Sartono Kartodirdjo: Sejarawan Multi Dimensional

Tanggal 1 November 1987 di kampus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ada seminar sehari bertema – The Development of Interdisiplinary Approaches in The Study History in Indonesia and Southesst, yang dihadari oleh sejumlah ilmuwan yang mendalami mengenai Indonesia dari manca negara. Bernhard Dahm, A. Teeuw, M.C. Ricklefs, Joseph Fischer dan sejarawan tenar lainnya. Kegiatan seminar ini diselenggarakan untuk dosen untuk menhormati Prof. Dr. Sartono Kartodirjo yang telah memasuki masa pensiun sebagai dosen selama tiga puluh tahun pada Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Sebenarnya Sartono Kartodirdjo telah memasuki masa pensiunnya pada tanggal 1 Maret 1986, tetapi acara seminar diadakan pada tanggal itu, semata-mata untuk mengormati Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo yang menempuh ujian disertasinya, The Peasants’ Revolt of Banten 1888 : Its Conditions, Course dan Sequel ; A Case Study of Social Movement in Indonesia, dengan mendapat nilai Cum Laude pada tanggal yang sama duapuluh satu tahun yang lalu.[1]

 

Sejumlah puja-puji terhadap diri Sartono Kartodirdjo mewarnai acara tersebut. M.C. Ricklefs, guru besar Monash University menyatakan bahwa Sartono Kartodirdjo dalam melakukan pendekatan maupun metode tidak berhenti pada pendekatan konvensional saja, tetapi telah bergerak pada pendekatan sosiologi, sastra dan filsafat. Karena itulah Sartono Kartodirjo lebih terbuka terhadap pendekatan-pendekatan baru dibandingkan dengan kebanyakan sejarawan diluar negeri, maka ia selangkah lebih maju dibandingkan rekan-rekannya. Kalau dulu Sartono Kartodirdjo banyak dipengaruhi oleh bekas guru besarnya seperti Harry J. Benda dan W.F. Weterheim. Tetapi sekarang dia lebih maju dibandingkan keduanya terutama di dalam masalah metedologi.[2]

 

Mendengar puji-puji serta pembacaan riwayat hidup, rupanya Sartono Kartodirjo di luar sekenario upacara langsung minta waktu untuk berbicara. Dengan sigap Rektor UGM Prof. Dr. Koesnadi Hardirdjo mempersilahkan Sartono yang penglihatannya berapa tahun terakhir semakin berkurang itu kemimbar. Dari mimbar Sartono Kartodirdjo berkata, “meski menderita karena menjadi objek, saya juga merasa berbahagia sekali. Karena ….. saya bisa mendengar riwayat hidup tadi ketika saya masih hidup dan sehat”. Segera terdengar gemuruh tepuk tangan. Merujuk pada puja-puji yang didengar siang hari itu, Sartono Kartodirdjo kemudian menyitir salah satu nasihet dalam kitab Ajurna Wihaha, saya akan tetap berusaha . . . . tak menjadi takabur dalam saat mendapatkan anugerah.”

 

Seminar sehari itu bukan berisi puja-puji tetapi juga penghargaan. Sebagai tanda kekaguman serta terima kasihnya Joseph Fischer, mahaguru Universitas California, Amerika Serikat yang sekarang menjadi pengusaha penerbitan dan bekas kolega Sartono Kartodirdjo ketika mengajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM dengan sukarela menyediakan dua tanda penghargaan yang dinamakan : The Profesor Sartono Kartodirjo Prezes in History and Social Thought. Satu diperuntukan setiap mahasiswa UGM yang berhasil menulis skripsi atau tesis terbaik mengenai sejarah Indonesia. Sisanya untuk setiap dosen atau mahasiswa yang menulis Manuskrip terbaik mengenai sejarah Indonesia dan diterbitkan oleh Gajah Mada University Press.

 

Sebagai puncak acara penghargaan kepeda Sartono Kartodirdjo. Gajah Mada University Press menyerahkan kepada Sartono Kartodirdjo sebuah festschrift – Dari Babad dan Hikayat Sampai Sejerah Kritis, yang merupakan karangan yang ditulis sejumlah kolega dan bekas  murid-muridnya. Sebaliknya Sartono Kartodirdjo tidak mau kalah, ia sendiri menyerahkan karya terbarunya – Kebudayaan Pembangunan Dalam Perspekif Sejarah yang merupakan kumpulan artikel, baik yang berasal dari seminar maupun yang tersebar dalam media massa. Sebagai seorang sejarawan tak dapat disangsikan reputasinya. Ia telah menghasilkan puluhan buku dari buah tangannya serta kualitas tulisannya benar-benar bermutu. Tetapi sebagaimana dengan Sartono Kartodirjo sebagai pendidik. Untuk mengetahui itu ada baiknya mendengar apa yang diutarakan oleh Ibrahim Alfian, yang merupakan doktor pertama yang dibimbing oleh Sartono Kartodirdjo.

 

“Persoalan, apakah parameter yang harus dipakai untuk menilai guru yang baik ? kalau parameternya bisa melahirkan sekian banyak penerus dan penyebar ide-idenya, beliau memang seorang guru yang baik dan berhasil … tapi kalau parameternya seorang guru yang baik harus sanggup melahirkan murid yang berkemampuan melebihi gurunya, guru mengajarkan 10 jurus baru, dan sang murid harus bisa menciptakan 60 jurus baru, saya kuatir, beliau belum bisa menghasilkan murid setarap atau melebihi sang guru … beliau ingin menghasilkan harimau namun yang tercipta hanya kambing-kambing. Seperti saya sediri, hanya kambing. Tapi, ini bukan salahnya sang guru mungkin karena kami-kami ini, muridnya, kenyataannya belum bisa menyamai ketekunan, keteladanan, semangat kerja beliu. Saya suadah diajarkan 10 jurus, tetapi jangankan mengembangkan jadi 60 jurus, mungkin hanya sekedar 2 jurus yang saya kuasasi.[3]

 

Kesadaran Sejarah

Sartono Kartodirdjo dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1921, di Wonogiri Salatiga, Jawa Tengah, merupakan buah hasil perkawinan dari Tjiro Sarojo yang berkerja sebagai seorang Posterij Amtenar (PPT) dengan Soetimah, setelah memperoleh dua anak peremuan, Sarsini dan Sarsijem. Ketika Sartono Kartodirjo masih kecil ibunya meninggal dunia dan kemudian ayahnya menikah kembali Sartono memperoleh dua adik perempuan, Sri Soebekti dan Sri Soekesi. Atas terkabulnya keinginan keluarga Tjipto Sarojo memperoleh anak laki-laki, keluarga Sarojo memenuhi nazarnya untuk membawa sang bayi yang belum berusia satu tahun itu menuju Candi Prambanan yang terletak di perbatsan Yogyakarta – Klaten. Sebenarnya ongkos perjalanan berpergian Yogyakarta – Klaten. Sebenarnya ongkos perjalanan berpergian ke Candi Prambanan ketika itu termasuk mahal. Ketika itu kereta api dari Wonogiri, dimana Sartono Katodirdjo dilahirkan menuju Solo saya saja menghabiskan ongkos sebesar tiga puluh sen. Kepergian keluarga Sarojotersebut dengan harapan agar anak laki-lakinya itu menjadi pandai. Harapan orang tua terhadap Sartono Kartodirdjo dianggap telah memberikan kengan khusus. Kenangan seperti itu telah memberi bimbingan supranatural terhadap diri Sartono Kartodirdjo mengenai bangai mana seharusnya hidup itu dijalankan. Sartono Kartodirdjo menganggap bahwa dibawanya dia ketempat bersejarah itu rupanya telah mempengaruhi bawah sadar sehingga menyebabkan Sartono mencintai lapangan yang sampai kini dilakoninya. Ayahnya sebenarnya menginginkan agar putranya menjadi seorang dokter. Hal itu tidak mungkin terlaksana karena Sartono Kartodirdjo takut melihat darah dan beberapa kali semaput kalau melihat darah, karena itu dia menyadiri bahwa masa depan menjadi dokter telah tertutup. Walaupun demikian, Sartono Kortodirdjo menyatakan dirinya tidak merasa mengecewakan hati orangtuanya setelah menjadi sejarah dengan alasan.[4]

 

“Sebab fungsinyakan sama. Saya juga memberikan terapi pada orang lain. Sebab dengan berpegang pada sejarah yang benar. Kemajuan sebuah bangsa dapat terjaga, Keperibadian bangsa juga berakar dari sejarahnya.”

 


[1] Kompas, 2 November 1987.

[2] Editor, 7 November 1987.

[3] Kompas, 2 November 1987.

[4] Wawancara dengan Sartono Kartodirdjo, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Sarinah, 5 September 1989 dan Editor, 7 November 1987.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s