Nugroho Notosusanto di Antara Baju Sipil dan Militer

Sejarah adalah suatu disiplin yang dipelajari

secara luas di kalangan bangsa-bangsa dan ras-ras. Ia banyak dicari dengan penuh keinginan.

Orang biasa berdaya upaya untuk mengetahuinya. Raja-raja dan pemimpin-pemimpin berlomba untuk memperolehnya .

(Ibn Khaldun, al-Muqaddimah, 1377)

 

 

 

Pada hari Senin, 3 Juni 1985 , di sebuah rumah tinggal di kompleks Perumahan Menteri Jalan Gatot Subroto , Jakarta Pusat  , Nugroho Notosusanto , Rektor Universitas Indonesia merangkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, menutup mata untuk selama-lamanya . Keesokan harinya, jenazahnya disemayamkan sebentar di Universitas Indonesia , Alma Mater almarhum , sebelum diantar dengan iring-iringan menuju ke Taman Makam Pahlwan Kalibata , Jakarta .

 

Di bangsal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , ada ratusan atau mungkin ribuan mahasiswa Universitas Indonesia yang   harus   berdesak-desakan  dalam memberi penghormatan terakhir kepada almarhum Nugroho Notosusanto serta  mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga yng ditinggalkan . Istri , Irma Savitri dan  ketiganya

Indriya Smita , Inggita Suksma dan Narottama. Di Taman Makam Pahlawan , ribuan pelayat mengantar jenazah   Rektor   Universitas   Indonesia   yang   merangkap   Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan RI ke tempat peristirahatannya yang terakhir . Di situlah ada sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia penghuni asrama Daksinapati membentangkan spanduk yang cukup panjang dan bertuliskan “ Selamat Jalan Bapakku”.Kesemuanya ini  merupakan  simpati  terhadap  almarhum  Nugroho  Notosusanto . Kepergiannya jelas merupakan pukulan yang  buat Civitas Akademika UI , tetapi itulah kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

 

Tiga tahun sebelumnya. Di Aula Fakultas Kedokteran UI , hari Jum’at sorenya, tanggal 15 January 1982 , berlangsung acara serah terima dan pelantikan Rektor UI yang baru Prof. Dr. Nugroho Notosusanto . [1] Pelantikannya sendiri dilakukan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Dody Tisnaamidjaja mewakili Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan , Dr. Daoed Joesoef saat itu . Acara pelantikan diliputi oleh suasana yang panas , dengan terdengarnya suitan, cemooh maupun teriakan histeris mahasiswa . Malahan ada mahasiswa yang membakar petasan . Selesai pelantikan , para mahasiswa menggelar spanduk besar kain kuning yang bertuliskan “ Jangan nodai kampus kami dengan sepatu lars “. Kejadian tersebut rasanya sulit diketemukan sepanjang sejarah Universitas Indonesia .

 

Kejadian itu jelas membekas di hati Nugroho Notosusanto , dan ia melukiskan apa yang terjadi pada saat itu dalam sebuah tulisannya :

Upacara   dimulai   dengan   pembacaan     Keputusan  Presiden   yang    mengungkapkan pengangkatan   saya   menjadi   Rektor Universitas  Indonesia . Teriakan-teriakan tambah menjadi-jadi ditambah dengan  suitan-suitan dan bunyi pukulan-pukulan benda tumpul . Pada waktu saya mengucapkan sumpah jabatan , teriakan-teriakan berlangsung terus, sehingga menyulitkan lafal sumpah . Belum pernah saya mengalami atau menyaksikan riuh seperti itu agaknya tidak pernah mengalami lagi . Ketika Prof. Dr. Dody Tisnaamidjaja , Dirjen Pendidikan , membacakan amanat Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan teriakan-teriakan tersebut tetap ada. Dan yang sebentar membuat darah saya mendidih ; ketika ulama membacakan doa , kekhusukan buyar berantakan karena teriakan-teriakan yang menggila …! Kalaupun masih ada keraguaan-keraguan dalam hati Saya mengenai tindakan yang harus saya ambil dalam menyelesaikan tahap pemantapan , maka pada saat itu saya tidak bimbang lagi.  Suatu  ketenangan   yang   luar   biasa   turun dalam hati saya yang beberapa detik yang lalu bergolak .[2]

 

Melihat kejadian tersebut , timbul sebuah pertanyaan , apa yang menyebabkan sejumlah mahasiswa sedemikian tidak menyukai kehadiran Nugroho Notosusanto sebagai Rektor Universitas Indonesia yang baru ? Terlepas dari jawaban apapun yang bisa diberikan sebenarnya Nugroho Notosusanto bukanlah orang baru di lingkungan Universitas Indonesia .Hampir sepuluh tahun dia habiskan waktunya sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra dan Filsafat UI dan lebih dari 20  tahun dia mengabdikan dirinya pada Alma Mater sebagai staf  pengajar  Bahkan dia menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan di bawah Rektor dr. Syarief Thayeb dan Prof Dr. Sumantri Brodjonegoro pada pertenganan tahun 1960-an.

 

Dunia Kemahasiswaan

 

Nugroho Notosusanto dilahirkan di rumah kakeknya R.P. Notomijoyo , pensiunan Patih Rembang , di kampung Pandean, pada hari Senin Wage, tanggal 15 Juni 1931 . Ia adalah buah perkawinan antara Notosusanto lulusan Rechshogeschool Batavia dan Tini, Putri seorang Hoofd Jaksa di Rembang .[3] Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta pada tahun 1951. Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan Filsafat  Universitas  Indonesia . Saat itu ia terdaftar sebagai mahasiswa jurusan bebas FSUI , yakni jurusan dengan bidang ilmunya belum menjadi program tersendiri . Disinilah Nugroho Notosusanto mengembangkan minatnya dalam studi sejarah ,terutama  di bawah bimbingan Prof. Dr. Mr. Soekanto selaku guru besar dalam induk mata pelajaran sejarah Indonesia .[4] Sebagai mahasiswa , selain belajar , ia banyak menyibukkan diri dalam dunia kemahasiswaan .

 

Setelah satu tahun sebagai aktivis mahasiswa  pada tahun 1952.  , Nugroho Notosusanto  terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI [5] , dan kemudian ia bersama-sama teman-temannya yang lain ( antara lain : Emil Salim ) mendirikan Dewan Mahasiswa UI pada tahun 1954 . Di sana Nugroho Notosusanto duduk sebagai anggota Badan Perwakilan DMUI dan juga menjadi Redaktur Penerbitan DMUI Mahasiswa [6] Aktivitasnnya dalam penerbitan pers UI mengantarkannya menjadi Ketua Serikat Pers Mahasiswa Indonesia pada tahun  yang sama . Sementara itu ia tercatat juga sebagai Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Djakarta  (1955 -1956 ). Pada tahun 1958 , ketika Serikat Pers  Mahasiswa Indonesia  dan Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia bergabung menjadi Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia , ia beralih ke bidang kesenian mahasiswa dan menjadi Ketua Badan Kerja Sama Kesenian Mahasiswa Indonesia , yang salah satu kegiatannya menyelenggarakan forum kegiatan Kesenian mahasiswa dalam bentuk Pekan Kesenian Mahasiswa .[7]

 


[1] “ UI berusia 33 Tahun – Nugroho Notosusanto  : UI Ibarat Menara Api “ , Suara Karya , 1 Feberuari 1983 .

[2] Nugroho Notosusanto, Menegakkan Wawasan Alma Mater , ( Jakarta : UI Press, 1984 ) , hal. 121 – 122 .

[3] Keluarga Nugroho Notosusanto , Mengenang Nugroho Notosusanto , ( Jakarta : PT Bulan Bintang , 1984 ) , hal. 98 .

[4] Iskandar P. Nugraha , Mengenang Hidup dan Pengabdian Nugroho Notosusanto , “ Historia , Edisi Khusus – Juni 1988 , hal. 3.

[5] Daftar Ketua Senat Mahasiswa FSUI – 1950 – 1981 . Lihat Meutia F. Swasono , Buku Peringatan Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1940 – 1980 , ( Jakarta : FSUI , 1980 ) , hal. 59 .

[6] Keluarga Nugroho Notosusanto , ibid, hal. 93 .

[7] Ibid, hal. 92.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s