Postmodernisme, Qua Vadis ?

Postmodernisme itu bagaikan  hantu   Sebagian  orang bisa ngotot menganggapnya tidak ada dan omong kosong .  Meskipun sebagian yang lain bisa bersikukuh menganggapnya kenyataan yang paling real hari ini  Sebagian orang bisa bilang bahwa itu mode intelektual yang sudah mati ,atau malah keguguran sebelum lahir  . Akan tetapi , bisa juga sebaliknya ;paradigma yang baru saja lahir dan sedang berkembang kni  Istilah itu menyandang demikian banyak nuansa yang campur aduk ,  sehingga argumentasi apa pun sepertinya bisa saja diterima.. Di pihak lain . kenyataan bahwa istilah itu telah memikat minat masyarakat luas bahkan hingga keluar dunia akademik  sebetulnya menunjukkan bahwa tentulah ia memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan beberapa krisis  dan perubahan sosio-kultural fundamental yang kini sedang kita alami .

 

Boleh jadi salah satu penyebab pandangan negatif terhadap postmodernisme adalah kecenderungan umum yang mengidentikkan  postmodernisme itu hanya dengan kelompok poststrukturalis yang umumnya kaum neo-nietzchean  saja.  Akibatnya postmodenisme jadi idenmtik dengan kaum dekontruksionis  belaka, yang kerjanya hanya membongkar-bongkar  segala tantanan dan lantas menihilkan segala hal..Postmodernisme memang bagai rimba balatentara yang dihuni aneka satwa yang bisa sangat berbeda-beda jenisnya . Maka dengan sendirinya istilah postmodernisme memang merupakan istilah yang sangat longgar pengertiannya alias sangat ambigu juga . Ia digunakan untuk memayungi   segala aliran pemikiran yang satu-sama lain seringkali tidak persis saling berkaitan . Meskipun sedemikian beragamnya aliran pemikiran yang termasuk dalam istilah postmodernisme , kiranya kita masih dapat mengindentifikasi bahkan mengelompokkannya . Secara agak kasar bisa saja kita mengelompokkannya , misalnya, ke dalam kelompok dekonstruktif dan yang lain kelompok konstruktif ( revisioner ) .Pada kubu dekontruktif dapat kita masukkan pemikiran-pemikiran Derrida , Lyotard dan Foucault . Sedangkan pada kubu kontruktif atau revisioner dapat kita masukkan misalnya Heidegger , Gadamer dan Ricoeur . Kelompok ini  disebut konstruktif  oleh sebab mereka, kendati memang juga membongkar beberapa aspek dari gambaran –dunia modern , toh masih berupaya mempertahankan berbagai aspek lain kemodernan yang dianggap penting dan bahkan mengolahnya secara baru dalam upaya mengkonstruksikan sebuah gambaran –dunia yang baru pula.

 

Istilah postmodern telah digunakan dalam demikian banyak bidang dengan meriah dan hiruk pikuk . Kemeriahan ini menyebabkan setiap referensi kepadanya mengandung resiko dicap sebagai ikut mengabdikan mode intelektual yang dangkal dan kosong Masalahnya adalah , bahwa istilah itu di satu pihak memang telah sedemikian populer , di pihak lain senantiasa mengelak untuk bisa didefinisikan  dengan memadai . Kekuasaan wilayah di masa istilah tersebut digunakan sehingga tidaklah cukup mencengangkan . Ia digunakan bertebaran di mana-mana sehingga tidaklah mengherankan bila maknanya menjadi kabur .Kita temukan istilah itu dipakai dalam bidang musik , seni rupa , novel , film, drama , fotografi, arsitektur , kritik sastra , antropologi , sosiologi , geografi dan filsafat . Istilah postmodernisme di sana digunakan secara sangat kontroversial sehingga tokoh-tokoh yang bisa dimasukkan dalam daftar nama-nama  itu pun sama kontroversialnya.

 

Yang mengakibatkan kekaburan makna istilah postmodernisme ini kiranya terutama adalah akhiran “isme” dan awalan “post “-nya. Akhiran “ isme” itu memberi kesan seolah ia adalah sistem pemikiran tunggal tertentu , sementara nyatalah istilah yang bertebaran di segala bidang itu merupakan label untuk bermacam-macam pemikiran yang kadang saling bertabrakan . Awalan :post  pada istilah itu pun menimbulkan banyak perdebatan Apakah “post” itu berarti perumusan hubungan pemikiran total dari segala pola kemodernan ( Lyotard ) ? Atau sekedar koreksi atas aspek –aspek tertentu saja dari kemodernan  ( David Griffin ) ? Apakah segala hal yang modern itu sedemikian ideologis dan maksiat ?   Jangan-jangan postmodermisme itu justru bentuk radikal dari kemodernan itu sendiri , yaitu kemodernan yang akhirnya bunuh diri ( Foucault ) ? Atau justru wajah arif kemodenan yang telah sadar diri ( Giddens ) ? Atau sekedar satu tahap dari proyek modernisme yang memang belum selesai ( Habermas ) ?

 

Istilah posmodernisme pertama kali digunakan oleh Federico de Onis tahun 1930-an untuk mengindikasikan reaksi kecil terhadap modernisme . Postmodenisme menjadi populer tahun 1960-an di New York ketika digunakan oleh para seniman , penulis , dan kritikus muda seperrti Rauschenberg , Cage , Boroughs, Barthelme , Fielder, Hassan untuk merujuk pada suatu gerakan di luar modernisme adiluhung yang kehabisan tenaga dan ditolak karena perkembangannya dalam museum dan akademi . Istilah postmodernisme banyak digunakan dalam arsitektur , seni dan pertunjukan , serta musik dasawarsa 1970-an dan 1980-an . Kemudian istilah dalam kesenian ini dialihkan ulang-alik dalam kesenian ini dialihkan Eropa-AS untuk mencari penjelasan teoritis dan membenarkan pergeseran posmodernisme kesenian , yang mencakup berbagai pembahasan yang lebih luas tentang posmodernitas  dan menarik masuk , sehingga menimbulkan perhatian para teoritisi seperti Bell, Kristeva , Lyotard , Vattimo, Derrida , Foucault , Habermas , Baudrillard , dan Jameson .

 

Posmodenrisme  adalah nama yang terlalu sederhana untuk pelbagai gejala dan pemikiran yang muncul dari atau melanda , pelbagai lapangan kehidupan. . Di Barat , perdebatan tentang dan sekitar posmodernisme , amat diwarnai oleh kepentingan , latar belakang , dan disiplin mereka yang terlibat . Tidak pernah hitam putih – modernis melawan posmodernisme . Orang seperti  Jean Francois Lyortard yang dengan eksplisit menyebut kondisi posmodernisme adalah radikalisasi dari yang modern . Seorang seperti Jurgen Habermas  dapat menyatakan bahwa modernitas adalah proyek yang belum selesai seraya menyerang  kaum modernis sebagai kaum konservatisme baru . Warna–warni perdebatan itu di Barat , memang sungguh ramai, dan agaknya tak sempat tergambar dalam perdebatan posmodenisme di Indonesia . Di sini kita seakan cuma mendapat gambaran  modern lawan postmodern .. Tak mengherankan kalau ada yang bilang bahwa debat posmodenisme harus direm , karena unsur-unsur modernitas harus didukung untuk sampai pada tingkat kematangannya, bahwa mengambil sikap posmodernisme adalah sikap melompat .. Suara lain yang tajam menyatakan bahwa para cendikiawan kita yang getol dengan posmodernisme terjebak dua kali , di satu pihak mereka tetap menjadi epigon Barat ( mereka menolak linearisme sejarah tapi terjebak linearisme terselubung ) dan di lain pihak gagal memahami konteks kesejarahan sendiri .

 

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s