Gemuruh Suara Buruh

Bersatulah kaum buruh”

Karl Marx

 

Munculnya kehidupan serikat buruh adalah pada awal kapitalisme. Bertolak dari kepentingan langsung untuk perbaikan syarat-syarat ekonomi dan sosial bagi kehidupan kaum buruh, kaum buruh menyatakan diri dalam wadah organisasi berupa serikat buruh Di dalam masyarakat kapitalis, pentingnya menyatukan diri adalah karena kaum buruh menghadapi kekuatan yang lebih canggih Kendati tidak keluar dari jangkauan kapitalisme, serikat buruh yang baru saja muncul dan bergerak, sudah menghadapi tindakan-tindakan represif pihak majikan-majikan dan pemerintah. Bukan kejadian yang langka, bahwa di dalam masyarakat kapitalis, aparat kekuasaan baik militer maupun polisi dikerahkan untuk mengagalkan aksi-aksi kaum buruh yang diorganisasi oleh serikat buruh. Gejala yang demikian pada umumnya berlatar belakang kekhawatiran pihak borjuasi, bahwa gerakan serikat buruh akan melahirkan perjuangan revolusioner kelas buruh menggulingkan kekuasaan negara untuk mengakhiri kapitalisme.

Dengan berkembangnya kapitalisme, berkembang pula jumlah kaum buruh sebagai penjual tenaga kerja. Tugas-tugas yang menjembatani serikat buruh pun semakin bertambah banyak dan semakin bervariasi. Lama-kelamaan tuntutan-tuntutan dan aksi-kasi kaum buruh yang diorganisasi oleh serikat buruh semakin melewati jangkauan lama Walaupun pangkal bertolaknya kepentingan pokok yang berbeda, menghadapi serikat-buruh yang semakin kuat dan berpengalaman, majikan-majikan dan pemerintah terpaksa bertoleransi dalam batas tidak terkutiknya hubungan produksi kapitalis

Banyak sengketa-sengketa antara serikat buruh dan majikan dan pemerintah yang bisa melahirkan persetujuan atau kompromi dengan hanya melalui perundingan. Namun untuk dapat melahirkan persetujuan dan kompromi, tidak sedikit perundingan-perundingan yang menemui jalan buntu. Karenanya supaya bisa mencapai persetujuan atau kompromi, oleh serikat buruh banyak diorganisasi pemogokan sebagai bentuk kekerasaan. Untuk mematahkan pemogokan, terutama pihak majikan menggunakan beberapa cara. Misalnya mengerahkan gerombolan “pematah pemogokan“ (strike breakers atau staking breakers), menutup perusahaan (lack out) atau tidak mau membayar upah buruh selama waktu mogok. Yang digunakan oleh majikan bisa hanya satu di antara tiga contoh, dia di antaranya atau ketiga-tiganya serempak bersama-sama.

Di negeri-negeri jajahan, objek utama gerakan serikat buruh adalah perusahaan-perusahaan modal monopoli asing dan kekuasaan politik penjajah. Borjuasi domestik yang masih lemah digencet juga oleh borjuasi besar pemilik perusahaan-perusahaan modal monopoli asing dan oleh pemerintah kolonial. Borjuasi domestik yang masih lemah digencet juga oleh borjuasi besar pemilik perusahaan-perusahaan modal monopoli asing dan oleh pemerintah kolonial. Borjuasi domestik bukan sasaran pokok gerakan serikat buruh. Borjuis domestik banyak yang menjadi penganjur nasionalisme, yaitu nasionalisme yang dalam pertumbuhannya mempunyai karakter berbeda dengan nasionalisme di Barat. Jika di Barat menjadi sandaran berkembangnya kapitalisme, di negeri-negeri ini melawan kapitalisme yang sudah memuncak menjadi imperialisme yang sudah melebarkan sayapnya dengan memaksa negara-negara lain untuk dijajah. Maka serikat-buruh ikut berpartisipasi dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional.

Di negara berkembang, kelas buruh semakin kuat, demikian juga borjuasi domestiik. Berdasar atas kepentingan pokok yang berbeda antara dua kelas sosial itu, dengan maksud melemahkan atau jika mungkin melumpuhkan perjuangan kelas buruh, kaum imperialis berkepentingan mengadu domba keduanya sambil merangkul borjuasi domsetik. Karena kolonialisme dalam bentuk lamanya sudah tidak popular dan tidak dapat dipertahankan, sandaran utama kaum imperialis adalah borjuasi domestik yang memegang kekuasaan politik, yang bersedia menjadi panyalur kepentingan kaum imperialis, terutama di bidang ekonomi. (Soegiri DS, 2003: 7 – 19)

 

Bermula Sarekat Buruh

Abab ke-19 adalah abad yang paling revolusioner dan penuh perubahan dalam sejarah kepulauan yang saat ini dikenal sebagai Indonesia. Di awal abad ini konsep negara—kolonial Hindia Belanda—disiapkan oleh Herman Willem Daendels (1806-1811)—seorang pengagum revolusi Perancis—untuk mempertegas pengelolaan wilayah koloni yang sebelumnya hanya merupakan mitra perdagangan Vereenigde Oost-Indiche Compagnie (VOC).

Di abad itu pula struktur masyarakat kapitalistik, terbentuknya lembaga keuangan Nederlansche Handels-Maatschapij (NHM) dan Javasche Bank didirikan. Tampil pengusaha-pengusaha Eropa mengelola industri perkebunan dan pabrik-pabrik, sementara kaum bumiputera disiapkan menjadi buruh. Di abad ini telah ada buruh—karena industrial kapitalistik (hubungan buruh dengan modal) untuk memproduksi barang-dagangan seca masaal (generalz commodity production) telah dimulai sejak 1830.

 

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s