Pasang Surut Partai Politik

Tanpa anggota partai bagai

kan guru tanpa murid

(Maurice Duverger)

Partai Politik sebagai kekuatan politik adalah suatu gejala baru bagi semua negara di dunia ini , dalam arti bahwa umurnya tidak setua umur masyarakat manusia . Usianya tidak lebih dari 125 tahun . Istilah partai politik itu sendiri baru muncul pada abad ke -19  dengan semakin berkembangnya lembaga-lembaga perwakilan-perwakilan  dan meningkatnya frekuensi pemilihan umum dan meluasnya hak mereka yang bisa mengambil bagian dalam pemilihan umum . Pada tahun 1850 tidak ada satu negera pun di dunia ( kecuali Amerika Serikat ) mengenal partai dalam pengertian modern . Ada alur-alur pendapat , kelompok-kelompok rakyat , masyarakat-masyarakat yang dikelompokkan karena memiliki aliran filsafati tertentu , ada kelompok-kelompok di dalam parlemen , tetapi belum ada partai politik dalam arti yang sebenarnya . Namun menurut catatan banyak ahli pada tahun 1950-an hampir semua nation-state di dunia sudah memiliki partai politik , dan bagi kebanyakan negara-negara jajahan partai politik menarik perhatiannya karena partai politik bisa menjadi kekuatan tandingan menentang penjajahan . Karena itu banyak negara yang baru muncul mencita-citakan partai , dan kepadanya para warga menggantungkan harapan . ( Dhakidae , 1981 : 3 )

Ada tiga teori yang mencoba menjelaskan asal-usul partai politik . Teori yang pertama mengatakan partai politik dibentuk oleh kalangan legislatif (dan eksekutif ) karena ada kebutuhan para anggota  parlemen ( yang ditentukan berdasarkan pengangkatan ) untuk mengadakan kontak dengan masyarakat dan membina dukungan dari masyarakat  yang sadar politik berdasarkan penilaian bahwa partai politik yang dibentuk pemerintah tidak mampu menampung dan memperjuangkan kemerdekaan , tetapi juga dapat ditemui dalam masyarakat negara-negara maju dalam mana kelompok masyarakat  yang kepentingannya  kurang terwakili dalam sistem kepartaian yang ada membentuk partai sendiri seperti Partai Buruh di Inggris dan Australia dan Partai Hijau di Jerman .

Teori kedua menjelaskan krisis situasi historis terjadi manakala  suatu sistem politik mengalami masa transisi karena perubahan masyarakat dari bentuk tradisional yang berstruktur sederhana  menjadi masyarakat modern yang berstruktur kompleks Perubahan-perubahan itu menimbulkan krisis legitimasi , integrasi dan partisipasi Dengan perubahan-perubahan tersebut telah mengakibatkan masyarakat mempertanyakan prinsip-prinsip yang mendasari legitimasi kewenangan pihak yang  memerintah ; menimbulkan masalah dalam identitas yang menyatukan masyarakat  sebagai satu bangsa, dan mengakibatkan timbulnya tuntutan yang semakin besar untuk ikut serta dalam proses politik . Untuk mengatasi tiga permasalahan inilah partai politik dibentuk . Partai politik yang berakar kuat dalam masyarakat diharapkan dapat mengendalikan pemerintahan sehingga terbentuk semacam pola hubungan kewenangan yang berlegitimasi antara pemerintah dan masyarakat . Partai politik yang terbuka bagi setiap anggota masyarakat dan beranggotakan pelbagai unsur etnis , agama, daerah , dan pelapisan sosial ekonomi diharapkan dapat berperan sebagai pengintegrasii bangsa . Selanjutnya , partai politik yang ikut serta dalam pemilihan umum sebagai sarana konsitusional mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan diharapkan  dapat  pula berperan sebagai saluran partisipasi politik masyarakat .

Teori ketiga melihat modernisasi sosial ekonomi  , perluasan kekuasaan negara  dan peningkatan kemampuan individu yang mempengaruhi lingkungan , melahirkan suatu kebutuhan akan suatu organisasi politik yang mampu memadukan dan memperjuangkan berbagai aspirasi tersebut . Jadi perubahan-perubahan itulah yang melahirkan kebutuhan adanya partai politik .( Surbakti , 1992 : 113 – 114 )

Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai , dan cita-cita yang sama . Tujuan kelompok ini ialah untuk  memperoleh  kekuasaan politik dan melalui kekuasaan itu , melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka . Seorang sarjana yang bernama Sgmund Neuman  mengatakan bahwa partai politik adalah organisasi  artikulatif yang terdiri dari pelaku-pelaku politik yang aktif dalam masyarakat , yaitu mereka yang memusatkan perhatiannya pada pengendalian kekuasaan pemerintahan dan yang bersaing untuk memperoleh dukungan rakyat , dengan beberapa  kelompok lain yang mempunyai pandangan berbeda-beda . Dengan demikian partai politik merupakan perantara yang besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi-ideologi sosial dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang resmi dan yang mengkaitkannya  dengan aksi politik di dalam masyarakat politik yang lebih luas . ( Budiardjo, 1981 : 14 )

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s