Sex , Kuasa dan Kapitalisme

Kuasa memproduksi Pengetahuan

(Michael Foucaoult)

 

Kita mungkin masih ingat kata-kata Camilie Paglia dan Luce Irigaray  – dua feminis kontroversial – bahwa  tubuh yang didalamnya bersarang sexualitas  harus dipahami sebagai medan perang , bukan organ yang selamanya harmonis , Jika kemudian banyak perempuan yang bermain-main dengan tubuhnya dan menfaatkan tubuhnya  untuk menyiasati modernitas . Seperti tampak dalam fenomena majalah Popular , Cosmopolitan yang melihat tubuh wanita  dari tinjauan sexualitas bukan hanya rumit , dan jika tidak dilihat melalui kacamata yang jernih , bukan tidak mungkin akan kontra produktif . Atau perempuan seni tradisi yang melikuk-liuk tubuh di atas panggung satu hari penuh demi imbalan ,   sementara ia sadar bahwa profesinya sangat rawan gempuran pencitraan. Lalu, Apakah ini sesuatu yang terlarang ?

Dengan kata lain , perempuan seni bisa saja menggunakan tubuhnya agar mnjadi primadona , atau sebaliknya . Simak saja tayangan di beberapa televisi swasta medio Desember 2003 , Inul Daratista penyanyi yang terkenal dengan goyangan ngebornya yang sempat membuat panas beberapa seman senior , melainkan mengenai kandungannya yang mengalami keguguran . Inul sempat stress, dengan sedikit mengeluh ia berucap “ yah , bagaimana tidak stress saya kan sudah tujuh tahun menikah , tetapi sampai saat ini belum dikarunia anak . . Akhirnya , berbagai asumi bermunculan . Ada yang mengatakan bahwa Inul terlalu lelah karena harus ngebor siang dan malam . Tetapi ada yang berpendapat bahwa organ reproduksi Inul mengalami persoalan akibat dari aksi goyangnya yang terlalu berlebihan .

Analisis terus bermunculan tetapi Inul tidak ambil pusing dengan semua itu. Ia tidak perduli apakah musibah yang menimpanya sebagai kutukan karena dicemooh terlalu tampil erotis atau bukan . Yang ia tahu dan ia rasakan adalah kegundahan bahwa keguguran berarti penundaan terhadap sebuah keinginan untuk mendapatkan momongan yang selama ini diidam-idamkan . Persoalan goyangan adalah persoalan lain . Sebagai publik figure yang tiap kali berpapasan dengan khalayak ramai, mungkin Inul sudah cukup memahami profesinya yang menuntut kesadaran , bahwa tubuh merupakan milik semua orang dan bia dinikmati oleh siapa pun . Apa yang menarik dari perempuan Inul adalah, jika sewaktu-waktu ke-ada-an seorang buah hati mempengaruhi order manggung, ia siap menerimanya bahkan siap meninggalkan profesi sebagai penyanyi .

Lain halnya dengan Anisa Bahar , artis dangdut yang terkenal dengan goyang patah-patahnya juga sempat memunculkan kontroversi . Ia dituding munafik karena tidak mengakui dirinya yang sudah berstatus sebagai ibu . Tudingan ini mengarah pada satu titik simpul , bahwa status ibu mungkin berpengaruh bagi order manggungnya .Tentunya, persoalan  yang menggelayut Inul dan Anisa Bahar bukan uatu keanehan . Sama tidak anehnya dengan fenomena yang terjadi pada Titi Dongkrak , siden dan penari asal Kerawang , Jawa Barat . Selain sebagai penari, Titin juga berstatus ibu dari dua orang anak yang sudah cukup berumur . Hanya saja , sampai saat ini Titin masih terus eksis di atas panggung jaipongan meskipun perjalanan usia terus merambai kehidupannya  Sebuah status sebagai ibu bukan momok yang mengalami pikirannya . Ia masih bisa manggung , panjeran masih kerap ia terima , dan masyarakat masih menikmati tariannya.

Mungkin kontruksi yang terbangun memang berbeda . Di daerah urban seperti Jakarta status dianggap sangat penting karena turut mempengaruhi aktivitas yang lain . Dunia entertaintemnt yang lebih modern  menunut kemandirian , profesionalitas , dan selalu fokus terhadap profesi . Sehingga bersuami dan memiliki anak disinyalir akan mempengaruhi profesionalitas seniman . Tuntutan untuk disiplin berujung pada tumbuh dan ketatnya sebuah kontrol yang kuat . Sementara di Kerawang , Subang , Tuban, Pati , dan Banyuwangi , atau wilayah lain yang masih kerap menyuguhkan tontonan jaipongan , tayuban , dan gandrung . Kontruksi semacam itu bukan berarti keterpisahan . Penari , tarian , pesan, dan makna , yang ada di balik seni itu sendiri merupakan bagian dari kehidupan masyarakat , sehingga status bukan satu-satunya ukuran bagi seorang perempuan seni tradisi untuk pentas atau tidak . Mungkin , kontrol yang ada bukan terletak pada ketetapan status , melainkan pada tuntutan – mekipun tidak tercatat secara baku – terkait dengan lentur tubuh dan langgam suara .

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s