Moestopo; Menteri Pertahanan ‘Pertama’ yang Mengabdi pada Dunia Pendidikan

Di daerah  Kebayoran Baru terdapat perguruan tinggi, Universitas Prof Dr. Moestopo (Beragama). Sebuah perguruan tinggi tersebut  menggunakan nama seseorang   yang mendirikannya. Anak keenam dari delapan bersaudara, putra Raden Koesoemowinto pensiunan wedana Kediri di terdapat sejumlah gelar yang menyertai namanya. Lengkapnya Mayor Jendral (Purn) Prof. Doktor Moestopo  Os (Oral surgeon), Orth (Orthdentist), Opdent (Operatives dentes), Pedo/De (Pedodentic/Dentalheatlh education), Prost (Pristhodonotia), Biol (Biologist) dan Panca (Pancasila). Sederetan gelar disertai sejumlah gelar di belakang namanya  sebagai Bapak Publisitik/Ilmu Komunikasi, Bapak Perminyakan, Bapak Recllassering, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapak Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Bapak Pengawal Pancasila dan Bapak Kerukunan Umat Beragama Indonesia.

Sederatan gelar yang menyertai nama dari pendiri Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) sebenarnya menunjukkan betapa luas minat, lakon yang dimainkan serta sumbangan dari ayah dari sembilan anak tersebut. Moestopo bukan saja menyandang sebelas tanda jasa dari Pemerintah Republik Indonesia yang diberikan atas pengabdiannya kepada bangsa dan tanah air Indonesia. Tulisan di bawah ini  mencoba mengisahkan peranan dari Moestopo dalam perjalanan bangsa Indonesia dengan demikian bisa diperoleh gambaran mengenai sederetan gelar maupun sejumlah tanda jasa yang ada pada Moestopo.

 

Menjadi Dokter Gigi

Moestopo dilahirkan di Ngaduluwih, Kediri pada tanggal 13 Juni 1913, dari buah perkawinan Raden Kusumowinoto, seorang pensiunan wedana dengan Indoen Sukijah. Ketika Moestopo berusia lima tahun, dia harus berpisah dengan kedua orangnya dan tinggal bersama dengan pamannya merupakan adik dari ayah Moestopo. Ia adalah seorang bupati Kediri yang bernama Raden Kusumo Adinoto. Rupanya Moestopo tidak tinggal terlalu lama bersama pamannya. Ketika Moestopo mulai masuk Hollands Indslansche Scholl, dia  kembali tinggal bersama keluarga dan ayahnya ketika itu menjadi Fiscal Griffer di Kediri. Sewaktu Moestopo duduk di kelas V HIS, Raden Kusumowinoto meninggal dunia, Indoen Sukijah menitipkan Moestopo pada pamannya  (dari ibu) yang menjadi wedana Plamah Kediri. Selama tinggal di sana Moestopo yang juga bersekolah di madrasah ketika itu mulai memperoleh ketrampilan menggembala kambing dan menanam sayur-sayuran yang berupa kubis dan jenis sayur-sayuran lainnya. Kemudian ketika dia duduk di kelas VI dan kelas VII HIS  Moestopo menjadi jongos di kediaman Kepatihan Kediri dan dia mulai bekerja dari pukul 21.00 sampai 23.00 W.I.B. Selain itu setiap hari Rabu minggu terakhir setiap bulan, Moestopo terpaksa bolos sekolah karena harus bekerja sebagai juru tulis di pasar ternak yang menjual kambing, sapi dan kerbau.

Setelah menyelesaikan HIS pada tahun 1927,  Moestopo kemudian   melanjutkan sekolah Voor Klass MULO (kelas persiapan sekolah lanjutan pertama) dengan biaya ditanggung kerabatnya. Sebagai seorang yatim Moestopo belajar dengan keras agar tidak mengecewakan kerabatnya yang telah membiayai sekolahnya dan kerja kerasnya ternyata berbuah dengan lulusnya Moestopo dari MULO pada tahun 1931 dan Moestopo tidak berhenti di situ saja dia melanjutkan pendidikannya ke Hollands Indslansche Kweekschool. Ketika Moestopo berada di kelas III HIK, Moestopo tingal bersama dengan saudara misannya Raden Sutari sampai Moestopo berada di kelas II School ter Opleiding van Indische Tandartsen (sekolah pendidikan dokter gigi Indonesia) dan yang menanggung biaya pendidikannya adalah kakak Moestopo Raden Mustajab yang pernah menjadi Walikota Surabaya.

Ketika Moestopo duduk di kelas III STOVIT, Moestopo melepaskan diri menjadi beban kerabatnya dengan membiayai pendidikannya dan sekarang Moestopo mulai hidup mandiri. Moestopo membiayai pendidikannya sekaligus kehidupan sehari-hari dengan cara kalau sehabis pulang  kuliah siang hari, Moestopo berdagang beras dan barang-barang kelontong lainnya dengan menggunakan gerobak dorong. Moestopo mulai berdagang dari siang hari hingga sore hari dengan diawali mulai menjual sabun sampai akhirnya bisa menjadi leveransir kebutuhan rumah tangga Asrama Agama Kristen Surabaya, Asrama Dokter NIAS dan keluarga besar di daerah  Tambaksari.

Meskipun Moestopo sibuk berdagang,  Moestopo juga menjadi Dental Technician dari Prof. M. Knap yang menjadi guru besar Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi STOVIT Surabaya. Moestopo mulai bekerja dari 17.00 sampai pukul 24.00 W.I.B. dan bahkan sering baru selesai pada pukul 02.00 WIB dinihari. Dari hasil kerja kerasnya, Moestopo bukan hanya mampu membiayai kuliahnya serta kehidupan sehari-hari, tetapi dia mampu menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk membeli sebuah rumah sederhana yang beratap alang-alang yang letaknya berada di luar kota Surabaya.

Sehabis pulang bekerja sebagai Dental Technician, Moestopo yang ketika itu masih duduk di tingkat akhir sekolah kedokteran gigi STOVIT mengadakan pengobatan untuk masyarakat luas. Karena pengabdian masyarakat yang dilakukan Moestopo menyebabkan dia memperoleh keuntungan ganda. Hampir setiap malam ada saja orang yang telah menyediakan makanan untuk Moestopo dan karena kegiatannya itu berarti Moestopo berhasil mengamalkan ilmu kedokteran gigi yang dimiliknya. Meskipun Moestopo sibuk berdagang dan bekerja hal itu tidak mengurangi keinginan Moestopo untuk menyelesaikan studinya dan Moestopo berhasil menamatkan studinya pada tahun 1937.

Walaupun Moestopo telah memperoleh gelar dokter gigi, tidak berarti Moestopo hanya menaruh perhatian pada dunia kedokteran gigi. Moestopo tetap menjadi leveransir bahan-bahan kebutuhan rumah tangga selain bekerja sebagai Dental Technician. Kalau Prof. M. Knapp berhalangan karena berpergian ke luar negeri maka Moestopo yang menggantikannya. Kalau hari minggu atau hari-hari libur lainnya Moestopo mengadakan pengabdian masyarakat dengan pergi ke alun-alun Gresik dan membuka praktek cuma-coma di sana, yang letaknya dari Surabaya sekitar enam kilo meter perjalanan. Rupanya keberuntungan berada di tangan Moestopo sehingga dia bisa membuka klinik di Gresik dan melakukan praktek partikelir di Surabaya dan akhirnya dengan penghasilannya membuka klinik dan tempat praktek Moestopo bisa membeli alat-alat kedokteran gigi serta membuka praktek di jalan Princeselan Surabaya. Ketika Prof. Knapp ditugaskan menjalankan wajib milisi untuk menghadapi balatentara Jepang yang akan datang menguasai Hindia Belanda, Moestopo diangkat sebagai wakil direktur sekolah tinggi kedokteran gigi STOVIT Surabaya dan dalam tahun yang sama menjadi Kepala Bagian Klinik Gigi CBZ ( Rumah Sakit Umum ) Surabaya pada tahun 1941.[1]


[1] Panitia Penulisan Buku Sejarah Berdiri dan Berkembangnya Universitas Profesor Doktor Moestopo (Beragama), Sejarah Berdiri dan Berkembangnya Universitas Profesor Doktor Moestopo, (Jakarta; tanpa tahun penerbit, 1990), hal. 3 – 31.

 

Klik Selangkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s