Achmad Yani Prajurit Sapta Margais

Tujuan kita mendirikan negara ialah

kebahagiaan yang sebesar-besarnya dari seluruh rakyat,

bukan kebahagiaan dari satu golongan

(Plato)

 

Di depan anak-anaknya yang sedang menunggu makan siang pada tanggal 30 September 1965. Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jendral Achmad Yani mengatakan bahwa anak-anak pada tanggal 5 Oktober 1965 tidak usah sekolah dan membolos saja semuanya.”Kabeh melu Bapak nang Istana, ndelok arak-arakan. Ono Nyanyi, Pokoke ora usah sekolah mbolos kabeh“. Mendengar ajakan ayahnda tercinta, tentu saja disambut dengan gembira oleh anak-anaknya yang berjumlah delapan orang itu.[1] Malam harinya, sehabis main golf Achmad Yani masih bergembira ria dengan anak-anaknya dengan berebut menikmati pisang goreng, sebelum menerima kedatangan Brigjen Basuki Rachmat. Rupanya kehadiran Panglima Brawijaya itu  untuk melaporkan  sesuatu yang teramat penting mengenai situasi politik ketika itu. Achmad Yani mendengar serius kalimat laporan Brigadir Jendral Basuki Rachmat.

 

Jelas sekali bahwa demontrasi-demontrasi yang dilakukan oleh Gerwani dan PKI membahayakan. Gerwani dan PKI melakukan perusakan terhadap rumah Gubernur Wiyono di Surabaya berbahaya. Dilihat secara keseluruhan maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jawa Timur dan berbagai aksi sepihak BTI/PKI, bisa dipastikan adalah suatu gerakan yang sistimatis. Gerakan sistimatis yang sedang berjalan.”

 

Untuk memperkuat isi laporannya, Brigjen Basuki Rachmat membawa saksi utama dari  peristiwa perusakan pada tanggal 27 September 1965. Ketika sedang terjadi pembicaraan serius telpon berdering yang berasal dari Brigjen Sugandhi yang melaporkan mengenai gerakan gerakan sepihak PKI kepada Presiden Soekarno. Namun Presiden Soekarno kelihatannya marah mendengar laporan tersebut. Setelah menaruh kembali gagang telponnya Achmad Yani mengatakan kepada tamunya, ”Memang keadaannya makin meruncing. Kita menghadap bersama-sama. Besok. secepatnya  ini perlu dilaporkan.“ Setelah tamunya pamit pulang dan sekarang giliran Achmad Yani berpikir keras untuk rencananya esok bertemu dengan Presiden Soekarno untuk melaporkan apa yang telah didengarnya.[2]

Suasana politik ketika itu sebenarnya sedang memanas, PKI terus melakukan tekanan-tekanan terhadap lawan-lawan politiknya. Bahkan menjelang akhir September 1965, PKI melancarkan  agitasi politik mengecam TNI-AD terus berjalan dan semakin meningkat. Jendral-jendral TNI-AD dituduh sebagai pencoleng ekonomi, kapitalis birokrat, koruptor, reaksioner dan agen Nekolim. Situasi yang sedemikian eksploitatif itu menyebabkan pada tanggal 30 September l965, Direktorat Polisi Militer memerintahkan pada Letnan Kolonel Norman Sasono, Komandan Pomad Para untuk memperketat pengawalan atas Menpangad Jendral Achmad Yani. Kemudian Norman mengirim satu peleton pasukan yang dipimpin oleh Kapten IG Suparman ke rumah Jendral Achmad Yani. Letnan Kolonel Norman Sasono sempat menginspeksinya para pengawal yang bertugas.[3]

 

Di pagi hari yang gelap rumah Jendral Achmad Yani yang dijaga oleh satu  regu pasukan dimasuki oleh komplotan penculik setelah melucuti senjata para penjaga dengan sergapan secara mendadak. Ketika sejumlah oknum Tjakrabirawa memasuki rumah Jendral Yani sedang tidur sendirian. Tetapi salah satu putranya yang kecil – Eddy telah bangun dan sedang mencari ibunya yang malam itu sedang ber da di kediaman resmi Jendral Yani untuk melakukan tirakatan, karena keesokan harinya, tanggal 1 Oktober 1965 adalah hari ulang tahunnya. Kemudian komplotan itu, Raswad meminta bantuan anak kecil itu untuk membangunkan ayahnya dan kemudian putra bungsu yang polos itu menuju ke ruang tengah untuk menemui tamunya yang tidak diketahui siapa sebenarnya dengan menggunakan piyama baru. Ketika komplotan yang berseragam Tjakrabirawa itu berhadapan dengan Jendral Yani, setelah menghormat secara militer komplotan menyatakan tidak perlu mandi terlebih dahulu dan bahkan berpakaian pun. Ucapan itu terasa sangat kasar ditelinga Jendral Yani dan Yani menjadi marah langsung merampas senjata Praka Dokrin, melempar serta menempeleng bintara tersebut. Ketika Jendral Yani membalik badan serta melangkah ke kamar keluarga melalui pintu kaca. Pada saat itulah serman Satu Raswad memerintahkan Gijadi untuk menembak. Sersan Dua Gijadi mengarahkan dan menarik picu senapan otomatis Thomsonnya. Tujuh peluru, setelah menembus pintu kaca memberondong tubuh Jendral Yani sehingga  dia tersungkur jatuh. Tubuh Jendral Yani yang telah rebah di lantai itu kemudian diseret ke luar rumah untuk dinaikkan ke dalam salah satu truk. Komplotan itu kemudian menghilang dalam kegelapan malam hari.[4]

 

Menpangad Letnan Jendral Achmad Yani yang telah menjadi korban dari situasi yang sangat eksploitatif ketika itu. Kegelapan pagi hari itu bukan saja menyaksikan pembunuhan secara biadab atas Letnan Jendral Achmad Yani, tetapi juga pada Mayor Jendral Haryono MT, Mayor Jendral S. Parman, Mayor Jendral R. Soeprapto, Brigadir Jendral Soetojo, Brigadir Jendral DI Pandjaitan serta Letnan Piere Tendean. Jajaran TNI-AD telah kehilangan putra-putra terbaiknya dalam suatu pagi buta yang jahanam. Kejadian berdarah serta tragis itu dimaklumi telah didalangi oleh PKI dan atas kematian para pemimpin-pemimpinnya TNI-AD menghancurkan musuh bebuyutan mereka.

Klik Selengkapnya…..


[1] Amelia Yani, Profil Seorang Prajurit TNI, Jakarta: Sinar Harapan, 1988, hal. 13.

[2] Arswendo Atmowiloto, Penghianatan G30S/PKI, Jakarta: Sinar Harapan, 1988, hal. 83—93.

 

[3] Merdeka, 1 Oktober 1989

[4] Arswendo Atmowiloto, op.cit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s