Soekarno, D. N. Aidit dan PKI

Peristiwa penculikan dan pembunuhan jendral-jendral senior Angkatan Darat di Jakarta pada dini hari 1 Oktober 1965 telah memberi kesempatan kepada Soeharto untuk melayangkan pukulan maut kepada legitimasi Soekarno sebagai perwujudan kehendak rakyat Indonesia.  Soeharto, ketika mengambil mayat-mayat para jendral yang dibunuh, belakangan mengaku bahwa pada saat itulah dia menyadari bahwa “tugas utama saya adalah menghancurkan PKI, memberantas perlawanan mereka di mana-mana, di ibu kota, di daerah, di tempat persembunyian mereka di gunung-gunung…untuk membersihkan daerah-daerah tersebut dari benih-benih kejahatan .”
Pembantaian mengerikan yang terjadi di mana-mana mulai akhir 1965 dan berlanjut sampai bulan-bulan pertama 1966, yang saat itu dan sesudahnya dianggap wujud keinginan rakyat, telah menyudahi bab Soekarnois dalam pemahaman akan Indonesia. Ngerinya pembataian itu – Jendral Soemitro belakangan mengenang bahwa “ Saya masih bisa melihat bagaimana Kali Brantas penuh mayat yang mengambang, dan banyak lagi mayat yang menyangkut di cabang-cabang pohon yang tumbuh di pinggir kali”- akan membentuk hakikat perilaku politik Indonesia selama beberapa generasi. Upaya Soekarno membangun rasa kebangssaan yang utuh di atas berbagai perseteruan dan ambisi yang penuh ketegangan, tanpa ampun, dan tak dapat didamaikan akan segera digantikan konsepsi baru mengenai makna Indonesia, yang berdimensi satu tapi ambisius.
Rezim yang dibangun Soeharto dan kolega-koleganya bersifat otoriter, enam puluh persen anggota kabinet pertama yang dibentuk Soeharto pada Maret 1966 adalah anggota militer. Namun akhirnya, rezim Soeharto didirikan di atas gagasan negara dan korporatisme sosial yang sangat ampuh di atas keyakinan bahwa kestabilan politik Indonesia dan kemampuan Indonesia  menjalanani pertumbuhan ekonomi yang pesat  harus dikelola dengan cara baru yang menyeluruh.  Visi Indonesia integralis Soeharto – bersatu, tanpa pertentangan, terkendali, terarah, dengan penegakan kekuasaan – menjadi tema utama Orde Baru. ( RE Elson 2008, 358 – 361 )

 

Komunisme Bergerak

Gerakan Komunis di Indonesia mengalami perjalanan panjang yang seringkali diwarnai gelombang pasang surut. Dalam kurun waktu pergolakan pergerakan nasional pada awal abad ke-20, gerakan komunis bersama dengan gerakan lainnya yang dilandasi oleh berbagai ideologi seperti Islam dan nasionalisme, mengekspresikan diri dalam bentuk aksi perlawanan terhadap penguasa kolonial.

Aksi perlawanan itu disalurkan melalui protes terhadap berbagai ketimpangan penguasa kolonial. Yang paling kongkret berupa aksi konfrontasi secara frontal yang mengandalkan kekuatan fisik. Keterlibatan PKI dalam pergulatan itu terlihat dengan meletusnya aksi perlawanan yang dirancang dan sekaligus dilakukan oleh organisasi itu sepanjang tahun 1926-1927. ( Suhban Sd   1996 : 6 – 10 )

Tahun-tahun terakhir kekuasaan imperialis sesudah pemberontakan-pemberontakan komunis di Jawa tahun 1926/1927, rezim kolonial Hindia Belanda membangun sebuah kamp pembuangan massal yang kurang mendapatkan perhatian. Boven Digul, di pedalaman Papua yang penuh nyamuk malaria di pinggiran wilayah Hindia Belanda untuk memaksa para interan hidup normal di bawah kondisi yang tidak normal. Boven Digul, disebut demikian karena terletak di daratan tinggi Sungai Digul. Boven Digul bukanlah sebuah koloni narapidana. Seperti dijelaskan oleh pemerintah Hindia Belanda tempat pembuangan bukanlah sanksi yang dijatuhkan melalui proses hukum (penal sanction) melainkan tindakan administrarif, ditetapkan oleh kewenangan istimewa gubernur jendral, exorbitant rechten, yang bisa menentukan para interniran di tempat tertentu.

Digul juga bukan sebuah kamp konsentrasi, karena tempat ini berbeda dengan kamp konsentrasi Nazi dalam hal bagaimana para penghuninya diperlakukan tak seorang pun di Digul disiksa atau dibunuh seperti di kamp-kamp konsentrasi Jerman. Pemerintah Hindia Belanda, hanya membiarkan para penghuni mati, menjadi gila, atau menjadi hancur.

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s