Kelas Menengah: Sebuah Persoalan

Sejarah masyarakat hingga kini

adalah sejarah pertentangan kelas

(Karl Marx)

 

Mundurnya Chalavit diawali dengan bangkitnya para pengusaha, karyawan, dan kelompok kelas menengah Thailand untuk menuntut disahkannya konsitusi baru antikorupsi. Mereka nenuntut PM Chavalit mundur, karena telah melakukan pembelian suara dalam pemilu November 1997 dan melakukan korupsi dan melakukan korupsi serta membiarkan sistim ekonomi yang buruk. Pihak oposisi menuntut pertanggungjawaban terhadap praktik suap tender proyek-proyek pemerintah yang nilainya milyaran bath dan berbagai skandal bank komersial yang memberi kontribusi terhadap jatuhnya perekonomian Thailand Gejolak yang sama yang muncul di Korea Selatan sewaktu pemerintah memutuskan secara sepihak UU perburuhan Para professional bergabung bersama dengan para buruh dan mahasiswa mendemontrasi kebijakan pemerintah itu.

Kejadian yang serupa terjadi di Indonesia. pada tahun berikutnya. Soeharto dipaksa mundur dari jabatannya sebagai presiden. Sebagaimana kita ketahui, sejak awal tahun 1998 terjadi gelombang aksi besar-besaran dengan tema yang kemudian dengan cepat menguasai diskursus publik. Gerakan reformasi yang gegap gempita itu merupakan awal dari sebuah peristiwa politik yang bersejarah, bukan hanya karena gelombang aksi itu berhasil menurunkan Soeharto, tetapi sekaligus menjadi momentum dari apa yang bisa disebut sebagai “aliansi kelas menengah“—sebuah koalisi antarkelompok sosial terpelajar yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan bisa bersatu melawan kekuasaan rezim Orde Baru yang sebelumnya demikian kokoh. (Muhammad, 2001: 41)

Sejarah Perkembangan di Barat

Latar belakang sejarah timbulnya kelas menengah di Barat. Selama berabad-abad kaum feodal dengan raja, pangeran, dan sebagainya, menguasai tanah-tanah luas. Dan kekayaan serta kekuasaan mereka bertumpu pada penguasaan tanah-tanah luas ini. Di abad pertengahan mulai timbul pergeseran dalam penguasan ekonomi sumber-sumber hidup rakyat Hal ini erat sangkutannya dengan berkembangnya kota-kota, dan tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi di dalam kota-kota, dalam bentuk berbagai kegiatan ekonomi di dalam kota-kota, dalam bentuk berbagai kegiatan perdagangan, pembuatan barang-barang (manufacturing industry) dalam skala kecil saja pada permulaannya. Kegiatan-kegiatan niaga, keuangan dan industri baru ini menimbulkan kelompok sosial dan fungsional kelas menengah yang kohesif pada permulaannya Kelompok ini juga mengembangkan semangat mempertahankan kepentingan umum, dan membawa mereka pada kesadaran diri sebagai warga masyarakat. Dan kesadaran ini juga mendorong mereka untuk meneguhkan hak-hak khusus hukum dan hak-hak umum mereka yang lain. Kesadaran ini juga mendorong mereka untuk sedia, jika diperlukan dengan memakai kekerasan, untuk mengakhiri perbatasan-perbatasan terhadap berbagai hak penduduk yang selama ini dipaksakan kepada rakyat oleh tuan-tuan feodal penguasa tanah-tanah.

Peralihan dari perekonomian abad pertengahan ke ekonomi modern mula-mula terjadi di Italia, dan disusul di seluruh Eropa, dan adalah untuk sebagian besar upaya kaum borjuis komersial dan industri yang hidup dan bekerja di kota-kota ini. Selama masa pertumbuhan kapitalisme mereka tetap menduduki tempat yang dinamakan “status menengah“ ini di antara keluarga-keluarga berhak istimewa yang lama (kaum bangsawan, pemilik tanah) dan lapisan masyarakat yang disebut “serft “ (pekerja-pekerja pertanian yang dikuasai oleh pemilik-pemilik tanah) dan rakyat petani yang terpaku pada tanah mereka. Transformasi dari kedudukan di tengah ini perlahan-lahan terjadi sehingga kelompok ini menjadi “kelas menengah“. Kelas menengah yang timbul terdiri dari campuran unsur-unsur ekonomi dan kemasyarakatan yang heterogenous sifatnya, dan sering saling bertentangan. Keadaan ini merupakan refleksi tidak saja dari kemuduran pemilik tanah-tanah yang luas berhak istimewa selama ini, tetapi juga merupakan kecenderungan struktur sosial yang tumbuh jadi bertambah kompleks yang menjelma di tingkat-tingkat perkembangan kapitalisme kemudian.Setiap langkah transisi dan merkantilisme ke liberalisme industrial ke neo-merkantilisme yang monopolistik disertai persekutuan-persekutuan baru dan ketegangan baru di dalam “kelompok-kelompok ekonomi menengah“ ini.

Kaum borjuis modern, meskipun berasal dari warga kota di abad pertengahan, dan merupakan kelas menengah selama masa perantara adalah kelas menengah dalam arti harfiah katanya itu. Hanya oleh teori sosial Marxis diartikan sebagai minoritas di atas memegang hak-hak istimewa, dan menikmati nilai-nilai (surplus value) dan perlakuan istimewa dari negara, dan secara yang tidak ditahan mendorong korban-korbannya ke dalam barisan proletar.

Satu pandangan lain mengatakan bahwa ke dalam kelas menengah harus pula dimasukkan pengusaha-pengusaha menengah di dalam industri dan perdagangan penghasil barang-barang, seperti pengrajin dan petani, pemilik warung dan toko pedagang kecil, pegawai negeri, dan pekerja-pekerja yang mendapat gaji, pengacara berpraktek bebas, dokter dan kaum profesional lainnya.Sulit rasanya untuk membedakan antara pengusaha kelas kakap dan kelas sedang. Keduanya harus dimasukkan ke dalam kelas menengah.

Dalam proses mencapai usaha “laissez faire“ yang dilahirkan oleh Revolusi Perancis dan Amerika, pengusaha-pengusaha kecil memegang peran yang menentukan. Suksesnya revolusi-revolusi di akhir abad ke 18 dan di pertengahan abad ke 19 tidak saja berarti kehancuran kekuasaan-kekuasaan feodalnya, kekuasaan gereja dari raja, tetapi juga dibarengi oleh reorientasi kedudukan kelas menengah itu sendiri.

Mereka mau hak kebebasan berdagang dan menantang diteruskannya kedudukan-kedudukan kuat “guilds“ (serikat kemahiran kerja) yang seakan memonopoli produksi berbagai barang, dan susah sekali dimasuki orang luar. Mereka juga menentang hak-hak istimewa kelompok-kelompok tertentu, memonopoli, subsidi, pengaturan harga dan pembatasan-pembatasan lain terhadap perusahan dan pengusaha, yang diwariskan oleh rezim otokratik di masa lampau.

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s