Kekerasan , Ingatan dan Rekonsiliasi

Orang yang tidak belajar dari sejarahnya

cenderung  akan  mengulangi  kesalahan

yang sama.

(George Santayana)

 

Meningkatnya kekejaman dan kedestruktifan manusia telah menarik perhatian kaum ilmuwan untuk memajukan pertanyaan teoritis mengenai sifat dan penyebab agresi. Perhatian semacam itu tidaklah mengejutkan, yang mengejutkan adalah bahwa perhatian ini sebegitu terlambatnya, yakni semenjak Freud, yang merevisi teori terdahulunya yang berpusat di seputar dorongan seksual, merumuskan teori baru pada tahun 1920-an yang menyatakan bahwa hasrat untuk merusak sama kuatnya dengan hasrat untuk mencintai. Kendati begitu, khalayak ramai umum masih saja berpikir mengenai Freudianisme sebatas pembatasan libido sebagai hasrat utama manusia dengan hanya mencocokkan dirinya dengan insting pelestarian diri.

Situasi ini mulai berubah pada pertengahan 1930-an. Barangkali salah satu penyebabnya adalah tingkat kekejaman dan ketakutan akan perang yang yang telah melampui batas batas di seluruh dunia. Namun faktor pemicunya adalah diterbitkannya beberapa buku yang membahas agresi manusia terutama yang ditulis Konrad Lorenz (1966). Meski ditolak oleh banyak psikolog dan neurolog, buku yang berjudul On Agrgresiion ternyata laku keras dan memberi kesan yang mendalam di hati sebagian besar kalangan terdidik, yang banyak di antaranya menerima pendapat Lorenz sebagai jawaban atas permasalahannya yang mengemuka.

Tulisan sebelum  (African Genesis, 1961) dan sesudah Konrad Lorenz (The Territorial Imperative, 1967; The Naked Ape, 1967; On Love and Hate,1972)  pada dasarnya  mengandung tesis yang sama perilaku agresif manusia yang diwujudkan dalam peperangan, kejahatan, perkelahian dan segala jenis perilaku destruktif dan sadistis ditimbulkan oleh insting bawaan yang telah terprogram secara filogenetik. Insting ini berupaya mencari penyaluran dan selalu menunggu kesempatan yang tepat untuk melampiaskannya.

Boleh jadi neoinstingtifisme Lorenz sedemikian berhasil bukan lantaran argumen-argumennya yang begitu kuat, melainkan karena masyarakat lebih mudah memahami argumen-argumen tersebut. Apalagi yang dapat diterima oleh pikiran masyarakat yang sedang ketakutan dan merasa tidak berdaya untuk mengubah kecenderungan destruktif, kalau bukan teori yang mengatakan bahwa kekejaman bersumber dari fitrah hewani manusia, dari desakan tak terkendali untuk melakukan agresi, dan bahwa hal yang terbaik yang dapat dilakukan, sebagaimana ditekankan oleh Lorenz, adalah memahami hukum evolusi yang telah memperkuat dorongan tersebut? Teori agresi bawaan ini dengan mudah menjadi ideologi yang membantu meredam ketakutan akan apa yang mungkin terjadi dan merasionalkan makna ketidakberdayaan.

Alasan-alasan lain yang menjadikan lebih disukainya jawaban sederhana mengenai teori instingtifistik ini ketimbang penelitian serius tentang sebab-musabab kedestruktifan. Penelitian seperti ini menuntut untuk berani mempertanyakan ideologi yang diyakini oleh masyarakat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah keberanian menganalisis irrasionalitas dalam sistim sosial kita, dan dengan demikian, melanggar tabu yang tersembunyi di balik kata-kata bermoral, misalnya “pertahanan”, “Kehormatan”, dan “ Patriotisme”: Selain dari analisis yang mendalam mengenai sistim kemasyarakatan kita, tidak ada yang apa mengungkapkan penyebab meningkatnya kedestruktifan, atau yang dapat memberikan saran serta cara-cara untuk menguranginya, Teori instingtifistik berupaya membebaskan kita dari tugas berat membuat analisis semacam itu. Hal ini mengisyaratkan bahwa, sekalipun kita semua akan binasa, setidaknya kita dapat menerimanya dengan berbekal keyakinan bahwa “fitrah” kitalah yang memaksa kita menerima nasib ini, dan bahwa kita paham mengapa segala sesuatunya menjadi seperti ini   ( Eric  Fromm,  2000 :  xv – xvii )

Melanjutkan pandangan dari Konrad Lorenz, melalui studi yang dilakukan Erich Fromm dalam neurofisiologi, psikologi binatang, paleontologi, dan antropologi tidak mendukung hipotesis bahwa manusia semenjak lahirnya telah mewarisi dorongan agresi yang spontan dan timbul  dengan  sendirinya Menurut Erich Fromm bahwa akar kekerasan manusia bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri, yag sering disebut sebagai watak manusia itu sendiri, yang serring disebut sebagai watak manusia, yang merupakan adonasi antara agresi bawan manusia yang berlatar belakang adaptif-biologis, dengan destruktivitas dan kekejaman manusia, yang disebut dengan agresi itu. Untuk yang disebut agresi pertama ini mengistilahkan adanya agresi reaktif-defensif sebagai agresi lunak sementara untuk yang disebut kedua sebagai destruktivitas yang mengkonotasikan agresi jahat  ( Erich Fromm , 2000 : 117 – 253 )

Perilaku kekerasan struktural pertama dalam sejarah dapat diidentifikasi sejak zaman Assyria Kuno sekitar 2000 SM. Para penguasa kerajaan tidak hanya melakukan penyiksaan, tetapi juga pembataian massal sebagai kebijakan sah dari kerajaan dalam kebijakan militernya. Bangsa-bangsa lain pada masa itu atau sebelumnya dan bahkan berlanjut kemudian, juga melakukan penyiksaan dan pembunuhan massal terhadap musuh-musuh yang kalah.  Pada umumnya mereka melakukan perbuatan tersebut dalam suasana yang spesifik berikut : pertama karena alasan peperangan, kedua karena alasan pengorbanan terhadap dewa-dewa. Akan tetapi penguasa Asyiria Kuno tidak demikian halnya. Mereka menggunakan cara-cara kekerasaan dan pembunuhan massal sebagai suatu kebijakan sistimatik untuk menakuti-nakuti bangsa lain agar senantiasa takluk di bawah kekuasaanya. Interprestasi sejarah terhadap relief-relief peninggalan prasejarah Assyria Kuno, mengatakan bahwa sinopsis potret kebrutalan dengan pelbagai adegan dan metode-metode sadistis dalam melenyapkan korbannya merupakan agresi kebanggaan dan simbol kepahlawanan.

 

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s