Tragedi 1965, Ingatan dan Rekonsiliasi

Perjuangan manusia melawan kukuasaan

Adalah perjuangan melawan lupa

Milan Kundera

Berdirinya Orde Baru dan naiknya Soeharto ke panggung kekuasaan  adalah salah satu proses bertahap, perlahan tapi pasti. Tetapi, pada kenyataannya, proses politik yang sesungguhnya menggambarkan Orde Lama dengan Orde Baru telah dilaksanakan secara efektif dalam waktu enam bulan sejak pecahnya peristiwa Gerakan 30 September. Struktur kekuasaan yang menjadi dasar negara Orde Baru diletakkan di antara tanggal 1 Oktober 1965 dan pertengahan Maret 1966. Hal ini dimungkinkan terutama karena ganasnya pembantaian di akhir tahun 1965 memungkinkan adanya pengeliminasi cepat terhadap lawan-lawan politik dan pemulihan tatanan yang melandasi dibangunnya hegemoni selanjutnya.

Peristiwa Gerakan 30 September meletus pada tanggal 30 September 1965 dinihari dengan penculikan dan pembantaian terhadap enam perwira tinggi MBAD dan seorang ajudan Menteri Pertahanan. Tampaknya hal ini merupakan bagian dari perpindahan kekuasaan terencana ke tangan sebuah Dewan Revolusi, yang ditunjuk oleh sebuah “Gerakan 30 September“. Tetapi, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam usaha merebut kekuasaan itu telah dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan militer yang dipimpin oleh Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad), Mayjen Soeharto.
Kostard yang dipimpin oleh Soeharto ini tidak hanya menghancurkan usaha kudeta itu, tetapi juga melakukan pengambilalihan kekuasaan politik. Gerakan yang kalah itu disebut dengan akronim Gestapu, sebuah  istilah yang  dilontarkan oleh direktur harian milik Angkatan Bersenjata, Angkatan Bersenjata, Brigjen Sugandhi, mungkin dengan tujuan untuk menanamkan aura jahat yang diasosiasikan dengan istilah “ Gestapo “.  Pada tanggal 2 Oktober 1965, Komando Operasi Tertinggi mendirikan Komando Aksi Pengganyangan Gestapu (KAP-Gestapu), sebuah alinasi pemimpin-pemimpin antikomunis muda yang militan, di Jakarta. Sementara itu, keenam jenazah jnedral dan letnan yang dibunuh itu diangkat dari sebuah sumur tua di Lubang Buaya, di luar Jakarta. Lima hari setelah pengangkatan jenazah para jendral itu, KAP-Gestapu menggelar sebuah rapat akbar di Jakarta yang berpuncak dengan diserangnya markas-markas Partai Komunis Indonesia (PKI). Bangunannya diobrak-abrik dan dibakar. Dalam beberapa hari kemudian, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) di bentuk di bawah komando Soeharto untuk mengindentifikasikan, menangkap dan mengusut semua yang bertanggung jawab dan yang terlibat dalam Gerakan 30 September. Wewenang–wewenang Kopkamtib tidak terbatas selain untuk “memulihkan ketertiban dan keamanan “, dan secara efektif tidak dibatasi oleh batasan yuridis apa pun. Segera setelah itu, di Provinsi Aceh, pasukan–pasukan dari Kodam bergabung dengan pemuda Islam militan dalam sebuah massacre  terhadap para pendukung PKI. Pada tanggal 17 Oktober, Soeharto, dalam sebuah instruksinya kepada penghianat dan mengumumkan bahwa 1 Oktober, yaitu hari di mana Gerakan 30 September dihancurkan, selanjutnya akan diperingati sebagai Hari Peringatan Pancasila Sakti.

Sepanjang hari-hari setelah gagalnya Gerakan 30 September, para Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan para komandan kesatuan parakomando Resimen Para  Komando Angkatan Darat (RPKAD), bersama-sama dengan sekutu-sekutu mereka memulai sebuah kampanye yang sengaja ditujukan untuk meningkatkan iklim ketakutan dan keinginan untuk membalas dendam. Sebuah unsur yang krusial adalah sebuah kampanye propaganda, khususnya selama bulan Oktober dan November,yang bertujuan untuk menciptakan ketakutan dan kebencian rakyat terhadap PKI dan para pendukungnya. Foto-foto yang mengerikan yang diambil dari pengangkatan jenazah keenam jendral dan satu orang bintara yang dibantai itu dipertontonkan secara terbuka di hampir semua media cetak. Foto-foto itu disertai dengan tulisan-tulisan sensasional yang menyebutkan bahwa para jendral itu sudah mengalami kekerasan seksual dan dicincang oleh para anggota gerakan wanita PKI, Gerwani. Terbunuhnya seorang putri Jendral Nasution yang masih kecil, yang terluka parah hingga meninggal dalam usaha untuk menculik Nasution itu sendiri pada tanggal 30 September, dipublikasikan hingga tingkat yang paling tragis. Pemakanan kenegaraan terhadap ketujuh korban pembantaian dan putri jendral Nasution itu dilakukan dengan upacara kebesaran dan mendapat liputan yang luas dari media. Rakyat didorong untuk tidak memberi ampun kepada para pelaku peristiwa Gerakan 30 September yang terutama dikenal sebagai orang-orang PKI. Secara terang-terangan mereka disebut sebagai pengkhianat, setan, pembunuh anak-anak, dan perempuan-perempuan sundal. Laporan-laporan dan desas-desus yang beredar menyebar dengan cepat, menyebutkan bahwa bangsa ini baru saja terhindar dari pembersihan massal terhadap orang-orang antikomunis, yang direncanakan oleh PKI, dalam ritus Gerakan 30 September. Dari media popular, dari para komando militer dan dari para pemimpin politik antikomunis, penghancuran terhadap Gerakan 30 September “ditekankan dengan desakan“membunuh atau dibunuh “. Suasana “membunuh atau dibunuh“ itu makin kuat segera setelah Gerakan 30 September, dengan munculnya daftar-daftar yang berisi nama-nama orang yang harus dibunuh, yang diduga telah disusun oleh PKI dalam persiapan yang dilakukannya untuk membersihkan orang-orang antikomunis, secara terang-terangan di semua daerah di mana pembantaian kemudian terjadi.

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s