Tahi Bonar Simatupang dari Militer menuju Gereja

 

Semasa hidupnya Tahi Bonar Simatupang telah mengabdikan diri sebagai prajurit, penggembala umat, pendidik dan penulis. Dalam usianya yang ketiga puluh, ia diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia menggantikan Pangklima Besar Sudirman yang meninggal dunia. Saat itu pangkatnya yang semula  adalah Kolonel kemudian dinaikkan menjadi Mayor Jendral. Beberapa tahun lamanya setelah itu, boleh dibilang ia satu-satunya jendral di Republik ini. Namun pada akhirnya, ia dipensiunkan sebelum menginjak 40 tahun, karena adanya pertentangan dengan Presiden Soekarno. Sesudah itu ia kemudian aktif dalam bidang keagamaan, ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (sekarang Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), Ketua Dewan Gereja –Gereja se-Asia dan menjadi salah seorang Presiden dari Dewan-Dewan Gereja-Gereja se-Dunia yang mewakili benua Asia. Perpindahannya dari dunia militer ke dunia kegerejaan ,sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang mengejutkan. Ini mengingat semua aktivitasnya itu dilakukan demi untuk kepentingan masyarakat. Dari dunianya sana ia menjadi salah satu peletak dasar pemikiran etika untuk mengekspresikan keprihatinan gereja terhadap persoalan masyarakat Indonesia. Perhatiannya terhadap masyarakat pula yang mengantarkannya sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pembinaan dan Pendidikan Manajemen .

 

Kegiatan ceramah di berbagai forum dan juga menulis sejumlah buku dan artikel di Harian Sinar Harapan, (sekarang Suara Pembaruan), di mana dia salah satu pendirinya, menyebabkan banyak orang menyebutkan sebagai intelektual ABRI. Tulisan-tulisan atau buah pikiran Tahi Bonar Simatupang yang pernah mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Tulsa (AS) dalam masalah Kemanusian (1969), meliputi berbagai bidang kajian seperti masalah militer, agama, manajemen serta kenegaraan. Dan kelihatannya bidang militer merupakan masalah yang paling banyak menarik perhatiannya. Tulisan ini menaruh perhatian yang khusus terhadap riwayat kehidupan TB Simatupang yang dikaitkan dengan dunia militer. Suatu dunia yang digelutinya untuk pertama kali, dan bahkan sering disebutkan sebagai cinta pertamanya. Tentu saja tidak dilupakan dunia agama yang merupakan cinta kedua

 

Latar belakang Sosial

Kehadiran sejumlah pengusaha Onderniming yang mencari untung di daerah Sumatra Timur, yang mempunyai tanah subur itu, pada kenyataannya yang menghasilkan sejumlah penderitaan saja bagi masyarakat setempat. Kedatangan para penguasa Onderniming tersebut telah dimanfatkan oleh para penguasa setempat, yang rakus akan kekayaan, dengan memberikan konsesi-konsesi kepada mereka, kaum pendatang dengan tanpa memperdulikan kesejahteraan rakyatnya. Situasi semacam ini hanya membuat penguasa setempat mampu membangun tempat-tempat kediaman yang luas serta mewah, dan sebaliknya uang-uang yang bertaburan dari para pendatang itu tidak menyentuh kehidupan rakyat jelata.Dan bahkan lebih jauh lagi, mereka telah diperlakukan sebagai budak di negerinya sendiri.[1] Keadaan seperti itu pada gilirannya justru menyuburkan lahirnya partai-partai yang berusaha mempertahankan kepentingan anak negeri yang diperlakukan secara semena-mena.

 

Sejak tahun 1910-an, terdapat partai-partai seperti Sarekat Islam, National Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1920, terjadi pemogokan kaum buruh yang sudah tidak tahan lagi diperlakukan dengan tidak adil, dan boleh dibilang ini dilakukan dengan berhasil yang membuat perusahaan Kereta Deli lumpuh. Awal tahun 1930-an rapat-rapat umum Partindo diadakan di Pematang Siantar.[2] yang mana bertindak sebagai ketua pada masa itu adalah Adam Malik.[3] Pada situasi seperti itu ayah Tahi Bonar Simatupang yang bernama Simon Simatupang, gelar Mangaraja Soadun yang bekerja sebagai pegawai Hindia Belanda, adalah salah seorang yang mempunyai minat besar terhadap pergerakan kebangsaan. Pada tahun 1930-an, ia ikut mendirikan Persatuan Kristen Indonesia, yang kemudian dianggap sebagai salah satu pendahulu dari Partai Kristen Indonesia yang didirikan kemudian setelah sesudah Indonesia Merdeka. Kegiatan kehidupan gereja dan persekolahan Krsiten tidak luput juga dari perhatiannya. Simon Simatupang yang mengikuti dengan seksama surat kabar dan majalah – dari Batavia yang menyebarkan cita-cita kebangsaan, adalah orang yang rajin menulis artikel tentang kebudayaan di dalam media massa yang berbahasa Batak. Indonesia dan juga Belanda.[4] Dalam latar belakang sosial seperti itu, Tahi Bonar Simatupang lahir dan berkembang di Sidikalang, yang pada waktu itu terletak di Kresidenan Tapanuli.

 


[1] Karl J. Pelzer, Toean Keboen dan Petani – Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria, (Jakarta: Sinar Harapan, 1985).

[2] Anthony Reid, Perjuangan Rakyat – Revolusi dan Hancurnya Kerejaan di Sumatra Timur, (Jakarta: Sinar Harapan, 1987), hal. 110–126.

[3] Adam Malik, Mengabdi Republik – Adam dari Andalas, Jilid I, (Jakarta: Gunung Agung, 1982 , hal. 17.

[4] H.M. Victor Matondang  (ed), Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang, (Jakarta: BPK Gunung Mulia dan Patenta Sejati, 1986), hal. 66–67.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s