Soekarno dan Konfontasi Indonesia-Malaysia

Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita  hadapi  dengan konfrontasi ekonomi
Kalau  Malaysia  mau  konfrontasi  politik
Kita   hadapi  dengan   konfrontasi  politik
Kalau  Malaysia  mau  konfrontasi  militer
Kita  hadapi  dengan   konfrontasi  militer!
(Soekarno, 1963)

Pada tanggal 17 Agustus 1963 dalam pidato tahunannya memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Soekarno menggambarkan dunia ini sebagai terbagi antara kekuatan-kekuatan baru yang sedang bangkit (New Emerging Forces, NEFOS )  dan kekuatan-kekuatan yang lama yang telah mapan ( Old Established Forces, OLDEFOS)  Yang pertama dilukiskan sebagai terdiri atas “bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin, negara-negara sosialis, dan kelompok kelompok progresif di negara-negara kapitalis”

Dalam mengedepankan suatu pandangan revisionis mengenai masyarakat internasional Soekarno melukiskan Indonsia sebagai anggota kelompok kekuatan progresif dinamis yang militan yang ditugasi oleh sejarah untuk melawan dan mengacaukan kekuatan penindasan dan eksploitasi yang reaksioner. Lebih jauh dari itu, akhirnya dia menuntut peranan penting dalam konstalasi internasional dan berusaha menyokong tuntutan ini melalui kunjungan kenegaraan dan berbagai peristiwa internasional lainnya. ( Michael Leifer, 1989 :  86 – 87 )

Tahun-tahun 1960-an merupakan tahun-tahun yang penuh dengan harapan tetapi sekaligus juga tantangan, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang. Penuh dengan harapan karena dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap dapat mempertahankan sistem dwi mandala dalam situasi Perang Dingin, sehingga dapat mencegah timbulnya perang dunia yang baru.

Makin banyaknya bangsa-bangsa yang mencapai kemerdekaan sejak berakhirnya Perang Dingin Kedua tidak mengubah sistem yang ada menjadi tri mandala (tripolar system), karena  negara-negara yang baru merdeka itu sedang disibukkan dengan masalah konsolidasi di dalam negeri, sehingga tidak mampu membentuk kekuatan ketiga yang aktual di dunia. Beberapa pemimpin di negara-negara yang sedang berkembang memang pernah berilusi demikian. Tetapi dalam situasi Perang Dingin, kekuatan ideologi dan politik saja belum didukung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi, militer dan teknologi di belakangnya.

Dalam perebutan pengaruh antara dua negara adidaya itu baik kubu kapitalis maupun kubu komunis berada dalam posisi yang sulit. Tantangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah yang umumnya tertuju kepada negara-negara Barat, menempatkan negara-negara tersebut dalam posisi politis defensif. Di pihak lain, perjuangan menuntut kemerdekaan itu merupakan daya (leverage) Uni Soviet dalam persaingannya dengan Amerika Serikat. Namun situasi ini juga tidak bertahan lama.

Sejak awal tahun 1960-an Barat juga menilai Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno masih dikuasai oleh golongan komunis di dalam negeri, yang dibantu oleh potensi-potensi komunis di luar negeri. Kubu Barat mempunyai persepsi ancaman baru, yakni ancaman dari komunis di Vietnam Selatan dan sekaligus juga ancaman komunis dari Indonesia  Dengan demikian Thailand, negara-negara Indochina yang belum jatuh di tangan komunis. Malaysia, Singapura, Kalimantan Inggris dan Filipina berada dalam posisi yang gawat.

Setelah kekalahan Perancis di Dien Bien Phu dan antipasi kekalahan Amerika Serikat di seluruh Indochina, Barat tidak merasa ada alasan lagi untuk langsung bertempur di negara asing. Memang pakta-pakta pertahanan  kemudian dibentuk seperti ANZUS, SEATO, tetapi tujuannya yang utama ialah mempertahankan suatu wilayah secara bersama-sama dengan negara-negara yang sedang berkembang dan termasuk dalam blok Barat. Di samping itu perlu diingat, bahwa pembentukan pakta-pakta itu tidak hanya ditujukan terhadap potensi komunis di utara saja, tetapi juga di selatan, yakni terhadap Indonesia.

Potensi-potensi Barat yang ada di wilayah Asia-Pasifik mulai mengubah sistem keterlibatannya, dari keterlibatan secara fisik dan langsung menjadi keterlibatan secara tidak langsung, sambil mendorong negara-negara Asia Tenggara untuk lebih tampil ke depan dalam menangani permasalahan bersama. Hanya apabila sewaktu-waktu diperlukan campur tangan serta bantuan fisik dan militer, mereka akan memberikan bantuan itu berdasarkan komitmen yang dibuat sebelumnya.

Apabila kubu Uni Soviet hanya mengalami hambatan-hambatan internal yang berupa tuntutan sementara anggota masyarakat komunis internasional tentang perlunya keluwesan interprestasi dan implementasi Marxisme-Leninisme sesuai dengan perkembangan kondisi setempat, serta perlunya kesederajatan status dan posisi struktural partai-partai komunis di dunia, kubu Amerika Serikat mengalami hambatan-hambatan yang bersifat ganda, internal dan eksternal. Internal, sebagai yang telah dijelaskan di depan berupa tuntutan kemerdekaan daerah bekas jajahan, sedang eksternal berupa ancaman perkembangan komunisme di dunia. Amerika Serikat tidak begitu terlibat langsung mengenai tuntutan kemerdekaan tersebut, mengingat kesediannya untuk segera memberikan kemerdekaan kepada daerah jajahannya, seperti Filipina. Namun Inggris, Perancis, Belgia dan Portugal yang mempunyai daerah koloni begitu luas secara langsung menghadapi permasalahan dekolonisasi ini.

Klik Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s