Soekarno, Nekolim dan Globalisasi

Kalau dalam desakan gelombang globalisasi, perekonomian kita harus menerapkan sistem ekonomi pasar yang terbuka, maka sebagai bangsa yang percaya diri, seharusnya kita tidak merasa cemas dan takut. Bila keterbukaan dan kehidupan demokrasi benar-benar telah kita menangakan dan oleh karenannya rakyat dapat menjalankan fungsi kontrolnya, maka segala bentuk ketakutan terhadap praktek-praktek neo-kolonialisme lewat pintu pasar terbuka sebagaimana kekhawatiran banyak orang, rasanya tidak perlu, kita jadikan permasalahan yang hanya akan membuat kita menjadi bangsa yang kerdil dan tak mampu menghadapi kenyataan.

Megawati Soekarnoputri

Pidato pembukaan Kongres Perjuangan

Di Bali, tanggal 08 Oktober 1998.

 

 

Pernyataan  Megawati Soekarnoputri menerima pasar bebas, yang diyakini para pengikut setia dan murid Soekarno, sebagai wujud Neo-Kolonalisme dan Imprealisme. (Nekolim), membuat mereka menjadi gusar. Mereka mengganggap Megawati Soekarnoputri bukan sebagai anak ideologis tapi hanya anak biologis. Bukankah Soekarno telah menelanjangi kolonialisme di depan para hakim kolonial, dalam pidato pembelanaanya Indonesia Menggugat , (1930). Kaum Soekarnois itu lupa bahwa Megawati Soekarnoputri, bukan ketua PNI yang bertanggung jawab atas pelaksanaan ajaran-ajaran Soekarno, tetapi ketua PDI Perjuangan. Kekecewaan itu telah mendorong mereka meng-hidup-kan PNI.

Ideologi pasar bebas yang diartikan sebagai kebutuhan terus-menerus dan berkelanjutkan akan eksperimen modal kapitalis ke segala tempat untuk mencari pasar baru menunjang sejarah pertumbuhan dan perkembangan kapitalisme. Perkembangan terakhir dari ekspansi kapitalisme adalah privatisasi sebanyak-banyaknya dan konvensi institusi-institusi publik menjadi badan usaha berorientasi profit. Sekarang kapitalisme telah memasuki babak baru, yang melepaskan dirinya dari kontrol negara, dan ada yang menyebut kapitalisme seperti ini sebagai ‘Turto Capitalisme’, yaitu akselerasi yang tepat dari perubahan struktural dari pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia, terutama dengan meminggirkan negara dari pasar bebas, untuk menjadi suhu ekonomi yang kita kenal dengan nama Globalisasi.

Globalisasi adalah mirip gelombang yang menyapu bersih segala hal. Di dalammnya termasuk gelombang perdagangan dan gelombang valuta keuangan global. Globalisasi dicerminkan oleh berbagai faktor yang semula berbeda-beda pasarnya yang semakin cepat dan murah, tehnologi yang selalu di up-to-date dan selera yang semakin seragam yang dibawakan oleh media-media harian nasional.

Semua perkembangan cepat dan seragam inilah yang memaksakan di lahirkannya badan baru bernama WTO. WTO adalah hasil dari perjuangan pengaruh bebas yang ingin lepas dari kontrol negara, bahkan ingin menghapus peran negara menjadi seminimal mungkin.

WTO adalah sebuah institusi baru yang di ciptakan dari GATT, yang berdiri tahun 1994 sebagai organisasi multilateral dunia. WTO merupakan puncak dari impian kaum neo-liberal untuk mendapatkan mafaat organisasi yang jelas yang akan mengatur suhu ekonomi dunia. WTO adalah rejim pasar bebas yang sepenuhnya menolak rejim proteksionalisme. Ini adalah argumen pokok neo-liberalisme. Artinya, setiap anggota WTO wajib melonggarkan pasarnya sampai ketitik di mana domestik bisa dimasuki oleh barang-barang dan jasa-jasa secara bebas secara penuh. Di lain pihak, ini mengisyaratkan dikurangi campur tangan negara hingga sepenuhnya lepas  karena dianggap hanya mendominasi pasar dan membuat pasar bebas sempurna. Negara tidak dapat lagi melindungi atau memproteksi peran dalam negaranya. Istilah globalisasi dan pasar bebas sekarang sangat populer. Namun tampaknya orang tidak menyadari bahasa bahaya yang terkandung dalam gagasan yang sekarang dikampanyekan oleh kaum neoliberal. Tidak banyak yang memahami, bahwa gagasan globalisasi dan pasar bebas itu pada hakekatnya adalah bentuk baru dari perkembangan kapirtalisme.

Di masa lalu, untuk menjamin tersedianya bahan baku dan pasar bagi barang-barang yang diproduksinya, maka kapitalisme berubah bentuk menjadi ‘Imprealisme’ dan ‘kolonialisme’. Dengan cara menaklukan negara-negara lain secara fisik dan menjadikan negara-negara itu sebagai jajahan atau koloninya, maka kaum kapitalis bisa secara paksa mendapat bahan baku dengan harga yang sangat murah dan sebaliknya, bisa menjualkan produknya dengan harga yang sangat tinggi. Dalam konteks Indonesia, hal inilah yang sebab musabab mengapa Bapak bangsa Republik ini bangkit melawan kolonialisme dan berjuang untuk kolonialisme dan berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Cara-cara pemaksaan yang terjadi pada masa kolonialisme sudah barang tentu tidak bisa lagi di lakukan sekarang. Selain sudah ketinggalan jaman, cara semacam itu juga dianggap tidak berada dan bertentangan dengan hak asasi manusia yang diakui sebagai hak yang universal. Oleh karena itu, diperlukan cara baru yang telah canggih dan seolah-olah manusiawi. Dan cara ini dirumuskan oleh kaum neoliberal sebagai globalisasi dan pasar bebas.

Kemampuan propaganda yang begini hebat dan canggih, dari kaum neoliberal ternyata telah menjadikan globalisasi dan pasar sebagai sesuatu yang sangat populer. Begitu hebatnya propaganda kaum neoliberal itu, maka bahaya yang sangat besar dan sudah ada di depan mata menjadi tidak tampak sama sekali. Seperti misalnya, bahaya persaingan bebas yang akan memenangkan fihak yang kuat saja dan pada tahap berikutnya akan menjadikan jenjang perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin menjadi semakin lebar, sama sekali luput dari perhatian kita. Sekalipun sebenarnya kita selalu mengkhawatirkan bahaya kesenjangan tersebut, namun dalam konteks globalisasi dan pasar bebas, bahaya tersebut seolah-olah hilang dengan sendirnya. Bahaya proses persaingan bebas dan sebagai akibat tuntutannya, seperti proses proteksi kekuatan dominan, lemah dan ketakutan yang merupakan bahaya dasar dari kapitalisme, sama sekali tak terlupakan. Dari sejarah perkembangan masyarakat yang terjadi selama ini, terutama sejak pertengahan abad ke 19, maka boleh dikatakan, kaum sosialis adalah kalangan pertama baik yang memaksa bahaya kaptalisme bagi peradaban dan kesejahbteraan umat manusia.

Marxisme lahir sebenrnya sebagai reaksi atas keburukan-keburukan kapitalisme. Marxisme sebagai koreksi total terhadap gejala akses yang ditimbulkan, kalau kaum Marxisme tampil ofensif, keras dan kritis. Sebaliknya kapitalisme tumbuh lebih defensif terhadap serangan Marxisme. Kritik tajam yang diarahkan kepada kapitalisme melaui bukunya Das Kapital (1867) telah memberi ispirasi terhadap gerakan kaum buruh di dunia. Dimana Karl Marx menyatakan tentang hukum perkemabangan kapitalisme berdasarkan teori nilai lebih. Maksudnya adalah selisih nilai barang jadi yang dihasilkan, dikurangi upah yang dibayarkan kepada buruh untuk menjadikan barang itu siap masuk pasaran. Barang jadi itu nilainya harus lebih besar dari upah buruh. Selisih nilai inilah yang nikmati oleh kaum kapitalis.

Ketamakan kapitalisme itu menyebabkan Karl Marx menginginkan kehancuran dari kapitalisme. Menurut Karl Marx, hal itu terjadi ketika produksi telah mencapai konjuktor tinggi dimanapun juga, tingkat penyediaan jauh lebih besar dari permintaan, maka barang yang masuk menembus pasaran konsekwensinya perusahaan akan menurunkan produksinya. Pada situasi yang demikan akan terjadi krisis yang hebat. Kesempatan krisis yang hebat tersebut akan digunakan kaum buruh untuk mengambil proses menguasai alat-alat produksi. Maka akan dinamakan berakhirnya kapitalisme. Akan tetapi dalam perjalanan kurun waktu tertentu teori Karl Marx banyak meleset malahan eksitensi kapitalisme sebagai mana yang kita saksikan sekarang nampak makin kukuh. Dengan disebabkannya kaum buruh ikut memiliki saham-saham perusahaan dimana mereka bekerja. Penyebaran kepemilikan lewat saham ternyata mempersulit pendefinisian kelas-kelas kapitalis yang berhadapan dengan kelas proletariat. Konsep pembagian secara Marxsis menurunkan kapital dan tenaga kerja menjadi sulit diterapkan. Manifesto komunis Karl Marx yang menyatakan tahap masyarakat yang ada sampai sekarang tidak lain adalah sejarah perjuangan kelas sesudah diberlakukan. Perubahan ini telah menyebabkan berhasil menunda revolusi.

Tidak terjadi revolusi sosial pada masyarakat kapitalis juga dijelaskan melalui teori hegomoni ideologi atau ideologi dominan dan teori kesadaran ganda dari kelas pekerja yang mula-mula dikembangkan oleh Antonio Gramci. Teori ini menolak anggapan adanya determinisme ekonomi dimana kesadaran atau struktur atas ditentukan atas dasar,  yaitu pengakuan ekonomi dalam masyarakat. Menurut Gramci, praktek dan ideologi itu bisa beroperasi indevenden terhadap bumi ekonomi.

Menurut teori Karl Marx yang asli, suatu kesadaran kelas akan tumbuh pada kaum buruh yang memiliki dari perjalanan kongkret kaum buruh sendiri tentang kontradiksi antara hubungan produksi kapitalis yang berdasarkan hak milik perseorangan atau swasta dengan kekuatan produksi kolektif yang tumbuh, karena keterlibatan kolektif mereka dalam proses produksi.

Dari pengalaman itu, akan terjadi suatu proses perubahan dari sekedar terbentuknya kelas ‘pada dirinya sendiri’ yang merupakan kaum buruh yang menempati proses yang sama, menjadi kelas untuk dirinya sendiri’, yaitu kelas yang memiliki kesadaran kolektif  Vis a vis kelas borjuis.

Sungguhpun demikian, kaum buruh bisa gagal untuk memahami situasi dan memiliki apa yang disebut “kesadaran palsu”. Konsep yang terakhir itu, berdasarkan pengalaman pada masyarakat industri yang telah maju dikembangkan oleh Althusser menjadi teori “aparatus ideologi negara” dan “aparatus represif”. Aparatus yang dimaksud itu antara lain, keluarga, gereja, partai politik dan media komunikasi, mahkan juga organisasi buruh dan seluruh sistem kelembagaan masyarakat sosial.

Melalui lembaga-lembaga masyarakat seperti itu, gologan yang dominan menanamkan yang mempertahankan kepentingan kelas yang dominan sehingga terjadi proses inkoporasi ideologi yang melahirkan kesadaran palsu atau kesadaran ganda yaitu kesadaran yang timbul dari pengalaman kerjanya sendiri dan kesadaran yang diciptakan melalui aparatur negara. Selain hegemoni dari kelas dominan itu diamankan atau dijamin oleh aparatur refresif negara yang menggunakan cara-cara paksaan. Karena tidak adanya kesadaran kelas, maka kaum buruh tidak bisa menghimpun kekuatan untuk mengalahkan negara sejarah, dalam proses transformasi dari kapitalisme ke sosialisme.

 

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s