Hamengku Buwono IX; Sultan yang Mengabdi pada Republik

Ketika Proklamasi Kemerdekaan Hamengku Buwono IX menunjukkan simpati dan dukungan terhadap Republik Indonesia. Malahan Hamengku Buwuno IX mengundang Pemerintah Republik Indonesia untuk memindahkan kedudukannya ke Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat  (ketika situasi di Jakarta kurang aman) yang kemudian menjadi jantung revolusi Indonesia. Dari sanalah gerakan kemerdekaan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dimulai. Sikap berpihak Hamengku Buwono IX pada Republik bisa dimengerti, karena sebagaimana yang dikatakan Hamengku Buwono IX  “My nacestors always struggled againts the Ducth, Jogjakarta was born out that“.[1] Sejarah Indonesia  pun mencatat sejumlah keturunan dari Panembahan Senapati, yang dahulunya bernama Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram telah mendapat anugerah dari pemerintah Republik Indonesia, sebagai pahlawan bangsa Indonesia.[2] Seperti Sultan Agung (1591–1645), Pangeran Diponogoro,  putera  Hamengku Buwono III (1785– 1855) dan  Sri Susuhunan Paku Buwono  VI (1807–1849), yang membantu Pangeran Diponogoro dalam Perang Jawa (1825–1830). Ketiganya memperoleh penghargaan sebagai pahlawan nasional. Suryopranoto (1871–1959), yang memperoleh julukan De Staingskoning (Raja Mogok) dari pemerintah Belanda, karena cucu Paku Alam III menentang penguasa Belanda dengan memimpin pemogokan kaum buruh di pabrik-pabrik gula dan rumah penggadaian dikukuhkan sebagai pahlawan pergerakan nasional, Ki Hajar Dewantara (1880–1959), adik Suryapranoto berlainan ibu memperoleh gelar pahlawan pergerakan nasional. Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (1772– 1795) sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.[3] Pemerintah Soeharto berdasarkan Surat Keputusan Republik Indonesia 053/TK/Tahun 1990, tanggal 39 Juli 1990, menganugerahi  Hamengku Bwono IX sebagai pahlawan nasional.

 

Syahdan pada tahun  1629  bala tentara kerajaan Mataram yang telah memperoleh perintah dari Sultan Agung  untuk menyerang Belanda tiba di tepi sungai Ciliwung. Bala tentara Mataram menjadikan daerah sekitar sungai Ciliwung tersebut sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan terhadap Belanda. Oleh karena itu daerah tersebut sampai sekarang terkenal dengan nama Mataram (Matraman). Bala tentara Mataram tidak berhasil menaklukan Belanda dan dari Batavia inilah Belanda meluaskan daerah kekuasaannya sehingga pada akhirnya seluruh wilayah Nusantara berada dibawah pengaruh Belanda. Tiga ratus dua puluh tahun kemudian yakni pada tanggal 27 Desember 1949 sore, sebuah delegasi berangkat dari gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, yang terletak di daerah Mataram menuju Paleis Rijswik untuk menghadiri upacara berakhirnya kekuasaan Belanda di  wilayah Nusantara ini. Sejak terjadinya pengakuan kedaulatan nama Paleis Rijswik digantikan menjadi Istana Merdeka. Delegasi yang menghadiri upacara peresmian berakhirnya kekuasaan Belanda atas Indonesia itu berada di bawah pimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, keturunan Sultan Agung.[4]

 

Kerajaan Mataram berawal dengan berkuasannya Kiai Gede Pemanahan di tanah Mataram, yang merupakan vasal dari Kesultanan Padang. Ketika Kiai Gede Mataram Pamanahan yang kemudian disebut sebagai Kiai Gede Mataram meninggal dunia pada tahun 1551, diganti oleh putranya, Sutawijaya  yang disebut juga sebagai Pangeran Ngabei Loring Pasar. Sutawijaya kemudian memberontak terhadap kesultanan Pajang. Setelah Sultan Pajang meninggal pada tahun 1582, Sutawijaya mengangkat dirinya sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Kesultanan Pajang dijadikan daerah bagian Mataram yang beribukotakan di Kotagede. Di masa pemerintahan Panembahan Senapati menjalankan politik ekspansi sehingga daerah kekuasannya semakin luas saja.


[1] “ History – A Sultan Remembers” , ASIAWEEK , May , 1986.

[2] Adanya macam ragam gelar pahlawan (nasional, pergerakan nasional dan kemerdekaan nasional) memang membingungkan. Lihat, Taufik Abdullah, “Pahlawan Dalam Sejarah,” Prisma , No. 7 Tahun V, Juli 1976, hal. 59 – 65 dan “ Macam Ragam Pahlawan,”  Tempo , No. 38 Tahun XVI – 15 November 1986.

[3] Team Bahtera Jaya , Album 90 Pahlawan Nasional, ( Jakarta : Bahtera Jaya , 1991 ).

[4] T.B. Simatupang , Laporan Dari Banaran , ( Jakarta : Sinar Harapan , 1980 ) , hal. 231.

 

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s