dihabiskan dalam Kekaryaan. Ketika Sarwo Edhie Wibowo menjadi calon anggota DPR mewakili Golkar daereh pemilihan Jakarta dengan nomor urut 1 pada tahun 1987. Ada dugaan kalau Sarwo Edhie Wibowo akan menjadi orang nomor satu dalam lembaga legislatif tersebut. Ternyata dugaan tersebut meleset, Sarwo Edhie Wibowo malahan mengundurkan diri dari DPR yang baru disandang belum sampai tujuh bulan. Perjalanan waktu  telah memperlihatkan bahwa semakin jauhnya dari peristiwa yang menyebabkan nama Sarwo Edhie Wibowo menjadi sedemikian terkenal, posisi Sarwo Edhie Wibowo selanjutnya, banyak dinilai orang, tidak sepandan dengan jasa yang dimiklikinya. Tulisan ini sendiri  menyoroti sumbangan Sarwo Edhie Wibowo dalam ikut menegakkan Orde Baru.

 

 

Berawal dari  Purworejo

Sarwo Edhie Wibwo, lahir di Purworedjo, Jawa Tengah, Sabtu Pon 25 Juli 1925. Ia anak bungsu dari empat bersaudara keluarga R. Kartowilogo, kepala rumah gadai di  Zaman Belanda. Pekerjan ayahnya adalah gambaran ideal bagi Sarwo Edhie Wibowo, model seorang pegawai negeri. Namun cita-cita itu kandas, setelah Sarwo Edhie yang doyan membaca mulai terpesona akan kemampuan serdadu Jepang mengalahkan Rusia di Manchuria. Juga karena melihat kenyataan bahwa pasukan Jepang menggulung serdadu serdadu Belanda yang menduduki Nusantara. Oleh karena itu, Sarwo Edhie Wibowo setelah tamat MULO mohon izin pada ibunya R.A. Sutini Kartowilogo untuk menjadi Heiho (pembantu tentara). Ibunya menangis, karena dia merupakan anak bungsu dan gambaran tentang militer ketika itu, mabuk-mabukan, kasar, tinggal di tangsi dan anak-anaknya tinggal di kolong ranjang. Ketika Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk dididik menjadi Heiho, selama beberapa hari ibunda tercinta menangis.[1]

 

Di asrama, Sarwo Edhie hanya memotong rumput, membersihkan WC dan mengatur tempat tidur tentara Jepang. Ia nyaris keluar. Tiga bulan di sana, ajudan Kohara Butai membawa Sarwo Edhie ke Magelang untuk mengikuti latihan calon bintara Pembela Tanah Air. Belum selesai dididik di sana, ia diboyong ke Bogor buat megikuti latihan sebagai calon perwira. Ternyata Sarwo Edhie memang berbakat. Ia menjadi salah satu lulusan Shodancho (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Ketika dia kembali ke Purwokerto, ibunya merasa senang, karena anaknya menjadi seorang tentara yang terhormat dan gagah.[2]

 

Kemampuan militer Sarwo Edhie diuji, setelah Jepang kalah perang melawan Sekutu. Ketika itu bangsa Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaannya, mendapat ancaman dengan akan kembalinya Belanda. Para pemuda Indonesia berusaha mencegah kedatangan kembali Belanda ke Indonesia, tetapi tidak mempunyai senjata. Untuk memperoleh senjata para pemuda Indonesia (termasuk Sarwo Edhie) terlibat dalam bentrokan dengan alat kekuasaan Jepang. Di sinilah pertama kalinya pemuda eks PETA itu diuji ketrampilan militernya bahkan melawan guru-gurunya .Sesudah itu Sarwo Edhie mengikuti ajakan sahabatnya semasa pendidikan PETA Achmad Yani agar bergabung dalam Batalyon III Badan Keamanan Rakyat, yang dikomandani oleh Achmad Yani sendiri. Kemudian Sarwo Edhie pun terlibat dalam pertempuran melawan Sekutu (yang datang untuk melucuti bala tentara Jepang) yang diboncengi tentara NICA di Magelang. Kapten Sarwo Edhie yang ketika itu dikenal sebagai Komandan Batalyon V Brigade IX/Diponogoro bertempur bukan saja melawan kekuatan asing tetapi dia harus melakukan penumpasan terhadap Pemberontakan PKI-Madiun dan DI/TII di Jawa Tengah.

 

Pada saat perang kemerdekaan, Sarwo Edhie selalu menyelipkan sebilah keris dipinggangnya dan sekaligus membawa mortir 3 inci dipundaknya. Tembakan Sarwo Edhie senantiasa tepat mengenai sasran karena lewat perhitungan yang matang, yang diterimanya ketika dididik menjadi tentara. Karena kebisaan membawa sebilah keris    itu menyebabkan ada orang-orang tertentu yang menganggap kalau Sarwo Edhie sebelum menembak dengan mortir, terlebih dahulu memutar-mutar keris.[3] Keberhasilan tak selalu berpihak pada Sarwo Edhie , ia pun pernah mengalami kegagalan. Ketika terjadi Agresi Militer II, daerah Kulon Progo , yang merupakan daerah Achmad Yani bergerilya sudah dibom. Sarwo Edhie dari Pring Surat mencari Komandan Brigade IX/Diponogoro Achmad Yani daerah yang disebut Wetan Elo dengan cara memecah-mecah menjadi kecil pasukannya. Ternyata Sarwo Edhie melakukan kesalahan besar dengan pilihan semacam itu. Anak buah Sarwo Edhie ternyata belum terlatih untuk bergerilya sehingga banyak yang menangis, bingung dan minta pulang.[4]

 

Dalam dunia militer,  Sarwo Edhie menghadapi cobaan yang nyaris membuat Sarwo Edhie mengundurkan diri dari dunia ketentaraan. Kejadian pertama terjadi pada masa perang kemerdekaan. Sarwo Edhie bentrok dengan Sukamdani mengenai kebijaksanaan, yang mana menyebabkan Sarwo Edhie patah semangat dan meninggalkan kompinya dan akhirnya menganggur di Purworedjo. Komandan Batalyon III, Kapten Achmad Yani yang mengetahui peristiwa itu menyusul ke Purworedjo untuk mencari Sarwo Edhie dan mengajak Sarwo Edhie untuk bergabung kembali. Sarwo Edhie tak kuasa menampik ajakan teman dan atasannya itu. Kejadian serupa tapi tak sama terjadi pula pada masa sesudah  revolusi Indonesia. Sarwo Edhie yang berpangkat Kapten diturunkan menjadi Letnan Satu, sebagai hukuman dari komandannya yang menganggap Sarwo Edhie tak becus mengatasi anak buahnya yang tak berdisiplin. Sarwo Edhie mengundurkan diri  dan keinginan tersebut diurungkan  setelah mendapat hadrikan serta wejangan orang tua.[5]

 


[1] Pertiwi No. 62-5 September 1988.

[2] Sarinah No. 48-9 Juli 1984.

[3] Ibid.

[4] Amelia Yani, Achmad Yani Seorang Prajurit TNI, (Jakarta: Sinar Harapan, 1988), hal. 52-59.

[5] Ibid dan JAKARTA-JAKARTA No. 223, 6-12 Oktober 1989.

 

Klik Selengkapnya…..


Sartono Kartodirdjo: Sejarawan Multi Dimensional

Tanggal 1 November 1987 di kampus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ada seminar sehari bertema – The Development of Interdisiplinary Approaches in The Study History in Indonesia and Southesst, yang dihadari oleh sejumlah ilmuwan yang mendalami mengenai Indonesia dari manca negara. Bernhard Dahm, A. Teeuw, M.C. Ricklefs, Joseph Fischer dan sejarawan tenar lainnya. Kegiatan seminar ini diselenggarakan untuk dosen untuk menhormati Prof. Dr. Sartono Kartodirjo yang telah memasuki masa pensiun sebagai dosen selama tiga puluh tahun pada Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Sebenarnya Sartono Kartodirdjo telah memasuki masa pensiunnya pada tanggal 1 Maret 1986, tetapi acara seminar diadakan pada tanggal itu, semata-mata untuk mengormati Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo yang menempuh ujian disertasinya, The Peasants’ Revolt of Banten 1888 : Its Conditions, Course dan Sequel ; A Case Study of Social Movement in Indonesia, dengan mendapat nilai Cum Laude pada tanggal yang sama duapuluh satu tahun yang lalu.[1]

 

Sejumlah puja-puji terhadap diri Sartono Kartodirdjo mewarnai acara tersebut. M.C. Ricklefs, guru besar Monash University menyatakan bahwa Sartono Kartodirdjo dalam melakukan pendekatan maupun metode tidak berhenti pada pendekatan konvensional saja, tetapi telah bergerak pada pendekatan sosiologi, sastra dan filsafat. Karena itulah Sartono Kartodirjo lebih terbuka terhadap pendekatan-pendekatan baru dibandingkan dengan kebanyakan sejarawan diluar negeri, maka ia selangkah lebih maju dibandingkan rekan-rekannya. Kalau dulu Sartono Kartodirdjo banyak dipengaruhi oleh bekas guru besarnya seperti Harry J. Benda dan W.F. Weterheim. Tetapi sekarang dia lebih maju dibandingkan keduanya terutama di dalam masalah metedologi.[2]

 

Mendengar puji-puji serta pembacaan riwayat hidup, rupanya Sartono Kartodirjo di luar sekenario upacara langsung minta waktu untuk berbicara. Dengan sigap Rektor UGM Prof. Dr. Koesnadi Hardirdjo mempersilahkan Sartono yang penglihatannya berapa tahun terakhir semakin berkurang itu kemimbar. Dari mimbar Sartono Kartodirdjo berkata, “meski menderita karena menjadi objek, saya juga merasa berbahagia sekali. Karena ….. saya bisa mendengar riwayat hidup tadi ketika saya masih hidup dan sehat”. Segera terdengar gemuruh tepuk tangan. Merujuk pada puja-puji yang didengar siang hari itu, Sartono Kartodirdjo kemudian menyitir salah satu nasihet dalam kitab Ajurna Wihaha, saya akan tetap berusaha . . . . tak menjadi takabur dalam saat mendapatkan anugerah.”

 

Seminar sehari itu bukan berisi puja-puji tetapi juga penghargaan. Sebagai tanda kekaguman serta terima kasihnya Joseph Fischer, mahaguru Universitas California, Amerika Serikat yang sekarang menjadi pengusaha penerbitan dan bekas kolega Sartono Kartodirdjo ketika mengajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM dengan sukarela menyediakan dua tanda penghargaan yang dinamakan : The Profesor Sartono Kartodirjo Prezes in History and Social Thought. Satu diperuntukan setiap mahasiswa UGM yang berhasil menulis skripsi atau tesis terbaik mengenai sejarah Indonesia. Sisanya untuk setiap dosen atau mahasiswa yang menulis Manuskrip terbaik mengenai sejarah Indonesia dan diterbitkan oleh Gajah Mada University Press.

 

Sebagai puncak acara penghargaan kepeda Sartono Kartodirdjo. Gajah Mada University Press menyerahkan kepada Sartono Kartodirdjo sebuah festschrift – Dari Babad dan Hikayat Sampai Sejerah Kritis, yang merupakan karangan yang ditulis sejumlah kolega dan bekas  murid-muridnya. Sebaliknya Sartono Kartodirdjo tidak mau kalah, ia sendiri menyerahkan karya terbarunya – Kebudayaan Pembangunan Dalam Perspekif Sejarah yang merupakan kumpulan artikel, baik yang berasal dari seminar maupun yang tersebar dalam media massa. Sebagai seorang sejarawan tak dapat disangsikan reputasinya. Ia telah menghasilkan puluhan buku dari buah tangannya serta kualitas tulisannya benar-benar bermutu. Tetapi sebagaimana dengan Sartono Kartodirjo sebagai pendidik. Untuk mengetahui itu ada baiknya mendengar apa yang diutarakan oleh Ibrahim Alfian, yang merupakan doktor pertama yang dibimbing oleh Sartono Kartodirdjo.

 

“Persoalan, apakah parameter yang harus dipakai untuk menilai guru yang baik ? kalau parameternya bisa melahirkan sekian banyak penerus dan penyebar ide-idenya, beliau memang seorang guru yang baik dan berhasil … tapi kalau parameternya seorang guru yang baik harus sanggup melahirkan murid yang berkemampuan melebihi gurunya, guru mengajarkan 10 jurus baru, dan sang murid harus bisa menciptakan 60 jurus baru, saya kuatir, beliau belum bisa menghasilkan murid setarap atau melebihi sang guru … beliau ingin menghasilkan harimau namun yang tercipta hanya kambing-kambing. Seperti saya sediri, hanya kambing. Tapi, ini bukan salahnya sang guru mungkin karena kami-kami ini, muridnya, kenyataannya belum bisa menyamai ketekunan, keteladanan, semangat kerja beliu. Saya suadah diajarkan 10 jurus, tetapi jangankan mengembangkan jadi 60 jurus, mungkin hanya sekedar 2 jurus yang saya kuasasi.[3]

 

Kesadaran Sejarah

Sartono Kartodirdjo dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1921, di Wonogiri Salatiga, Jawa Tengah, merupakan buah hasil perkawinan dari Tjiro Sarojo yang berkerja sebagai seorang Posterij Amtenar (PPT) dengan Soetimah, setelah memperoleh dua anak peremuan, Sarsini dan Sarsijem. Ketika Sartono Kartodirjo masih kecil ibunya meninggal dunia dan kemudian ayahnya menikah kembali Sartono memperoleh dua adik perempuan, Sri Soebekti dan Sri Soekesi. Atas terkabulnya keinginan keluarga Tjipto Sarojo memperoleh anak laki-laki, keluarga Sarojo memenuhi nazarnya untuk membawa sang bayi yang belum berusia satu tahun itu menuju Candi Prambanan yang terletak di perbatsan Yogyakarta – Klaten. Sebenarnya ongkos perjalanan berpergian Yogyakarta – Klaten. Sebenarnya ongkos perjalanan berpergian ke Candi Prambanan ketika itu termasuk mahal. Ketika itu kereta api dari Wonogiri, dimana Sartono Katodirdjo dilahirkan menuju Solo saya saja menghabiskan ongkos sebesar tiga puluh sen. Kepergian keluarga Sarojotersebut dengan harapan agar anak laki-lakinya itu menjadi pandai. Harapan orang tua terhadap Sartono Kartodirdjo dianggap telah memberikan kengan khusus. Kenangan seperti itu telah memberi bimbingan supranatural terhadap diri Sartono Kartodirdjo mengenai bangai mana seharusnya hidup itu dijalankan. Sartono Kartodirdjo menganggap bahwa dibawanya dia ketempat bersejarah itu rupanya telah mempengaruhi bawah sadar sehingga menyebabkan Sartono mencintai lapangan yang sampai kini dilakoninya. Ayahnya sebenarnya menginginkan agar putranya menjadi seorang dokter. Hal itu tidak mungkin terlaksana karena Sartono Kartodirdjo takut melihat darah dan beberapa kali semaput kalau melihat darah, karena itu dia menyadiri bahwa masa depan menjadi dokter telah tertutup. Walaupun demikian, Sartono Kortodirdjo menyatakan dirinya tidak merasa mengecewakan hati orangtuanya setelah menjadi sejarah dengan alasan.[4]

 

“Sebab fungsinyakan sama. Saya juga memberikan terapi pada orang lain. Sebab dengan berpegang pada sejarah yang benar. Kemajuan sebuah bangsa dapat terjaga, Keperibadian bangsa juga berakar dari sejarahnya.”

 


[1] Kompas, 2 November 1987.

[2] Editor, 7 November 1987.

[3] Kompas, 2 November 1987.

[4] Wawancara dengan Sartono Kartodirdjo, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Sarinah, 5 September 1989 dan Editor, 7 November 1987.

 

Klik Selengkapnya…..


Nugroho Notosusanto di Antara Baju Sipil dan Militer

Sejarah adalah suatu disiplin yang dipelajari

secara luas di kalangan bangsa-bangsa dan ras-ras. Ia banyak dicari dengan penuh keinginan.

Orang biasa berdaya upaya untuk mengetahuinya. Raja-raja dan pemimpin-pemimpin berlomba untuk memperolehnya .

(Ibn Khaldun, al-Muqaddimah, 1377)

 

 

 

Pada hari Senin, 3 Juni 1985 , di sebuah rumah tinggal di kompleks Perumahan Menteri Jalan Gatot Subroto , Jakarta Pusat  , Nugroho Notosusanto , Rektor Universitas Indonesia merangkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, menutup mata untuk selama-lamanya . Keesokan harinya, jenazahnya disemayamkan sebentar di Universitas Indonesia , Alma Mater almarhum , sebelum diantar dengan iring-iringan menuju ke Taman Makam Pahlwan Kalibata , Jakarta .

 

Di bangsal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , ada ratusan atau mungkin ribuan mahasiswa Universitas Indonesia yang   harus   berdesak-desakan  dalam memberi penghormatan terakhir kepada almarhum Nugroho Notosusanto serta  mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga yng ditinggalkan . Istri , Irma Savitri dan  ketiganya

Indriya Smita , Inggita Suksma dan Narottama. Di Taman Makam Pahlawan , ribuan pelayat mengantar jenazah   Rektor   Universitas   Indonesia   yang   merangkap   Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan RI ke tempat peristirahatannya yang terakhir . Di situlah ada sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia penghuni asrama Daksinapati membentangkan spanduk yang cukup panjang dan bertuliskan “ Selamat Jalan Bapakku”.Kesemuanya ini  merupakan  simpati  terhadap  almarhum  Nugroho  Notosusanto . Kepergiannya jelas merupakan pukulan yang  buat Civitas Akademika UI , tetapi itulah kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

 

Tiga tahun sebelumnya. Di Aula Fakultas Kedokteran UI , hari Jum’at sorenya, tanggal 15 January 1982 , berlangsung acara serah terima dan pelantikan Rektor UI yang baru Prof. Dr. Nugroho Notosusanto . [1] Pelantikannya sendiri dilakukan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Dody Tisnaamidjaja mewakili Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan , Dr. Daoed Joesoef saat itu . Acara pelantikan diliputi oleh suasana yang panas , dengan terdengarnya suitan, cemooh maupun teriakan histeris mahasiswa . Malahan ada mahasiswa yang membakar petasan . Selesai pelantikan , para mahasiswa menggelar spanduk besar kain kuning yang bertuliskan “ Jangan nodai kampus kami dengan sepatu lars “. Kejadian tersebut rasanya sulit diketemukan sepanjang sejarah Universitas Indonesia .

 

Kejadian itu jelas membekas di hati Nugroho Notosusanto , dan ia melukiskan apa yang terjadi pada saat itu dalam sebuah tulisannya :

Upacara   dimulai   dengan   pembacaan     Keputusan  Presiden   yang    mengungkapkan pengangkatan   saya   menjadi   Rektor Universitas  Indonesia . Teriakan-teriakan tambah menjadi-jadi ditambah dengan  suitan-suitan dan bunyi pukulan-pukulan benda tumpul . Pada waktu saya mengucapkan sumpah jabatan , teriakan-teriakan berlangsung terus, sehingga menyulitkan lafal sumpah . Belum pernah saya mengalami atau menyaksikan riuh seperti itu agaknya tidak pernah mengalami lagi . Ketika Prof. Dr. Dody Tisnaamidjaja , Dirjen Pendidikan , membacakan amanat Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan teriakan-teriakan tersebut tetap ada. Dan yang sebentar membuat darah saya mendidih ; ketika ulama membacakan doa , kekhusukan buyar berantakan karena teriakan-teriakan yang menggila …! Kalaupun masih ada keraguaan-keraguan dalam hati Saya mengenai tindakan yang harus saya ambil dalam menyelesaikan tahap pemantapan , maka pada saat itu saya tidak bimbang lagi.  Suatu  ketenangan   yang   luar   biasa   turun dalam hati saya yang beberapa detik yang lalu bergolak .[2]

 

Melihat kejadian tersebut , timbul sebuah pertanyaan , apa yang menyebabkan sejumlah mahasiswa sedemikian tidak menyukai kehadiran Nugroho Notosusanto sebagai Rektor Universitas Indonesia yang baru ? Terlepas dari jawaban apapun yang bisa diberikan sebenarnya Nugroho Notosusanto bukanlah orang baru di lingkungan Universitas Indonesia .Hampir sepuluh tahun dia habiskan waktunya sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra dan Filsafat UI dan lebih dari 20  tahun dia mengabdikan dirinya pada Alma Mater sebagai staf  pengajar  Bahkan dia menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan di bawah Rektor dr. Syarief Thayeb dan Prof Dr. Sumantri Brodjonegoro pada pertenganan tahun 1960-an.

 

Dunia Kemahasiswaan

 

Nugroho Notosusanto dilahirkan di rumah kakeknya R.P. Notomijoyo , pensiunan Patih Rembang , di kampung Pandean, pada hari Senin Wage, tanggal 15 Juni 1931 . Ia adalah buah perkawinan antara Notosusanto lulusan Rechshogeschool Batavia dan Tini, Putri seorang Hoofd Jaksa di Rembang .[3] Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta pada tahun 1951. Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan Filsafat  Universitas  Indonesia . Saat itu ia terdaftar sebagai mahasiswa jurusan bebas FSUI , yakni jurusan dengan bidang ilmunya belum menjadi program tersendiri . Disinilah Nugroho Notosusanto mengembangkan minatnya dalam studi sejarah ,terutama  di bawah bimbingan Prof. Dr. Mr. Soekanto selaku guru besar dalam induk mata pelajaran sejarah Indonesia .[4] Sebagai mahasiswa , selain belajar , ia banyak menyibukkan diri dalam dunia kemahasiswaan .

 

Setelah satu tahun sebagai aktivis mahasiswa  pada tahun 1952.  , Nugroho Notosusanto  terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI [5] , dan kemudian ia bersama-sama teman-temannya yang lain ( antara lain : Emil Salim ) mendirikan Dewan Mahasiswa UI pada tahun 1954 . Di sana Nugroho Notosusanto duduk sebagai anggota Badan Perwakilan DMUI dan juga menjadi Redaktur Penerbitan DMUI Mahasiswa [6] Aktivitasnnya dalam penerbitan pers UI mengantarkannya menjadi Ketua Serikat Pers Mahasiswa Indonesia pada tahun  yang sama . Sementara itu ia tercatat juga sebagai Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Djakarta  (1955 -1956 ). Pada tahun 1958 , ketika Serikat Pers  Mahasiswa Indonesia  dan Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia bergabung menjadi Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia , ia beralih ke bidang kesenian mahasiswa dan menjadi Ketua Badan Kerja Sama Kesenian Mahasiswa Indonesia , yang salah satu kegiatannya menyelenggarakan forum kegiatan Kesenian mahasiswa dalam bentuk Pekan Kesenian Mahasiswa .[7]

 


[1] “ UI berusia 33 Tahun – Nugroho Notosusanto  : UI Ibarat Menara Api “ , Suara Karya , 1 Feberuari 1983 .

[2] Nugroho Notosusanto, Menegakkan Wawasan Alma Mater , ( Jakarta : UI Press, 1984 ) , hal. 121 – 122 .

[3] Keluarga Nugroho Notosusanto , Mengenang Nugroho Notosusanto , ( Jakarta : PT Bulan Bintang , 1984 ) , hal. 98 .

[4] Iskandar P. Nugraha , Mengenang Hidup dan Pengabdian Nugroho Notosusanto , “ Historia , Edisi Khusus – Juni 1988 , hal. 3.

[5] Daftar Ketua Senat Mahasiswa FSUI – 1950 – 1981 . Lihat Meutia F. Swasono , Buku Peringatan Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1940 – 1980 , ( Jakarta : FSUI , 1980 ) , hal. 59 .

[6] Keluarga Nugroho Notosusanto , ibid, hal. 93 .

[7] Ibid, hal. 92.

 

Klik Selengkapnya…..


Moestopo; Menteri Pertahanan ‘Pertama’ yang Mengabdi pada Dunia Pendidikan

Di daerah  Kebayoran Baru terdapat perguruan tinggi, Universitas Prof Dr. Moestopo (Beragama). Sebuah perguruan tinggi tersebut  menggunakan nama seseorang   yang mendirikannya. Anak keenam dari delapan bersaudara, putra Raden Koesoemowinto pensiunan wedana Kediri di terdapat sejumlah gelar yang menyertai namanya. Lengkapnya Mayor Jendral (Purn) Prof. Doktor Moestopo  Os (Oral surgeon), Orth (Orthdentist), Opdent (Operatives dentes), Pedo/De (Pedodentic/Dentalheatlh education), Prost (Pristhodonotia), Biol (Biologist) dan Panca (Pancasila). Sederetan gelar disertai sejumlah gelar di belakang namanya  sebagai Bapak Publisitik/Ilmu Komunikasi, Bapak Perminyakan, Bapak Recllassering, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapak Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Bapak Pengawal Pancasila dan Bapak Kerukunan Umat Beragama Indonesia.

Sederatan gelar yang menyertai nama dari pendiri Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) sebenarnya menunjukkan betapa luas minat, lakon yang dimainkan serta sumbangan dari ayah dari sembilan anak tersebut. Moestopo bukan saja menyandang sebelas tanda jasa dari Pemerintah Republik Indonesia yang diberikan atas pengabdiannya kepada bangsa dan tanah air Indonesia. Tulisan di bawah ini  mencoba mengisahkan peranan dari Moestopo dalam perjalanan bangsa Indonesia dengan demikian bisa diperoleh gambaran mengenai sederetan gelar maupun sejumlah tanda jasa yang ada pada Moestopo.

 

Menjadi Dokter Gigi

Moestopo dilahirkan di Ngaduluwih, Kediri pada tanggal 13 Juni 1913, dari buah perkawinan Raden Kusumowinoto, seorang pensiunan wedana dengan Indoen Sukijah. Ketika Moestopo berusia lima tahun, dia harus berpisah dengan kedua orangnya dan tinggal bersama dengan pamannya merupakan adik dari ayah Moestopo. Ia adalah seorang bupati Kediri yang bernama Raden Kusumo Adinoto. Rupanya Moestopo tidak tinggal terlalu lama bersama pamannya. Ketika Moestopo mulai masuk Hollands Indslansche Scholl, dia  kembali tinggal bersama keluarga dan ayahnya ketika itu menjadi Fiscal Griffer di Kediri. Sewaktu Moestopo duduk di kelas V HIS, Raden Kusumowinoto meninggal dunia, Indoen Sukijah menitipkan Moestopo pada pamannya  (dari ibu) yang menjadi wedana Plamah Kediri. Selama tinggal di sana Moestopo yang juga bersekolah di madrasah ketika itu mulai memperoleh ketrampilan menggembala kambing dan menanam sayur-sayuran yang berupa kubis dan jenis sayur-sayuran lainnya. Kemudian ketika dia duduk di kelas VI dan kelas VII HIS  Moestopo menjadi jongos di kediaman Kepatihan Kediri dan dia mulai bekerja dari pukul 21.00 sampai 23.00 W.I.B. Selain itu setiap hari Rabu minggu terakhir setiap bulan, Moestopo terpaksa bolos sekolah karena harus bekerja sebagai juru tulis di pasar ternak yang menjual kambing, sapi dan kerbau.

Setelah menyelesaikan HIS pada tahun 1927,  Moestopo kemudian   melanjutkan sekolah Voor Klass MULO (kelas persiapan sekolah lanjutan pertama) dengan biaya ditanggung kerabatnya. Sebagai seorang yatim Moestopo belajar dengan keras agar tidak mengecewakan kerabatnya yang telah membiayai sekolahnya dan kerja kerasnya ternyata berbuah dengan lulusnya Moestopo dari MULO pada tahun 1931 dan Moestopo tidak berhenti di situ saja dia melanjutkan pendidikannya ke Hollands Indslansche Kweekschool. Ketika Moestopo berada di kelas III HIK, Moestopo tingal bersama dengan saudara misannya Raden Sutari sampai Moestopo berada di kelas II School ter Opleiding van Indische Tandartsen (sekolah pendidikan dokter gigi Indonesia) dan yang menanggung biaya pendidikannya adalah kakak Moestopo Raden Mustajab yang pernah menjadi Walikota Surabaya.

Ketika Moestopo duduk di kelas III STOVIT, Moestopo melepaskan diri menjadi beban kerabatnya dengan membiayai pendidikannya dan sekarang Moestopo mulai hidup mandiri. Moestopo membiayai pendidikannya sekaligus kehidupan sehari-hari dengan cara kalau sehabis pulang  kuliah siang hari, Moestopo berdagang beras dan barang-barang kelontong lainnya dengan menggunakan gerobak dorong. Moestopo mulai berdagang dari siang hari hingga sore hari dengan diawali mulai menjual sabun sampai akhirnya bisa menjadi leveransir kebutuhan rumah tangga Asrama Agama Kristen Surabaya, Asrama Dokter NIAS dan keluarga besar di daerah  Tambaksari.

Meskipun Moestopo sibuk berdagang,  Moestopo juga menjadi Dental Technician dari Prof. M. Knap yang menjadi guru besar Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi STOVIT Surabaya. Moestopo mulai bekerja dari 17.00 sampai pukul 24.00 W.I.B. dan bahkan sering baru selesai pada pukul 02.00 WIB dinihari. Dari hasil kerja kerasnya, Moestopo bukan hanya mampu membiayai kuliahnya serta kehidupan sehari-hari, tetapi dia mampu menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk membeli sebuah rumah sederhana yang beratap alang-alang yang letaknya berada di luar kota Surabaya.

Sehabis pulang bekerja sebagai Dental Technician, Moestopo yang ketika itu masih duduk di tingkat akhir sekolah kedokteran gigi STOVIT mengadakan pengobatan untuk masyarakat luas. Karena pengabdian masyarakat yang dilakukan Moestopo menyebabkan dia memperoleh keuntungan ganda. Hampir setiap malam ada saja orang yang telah menyediakan makanan untuk Moestopo dan karena kegiatannya itu berarti Moestopo berhasil mengamalkan ilmu kedokteran gigi yang dimiliknya. Meskipun Moestopo sibuk berdagang dan bekerja hal itu tidak mengurangi keinginan Moestopo untuk menyelesaikan studinya dan Moestopo berhasil menamatkan studinya pada tahun 1937.

Walaupun Moestopo telah memperoleh gelar dokter gigi, tidak berarti Moestopo hanya menaruh perhatian pada dunia kedokteran gigi. Moestopo tetap menjadi leveransir bahan-bahan kebutuhan rumah tangga selain bekerja sebagai Dental Technician. Kalau Prof. M. Knapp berhalangan karena berpergian ke luar negeri maka Moestopo yang menggantikannya. Kalau hari minggu atau hari-hari libur lainnya Moestopo mengadakan pengabdian masyarakat dengan pergi ke alun-alun Gresik dan membuka praktek cuma-coma di sana, yang letaknya dari Surabaya sekitar enam kilo meter perjalanan. Rupanya keberuntungan berada di tangan Moestopo sehingga dia bisa membuka klinik di Gresik dan melakukan praktek partikelir di Surabaya dan akhirnya dengan penghasilannya membuka klinik dan tempat praktek Moestopo bisa membeli alat-alat kedokteran gigi serta membuka praktek di jalan Princeselan Surabaya. Ketika Prof. Knapp ditugaskan menjalankan wajib milisi untuk menghadapi balatentara Jepang yang akan datang menguasai Hindia Belanda, Moestopo diangkat sebagai wakil direktur sekolah tinggi kedokteran gigi STOVIT Surabaya dan dalam tahun yang sama menjadi Kepala Bagian Klinik Gigi CBZ ( Rumah Sakit Umum ) Surabaya pada tahun 1941.[1]


[1] Panitia Penulisan Buku Sejarah Berdiri dan Berkembangnya Universitas Profesor Doktor Moestopo (Beragama), Sejarah Berdiri dan Berkembangnya Universitas Profesor Doktor Moestopo, (Jakarta; tanpa tahun penerbit, 1990), hal. 3 – 31.

 

Klik Selangkapnya…..


Hamengku Buwono IX; Sultan yang Mengabdi pada Republik

Ketika Proklamasi Kemerdekaan Hamengku Buwono IX menunjukkan simpati dan dukungan terhadap Republik Indonesia. Malahan Hamengku Buwuno IX mengundang Pemerintah Republik Indonesia untuk memindahkan kedudukannya ke Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat  (ketika situasi di Jakarta kurang aman) yang kemudian menjadi jantung revolusi Indonesia. Dari sanalah gerakan kemerdekaan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dimulai. Sikap berpihak Hamengku Buwono IX pada Republik bisa dimengerti, karena sebagaimana yang dikatakan Hamengku Buwono IX  “My nacestors always struggled againts the Ducth, Jogjakarta was born out that“.[1] Sejarah Indonesia  pun mencatat sejumlah keturunan dari Panembahan Senapati, yang dahulunya bernama Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram telah mendapat anugerah dari pemerintah Republik Indonesia, sebagai pahlawan bangsa Indonesia.[2] Seperti Sultan Agung (1591–1645), Pangeran Diponogoro,  putera  Hamengku Buwono III (1785– 1855) dan  Sri Susuhunan Paku Buwono  VI (1807–1849), yang membantu Pangeran Diponogoro dalam Perang Jawa (1825–1830). Ketiganya memperoleh penghargaan sebagai pahlawan nasional. Suryopranoto (1871–1959), yang memperoleh julukan De Staingskoning (Raja Mogok) dari pemerintah Belanda, karena cucu Paku Alam III menentang penguasa Belanda dengan memimpin pemogokan kaum buruh di pabrik-pabrik gula dan rumah penggadaian dikukuhkan sebagai pahlawan pergerakan nasional, Ki Hajar Dewantara (1880–1959), adik Suryapranoto berlainan ibu memperoleh gelar pahlawan pergerakan nasional. Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (1772– 1795) sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.[3] Pemerintah Soeharto berdasarkan Surat Keputusan Republik Indonesia 053/TK/Tahun 1990, tanggal 39 Juli 1990, menganugerahi  Hamengku Bwono IX sebagai pahlawan nasional.

 

Syahdan pada tahun  1629  bala tentara kerajaan Mataram yang telah memperoleh perintah dari Sultan Agung  untuk menyerang Belanda tiba di tepi sungai Ciliwung. Bala tentara Mataram menjadikan daerah sekitar sungai Ciliwung tersebut sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan terhadap Belanda. Oleh karena itu daerah tersebut sampai sekarang terkenal dengan nama Mataram (Matraman). Bala tentara Mataram tidak berhasil menaklukan Belanda dan dari Batavia inilah Belanda meluaskan daerah kekuasaannya sehingga pada akhirnya seluruh wilayah Nusantara berada dibawah pengaruh Belanda. Tiga ratus dua puluh tahun kemudian yakni pada tanggal 27 Desember 1949 sore, sebuah delegasi berangkat dari gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, yang terletak di daerah Mataram menuju Paleis Rijswik untuk menghadiri upacara berakhirnya kekuasaan Belanda di  wilayah Nusantara ini. Sejak terjadinya pengakuan kedaulatan nama Paleis Rijswik digantikan menjadi Istana Merdeka. Delegasi yang menghadiri upacara peresmian berakhirnya kekuasaan Belanda atas Indonesia itu berada di bawah pimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, keturunan Sultan Agung.[4]

 

Kerajaan Mataram berawal dengan berkuasannya Kiai Gede Pemanahan di tanah Mataram, yang merupakan vasal dari Kesultanan Padang. Ketika Kiai Gede Mataram Pamanahan yang kemudian disebut sebagai Kiai Gede Mataram meninggal dunia pada tahun 1551, diganti oleh putranya, Sutawijaya  yang disebut juga sebagai Pangeran Ngabei Loring Pasar. Sutawijaya kemudian memberontak terhadap kesultanan Pajang. Setelah Sultan Pajang meninggal pada tahun 1582, Sutawijaya mengangkat dirinya sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Kesultanan Pajang dijadikan daerah bagian Mataram yang beribukotakan di Kotagede. Di masa pemerintahan Panembahan Senapati menjalankan politik ekspansi sehingga daerah kekuasannya semakin luas saja.


[1] “ History – A Sultan Remembers” , ASIAWEEK , May , 1986.

[2] Adanya macam ragam gelar pahlawan (nasional, pergerakan nasional dan kemerdekaan nasional) memang membingungkan. Lihat, Taufik Abdullah, “Pahlawan Dalam Sejarah,” Prisma , No. 7 Tahun V, Juli 1976, hal. 59 – 65 dan “ Macam Ragam Pahlawan,”  Tempo , No. 38 Tahun XVI – 15 November 1986.

[3] Team Bahtera Jaya , Album 90 Pahlawan Nasional, ( Jakarta : Bahtera Jaya , 1991 ).

[4] T.B. Simatupang , Laporan Dari Banaran , ( Jakarta : Sinar Harapan , 1980 ) , hal. 231.

 

Klik Selengkapnya…..


Drijarkara; Imam yang Merintis Studi Filsafat

Nama Drijarkara terukir di depan tembok Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara, sebuah perguruan tinggi yang berlokasi di Jakarta Pusat. Sebuah lembaga filsafat pendidikan yang dirintis oleh Sarekat Yesus dan Ordo Fratrum Minorum dengan dukungan Keuskupan Agung Jakarta. Pendapat-pendapatnya dikutip banyak orang, terutama ketika orang berbicara tentang pemikiran spekulatif itu, sebuah bidang ilmu yang dianggap tidak praktis. Memang ilmu filsafat pernah menjadi ilmu yang universal, payung segala ilmu positif. Tetapi ilmu-ilmu positif makin berkembang, makin tersepesialisasi, selaras dengan pragmatisme kehidupan manusia. Ilmu filsafat pun berkembang sebagai salah satu disiplin ilmu. Spekulasi tentang manusia kurang mendukung sikap pragmatis, primum vivere deinde philosophari. Perkembangan ini tidak merugikan filsafat, melainkan makin memberi ruang bagi ilmu filsafat memainkan peran yang sebenarnya menangani pertanyaan-pertanyaan yang tak tersentuh oleh ilmu-ilmui positif seperti pertanyaan tentang apa siapanya manusia (antropologi). apa siapanya ilmu pengetahuan (epistemologi), apa siapanya alam semesta (kosmologi) dan apa siapanya keberadaan (ontologi).

Lebih dari tiga puluh tahun lalu, Drijarkara mempertanyakan apa ada orang yang mau belajar filsafat di Indonesia? Tiga puluh tahun kemudian, keraguan itu terjawab dengan kenyataan bahwa semakin banyaknya analisis filsafat dipakai dalam memberi penjelasan masalah. Satu dasawarsa terakhir ini semakin banyak orang Indonesia yang menaruh minat terhadap analisis filsafat, terutama kalangan muda. Ada kecenderungan orang memakai disiplin ilmu filsafat untuk mempertajam disiplin ilmu positip (ekonomi. sosiologi, kedokteran dll). Filsafat lebih merupakan metode pendekatan daripada gudang jawaban. Filsafat mau mendidik manusia untuk mendekati masalah–masalah yang dasar yang dihadapinya secara terbuka, sistimatis, kritis dan tak berdasarkan apriori, atau prasangka, dogmatis, dan ideologis, melainkan secara rasional dan argumentatif. Apa yang berkembang kemudian memang tak bisa lepas dari jasa Nicolas Drijarkara untuk menjawab tentang kerinduan adanya pengembangan studi ilmu filsafat. Berkat Drijarkara ilmu filsafat di Indonesia bukan sebagai enklaf milik segelintir orang, melainkan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Filsafat yang menjadi hidupnya itu mendorong dia untuk gigih berusaha menyadarkan masyarakat, bahwa filsafat adalah soal kedalaman hidup, hidup yang bernas; dan kedalaman hidup itu merupakan suatu berlian terpendam yang dmiliki bangsa Indonesia.[1] Warisan karyanya terserak dalam 31 karangan dan 7 tulisan mengenai Pancasila. Drijakara memang tidak pernah menulis menulis buku dalam arti yang sebenarnya, kecuali disertasinya. Tulisannya yang paling panjang dan dilengkapi dengan catatan-catatan kaki ialah pidato inagurasinya yang diucapkan pada peresmian penerimaan jabatan guru besar luar biasa dalam ilmu filfasat  pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada tanggal 30 Juni 1962 dengan judul “Sosialitas Sebagai Eksistensial“. Namun tidak seorangpun menyangsikan karangan-karangan Drijarkara mempunyai kadar filosofis yang mantap. Tulisan-tulisan yang ditulis lebih dari tiga puluh tahun masih tetap aktual, orsinal dan mendalam. Tulisan-tulisannya itu merupakan sumbangan penting bagi khanazah pustaka filsafat Indonesia aseli modern.[2]

Penggunaan nama Drijarkara pada Sekolah Tinggi Filsafat tersebut bukan berarti bahwa lembaga pendidikan filsafat tersebut didirikan oleh Drijarkara atau karena mengembangkan ajaran-ajarannya. Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara tidak seperti Sekolah Frankfurt di Jerman atau Perguruan Taman Siswa. Drijarkara memang tidak membangun sistem filsafat baru dan memang bukan itu yang diinginkan. Yang  ingin disajikan ialah suatu cara berpikir, suatu metode berfilsafat sebagai kegiatan manusia yang hakiki dan terus-menerus. Alasan penggunaan nama Drijarkara bisa ditelusuri pada kata sambutan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara dalam merayakan sewindu berdirinya Sekolah Tinggi Filsafat tersebut. Dalam satu nafas dikemukakan olehnya keprihatinan dasariah seorang yaitu Drijarkara, yang tak henti-hentinya berpikir secara mendalam, kritis, kreatif, menganalisis latar belakang suatu masalah, mengungkapkan pengandaian-pengandaian dasar, melihat implikasi–implikasi lebih lanjut, mengambil sikap terhadap ideologi –ideologi, membentuk penilaian sendiri, dengan tak segan-segan mengumuli masalah-masalah yang pernah direnungkan oleh pemikir-pemikir besar umat manusia, mencoba mendalami apa yang hidup di lingkungan kebudayaan sendiri, berusaha melihat, menghadapi  dan mendekati masalah-masalah manusia dan masyarakat di dalam gejolak zaman di mana ia sendiri ikut terlibat dan tidak sekedar sebagai penonton ….itulah yang ingin diteruskan oleh Sekolah Tinggi Filsafat, yang ditandai dengan nama Drijarkara.[3]

Masa Kecil


Nicolas Drijarkara dilahirkan pada tanggal 13 Juni 1913 di daerah pegunungan  Menoreh Di desa Kedunggubah, kurang lebih 8 km sebelah timur Purworejo, Kedu, Jawa Tengah. Ia diberi nama Suhirman tetapi biasanya dipanggil Djentu (bahasa Jawa yang berarti berbadan kekar dan gemuk). Dia dilahirkan sebagai anak bungsu dari keluarga Atma Sendjaja. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki dan sedangkan kakak yang perempuan ada dua orang .

Sebagai seorang anak yang dibesarkan di tengah kebudayaan Jawa, dia mewarisi sifat halus yang menjadi inti sari kebudayaan masyarakat Jawa. Hal ini tercermin dalam cara bergaul Drijarkara yang sopan, ramah dan akrab, dari cara mengungkapkan gagasan-gagasannya. Cara sedemikian rupa sehingga sekurang-kurangnya tidak ada yang mengeluh. Kedekatannya dengan akar kebudayaannya telah mendorongnya untuk memperdalam pengetahuannya tentang Sastra Klasik Jawa dan menjadi warna dominan dalam pemikiran –pemikian filosofisnya.[4]


[1] St Sularto, “ 75 Tahun Kelehiran Drijarkara  – Yang Bertanya dan Memberi Makna , “Kompas, 13 Juli 1988 dan St Sularto, “Almarhum N Drijarkara  25 Tahun yang lalu, “Kompas, 11 Februari 1992 serta St.Sularto, “25 Tahun STF Drijarkara “, Kompas, 12 Febaruari 1994.

[2] F.X. Danuwinata SJ, “ Prof. N. Drijarkara SJ Pemikir Yang Terlibat Penuh Dalam Perjuangan Bangsanya ,” A. Budi Susanto SJ (ed), Harta dan Surga – Perziahaan Jesuit dalam Gereja dan Bangsa Indonesia modern, (Yogyakarta : Kanisius , 1990), hal. 287 – 307.

[3] Ibid.

[4] B.B. Triamoko SJ “Biografi Singkat“ dalam Sema – STF Drijarkara, Bunga Rampai Mengenang Prof. Dr. Drijarkara SJ dan Pemikiran Filosofisnya, ( Jakarta : Senat Mahasiswa 1988 ), hal. .5 – 11 .

Klik Selengkapnya….


Amir Syarifuddin di Persimpangan Jalan

Setelah Partai Sosialis Amir Sjarifuddin  menyatakan diri bergabung pada PKI pada tanggal 27 Agustus 194. Mr. Amir Sjarifudin  yang pernah menjadi Menteri Penerangan RI yang pertama , Menteri Keamanan Rakyat / Pertahanan  yang pertama dan Perdana Menteri  yang kedua membuat pengakuan mengenai kesalahannya pada masa lampau sebagai berikut  :

Kita akui dan saya sebagai seorang komunis akui , telah menjalankan kesalahan dalam lapangan politik dan saya saya berjanji tidak akan menjalankan politik salah lagi , dan akan saya perbaiki selanjutnya ……..Orang bilang saya mesti digantung . Saya tidak takut , saya cukup melatih diri dalam penderitaan dan siksaan . Kalau saya harus dihukum gantung karena kesalahan politik , di zaman Republik ………..Saya akui telah menerima dari Van der Plas f 25..000,- tetapi saya jalankan itu karena Komintern telah menganjurkan kepada kami untuk kerjasama dengan kaum penjajah di dalam front bersama melawan fasisme ………Tetapi setelah Perang Dunia II selesai kaum komunis telah melepaskan kerjasama itu . Sekarang kami dari PKI tidak mengakui lagi “ Linggarjati ” , ” Renville ”dan Manifest Politik 1 November 1945 dan kami melepaskan politik kompromi dengan musuh  dan kami melepaskan politik kompromi dengan musuh . [1]

 

Partai Sosialis yang dipimpin  Amir Sjarifuddin juga mengeluarkan pernyataan yang mengakui kesalahan pada masa lampau . Ia menyatakan bahwa pada bulan Oktober 1945 Komunis Ilegal membentuk Partai Sosialis  Indonesia ( Parsi ) dan ini dianggap sebagai suatu kesalahan sebab komunis tidak akan mendirikan Partai Sosialis tetapi  mendirikan   suatu   Partai  Komunis . Ketika   Partai   Sosialis    Indonesia digabungkan dengan Partai Rakyat Sosialis , yang kemudian merupakan sayap kanan Partai Sosialis dibawah pimpinan Sutan Sjahrir .Penggabungan ini dianggap sebagai suatu kesalahan sebab  suatu partai yang  berdasarkan pada Marxist-Lenisme tidak akan bergabung dengan kaum reformist . Kesalahan yang lain adalah  memberikan  kepemimpinan Partai Sosialis fusi itu dipegang oleh sayap kanan . Koreksi diri dalam bidang organisasi mulai berhasil ketika Kabinet Sjahrir III jatuh pada bulan Juni 1947 dan dengan  diikuti keluarnya sayap kanan  dari Partai Sosialis pada bulan Februari 1948. Sedangkan kesalahan dalam bidang politik adalah mengadakan kerja sama dengan bangsa-bangsa imperialis dengan asumsi bangsa-bangsa imperialis dan anti-imperialis sedang melawan musuh bersama , sebagaimana terjadi di Eropah . Berdasarkan kejadian tersebut maka komunis di sini mendesak untuk bergabung dengan sosial reformist . [2]

 

Ketika Pemberontakan  PKI Madiun meletus pada tanggal 19 September 1948 . Pada tanggal 23 September 1948  , Amir Sjariduddin yang terlibat di dalamnya , mengucapkan pidato radionya  lewat Radio Gelora Pemuda yang  berbunyi  sebagai berikut:

Perjuangan yang kita sedang lancarkan di sini adalah tidak lebih dan tidak kurang daripada satu pergerakan untuk membetulkan evolusi revolusi kita . Oleh itu asasnya masih sama dan tidak pernah berubah . Mengikut pertimbangan kami revolusi kekal sebagai suatu yang bersifat nasional , yang boleh dinamakan sebagai revolusi borjuis demokrat . Perlembagaan kami masih lagi sama , bendera kami masih lagi berwarna merah dan putih , manakala lagu kebangsaan kami tidak lain daripada Indonesia Raya . [3]

 

Abu Hanifah  kawan akrab ketika  mondok di   Indonesiche Studieclub Gebouw   yang mendengar pidato Amir Sjarifuddin  yang diradiokan berkali-kali ,  menaruh rasa kasihan  kepada kawannya itu . Abu Hanifah merasakan bahwa pidato  tersebut ada nada-nada ada frustasi , kebingungan dan keputusasan . Pidato  tersebut  dianggap sama sekali bukan pidato seorang seorang pemimpin komunis yang fanatik dan terdidik . Ia tidak percaya kalau Amir Sjarifuddin , yang selalu membawa Injil kecil dalam sakunya adalah Komunis . Amir diduga sebagai seorang ‘ radikal –sosialis  atau nasionalis revolusioner  atau marxis tok . Abu Hanifah menganggap Amir Sjarifuddin adalah ‘seorang  pejuang yang kecewa dalam cita-citanya buat kemerdekaan  tanah airnya  ‘. Amir Sjarufuddin telalu banyak mengharapkan  dari manusia-manusia di sekelilingnya . [4]

Tetapi mengapa Amir Sjarifuddin  mengaku dirinya sebagai seorang Komunis . Selama ini orang mengenalnya sebagai seorang Kristen yang saleh  . Ketika  menjadi menteri penerangan dan menteri keamanan/pertahanan dikenal oleh jemaah Gereja HKBP Kotabaru ( Yogyakarta  ) sering memberikan khotbah pada hari Minggu . Mengapa ia berada di Madiun  . Mengapa semua ini terjadi ? Tulisan ini mencoba menelusuri perjalanan  tokoh kontroversial dalam hidupnya maupun dalam perjalanan bangsa Indonesia , yang menyebabkan Amir  Sjarifuddin berada di kota Madiun . Justru keberadaannya di sana telah mengantarkan nyawanya  untuk  dihukum mati .


[1] A.H. Nasution , Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia – Pemberontakan PKI 1947 , Jilid 8 ( Bandung , Disjarah AD dan Angkasa , 1979 ) , hal. 210 – 213.

[2] Kahin , Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia ( Kuala Lumpur  Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia , 1980 ) , hal. 342 – 343 .

[3] Ibid., hal. 363 .

[4] Abu Hanifah , ‘ Revolusi Memakan Anaknya Sendiri ,  Tragedi Amir Sjarifuddin , “ Prisma No. 8 , Agustus 1977 , Tahun VI , hal, 86 – 100 .


Klik Selengkapnya…..


Achmad Yani Prajurit Sapta Margais

Tujuan kita mendirikan negara ialah

kebahagiaan yang sebesar-besarnya dari seluruh rakyat,

bukan kebahagiaan dari satu golongan

(Plato)

 

Di depan anak-anaknya yang sedang menunggu makan siang pada tanggal 30 September 1965. Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jendral Achmad Yani mengatakan bahwa anak-anak pada tanggal 5 Oktober 1965 tidak usah sekolah dan membolos saja semuanya.”Kabeh melu Bapak nang Istana, ndelok arak-arakan. Ono Nyanyi, Pokoke ora usah sekolah mbolos kabeh“. Mendengar ajakan ayahnda tercinta, tentu saja disambut dengan gembira oleh anak-anaknya yang berjumlah delapan orang itu.[1] Malam harinya, sehabis main golf Achmad Yani masih bergembira ria dengan anak-anaknya dengan berebut menikmati pisang goreng, sebelum menerima kedatangan Brigjen Basuki Rachmat. Rupanya kehadiran Panglima Brawijaya itu  untuk melaporkan  sesuatu yang teramat penting mengenai situasi politik ketika itu. Achmad Yani mendengar serius kalimat laporan Brigadir Jendral Basuki Rachmat.

 

Jelas sekali bahwa demontrasi-demontrasi yang dilakukan oleh Gerwani dan PKI membahayakan. Gerwani dan PKI melakukan perusakan terhadap rumah Gubernur Wiyono di Surabaya berbahaya. Dilihat secara keseluruhan maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jawa Timur dan berbagai aksi sepihak BTI/PKI, bisa dipastikan adalah suatu gerakan yang sistimatis. Gerakan sistimatis yang sedang berjalan.”

 

Untuk memperkuat isi laporannya, Brigjen Basuki Rachmat membawa saksi utama dari  peristiwa perusakan pada tanggal 27 September 1965. Ketika sedang terjadi pembicaraan serius telpon berdering yang berasal dari Brigjen Sugandhi yang melaporkan mengenai gerakan gerakan sepihak PKI kepada Presiden Soekarno. Namun Presiden Soekarno kelihatannya marah mendengar laporan tersebut. Setelah menaruh kembali gagang telponnya Achmad Yani mengatakan kepada tamunya, ”Memang keadaannya makin meruncing. Kita menghadap bersama-sama. Besok. secepatnya  ini perlu dilaporkan.“ Setelah tamunya pamit pulang dan sekarang giliran Achmad Yani berpikir keras untuk rencananya esok bertemu dengan Presiden Soekarno untuk melaporkan apa yang telah didengarnya.[2]

Suasana politik ketika itu sebenarnya sedang memanas, PKI terus melakukan tekanan-tekanan terhadap lawan-lawan politiknya. Bahkan menjelang akhir September 1965, PKI melancarkan  agitasi politik mengecam TNI-AD terus berjalan dan semakin meningkat. Jendral-jendral TNI-AD dituduh sebagai pencoleng ekonomi, kapitalis birokrat, koruptor, reaksioner dan agen Nekolim. Situasi yang sedemikian eksploitatif itu menyebabkan pada tanggal 30 September l965, Direktorat Polisi Militer memerintahkan pada Letnan Kolonel Norman Sasono, Komandan Pomad Para untuk memperketat pengawalan atas Menpangad Jendral Achmad Yani. Kemudian Norman mengirim satu peleton pasukan yang dipimpin oleh Kapten IG Suparman ke rumah Jendral Achmad Yani. Letnan Kolonel Norman Sasono sempat menginspeksinya para pengawal yang bertugas.[3]

 

Di pagi hari yang gelap rumah Jendral Achmad Yani yang dijaga oleh satu  regu pasukan dimasuki oleh komplotan penculik setelah melucuti senjata para penjaga dengan sergapan secara mendadak. Ketika sejumlah oknum Tjakrabirawa memasuki rumah Jendral Yani sedang tidur sendirian. Tetapi salah satu putranya yang kecil – Eddy telah bangun dan sedang mencari ibunya yang malam itu sedang ber da di kediaman resmi Jendral Yani untuk melakukan tirakatan, karena keesokan harinya, tanggal 1 Oktober 1965 adalah hari ulang tahunnya. Kemudian komplotan itu, Raswad meminta bantuan anak kecil itu untuk membangunkan ayahnya dan kemudian putra bungsu yang polos itu menuju ke ruang tengah untuk menemui tamunya yang tidak diketahui siapa sebenarnya dengan menggunakan piyama baru. Ketika komplotan yang berseragam Tjakrabirawa itu berhadapan dengan Jendral Yani, setelah menghormat secara militer komplotan menyatakan tidak perlu mandi terlebih dahulu dan bahkan berpakaian pun. Ucapan itu terasa sangat kasar ditelinga Jendral Yani dan Yani menjadi marah langsung merampas senjata Praka Dokrin, melempar serta menempeleng bintara tersebut. Ketika Jendral Yani membalik badan serta melangkah ke kamar keluarga melalui pintu kaca. Pada saat itulah serman Satu Raswad memerintahkan Gijadi untuk menembak. Sersan Dua Gijadi mengarahkan dan menarik picu senapan otomatis Thomsonnya. Tujuh peluru, setelah menembus pintu kaca memberondong tubuh Jendral Yani sehingga  dia tersungkur jatuh. Tubuh Jendral Yani yang telah rebah di lantai itu kemudian diseret ke luar rumah untuk dinaikkan ke dalam salah satu truk. Komplotan itu kemudian menghilang dalam kegelapan malam hari.[4]

 

Menpangad Letnan Jendral Achmad Yani yang telah menjadi korban dari situasi yang sangat eksploitatif ketika itu. Kegelapan pagi hari itu bukan saja menyaksikan pembunuhan secara biadab atas Letnan Jendral Achmad Yani, tetapi juga pada Mayor Jendral Haryono MT, Mayor Jendral S. Parman, Mayor Jendral R. Soeprapto, Brigadir Jendral Soetojo, Brigadir Jendral DI Pandjaitan serta Letnan Piere Tendean. Jajaran TNI-AD telah kehilangan putra-putra terbaiknya dalam suatu pagi buta yang jahanam. Kejadian berdarah serta tragis itu dimaklumi telah didalangi oleh PKI dan atas kematian para pemimpin-pemimpinnya TNI-AD menghancurkan musuh bebuyutan mereka.

Klik Selengkapnya…..


[1] Amelia Yani, Profil Seorang Prajurit TNI, Jakarta: Sinar Harapan, 1988, hal. 13.

[2] Arswendo Atmowiloto, Penghianatan G30S/PKI, Jakarta: Sinar Harapan, 1988, hal. 83—93.

 

[3] Merdeka, 1 Oktober 1989

[4] Arswendo Atmowiloto, op.cit.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.