Soekarno dan Marxisme

Sumber: Historia, Oktober 1988
Penulis : Peter Kasenda

 

Soekarno dan Marxisme


Kalau ada orang yang menyebut Soekarno itu seorang Marxisme itu benar adanya. Hanya saja identifikasi itu tak mutlak, sebab pribadi Soekarno bisa ditafsirkan melebihi itu. Untuk mengetahui siapa sebenarnya Soekarno itu, ada baiknya kalau membaca tulisan “Soekarno oleh Soekarno sendiri“, Pemandangan, 14 Juni 1941. Soekarno melukiskan dirinya, lewat kata-kata:
“Ada orang yang mengatakan Soekarno itu nasionalis, ada orang yang mengatakan Soekarno bukan lagi nasionalis, tetapi Islam, tapi marxis, dan ada lagi yang mengatakan dia bukan nasionalis, bukan Islam, bukan marxis, tetapi seseorang yang berpaham sendiri. Golongan yang tersebut belakangan ini berkata: mau disebut dia nasionalis, dia tidak setuju dengan apa yang biasanya disebut nasionalisme; mau disebut dia Islam, dia mengeluarkan paham-paham yang tidak sesuai dengan pahamnya banyak orang Islam; mau disebut marxis, … dia … sembahyang; mau disebut bukan  marxis, dia ‘gila’ kepada marxisme itu! … Apakah Soekarno itu? Nasionaliskah? Islamkah? Marxiskah? Pembaca-pembaca Soekarno adalah … campuran dari semua isme-isme itu?”
Lewat pernyataan itu, sebenarnya Soekarno ingin mengatakan, kalau dirinya adalah lambang persatuan, di mana aliran pokok identitas terpadu di dalam dirinya. Oleh karena itu, identifikasi tunggal terhadap diri Soekarno, kalau ia adalah seorang marxis, tidak berlaku. Sebab ia bisa juga disebut sebagai seorang nasionalis dan sebagai orang Islam.
Melalui tulisan ini, saya mencoba meninjau sejauh mana Soekarno yang terpengaruh oleh Marxisme. Untuk itu ada baiknya kalau melihat proses sosialisasi diri Soekarno terlebih dahulu. Awal mulanya Soekarno mengenal Marxisme itu didapat ketika ia berdiam di rumah H.O.S Tjokroaminoto, tokoh SI yang terkenal itu.  Tempat itu dapat dikatakan merupakan “apa dan siapa” awalnya Nasionalisme Indonesia, kalau saya boleh meminjam istilah John D Legge, yang ahli Soekarno itu. Di sanalah Soekarno mengenal marxisme lewat mulut Alimin dan Semaun, tetapi ia juga belajar tentang Marxisme lewat C. Hartogh, seorang guru HBS di Surabaya, tempat Soekarno menuntut ilmu. Pribadi C. Hartogh yang anggota Indische Sociaal-Democratische Vereeninging, kemudian menjadi anggota Indische Sociaal-Democratische Partij adalah demokrat. Hubungan Soekarno dengan C. Hartogh, bukan hubungan yang terbatas di dalam sekolah, tetapi ia mampu juga mempengaruhi Soekarno agar pemikirannya lebih moderat. D.M.G. Koch, yang merupakan juru bicara ISDP, adalah orang yang sering meminjamkan buku-buku tentang Marxisme kepada Soekarno, walaupun hubungan mereka berdua hanya terbatas pada itu saja.
Tulisan Soekarno yang bernada marxisme, mungkin dapat ditelusuri lewat tulisannya yang berjudul “Nasionalisme, Islam dan Marxisme”, sebuah tulisan yang diterbitkan oleh Indonesia Moeda, milik Kelompok Studi Bandung, yang dipimpin Soekarno, dimuat secara tiga kali berturut-turut, November 1926, Desember 1926 dan Januari 1927. Di sanalah terlihat secara jelas pengetahuan Soekarno tentang Marxisme yang begitu luas, bagi anak muda seusianya. Tetapi bukan berarti ia dogmatis melihat Marxisme, seperti apa yang dikatakan dalam tulisannya:
“Adapun teori marxisme sudah berubah pula. Memang seharusnya begitu. Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi yang bisa mengadakan aturan-aturan yang bisa terpakai segala zaman. Teori-teorinya haruslah diikutkan pada perubahan dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut.“
Begitu pula dengan pleidoi Soekarno yang diucapkan di depan Landrad Bandung, memperlihatkan benar pengaruh Marxisme dalam diri Soekarno, ketika ia menguraikan tentang betapa kejamnya kapitalisme dan imperialisme itu yang terjadi di Nusantara itu. “Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi,” kata Soekarno, kalau diperhatikan ungkapan itu jelas sekali mengingat kata-kata yang diungkapkan kaum marxis. Bahkan ketika ia mengajukan argumentasi bahwa imperialisme adalah konsekuensi dari ekspor modal guna mencegah merosotnya nilai modal di dalam negeri. Sebenarnya ia sudah bergerak jauh, ia terpengaruh oleh analisis Lenin dalam bukunya, Imperialisme.
Ada periode tertentu, dalam sejarah pemikiran Soekarno yang oleh Bernhard Dahm, dianggap sebagai satu tahap marhaenis (marxis), tahun 1932—1933. Pada masa itu terlihat secara jelas pengaruh marxis, ia membicarakan tentang Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi, yang mana disebutkan kalau pembangunan politik hendaknya sejalan dengan pembangunan ekonomi, di mana seorang yang mengecap kebebasan politik, seharusnya dapat pula mengecap kesejahteraan sosial. Untuk itulah ia tak menyetujui terjadinya demokrasi parlementer,” … Kapitalisme subur dan merajalela; di semua negeri itu rakyat tidak selamat, bahkan sengsara sesengsara-sengsaranya …” Kata-kata yang diucapkan Soekarno itu, sering terdengar sebagai ucapan seorang marxis, yang mana senantiasa menekankan perlunya keselarasan kedua demokrasi itu.
Walaupun Soekarno seorang marxis, ia tidak sepenuhnya menjalankan doktrin marxis, seperti yang terlihat dalam tulisannya, “Kapitalisme Bangsa Sendiri?” Soekarno menyebutkan bahwa kapitalisme bangsa Indonesia harus ditentang sebab menyengsarakan kaum Marhaen. Pertanyaan yang muncul adalah, apa perlu menggunakan perjuangan kelas? Untuk itu, Soekarno mempunyai jawab, “Dan apakah prinsip kita itu berarti bahwa kita ini harus mementingkan perjuangan kelas? Juga sama sekali tidak. Kita nasionalis mementingkan perjuangan nasional perjuangan kebangsaan …” Pernyataan ini, jelas menunjukkan bahwa ia tak pernah menginginkan adanya perjuangan kelas. Yang diinginkan adalah, terjadi revolusi nasional atau tahap revolusi borjuis, kalau boleh pakai kata-kata orang marxis. Dan setelah kemerdekaan, revolusi sosial perlu diadakan. Di sini Moh. Hatta lebih radikal, ia menginginkan revolusi nasional dan revolusi sosial berjalan seiring.
Tulisan Soekarno dalam Pikiran Ra’jat, dengan judul “Marhaen dan Proletar”, disertai komentar oleh Soekarno, dalam bulan Juli 1933. Tulisan ini merupakan kesembilan tesis yang penting dari Partai Indonesia. Dalam butir kedua, dikatakan, “Marhaen, yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.” Di sini kelihatan sikap kritis Soekarno terhadap Marxisme, Soekarno lebih menyukai kata atau istilah Marhaen daripada proletar, sebab istilah Marhaen lebih mengena untuk masyarakat agraris seperti Indonesia. Walaupun gagasannya itu dianggap melebihi Marxisme, tetapi ia masih tetap percaya terhadap ramalan-ramalan marxisme. Seperti terlihat, ketika ia memberi komentar pada butir kelima, kaum proletar harus memainkan peranan yang teramat penting dalam perjuangan kaum Marhaen. Seperti halnya, Karl Marx senantiasa mendengung-dengungkan tentang pentingnya peranan kaum proletar dalam revolusi sosial.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s