Manusia dan Pekerjaan; Suatu Refleksi

Tenaga kerja manusia

bukanlah komoditi

(Samuel Gompers)

 

Tidak segala tindak-tanduk kita merupakan pekerjaan . Kita sebut pekerjaan segala kegiatan yang direncanakan , jadi yang memerlukan pemikiran yang khusus dan tidak dapat dijalankan oleh binatang , yang dilakukan tidak hanya karena pelaksanaan kegiatan itu sendiri menyenangkan  , melainkan karena kita mau , dengan sungguh-sungguh , mencapai suatu hasil yang kemudian berdiri sendiri , atau sebagai benda, karya , tenaga  dan sebagainya , atau sebagai pelayanan terhadap masyarakat , termasuk dirinya sendiri . Kegiatan itu dapat berupa pemakaian tenaga jasmani atau rohani . Tetapi karena ciri khas pekerjaan adalah hasil obyektifnya , dan keobyektifan itu mesti jasmani , prototypos pekerjaan adalah pekerjaan jasmani dan itulah yang di utamakan.

Di mana pun kita berada , kita dikelilingi oleh manusia-manusia yang bekerja : si pemulung mendorong gerobaknya , artis fim berakting di depan kamera , Pak Ketua RW menandatangani surat keterangan ,  baby sister menggendong bayi , si cendikiawan di perguruan tinggi yang menyusun daftar pertanyaan untuk suatu penelitian .Begitu pula barangkali kita sendiri . Meskipun kita senang apabila pekerjaan kita selesai dan kita dapat bersantai di rumah atau nonton film di bioskop , suatu hidup tanpa pekerjaan sama sekali tidak dapat di bayangkan . Kebanyakan kita harus bekerja, karena tanpa bekerja  tidak memperoleh penghidupan . Tetapi andaikata pun tak perlu bekerja karena dapat hidup dari warisan , kiranya kita cepat akan bosan , Bagi kebanyakan orang pekerjaan menjadi isi pokok dari setiap hari. Begitu besar pengaruh pekerjaan sehingga di antara perbedaan-perbedaan yang kita pasang pada pelbagai hari dalam hidup kita , perbedaan yang paling berarti adalah perbedaan antara hari kerja dan hari libur ( Magnis 1979: 72 – 74)

Bekerja di rasakan pertama-tama sebagai keharusan untuk mencari nafkah . Mempunyai pekerjaan dan tidak menjadi penganggur merupakan anugerah memungkinkan kita makan , berpakaian , berumah dan bisa membelanjai beraneka macam kebutuhan hidup . Orang harus bekerja , tidak bekerja tidak makan Menganggur semakin dirasakan sebagai hina dan memalukan , tidak hanya dalam arti tidak bisa mencari nafkah , jadi karena itu miskin , tetapi juga dalam arti harga diri . Seorang penganggur merasa hina sebagai manusia , sebagai suatu kepincangan atau sakit Kerja merupakan dorongan dan hasrat dari kodrat manusia itu sendiri , justru dengan dan mengalami kerja itu sendiri , manusia semakin menjadi manusia yang utuh , matang dewasa, menjadi berkebudayaan , berkepribadian .( Mangunwijaya 1993 : 81- 83)

Mengingat pentingnya peranan pekerjaan bagi manusia , agak mengherankanlah kenyataan bahwa filsafat berabad-abad lamanya tidak memperhatikannya . Filsafat Timur diam terhadap pekerjaan . Wulangreh dan Wirid Hidayat Jati tidak menaruh perhatian terhadap pekerjaan , begitu pula dalam kisah-kisah wayang orang sibuk dengan bertapa , berperang , ngobrol atau main-main , dengan tidak ada yang bertanya dari mana Arjuna mendapat nasinya setiap hari . Kaum priyayi yang juga dalam pandangan orang kecil mewujudkan tingkat kemanusian yang lebih sempurna , mencita-citakan suatu hidup tanpa pekerjaan sama sekali . Aliran-aliran kebatinan paling-paling melihat pekerjaan sebagai suatu kewajiban demi masyarakat , tetapi bukan sebagai sesuatu yang positif dan merangsang pada dirinya sendiri ; tujuannya bukan untuk membuat pekerjaan menjadi manusiawi dan menarik , melainkan untuk menguranginya . Filsafat India mementingkan roh dan menegaskan ke kefanaan hidup di dunia ini , maka tidak melihat suatu nilai tersendiri dalam mengerjakan dunia.

Berabad-abad lamanya filsafat Barat memandang rendah pada pekerjaan. Para filsuf filsuf sama sekali tidak memperhatikan pekerjaan . Padahal tak ada seorang  filsuf yang akan bisa hidup dan berfilsafat  kalau tak ada orang lain yang mengubah  tanah untuknya , menghasilkan makanan dan menjahitkan pakaiannya..Misalnya Plato (427-347 sM ) yang hanya menganggap filsafat sebagai kegiatan manusia yang pantas ataupun Aristoteles (384-322 sM)  berpendapat bahwa orang baru dapat hidup secara secara betul-betul manusia , apabila ia tak perlu bekerja demi nafkah hidupnya  Begitu pun filsafat Skolastik mengabaikannya .

Di zaman pra industri fenomena pekerjaan hampir tidak mendapat perhatian teoritisasinya tidak lepas dari dua segi penting dalam cara produksi pada zaman itu . Pertama, orang yang bekerja sebagai tukang selalu sudah bekerja secara maksimal : dari pagi sampai malam dan tanpa libur ( kecuali hari raya ) , dan dengan ketrampilan tingkat tinggi . Masalah pertambahan jumlah pekerjaan atau pun perbaikan kwalitasnya hampir tidak bisa muncul . Bekerja begitupun dianggap biasa dan tak ada banyak perangsang atau pun kemungkinan untuk merubahnya . Kedua , di bidang pertanian  – bidang pekerjaan utama di masa itu – manusia pekerja mengetahui bahwa hasil pekerjaannya dibatasi oleh faktor alam ; di atas batas tertentu suatu tambahan pekerjaan tidak akan diimbangi oleh tambahan hasil ( Magnis, 1978:.23-24)

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s