Karl Marx, Manifesto Komunis dan Das Kapital

Misinya   nyata  dalam  hidupnya,  yakni untuk
memberikan  kontribusi dengan satu  atau  lain
cara, bagi  tumbangnya   masyarakat   kapitalis
atau   insitusi   negara   yang   ada,  juga  untuk
memberikan   kontribusi bagi kebebasan kaum
proletar. Marx -lah  orang  yang  pertama  kali
menyadari posisi kaum proletar dan kebutuhan
kebutuhannya,     dan     menyadari    perlunya
pembebasan kaum proletar .  Berjuang   adalah
adalah bagian  dari hidupnya. Dan  ia  berjuang
dengan   keinginan  yang   besar,  keuletan  dan
keberhasilan  yang  hanya  bisa  ditandingi oleh
orang….
Namanya  akan  terus  hidup sepanjang  zaman,
begitu juga karyanya.


Kutipan di atas merupakan bagian pidato penguburan yang mengharukan dan  meyakinkan disampaikan oleh sahabat karibnya, Frederich Engels, yang Berbicara tentang prestasi-prestasi dan karakter Karl Matx. (Frederich Engels, 2001:341-343). Pada hari sabtu tanggal 17 Maret 1883, Marx dimakamkan di Highgate Cemetry (London), di situ istrinya, Jenny von Westphalen, juga telah dimakamkan lima belas bulan sebelumnya. Tidak banyak yang hadir dalam pemakamannya : anggota-anggota keluarganya, beberapa teman pribadinya dan wakil-wakil para pekerja. Kematian Marx berlalu tanpa banyak diperhatikan oleh masyarakat umum. The Times hanya mencetak sebuah pemberitahuan berita kematian yang singkat dan seadanya.( Isiah Berlin, 2000 : 341-342)

Tidaklah berlebihan bahwa Karl Marx tidak akan pernah menjadi orang seperti yang banyak orang dikagumi jika tidak ada peran Jenny von Wesphalen. Kehidupan dua orang ini tidaklah satu, tetapi saling melengkapi. Kecantikan Jenny menyenangkan Marx yang memujinya sampai akhir hayat dan menimbulkan kekaguman bagi orang–orang seperti Heine, Herwegh dan Lassale; kecantikan dan kecerdasan yang sama brilian. Jenny von Westphalen adalah seorang perempuan dengan sejuta pesona. Ketika Jenny dan Marx masih kecil, mereka bermain bersama; mereka bertunangan ketika Marx berusia tujuh belas tahun dan Jenny dua puluh satu tahun, dan mereka menunggu tujuh tahun sebelum akhirnya melangsungkan oernikahan pada tahun 1843. Semenjak itu mereka berdua tidak pernah berpisah. Kemudian sepanjang kebersamannya, mereka ditemani Helene Demuth yang setia dan terpercaya mengarungi dunia yang sarat dengan badai dan tekanan, pengusiran, kemiskinan yang getir, fitnah, perjuangan yang keras dan dashyat; mereka tidak pernah mengelak maupun tenggelam walaupun didera tugas berat dan bahaya. ( Eleanor Marx –Aveling , 2991: 312-320)

Meskipun Jenny lahir dan tumbuh di sebuah keluarga aristokratik Jerman. Tidak ada perbedaan atau kesenjangan sosial di antara mereka berdua . Dia menghibur para pekerja yang masih dengan pakaian kerjannya di rumahnya, dia menganggap dan bersikap sopan kepada mereka seolah-olah  sebagai pangeran atau ratu. Banyak pekerja di semua negara menikmati kedermawanannya dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang pernah bermimpi bahwa perempuan yang menerima mereka dengan kebaikan yang bersahaja dan tulus berasal dari garis keturunan Pangeran Angyil dan saudara laki-lakinya adalah seorang menteri di kerajaan Prussia. Semua ini tidaklah mengkwatirkan Nyonya Marx; dia telah menyerahkan segalanya untuk mengikuti suaminya dan bahkan dalam keadaan yang sulit, dia tidak pernah menyesali apa yang telah dilakukannya.

Dia mempunyai pikiran yang jelas dan brilian. Surat-surat kepada teman-temannya, yang ditulis tanpa paksaan atau rekayasa, merupakan hasil dari pemikirannya yang teliti dan asli. Marx mengakui kecerdasan dan kekritisan istrinya sebagaimana ditunjukkan dalam semua naskahnya, dan mendapatkan ide-ide dari istrinya itu. Istri  Marx menyalin naskah-naskah suaminya sebelum dikirim ke percetakan.

Cinta Marx kepada istrinya begitu mendalam dan lekat, Penyakit yang menyebabkan kematian Jenny Marx juga menambah penderitaan suaminya. Istrinya menderita sakit yang lama. Marx, terkuras energinya karena kurang tidur, berolah-raga, dan udara segar, serta lelah secara moral, terkena radang paru-paru yang mengantarnya pada kematian.

Sesudah kematian istrinya, kehidupan fisik dan mental Marx kacau, yang dilakoninya dengan sangat tabah. Kehancuran fisik dan mental Marx diperparah dengan kematian anak tertuanya, Jenny Longuet, setahun kemudian. Kehidupan Marx menjadi berantakan, dan tidak tertolong lagi.( Paul Lafargue, 2001: 312-320). Lima belas bulan kemudian Marx yang tidak pernah bisa berpisah dengannya juga bersatu dengan istrinya dalam kematian. Setelah diserang demam dan kegelisahan, dan pada tanggal 14 Maret 1883 Marx meninggal dalam tidurnya, dalam keadaan duduk di kursinya di ruang belajarnya.(Isaiah Berlin, 2000 : 431). Pada saat Marx meninggal, di kantong bajunya diketemukan foto Jenny istri yang amat ia cintai itu, bersama foto ayahnya, serta foto salah seorang anaknya. (Baskara T Wardaya, 2003 : 95)

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s