Sukarno, Sang Pemersatu

Peresensi : Luhung Sapto Nugroho (Jurnal Nasional, 6 Juni 2010)

SEJARAH panjang perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari kolonialisme tak bisa dilepaskan dari Sukarno. Ada banyak literatur mengenai perjuangan Sukarno melawan penjajahan Belanda yang telah bercokol selama 350 tahun di bumi Nusantara.

Pria kelahiran 6 Juni 1901 ini membenci imperialisme dan kapitalisme sejak belia. Di mata Sukarno imperialis dan kapitalisme hanya menimbulkan kesengsaraan bagi bangsa yang dijajah. Ini ada kaitannya dengan kehidupan masa kecil Sukarno. Sukarno dikenal sebagai orator ulung. Ia mampu menahan massa untuk mendengarkan pidatonya. Pidatonya selalu berapi-api dan-ini yang paling penting-ia mampu memberikan contoh-contoh yang sesuai dengan kondisi di Indonesia sehingga pidatonya mudah dicerna. Dan, Belanda sangat takut akan hal ini. Karena itu Sukarno dianggap sebagai ancaman bagi Pemerintah Kolonial masa itu.

Buku setebal setebal 158 halaman ini mencoba mengupas kisah Sukarno di masa muda (1926-1933) yang melatari tekadnya untuk membebaskan bangsanya dari kaum penjajah, sumber inspirasi character building, dan pemikir-pemikir yang mempengaruhi Sukarno.

Sukarno adalah putra pasangan Raden Sukemi, priyayi rendahan yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar, dengan Nyoman Rai, seorang perempuan darah biru beragama Hindu. Keduanya bertemu ketika Sukemi, yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru Pertama di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Di sanalah keduanya berkenalan lalu naik ke pelaminan.

Namun, dari penghasilan Sukemi yang hanya seorang guru, masa kecil Sukarno tidak bisa dibilang bergelimang harta. Perkawinan dua suku bangsa berbeda keyakinan saat itu masih jarang. Ini membuat keluarga Sukemi terasing. Jadilah, mereka sekeluarga hijrah ke Tulung Agung, Jawa Timur. Di sini Sukarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo seorang pedagang batik, yang mampu mengurangi beban orangtuanya.

Di Tulung Agung, Sukarno dikenal sebagai penggemar wayang. Ia sering menyaksikan pagelaran wayang kulit Bharata Yudha. Karakter favoritnya Bima, anggota Pandawa Lima yang berbadan besar. Ia dikenal tegas. Boleh jadi, sikap nonkooperatif Sukarno terhadap imperialis dan kapitalis berasal dari Bima. Ini ditunjukkan Sukarno dengan tidak mau bekerja pada lembaga pemerintah kolonial Hindia Belanda setelah lulus sarjana teknik sipil dariTechnische Hoge School (THS). Sebaliknya, Sukarno malah mendirikan biro teknik bersama teman sekelasnya, Ir Anwari.

Sukarno juga gemar membaca dan berdiskusi. Ia menyukai kisah petualangan Old Shatterhand dan Winnetou buah karya Karl May. Di samping itu, ia juga membaca buku-buku Karl Marx. Sukarno mengenal Marxisme dari C Hartogh. Ia adalah guru bahasa Jerman diHogere Burger School (HBS) sekaligus anggota Indische School Democratische Vereeniging(ISDV). Salah satu pemikiran Marx yang mempengaruhi Sukarno adalah kata-kata Marx yang berbunyi,”Tak pernah suatu kelas suka melepaskan hak-haknya dengan kemauan sendiri”.

Oleh sebab itu, kaum penjajah tidak akan memberikan kemerdekaan secara sukarela. Kemerdekaan haruslah direbut. Namun, Sukarno menghadapi tantangan. Waktu itu ada tiga arus politik besar, yakni Marxisme di Semarang, Islamisme di Surabaya, dan Nasionalis Sekuler di Bandung. Sukarno memandang ketiga arus besar ini harus bersatu untuk merebut kemerdekaan. Ketiganya mempunyai musuh yang sama, Belanda.

Sukarno paham betul pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan politik divide et imperaatau memecah belah. Untuk melawannya bangsa Indonesia harus bersatu. Pemikiran ini dilandasi kenyataan pahit yang disaksikan Sukarno ketika Sarekat Islam (SI), organisasi Islam besar pimpinan H.O.S Tjokroaminoto yang berbasis di Surabaya terpecah menjadi SI Putih dan Merah, yang kekiri-kirian. H.O.S Tjokroaminoto adalah karib Sukemi, ayah Sukarno. Ia menitipkan putranya dan mondok di rumah H.O.S Tjokroaminoto agar bisa sekolah di HBS. Di sini Sukarno remaja banyak belajar mengenai Islam.

Sedangkan paham Nasionalis Sekuler dikenal Sukarno ketika ia hijrah ke Bandung setelah menikahi Oetari, putri H.O.S Tjokroaminoto. Di kota berhawa sejuk ini Sukarno berkenalan dan bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh Nasionalis semisal, E.F.E Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara.

Sukarno bertekad menyatukan ketiga arus ini-Marxisme, Islamisme, dan Nasionalisme-untuk memerdekakan bangsanya. Ide mempersatukan ketiga haluan ini diperoleh Sukarno dari negarawan India, Mahatma Gandhi yang berhasil menyatukan 300 juta penduduk India-enam kali lipat jumlah penduduk Indonesia waktu itu-yang beraliran Islam, Hindu, Parsi, Jainis, dan Sikh.

Sukarno melihat ada peluang untuk mempersatukan bangsa yang tercerai-berai ini. Penduduk Bumiputera, menurut Sukarno, tidak terbagi-bagi dalam kedudukan sosial melainkan terbagi dalam aliran dan ideologi, yaitu Nasionalistis, Islamistis, dan Marxistis. Pandangan Sukarno ini dituangkan dalam pamflet politik yang berjudul “NASIONALISME, ISLAMISME, Dan MARXISME” yang dimuat dalam majalah Indonesia Moeda, milikAlgemeene Studie Club, secara berturut-turut sebanyak tiga kali pada akhir 1926/1927.

Dikatakan ketiga aliran tersebut terpisah dalam arus umum kegiatan politik Indonesia. Sukarno mengimbau masing-masing aliran, meninggalkan perbedaan dan saling bekerjasama. Sukarno menegaskan ketiga aliran pemikiran itu punya tugas mengupayakan kesatuan, tujuan Indonesia Merdeka dan musuh yang sama, Belanda.

Dengan jeli Sukarno yang banyak membaca buku-buku tokoh-tokoh terkenal dan mengadopsi pemikiran mereka mengatakan Islam dan Marxisme punya musuh yang sama yaitu kapitalisme karena Islam mengharamkan praktek riba sementara dalam konsep Marxisme, ada meerwarde-nilai lebih. Sukarno menggiring kedua aliran yang bermusuhan itu untuk melawan musuh yang sama, Belanda.

Sukarno mengembangkan suatu pandangan untuk menyatukan ketiga aliran politik yang berpengaruh luas dalam masyarakat itu dengan menjadikan Nasionalisme sebagai arus sentral : “Karena Islam adalah kaum tertindas, maka pemeluk Islam mestilah nasionalis…Karena modal di Indonesia adalah modal asing maka kaum Marxis yang berjuang melawan kapitalis haruslah pejuang nasionalis..” (hal 25)

Kendati upaya Sukarno menumbangkan kekuasaan yang dibencinya gagal, malahan membawanya ke pengasingan, namun pemikiran Sukarno mengenai persatuan telah menumbuhkan kesadaran baru rakyat Indonesia untuk menekankan kepentingan bersama sebagai dasar perjuangan. Dengan cita-citanya Sukarno menjawab keahlian Belanda memainkan perbedaan masyarakat Indonesia dengan menjalankan politik divide et impera. Akan halnya Belanda, hengkang dari Indonesia setelah kalah dalam Perang Pasifik.

Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933

Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul : Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933
Pengarang : Peter Kasenda
Penerbit : Komunitas Bambu
Tanggal Terbit : April 2010
Sampul : Soft Cover
Tebal : 158 halaman
Dimensi (Uk) : 14×21 cm
ISBN : 979-3731-77-x

Sumber : http://www.jurnalnasional.com/show/arsip?berita=133198&pagecomment=1&date=2010-6-6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s