Soe Hok Gie Sang Demonstran yang Selalu Gelisah

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.1

 

Itulah kata-kata filsuf Yunani yang disukai Soe Hok Gie. Ia merupakan salah satu dari mereka yang menjadi arsitek gerakan-gerakan mahasiswa tahun 1966. Ia pula yang mengotaki Long March Salemba-Rawamangun, aksi mahasiswa memenuhi jalan kota Jakarta yang menuntut penurunan harga bensin dan karcis bis kota. Tulisan-tulisannya yang kritis dan tajam yang tersebar di berbagai media massa mampu menggetarkan hati nurani para pembaca yang berada dalam lingkaran kekuasaan maupun yang menjadi korban perubahan politik.2 Kata-kata yang mengusik kalbu serta yang membayangi langkahnya telah menjadi kenyataan. “Berbahagialah mereka yang mati muda”. Dalam pendakiannya ke Gunung Semeru. Sang maut telah menjemputnya. Ia menjadi korban sesak nafas akibat gas beracun yang mematikan tanpa bau, tanpa warna, dan lebih berat daripada udara yang merembes dari permukaan gunung berapi itu. Ia tewas bersama dengan anggota Mahasiswa Pencinta Alam UI lainnya, Davantari Lubis. Sehari sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh.

Soe Hok Gie meninggal di tengah berbagai kegelisahan. Ia dihadapkan pada kenyataan, bekas teman aktivis mahasiswanya telah melupakan perjuangan sebelumnya. Sebagai tokoh mahasiswa Angkatan ’66 lebih memburu hal-hal yang berbau keduniawian ketimbang memikirkan perubahan menuju masyarakat adil dan makmur. Mantan aktivis mahasiswa yang duduk dalam DPR-GR justeru berbuat mendapatkan kredit murah mobil mewah Holden.3 Bukankah sebelum ia berangkat ke gunung Semeru, Soe Hok Gie bersama sejumlah teman rencana mengirimkan hadiah ‘Lebaran-Natal’ kepada tiga belas perwakilan mahasiswa yang duduk di DPR-GR, berupa pemulas bibir, cermin, jarum dan benang, di sertai surat terlampir yang berisi kumpulan tanda tangan dengan harapan agar mereka lebih menarik di mata penguasa.4

Tokoh-tokoh mahasiswa 1966 yang kecewa dengan keduniawiaan. Mereka mulai menyingkir dari dunia ramai bertani, berternak serta berladang di daerah pedesaan untuk memenuhi panggilan hati nuraninya. Soe Hok Gie memilih ke gunung sebagai upaya yang lebih baik untuk menenangkan ledakan-ledakan hati nuraninya. Ia tak kuasa berjuang sendiri melawan anarki dan verlicht diktator yang telah berhasil menjinakkan rekan-rekannya sendiri.5 Intelektual muda ini berkeinginan mengadakan parlemen jalanan seperti dahulu, tetapi kelihatannya aksi semacam itu akan semakin tidak populer atau akan ditindas penguasa baru dengan alasan keamanan.6

Senjata yang digunakan gerakan mahasiswa dalam menumbangkan pemerintahan Soekarno dan dilarang digunakan oleh pemerintahan yang menggantinya. Kenyataan ini menjadi salah satu alasan Soe Hok Gie menulis. Tulisan-tulisan yang kelewat berani telah mempersulit dirinya sendiri. Seperti sikap permusuhan, banyak teman yang mulai meninggalkannya dan bahkan ia mendapat surat yang akan mengancam akan membuat cacat seumur hidup. ‘Nasibmu telah ditentukan suatu ketika, kau sekarang mulai dibuntuti. Saya nasehatkan jangan pergi sendirian atau malam hari.7 Ibunda Soe Hok Gie pun gelisah dan menyatakan bahwa tulisan-tulisan yang kritis hanya mencari musuh saja dan tidak mendapatkan uang.

Mengapa Soe Hok Gie berbuat demikian? Mengenai maksud Soe Hok Gie bersuara keras dalam tulisan-tulisannya. Sang kakak Arief Budiman menceritakan apa yang dikatakan Soe Hok Gie tentang persoalan tersebut.

 

Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ni. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saja dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.8

 

Kesepian akan datang dan ia siap menerimanya. Soe Hok Gie menyadari bahwa seorang intelektual yang bebas adalah pejuang yang selalu sendirian. Semual ia membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang lebih bersih. Tetapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti dirinya akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Soe Hok Gie tetap bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka, sendirian, kesepian dan menderita. Mungkin yang tetap setia dengan cita-cita kemanusiaan.

 

Bibit-bibit Pembentukan

Kakek buyut Soe Hok Gie, Soe Hoen Tjiang, adalah penduduk asli kepulauan Hainan Cina Selatan. Ia tiba di Batavia sebagai seorang imigran yang miskin, mungkin sekitar tahun 1870-an, yakni masa ketika ribuan orang Cina, hampir semuanya pria muda yang belum menikah dan berasal dari propinsi-propinsi di salatan, mulai berimigran ke Asia Tenggara untuk mencari pekerjaan dan peluang baru, kendati ia tidak membawa apa-apa dari kelahirannya, kecuali pakaian yang ia kenakan, ia cukup beruntung bisa menikahi anak perempuan dari keluarga peranakan yang terkemuka. Atas bantuan mertuanya, Soe Hoen Tjiang yang tampak cerdas, berhasil menjadi pengusaha yang sukses. Tetapi anak dan cucu-cucunya ternyata gagal untuk melipatgandakan keuntungan tersebut, yang membeuktikan bahwa mereka tidak mampu mengelola kekayaan dan aset yang mereka warisi.

Soe Hoen Tjiang kemudian berputra tujuh orang. Salah seorang adalah Soe Ho Sei, yang sukses menjalankan sebuah perusahaan roti di Tanah Abang selama permulaan abad ini. Tetapi bisnis roti bangkrut ketika hutang yang menumpuk tidak bisa dibayar. Ia mempunyai anak empat orang dari Soe Lie Piet, ayah Soe Hoe Gie, anak pertama yang lahir di Tanah Abang, Batavia pada 20 Februari 1904. Sebagai anak pertama ia sangat disayangi kakeknya, Soe Hoen Tjiang, yang meminta agar anak itu dibesarkan dirumahnya. Meskipun kakeknya totok, lingkungan sekitarnya adalah lingkungan peranakan sehingga Soe Lie Piet tumbuh dengan menggunakan bahasa Melayu, dengan dialek Cina-Melayu yang menjadi karakteristik komunitas peranakan Cina-Batavia.


1 Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta: LP3ES, 1983, hal 125-126.

2 Ia menulis lebih dari seratus artikel dan sebagian tulisannya dikumpulkan dalam Soe Hok Gie, Zaman Peralihan, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1995.

3 Sri Lestari dan Esti Adi, “Soe Hok Gie, Biodata Tentang Pribadi yang Paradoksal”, dalam Soe Hok Gie, 1995, hal 247—261.

4 John Maxwell, Soe Hok Gie, Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 2001, hal 364-366.

5 Zaenal Arifin, “Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang Mati Muda”, Sinar Harapan, 27 November 1979.

6 A. Muis, “Soe Hok Gie Dalam Kenangan”, Sinar Harapan, 30 Desember 1970.

7 SN. Lestari dan Esti Adi, Soe Hok Gie, Op. cit.,

8 Arief Budiman, “Soe Hok Gie: Sebuah Renungan”, dalam Soe Hok Gie, 1983, hal 1-5.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s