Soekarno, Marx dan Lenin

“Adapun dari Marxisme sudah berubah pula. Memang seharusnya begitu ! Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi, yang bisa mengadakan aturan-aturan yang bisa terpakai untuk segala zaman. Teori-teorinya haruslah diubah, kalau zaman ini berubah; teori-teorinya haruslah diikutkan pada perubahannya dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut. Marx dan Engels sendiripun mengerti akan hal ini, mereka sendiripun dalam tulisan-tulisannya sering menunjukkan perubahan paham atau perubahan tentang kejadian-kejadian pada zaman mereka masih hidup.”

Soekarno, 1926

 

Semenjak kelahirannya diakhir abad ke-19, Marxisme membawa dampak luar biasa bagi orde kehidupan umat manusia, terutama sebagai alat bongkar manipulasi ideologi yang menyembunyikan penipuan massal. Selain membongkar manipulasi, ia sekaligus menawarkan panduan ideologi massa rakyat yang tertindas. Dalam kurun waktu dimana mayoritas masyarakat dunia masuk ke gerbang-gerbang proletariat, mengalami anomali dan pewahyuan jerih atas kapitalisme; Marxisme hadir bukan dengan lelamunan profan namun tindakan kongkrit ke arah penyelamatan sosial. Para penantang menganggap Marxisme merupakan momok yang menakutkan. Ia tak hanya di kecam, namun juga diburu dan dikutuk oleh kaum reaksioner yang bertahan melakukan penghisapan dan pemelaratan orang banyak untuk menyenangkan segelintir orang. Marxisme yang mampu menciptakan kegelisahan yang mendunia itu, ibarat hantu yang gentayangan, suatu ajaran yang tidak diberi tempat hanya karena ia menyediakan sarana terlengkap bagi pembebasan kelas tertindas. Teristimewa, Marxisme memang menawarkan cahaya dunia baru. Sebuah pijar optimisme historis sebagai antitetis masyarakat kapitalis yang penuh kontradiksi dan antagonisme kelas, serta menduga adanya keadilan merata secara nyata di bumi manusia.

Ajaran Karl Marx menyatakan bahwa pertentangan dua kelas utama yang menjadi penggerak dari perubahan masyarakat secara dialektik. Masyarakat telah berkembang secara dialektik melalui beberapa tahap – masyarakat perbudakan, masyarakat feodal, masyarakat kapitalis. Dalam masyarakat terakhir ini terjadi pertentangan dua utama yaitu kapitalis (yang memiliki alat-alat produksi) dan kaum proletariat (yang hanya memiliki tenaga). Jika masyarakat kapitalis telah berkembang, masyarakat itu akan berubah –sebagai gerakan dilaektik terakhir— menjadi masyarakat komunis.

Kapitalisme akan hancur karena krisis intern dan hanya sosialisasi alat-alat produksi akan mengakhiri kontradiksi-kontradiksi kapitalisme. Menurut Marx, kaum proletar akan memainkan peranan historik untuk merombak keadaan masyarakat dengan merebut kekuasaan dari kaum kapitalis melalui revolusi dan menguasai alat-alat produksi. Pertarungan antara kaum kapitalis melawan kaum proletar dan akan merupakan pertentatangan kelas yang terakhir dan dengan demikian gerak dialektik akan berakhir. Revolusi akan mengawali ‘diktatur proletariat yang revolusioner’ yang merupakan transisi ke masyarakat komunis. Masyarakat komunis pun mengenal suatu tahap awal (the first phase of communist society) yang kemudian oleh Lenin disebut ‘tahap sosialisme’ – dimana ‘setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannnya dan menerima ssuai dengan karyanya.’

Pada masyrakat yang telah mencapai komunisme penuh (yang disebut the higher of communist society) prinsip ekonomi telah meningkat menjadi ‘setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya, menerima sesuai dengan kebutuhannya.’ Dalam masyarakat komunis ini, menurut Marx, kelas sosial telah  tiada, dan dengan sendirinya pertentangan kelas dengan segala kekerasannya juga telah berakhir. Tiada lagi eksploitasi, penindasan dan paksaan negara yang oleh Marx dianggap sebagai alat pemaksa di tangan kelas yang berkuasa tidak lagi perlu ada dan akan melenyapkan. Tetapi mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang memiliki tafsiran yang berbeda-beda mengenai ajaran Marx. Terdapat perbedaan antara lain mengenai cara mencapai tujuan (apakah harus melalui revolusi dan tindakan langsung) atau cukup dengan memperjuangkan perubahan dan perbaikan sepotong-potong seperti misalnya hari kerja delapan jam dan berbagai jaminan sosial. Di satu pihak ada seorang tokoh sosialis Jerman, Eduard Bernstein, yang berpendapat bahwa tujuan dapat dicapai tanpa revolusi, melainkan melalui jalan parlementer. Karena pemikirannya yang begitu menyimpang dari ajaran Marx, ia dinamakan Revisionis. Di satu pihak lain ada kelompok yang memperjuangkan ‘aksi langsung’ dan revolusi, termasuk Lenin dan Rosa Luxemburg (Jerman).

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s