Pendidikan Yang Membebaskan

Tak   ada    pemikiran  yang  berbahaya ,
sebab berpikir sendiri sudah merupakan
sesuatu yang berbahaya

(Hannah Arendt)

 

Pendidikan merupakan topik yang menarik dan senantiasa aktual untuk dibicarakan . Akan tetapi pendidikan sekaligus persoalan yang rumit dan terkesan tak pernah dapat diselesaikan secara tuntas Hal itu dapat dimaklumi . Sebab terdapat begitu banyak aspek dan unsur yang kompleks dalam pendidikan , untuk dapat dirangkai dan dirangkum dalam satu gambaran utuh , untuk memberikan jawaban yang memuaskan bagi berbagai pihak . Rasanya tidak ada satu teori pun mengenai pendidikan yang bisa memuaskan .

Sementara itu masyarakat Indonesia , di mana kita hidup senantiasa berubah dan berubah pula kondisi-kondisi yang menentukan dan mempengaruhi kepentingan pendidikan sekarang . Perubahan sosial yang pesat ini semakin membuat sulitnya persoalan pendidikan . Akan tetapi bagaimana pun juga , tampaknya kita tak mungkin tinggal diam . Kita tetap perlu membicarakan pendidikan , bukan demi kesejahteraan hidup kita sendiri saat ini, terutama demi masa depan generasi anak cucu kita dan bangsa manusia .

Seringkali pendidikan menjadi rebutan banyak kepentingan . Negara memaksakan ideologinya melalui pelaksanaan peraturan-peraturan secara ketat , keseragaman laporan administratif yang tidak jarang menyesakkan sekolah dengan ancaman-ancaman sanksi yang membuat iklim pendidikan begitu gerah  Kelompok-kelompok agama dan elit pendidikan juga menawarkan ide-ide pendidikan yang unggul Sejauh tawar-menawar ini berlangsung dalam persaingan yang sehat , bebas , dan fair , jual-beli , idealisme dalam pendidikan bukanlah hal yang buruk . Akan tetapi ide-ide keunggulan ini pun perlu disesuaikan dengan kemampuan anak. Kepentingan orang-tua perlu disebut . Mereka mau membayar mahal untuk sekolah anak-anaknya bukan untuk kesia-sian . Mereka menginginkan anak-anaknya menjadi pandai , mengembangkan seluruh potensinya dan kelak akan dapat pekerjaan yang baik Dalam kebijakan praktis , harapan-harapan dari berbagai pihak ini kadang-kadang berubah menjadi kewajiban yang harus ditanggung oleh anak , sehingga pembelajaran di sekolah bukannya menjadi proses yang menyenangkan , sebaliknya menjadi beban yang menyesakkan . Semua tuntutan dan dakuan (claim ) itu bermaksud baik , tetapi sering justru tidak memperhitungkan kepentingan anak didik sendiri .Mereka menganggap bahwa kepentingan anak didik adalah sebagaimana yang mereka angankan atau bayangkan . Dalam hal inilah muncul kesulitan yang tidak kecil. ( Sudiardja, 2002 : 5 – 9 )

Seharusnya sekolah adalah tempat di mana anak-anak menemukan kegembiraan dan kebahagiannya Di sana anak-anak belajar , berteman, bermain , menjadi dirinya , dan mengembangkan bakatnya . Di sana anak-anak memperoleh perlindungan dari ancaman-ancaman , yang disengaja atau tidak disengaja dari masyarakatnya . Di sana anak-anak aman mempersiapkan masa depannya . Akan tetapi, kebanyakan yang terjadi justru sebaliknya . Di sekolah anak-anak muram karena tertimpa beban pelajaran yang berlebihan . Di sekolah anak-anak takut dan gelisah menghadapi guru . Di sekolah anak-anak kehilangan kegembiraan , dan terasing dari sesama teman . Tuntutan masyarakatnya memaksa dan mengancam mereka untuk segera menjadi dewasa. Mereka kehilangan kesempatan untuk menjadi anak-anak yang hidupnya diwarnai dengan bermain . Di sekolah juga anak-anak sudah mulai resah , tak tahu nasib apa yang bakal menimpanya di masa depan . Celakanya , sepulang dari sekolah , semua beban itu tetap terbawa , dan penderitaan sekolah pun bersambung di rumah mereka   Nasib demikian tak hanya terjadi pada anak-anak sekolah Indonesia . Seorang ahli pedagogi dan psikologi anak sekolah dari Universitas Munchen menulis buku Wenn Schule krank macht (2000 ).Menurut Singer m sekolah bukan lagi tempat yang nyaman bagi anak-anak .Sistem pendidikan sekolah mau tak mau menjadikan guru sebagai agen yang mengawasi, menindas dan merendahkan martabat para siswa . Sekolah menjadi lingkungan penuh sensor yang mematikan bakat dan gairah anak untuk belajar . Pekerjaan dan kewajiban sekolah menjadi diktaktor yang memusnahkan kemampuan anak untuk belajar menjadi dirinya . Sekolah bukan lagi tempat untuk belajar menjadi dirinya . Sekolah bukan lagi tempat untuk belajar melainkan tempat untuk mengadili dan merasa diadili . Singer menyebut pendidikan sekolah , yang mengakibatkan kegelisahan dan ketakutan itu, sebagai pedagogi hitam .

Pendapat Singer di atas bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan .  banyak pengeritik pendidikan menyebutkan hal tersebut . Dan kritikus yang paling terkenal dalam hal tersebut adalah Paulo Freire Bagi Freire , apa yang terjadi dalam dunia pendidikan adalah yang terjadi dalam masyarakat riil yang dikendalikan oleh kekuatan kapital , yakni penindasan mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah dan tak berdaya .

Daya penindasan ini terjadi seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya . Bahkan dalam hal yang kelihatannya paling netral dalam pendidikan , yakni dalam belajar membaca dan menulis , penindasan itu terjadi. Di sana peserta didik sudah ditekan dan diperalat sedemikian rupa seperti seorang budak yang diperalat oleh kekuasan tuannya untuk menggarap apa yang dimaukannya . Jadi yang terjadi bukanlah hubungan belajar dan mengajar , tapi pemaksaan dunia mereka yang berkuasa terhadap mereka yang tak berkuasa . Jelas proses belajar mengajar macam ini mau tak mau memblokir manusia untuk menjadi manusia .

Klik Selengkapnya…..

Satu pemikiran pada “Pendidikan Yang Membebaskan

  1. Ping balik: Pendidikan Yang Membebaskan « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s