Soekarno, Kekerasan dan G 30 S PKI

Kita seorang, suatu golongan, suatu pantai terlalu disiasiakan, dan bahkan dan yang tidak bersalahikut ditangkap, dibunuh dan diganyang, akan datang waktunya mereka akan bangkit kembali dan membalas dendamnya
(Soekarno, 13 Desember 1965)

Tragedi pembantaian di tahun 1965 yang dipicu Gerakan 30 September bagi bangsa Indonesia merupakan sebuah luka sejarah yang tak kunjung sembuh. Bekas luka yang begitu mendalam itu masih tetap menganga dan darahnya mengenag di dalam kesadaran sejarah dan memori kolektif masyarakat. Luka sejarah itu ternyata tak jarang menimbulkan sikap-sikap yang kontra produktif terhadap proses pembangunan peradaban bangsa. Pada tanggal 14 Maret 2000, Presiden Abdurrahman Wahid yang juga Ketua PBNU secara terbuka minta maaf kepada para korban pembunuhan  besar-besaran tahun 1965 yang diperkirakan memakan korban satu juta orang. Diakuinya bahwa sebagian besar yang turut dalam pengganyangan kaum komunis pada tahun 1965 adalah anggota NU serta underbouwnya. Ia juga memberi dukungan sepenuhnya kepada penyeledikan mengenai pembunuhan-pembunuhan massal yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mana pun dari masyarakat madani.
Pernyataan itu kemudian dilanjutkan dengan seruan tentang perlunya dicabut ketetapan MPR No XXV/1966 tentang larangan mempelajari, menyebarkan, dan mengamalkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme. Dalam Tap MPR No XXV/1966, Presiden Abdurrahman Wahid melihat dari kacamata Demokrasi dan Hak Azasi Manusia. Peristiwa itu sendiri terjadi 35 tahun yang lalu, dalam era reformasi sekarang, sudah tiba saatnya bagi semua unsur untuk bersatu membangun Indonesia. Wujud wacana yang ditawarkan sang Presiden adalah rekonsiliasi. Rupanya sejumlah kelompok masyarakat menentang usulan Abdurrahman Wahid soal pencabutan Tap XXV/MPRS/1966, yang merupakan produk yang lahir tidak lama setelah peristiwa tragis itu. Kenyataan itu menunjukkan sebagai sebuah anomali reformasi, ketika seluruh elemen bangsa sedang melakukan upaya dekontruksi disana-sini atas segala bentuk warisan pola pikir dan sikap politik Orde Baru, ternyata dalam hal pencabutan tap XXV/MPRS/1966 masyarakat bersikap seperti yang di dekontruksi.
Akibat rasa ketakutan yang lahir dari sejarah tragis kehidupan bangsa ternyata melahirkan sikap yang berseberangan dengan semangat reformasi yang sedang digalakkan berbagai sektor kehidupan bangsa, terutama untuk membangun kesadaran hidup berkebangsaan yang baru. Melihat praktek semacam itu, ternyata kehidupan bangsa bisa saja menjadi tameng kepentingan kelompok tertentu yang bersifat sementara. Sementara elemen komunitas sosial bangsa yang lain, yang mendapat akibat sebagai the other dalam sejarah, diabaikan — bahkan mungkin dihilangkan dari panggung sejarah. Pergolakan memori sejarah sosial-politik ternyata menjadi cukup penting. Rezim Orde Baru telah menunjukkan selama kekuasaannya mereka telah begitu cerdik memanfaatkan momen-momen tragis kehidupan bangsa –Peristiwa G 30 S– untuk melestarikan pilar-pilar kekuasaan Orde Baru, yakni dominan militer terhadap kehidupan sipil, serta politik represif yang diidentikkan dengan stabilitas.

Sejarah yang dihasilkan oleh dorongan legitimasi mengandung rekayasa-rekayasa yang kadangkala ahistoris. Sejarah yang ditulis dari perspektif tunggal dan kepentingan tunggal, apalagi kalau diajarkan sebagai materi wajib di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi tentu saja menjurus pada pembodohan sejarah. Hegemony of meaning mempunyai kecenderungan meniadakan keabsahan pertanyaan, hanya memberikan kepuasan semu, tetapi tidak menolong dalam usaha pencari kearifan. Sejarah tak ingin dan tidak mempunyai hak untuk memberikan jawaban yang final, bahkan sejarah lebih cenderung membuka pertanyaan-pertanyaan tanpa henti. Pergolakan sejarah sosial-politik suatu bangsa menjadi sedemikian penting. Pada satu sisi ia melahirkan legitimasi untuk mendukung status quo. Di sisi lain ia sebenarnya dapat menjadi kekuasaan suatu bangsa untuk membangun kembali peradaban bangsa. Persoalannya adalah bagaimana caranya ?

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s