Manusia , Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi

Ilmu  pengetahuan   tanpa  agama akan timpang,

Sedangkan agama tanpa pengetahuan akan buta

(Albert Einstein)

 

Keberadaan manusia telah berlangsung kira-kira sejuta tahun . Ia telah mengenal tulisan kurang lebih selama 6.000 tahun , dan pertanian untuk waktu agak lebih lama lagi,  kendati mungkin tidak sangat jauh berbeda . Ilmu pengetahuan , sebagai faktor utama yang menentukan keyakinan orang terdidik , telah ada kurang lebih 350 tahun ; dan sebagai sumber teknik ekonomi kira-kira telah berlangsung selama 200 tahun . Dalam waktu sesingkat ini ilmu pengetahuan membuktikan dirinya sebagai daya revolusioner yang dashyat . Bila kita melihat betapa barunya ilmu pengetahuan mencapai kekuatan itu, terpaksalah kita mengakui bahwa kita baru berada pada tahap yang sangat awal dari karyanya dalam mengubah kehidupan manusia . Akibat-akibatnya di masa depan hanya dapat kita duga , kendati begitu suatu penelitian mengenai akibat tersebut sampai sekarang bisa membuat dugaan tersebut tidak begitu sembrono .

Akibat ilmu pengetahuan amat sangat beragam . Ada dampak intelektual langsung , yaitu ditanggalkannya banyak kepercayaan tradisional dan dikenakannya cara-cara yang ditawarkan oleh keberhasilan metode ilmiah . Selain itu, ada akibat pada teknik di bidang industri dan perang . Selanjutnya , terutama sebagai akibat timbulnya berbagai teknik baru, terjadi perubahan-perubahan mendalam pada organisasi sosial yang lambat laun membawa perubahan politik . Akhirnya , sebagai akibat pengendalian baru atas lingkungan  yang diberikan oleh ilmu pengetahuan , timbullah suatu filsafat baru yang menyangkut berubahnya pandangan tentang tempat manusia dalam alam semesta ( Russel, 1992 : 1 – 2 )

Suatu ciri khas pada manusia adalah bahwa ia selalu ingin tahu , dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu , maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi . Begitulah seterusnya , hingga tak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap . Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut . Salah satu sebab yang paling dasar ialah bahwa apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah ditanggapinya sebagai kenyataan yang dwirupa : di satu pihak ia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis , akan tetapi iapun mengamati terjadinya perubahan-perubahan , perkembangan-perkembangan dan lain sebagainya , yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala alam itu sendiri . Aspek statis dan dinamis itulah merupakan ketegangan pertama yang mendorong manusia untuk selalu ingin lebih tahu . Jadi bukan saja fakta-fakta yang menggejala atau terlibat dalam suatu proses yang berlarut .

Berdasarkan penghayatan dasar yang pertama-tama inilah , maka manusia tidak lagi mampu melihat fakta sebagai kenyataan-kenyataan belaka , melainkan selalu menjangkau lebih jauh di balik kenyataan-kenyataan yang diamatinya, yaitu pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperkirakannya melalui kenyataan-kenyataan itu .Dengan lain perkataan : manusia melakukan transedensi terhadap realitas kongkret dan menuju kea rah kemungkinan-kemungkinan yang terbayang melalui pengamatan  terhadap realitas itu. Inilah yang rupanya dimaksudkan oleh Immanuel Kant dengan menyatakan bahwa kemampuan manusia untuk mengetahui adalah berupa ein der Bilder deburftigert Verstand

Dengan sikap demikian itulah manusia mengalami pertemuannya dengan alam sekitarnya. Dalam perkembangannya sejak lahir , anak manusia menemui dan bergaul dengan dunianya sebagai kenyataan-kenyataan dengan kemungkinan-kemungkinan sekaligus . Ia berangsur-angsur mengenal bahwa sendok yang dibuangnya ke lantai membuat suara tertentu , dan perbuatan ini diulang-ulang tanpa hentinya ; suara termaksud sebenarnya tidak harus merupakan bagian dari sifat-sifat sendok itu sendiri ; dan sejumlah permainan serta khayalan anak segera menunjukkan betapa pengamatannya itu lebih dari sekedar  menerima realitas belaka .

Akhirnya , hal yang sama dalam bentuk yang lebih majemuk dapat kita saksikan pada perkembangan kehidupan membudaya pada umat manusia. Jadi transendensi terhadap kenyataan  itu adalah suatu proses yang dapat kita saksikan baik dalam proses filogenetis maupun ontogenetis . Namun demikian , semuanya itu belum memberi kedudukan khusus pada apa yang disebut “pengamatan ilmiah “ ; paling jauh kita bisa menganggapnya sebagai ciri “ingin tahu “ yang melekat pada kodrat manusiawi . Dari sikap ini saja yang dicapai adalah pengetahuan , dan bukan (atau belum ) ilmu . ( Fuad Hasan , 1977 : 8 – 9 )

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s