Marhaenisme

Tidak ada gunanya mati,
Jika anda tidak menghantui ingatan seseorang…
Jika anda tidak meninggalkan secercah rasa.

Peter Ustinov, Aftertaste, 1958

Kendati Soekarno telah tiada, ajaran-ajarannya tetap saja menghantui ingatan seseorang. Lihat saja Megawati Soekarnoputri memperoleh sejumlah rintangan dari formasi tertentu dalam negara, ketika ada dukungan dari arus bawah yang begitu kuat terhadap Megawati Soekarnoputri untuk menjadi orang nomor satu partai berlambang kepala banteng. Meskipun megawati Soekarnoputri terpilih menahkodai kapal wong cilik yang tersingkir dari derap pembangunan. Goncangan pun tak surut sehingga kapal pun pecah dan ada dua nahkoda. Tindakan kurang terpuji itu dilakukan dengan salah satu alasannya, karena khawatir kebangkitan Marhaenisme, yang bisa dianggap sebagai ideologi penantang terhadap kemapanan dari pemerintah yang menjalankan pembangunan bernuansa kapitalisme.
Di era reformasi, terdapat sejumlah partai politik dan organisasi masyarakat yang berlambang kepala banteng dan yang mempunyai hubungan ideologis dengan Soekarno. Ada yang secara langsung menyebut dirinya sebagai Marhaenis. Diantaranya PNI Front Marhaen, PNI Massa Marhaen, Partai Rakyat Marhaen, Kesatuan Buruh Marhaenis, dan Keluarga Besar Marhaenis. Kendati mereka diperbolehkan berdiri, tetapi pemerintah Habibie memperdengarkan kata Marhaenis dengan nada yang perlu diwaspadai, sehingga menimbulkan sanggahan dari orang yang menyatakan dirinya Marhaenis.
Sebenarnya kata Marhaenisme sudah lama tidak terdengar dan jarang orang mengenal makna kata itu. Marhaenisme pernah menjadi istilah yang popular ketika Soekarno berada di puncak kekuasaannya dan begitu Soekarno surut dari panggung politik, lambat laun kata itu jarang terdengar. Marhaenisme dan Soekarno merupakan suatu hal yang tidak bias dipisahkan, karena Marhaenisme sebagai rumusan pertama kalinya dicetuskan Soekarno. Sebagai asas partai, Marhaenisme berakhir dengan berfusinya PNI kedalam PDI pada tahun 1975. Ada sejumlah organisasi masyarakat yang berasaskan Marhaenisme, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dan Gerakan Wanita Marhaenis. Tetapi dengan berlakunya Pancasila sebagai asas tunggal, Marhaenisme tidak boleh digunakan sebagai asas organisasi.
Istilah Marhaenisme dan Marhaen disebut-sebut dalam pidato Soekarno sebagai ketua PNI yang didirikan pada bulan Juli 1927, tetapi bisa dikatakan secara resmi istilah Marhaen itu memperoleh definisi dalam pidato pembelaan Soekarno, “Indonesia Menggugat”, di hadapan Pengadilan Kolonial Belanda di Bandung pada tahun 1930. Soekarno menyatakan bahwa pergaulan hidup merk Marhaen; adalah pergaulan hidup yang sebagian besar sekali adalah terdiri dari kaum tani kecil, kaum buruh kecil, kaum pedagang kecil, kaum pelayar kecil, … kaum Marhaen yang apa-apanya semua kecil. Di sini Soekarno mencoba membedakan secara tajam antara konsep Marhaennya itu dengan konsep proletarian dari kaum sosialis Barat, terutama komunis. Kalau struktur masyarakat Eropa telah melahirkan kaum buruh sebagai golongan tertindas atau proletar, sebaliknya masyarakat Indonesia yang belum industrialis mempunyai kaum marhaen yang juga sengsara dan melarat.
Rumusan kata marhaenisme dan marhaen yang lebih terperinci diperoleh dalam tulisan Soekarno, Marhaen dan Proletar, yang dimuat dalam Fikiran Rakyat pada tahun 1933. Sebuah uraian mengenai keputusan-keputusan Partindo (yang dianggap sebagai kelanjutan PNI yang bubar pada tahun 1931) mengenai ideologi baru itu di Mataram (Yogyakarta) yang dikemukan dalam sembilan tesis pokok Marhaenisme dan Marhaenis. Dasar pokok kedua, menyatakan bahwa Marhaen tidak hanya mengacu pada petani miskin, tetapi mencakup kaum proletar dan kaum melarat lainnya. Oleh karena itu pada dasar pokok ketiga, dinyatakan bahwa Marhaen lebih luas dari proletar, karena ia mencakup segala macam kaum melarat lainnya. Kendati demikian, pada dasar pokok kelima, menyatakan di dalam perjuangan (Partindo), kaum proletar memainkan peranan penting, karena kaum proletar telah mengenal cara produksi kapitalisme, di alam perjuangan anti kapitalisme dan imperialisme itu berjalan sebagai pelopor. Dalam dasar pokok kedelapan, disebutkan Marhaenisme adalah cara yang menghendaki hilangnya segala bentuk kapitalisme dan imperialisme. Sedangkan, pada dasar pokok kesembilan, dikatakan bahwa setiap bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme disebut marhaenis.
Sebenarnya Marhaenisme dan Marhaen yang dirumuskan Soekarno bisa ditafsirkan sebagai ikhtiar melawan ideologi saingannya, yang mana Marhaenisme menolak analisis kelas dari PNI baru (Hatta-Syahrir) dan lebih menyukai pejuangan ras dan menggantikan citra ekonomi sosialis berdasarkan kolektivisme dengan konsep kebahagiaan dan keadilan sosial untuk marhaen, rakyat kecil yang berjumlah 95% dari rakyat Indonesia.
Penemuan kata “Marhaen”, dikisahkan pertama kali dalam kuliah Soekarno, Shaping and Reshaping Indonesia di Bandung pada tanggal 3 Juli 1957. Ketika Soekarno berjalan-jalan di suatu sawah sekitar kota Bandung dan bertemu dengan seorang petani. Ketika ditanya siapa yang memiliki tanah yang sedang dikerjakan, sang petani menjawab, “Milik saya!” Ini pacul punya siapa? “Millik saya,” jawab petani kembali. ”Alat-alat ini, punya siapa? “Milik saya.” Dari dialog dengan petani itu, Soekarno berkesimpulan bahwa petani itu hanya bekerja untuk dirinya sendiri dan bukan untuk orang lain. Kendati petani bekerja dengan modal dan kekuatan sendiri, ia tetap saja miskin. Oleh karena itu, Soekarno menggunakan nama “Marhaen” sebagai gambaran “kemiskinan rakyat”. Marhaen adalah setiap rakyat yang dimelaratkan oleh kapitalisme, imperialisme, kolonialisme.

 

Klik Selengkapnya…..

Satu pemikiran pada “Marhaenisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s