Soekarno, Sejarah dan Kontroversi

Tidak  setiap orangpun dalam peradaban

modern ini yang menimbulkan demikian

banyak  perasaan  pro dan kontra seperti

Soekarno.  Aku  dikutuk  seperti  bandit

dan dipuja sebagai dewa .

(Soekarno, 1965)

Sebagaimana diketahui istilah “sejarah” mengacu pada dua hal, yakni pertama, sejarah sebagai res gestae, yaitu sebagai peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan kedua, sejarah sebagai rerum regustarum ,yakni kisah daripada peristiwa yang disebutkan tadi.[1] Peristiwa masa lampau sudah tidak bisa mempunyai arti kalau tidak ditulis dan dihadirkan lagi untuk masa kini. Tidak bisa disangkal peristiwa masa lampau yang sudah berlalu tidak seluruhnya dapat diketahui. Hanya ada sisa dari masa lampau. Kendati pun demikian, kenyataan itu tidak membuat orang surut untuk menulis peristiwa masa lampau. Tetapi untuk apa peristiwa masa lampau ditulis ?

Dalam buku Soekarno,, An Autobiography as told as Cindy Adams (1965) yang terbit ketika Soekarno berada di puncak kekuasaan, Soekarno menyatakan maksud dan pengerjaan autobiografi agar orang bisa memperoleh pengertian yang lebih baik tentang Soekarno dan untuk memperoleh simpati. Karena buku tersebut ketika Soekarno berkuasa, para pengeritiknya menyatakan bahwa buku yang menceritakan Soekarno berasal dari keturunan kelas berkuasa dan Soekarno pantas berkuasa. Sebagaimana yang dilakukan raja-raja Jawa yang berkuasa tempo dulu, ketika pujangga istana menulis babad (sejarah) untuk kepentingan rajanya.

Ketika Soekarno berada diakhir kekuasaan, sebuah koran mahasiswa Bandung Mahasiswa Indonesia ,mengadakan de-Soekarnoisasi  dengan menggugat hak sejarah Soekarno agar dapat memimpin Indonesia.

Dengan  menonjolkan  dirinya  seolah-olah keturunan yang sah raja-raja di Jawa dan  Bali,  Soekarno   memperoleh   dukungan   dan   kesetiaan   sebagian  rakyat Indonesia yang masih beralam pikiran feudal. Oleh karena itu tak mengherankan pula  bahwa  Soekarno  mempertahankan  dan bahkan memperkembangkan iklim feudal  di  manapun  ia  berada, baik  dalam  kehidupan  istananya maupun dalam pemerintahannya, serta  setia pada setiap kemunculan di depan rakyat banyak. Ini sengaja dimaksudkan untuk membina kultus individu dan memperkuat kedudukan Soekarno.[2]

Menurut Mahasiswa Indonesia, ada sederetan mitos mengelilingi Soekarno; tentang asal usulnya, peranannya sebagai Bapak Bangsa, dan lain-lain. Bertolak dari anggapan bahwa kenyataan diri dari Soekarno pada umumnya terselubungi oleh sederetan fiksi Mahasiswa Indonesia memandang perlu supaya seluruh hal utu dianalisa dan ditinjau secara lebih jauh. Bila perlu maka mitos-mitos yang telah diciptakan oleh Soekarno dan orang-orang di sekitarnya harus dibalikan dan digunakan untuk memukul balik dan merongrong pengaruh yang masih dimiliki atas jiwa bangsa Indonesia.

Sambil mengungkapkan mitos-mitos yang mengelilingi Soekarno, Mahasiswa Indonesia juga memaparkan sebuah potret diri Presiden yang “sebenarnya“. Untuk melakukan de-Soekarnoisasi tidaklah cukup dengan melakukan demistifikasi dari legenda-legenda yang ada di sekitar Soekarno; diperlukan juga usaha untuk menelanjangi diri yang sebenarnya dari tokoh yang diserang itu. Melalui potret Soekarno yang diungkapkan lewat sejumlah artikel, terlihat cukup banyak wajah Soekarno sebagai seorang yang lemah, lamban, tiran, tidak punya karakter, pembohong, egois dan bersifat buruk. Dimata mahasiswa group Bandung itu sifat yang paling buruk Soekarno ialah nafsu korupsinya. Adapun nafsu seksual yang berlebihan, penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang, penyelewengan terhadap agama, merupakan hal-hal yang paling sering diserang pada diri Soekarno karena semua itu bertentangan dengan ahlak yang ingin dipertahankan oleh Mahasiswa Indonesia .

Sebenarnya dalam autobiografinya Soekarno dengan berani mengakui kesalahan-kesalahannya sendiri, tanpa terkecuali kesalahan yang sangat prinsip

Aku   bukan   manusia   yang  tidak  mempunyai  kesalahan …..Barangkali selalu kesalahan  ialah,  bahwa aku selalu mengejar suatu cita-cita dan bukan persoalan-persoalan  yang  dingin.  Aku  tetap  mencoba  untuk  mendudukan  keadaan  atau menciptakan lagi keadaan-keadaan , sehingga ia dapat dipakai sebagai jalan untuk mencapai apa yang sedang dikejar .Hasilnya, sekalipun  aku berusaha begitu keras bagi rakyatku, aku menjadi korban dari serangan-serangan yang jahat. [3]

Setelah Soekarno wafat, pemerintahan Soeharto mengadakan de-Soekarnoisasi dengan membatasi diskusi tentang Soekarno. Sebuah larangan resmi tak resmi diberlakukan terhadap publikasi tulisan-tulisan Soekarno  Nama presiden pertama Indonesia jarang atau bahkan tidak disebut-sebut sama sekali oleh unsur-unsur rezim Orde Baru. Meskipun keyakinan bahwa Pancasila adalah falsafah yang dirumuskan oleh Soekarno dengan Pancasila hampir semuanya diingkari oleh negara Orde Baru.

Selain itu, negara Orde Baru juga membiarkan C.A. Dake, Ilmuwan Politik dari Freie Universitaat Bonn, mempublikasikan buku kontroversial yang berjudul Indonesia The Spirit of Red Banteng yang menyimpulkan bahwa aktor utama dibalik G-30-S/1965 adalah Soekarno, bukan PKI. Setahun kemudian Dake juga mempublikasikan buku The Devious Dalang : Soekarno and The So-Called Untung Putsch : Eyewitness Report by Bambang S Widjanarko  yang memperkuat kesimpulan dalam buku pertama tadi. Dari judulnya saja telah dapat diduga bahwa dua buku ini provokatif dan delegetimatif terhdap Soekarno. Perlu digarisbawahi bahwa peredaran buku ini baru dinyatakan terlarang tahun 1990, setelah sempat berlangsung selama 17 tahun.


[1] Nugroho Notosusanto .Sejarah Demi Masa Kini. Jakarta : UI Press, 1979,hal. 2.

[2] Francois  Raillon.  Politik  dan  Ideologi.  Mahasiswa  Indonesia .  Pembentukan  dan

Konsolidasi Orde Baru . Jakarta : LP3ES, 1989, hal. 136.

[3] Cindy Adams.  Bung  Karno  Penyambung  Lidah  Rakyat  Indonesia. Jakarta : Gunung Agung, 1984, hal. 3.

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s