Drijarkara; Imam yang Merintis Studi Filsafat

Nama Drijarkara terukir di depan tembok Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara, sebuah perguruan tinggi yang berlokasi di Jakarta Pusat. Sebuah lembaga filsafat pendidikan yang dirintis oleh Sarekat Yesus dan Ordo Fratrum Minorum dengan dukungan Keuskupan Agung Jakarta. Pendapat-pendapatnya dikutip banyak orang, terutama ketika orang berbicara tentang pemikiran spekulatif itu, sebuah bidang ilmu yang dianggap tidak praktis. Memang ilmu filsafat pernah menjadi ilmu yang universal, payung segala ilmu positif. Tetapi ilmu-ilmu positif makin berkembang, makin tersepesialisasi, selaras dengan pragmatisme kehidupan manusia. Ilmu filsafat pun berkembang sebagai salah satu disiplin ilmu. Spekulasi tentang manusia kurang mendukung sikap pragmatis, primum vivere deinde philosophari. Perkembangan ini tidak merugikan filsafat, melainkan makin memberi ruang bagi ilmu filsafat memainkan peran yang sebenarnya menangani pertanyaan-pertanyaan yang tak tersentuh oleh ilmu-ilmui positif seperti pertanyaan tentang apa siapanya manusia (antropologi). apa siapanya ilmu pengetahuan (epistemologi), apa siapanya alam semesta (kosmologi) dan apa siapanya keberadaan (ontologi).

Lebih dari tiga puluh tahun lalu, Drijarkara mempertanyakan apa ada orang yang mau belajar filsafat di Indonesia? Tiga puluh tahun kemudian, keraguan itu terjawab dengan kenyataan bahwa semakin banyaknya analisis filsafat dipakai dalam memberi penjelasan masalah. Satu dasawarsa terakhir ini semakin banyak orang Indonesia yang menaruh minat terhadap analisis filsafat, terutama kalangan muda. Ada kecenderungan orang memakai disiplin ilmu filsafat untuk mempertajam disiplin ilmu positip (ekonomi. sosiologi, kedokteran dll). Filsafat lebih merupakan metode pendekatan daripada gudang jawaban. Filsafat mau mendidik manusia untuk mendekati masalah–masalah yang dasar yang dihadapinya secara terbuka, sistimatis, kritis dan tak berdasarkan apriori, atau prasangka, dogmatis, dan ideologis, melainkan secara rasional dan argumentatif. Apa yang berkembang kemudian memang tak bisa lepas dari jasa Nicolas Drijarkara untuk menjawab tentang kerinduan adanya pengembangan studi ilmu filsafat. Berkat Drijarkara ilmu filsafat di Indonesia bukan sebagai enklaf milik segelintir orang, melainkan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Filsafat yang menjadi hidupnya itu mendorong dia untuk gigih berusaha menyadarkan masyarakat, bahwa filsafat adalah soal kedalaman hidup, hidup yang bernas; dan kedalaman hidup itu merupakan suatu berlian terpendam yang dmiliki bangsa Indonesia.[1] Warisan karyanya terserak dalam 31 karangan dan 7 tulisan mengenai Pancasila. Drijakara memang tidak pernah menulis menulis buku dalam arti yang sebenarnya, kecuali disertasinya. Tulisannya yang paling panjang dan dilengkapi dengan catatan-catatan kaki ialah pidato inagurasinya yang diucapkan pada peresmian penerimaan jabatan guru besar luar biasa dalam ilmu filfasat  pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada tanggal 30 Juni 1962 dengan judul “Sosialitas Sebagai Eksistensial“. Namun tidak seorangpun menyangsikan karangan-karangan Drijarkara mempunyai kadar filosofis yang mantap. Tulisan-tulisan yang ditulis lebih dari tiga puluh tahun masih tetap aktual, orsinal dan mendalam. Tulisan-tulisannya itu merupakan sumbangan penting bagi khanazah pustaka filsafat Indonesia aseli modern.[2]

Penggunaan nama Drijarkara pada Sekolah Tinggi Filsafat tersebut bukan berarti bahwa lembaga pendidikan filsafat tersebut didirikan oleh Drijarkara atau karena mengembangkan ajaran-ajarannya. Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara tidak seperti Sekolah Frankfurt di Jerman atau Perguruan Taman Siswa. Drijarkara memang tidak membangun sistem filsafat baru dan memang bukan itu yang diinginkan. Yang  ingin disajikan ialah suatu cara berpikir, suatu metode berfilsafat sebagai kegiatan manusia yang hakiki dan terus-menerus. Alasan penggunaan nama Drijarkara bisa ditelusuri pada kata sambutan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara dalam merayakan sewindu berdirinya Sekolah Tinggi Filsafat tersebut. Dalam satu nafas dikemukakan olehnya keprihatinan dasariah seorang yaitu Drijarkara, yang tak henti-hentinya berpikir secara mendalam, kritis, kreatif, menganalisis latar belakang suatu masalah, mengungkapkan pengandaian-pengandaian dasar, melihat implikasi–implikasi lebih lanjut, mengambil sikap terhadap ideologi –ideologi, membentuk penilaian sendiri, dengan tak segan-segan mengumuli masalah-masalah yang pernah direnungkan oleh pemikir-pemikir besar umat manusia, mencoba mendalami apa yang hidup di lingkungan kebudayaan sendiri, berusaha melihat, menghadapi  dan mendekati masalah-masalah manusia dan masyarakat di dalam gejolak zaman di mana ia sendiri ikut terlibat dan tidak sekedar sebagai penonton ….itulah yang ingin diteruskan oleh Sekolah Tinggi Filsafat, yang ditandai dengan nama Drijarkara.[3]

Masa Kecil


Nicolas Drijarkara dilahirkan pada tanggal 13 Juni 1913 di daerah pegunungan  Menoreh Di desa Kedunggubah, kurang lebih 8 km sebelah timur Purworejo, Kedu, Jawa Tengah. Ia diberi nama Suhirman tetapi biasanya dipanggil Djentu (bahasa Jawa yang berarti berbadan kekar dan gemuk). Dia dilahirkan sebagai anak bungsu dari keluarga Atma Sendjaja. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki dan sedangkan kakak yang perempuan ada dua orang .

Sebagai seorang anak yang dibesarkan di tengah kebudayaan Jawa, dia mewarisi sifat halus yang menjadi inti sari kebudayaan masyarakat Jawa. Hal ini tercermin dalam cara bergaul Drijarkara yang sopan, ramah dan akrab, dari cara mengungkapkan gagasan-gagasannya. Cara sedemikian rupa sehingga sekurang-kurangnya tidak ada yang mengeluh. Kedekatannya dengan akar kebudayaannya telah mendorongnya untuk memperdalam pengetahuannya tentang Sastra Klasik Jawa dan menjadi warna dominan dalam pemikiran –pemikian filosofisnya.[4]


[1] St Sularto, “ 75 Tahun Kelehiran Drijarkara  – Yang Bertanya dan Memberi Makna , “Kompas, 13 Juli 1988 dan St Sularto, “Almarhum N Drijarkara  25 Tahun yang lalu, “Kompas, 11 Februari 1992 serta St.Sularto, “25 Tahun STF Drijarkara “, Kompas, 12 Febaruari 1994.

[2] F.X. Danuwinata SJ, “ Prof. N. Drijarkara SJ Pemikir Yang Terlibat Penuh Dalam Perjuangan Bangsanya ,” A. Budi Susanto SJ (ed), Harta dan Surga – Perziahaan Jesuit dalam Gereja dan Bangsa Indonesia modern, (Yogyakarta : Kanisius , 1990), hal. 287 – 307.

[3] Ibid.

[4] B.B. Triamoko SJ “Biografi Singkat“ dalam Sema – STF Drijarkara, Bunga Rampai Mengenang Prof. Dr. Drijarkara SJ dan Pemikiran Filosofisnya, ( Jakarta : Senat Mahasiswa 1988 ), hal. .5 – 11 .

Klik Selengkapnya….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s