Menelusuri Bisnis Tionghoa

Ada krisis, ada kesempatan

(Pepatah Tionghoa)

Bisnis adalah suatu usaha rasional untuk mengejar keuntungan , dengan keberanian menghadang resiko kerugian . Kiat berbisnis memang terletak pada keberanian kemampuan seseorang untuk memikul calculated risk dari usahanya , dan hal itu sangat bersifat individual . Individu yang mempunyai keberanian dan kemampuan tersebut terdapat pada berbagai etnik . Keberanian dan kemampuan itu sendiri sampai pada taraf tertentu dapat diajarkan dan dilatihkan kepada mereka yang benar-benar berminat untuk itu . Salah satu program untuk itu adalah Achieving Society Training (AMT ) . David  McCelland pernah menulis tentang nAch virus dalam bukunya yang terkenal , The Achieving Society . Dengan kata lain , pada dasarnya kemampuan berbisnis dapat diajarkan kepada etnik mana pun juga , khususnya pada golongan-golongan yang telah mempunyai kesedian mental untuk “bertualangan “ mengejar kepentingan sendiri , dalam suasana yang sangat kompetetif , dengan pilihan untung atau rugi , menang atau kalah . Dalam segi tuntutan afektivitas dalam berusaha , memang terdapat kesejajaran asntara kiat bisnis dan perang .Mereka yang ingin bergerak dalam kedua bidang ini harus mengenai sasarannya dengan jelas , mengenai mana kawan dan lawan . Bukankah suatu hal yang kebetulan bahwa dalam buku Seni Perang karya Sun Tzu memperoleh perhatian para ahli manajemen bisnis . Seperti halnya seni berperang dapat dipelajari , seni berbisnis juga dapat dipelajari . Tidak ada yang rahasia mengenai kedua hal itu .

Tingkah laku kewiraswastaan

Para ahli perkembangan ekonomi mengakui akan pentingnya peranan tingkah laku kewiraswastaan dalam melajukan perkembangan ekonomi suatu bangsa . Untuk berlangsungnya tahap take –off dari teori perkembangan ekonominya , Walter W Rostow mensyaratkan adanya keberhasilan kegiatan beberapa kelompok masyarakat yang disebutnya kewiraswastaan  Joseph A Schumpeter berpendapat  bahwa wiraswasta adalah kelompok yang menggerakan perekonomian masyarakat untuk maju ke depan . David C McCelland yang menganalisa perkembangan ekonomi dan motivasi psikologis antar bangsa menyimpulkan bahwa perkembangan ekonomi menghendaki adanya tingkahlaku kewiraswastaan di kalangan bangsa itu . Menurut McCelland ramuan essensial untuk terbentuknya tingkahlaku kewiraswastaan adalah motivasi berprestasi atau motivasi pencapaian . Everett Hagen yang menganalisa perkembangan ekonomi dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia , menitikberatkan pada tumbuhnya kepribadian kewiraswastaan ( terutama sekali innovational personality )  untuk melajukan perkembangan bangsa-bangsa yang telah lebih daulu maju menunjukan  bahwa semakin maju menunjukkan bahwa semakin maju perekonomian sesuatu bangsa , semakin banyak modal yang dimanfaatkan  untuk menemukan teknik-teknik perbaikan cara berproduksi , untuk menemukan bentuk-bentuk barang baru , untuk mencari dan membuka pasaran dan daerah pasar baru , untuk menemukan sumber-sumber baru  dari faktor produksi , dan untuk menemukan cara-cara yang lebih efisisen dalam berorganisasi dan menata-laksana

Usaha-usaha tersebut mengharuskan tidak saja terdapatnya “orang-orang baru “ , tetapi juga harus adanya “tingkah laku baru “ dari manusia yang ada yang mampu menciptakan ikhtiar-ikhtiar di atas itu . Perekonomian sesuatu masyarakat dapat menjadi mandeg , bukan karena tidak terdapat  atau langkahnya modal atau kesempatan-kesempatan yang menguntungkan tetapi justru karena tidak terdapat atau langkahnya tingkahlaku kewiraswastaan yang dapat menjadi tenaga penggerak esensial untuk mewujudkan keuntungan-keuntungan yang tadinya tidak kentara . Wiraswasta , karenanya , adalah penggerak utama daripada ivestasi-investasi baru . Jika tingkah laku kewiraswastaan tersebar agak merata dalam sesuatu masyarakat , pemimpin-pemimpin masyarakat dalam banyak bidang kehidupan akan bertumbuh subur , dan sistem masyarakat tersebut akan berkembang dengan baik dan sinambung .

Menurut Schumpeter , fungsi wiraswasta ( entrepreneur ) adalah melakukan tugas gabungan dari tugas-tugas memperkenalkan barang atau hasil produksi baru, memperkenalkan suatu cara berproduksi yang lebih maju , membuka pasaran atau daerah pasar baru , merebut sumber-sumber bahan mentah atau bahan setengah jadi yang baru dari perusahaan dan industri . Fritz Redlich melihat fungsi kewiraswastaan atas tiga tumpuan yaitu pemodal , penatalaksanaan , dan wiraswataan . Pemodal adalah yang melepaskan modal uang dan modal non-manusiawi lainnya untuk perusahaan , penatalaksana adalah pengkoordinir dan pengawas kegiatan-kegiatan produksi , dan wiraswasta adalah perencana , penemu ide baru , dan pengambil keputusan akhir dari usaha produksi . McCelland  memberikan konsep tingkahlaku kewiraswastaan sebagai pengambil resiko yang moderat , pengetahuan terhadap hasil dari keputusan-keputusan yang diambil , mengetahui terlebih dahulu  terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi , penuh semangat dan memiliki ketrampilan berorganisasi .

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s