Biografi dan Historiografi

“Setiap orang tidak lepas dari sejarah”

(Soekarno)

Seorang sejarawan Inggris pernah menulis sebuah buku mengenai kegunaan sejarah.  Ia menyebutkan kegunaannya, mulai dari yang bersifat praktis sampai yang filosofis. Ia menyatakan bahwa sejarah sebagai rekreasi, sebagai hiburan di saat istirahat. Kisah sejarah bisa menjadi obat kejemuan dalam perjalanan sejarah yang meletihkan. Atau bisa dipakai sebagai pengantar menjelang tidur. Sejarah sebagai hiburan. Tak jarang berbagai kisah tentang masa lampau itu ia memberikan sekedar kenikmatan, yang bisa menyebabkan kita melupakan sejenak kegelisahan masa lalu pun dapat memberikan hiburan. Maka kita pun kini mengenal istilah parawisata budaya. Apapun yang dikisahkan, sejarah bisa memberikan kehidupan yang pernah terjadi, bukan yang rekaan, tetapi memantulkan berbagai perasaan. Mungkin seketika kita terlarut di dalamnya, tetapi segera sadar bahwa sesungguhnya kita tidak berada di dalam kisah itu. Keunggulan sejarah yang berkisah, memang terletak pada kemungkinannya untuk menyebabkan kita, yang membaca atau yang mendengar, merasa seakan-akan berada dalam waktu yang berdimensi ganda. Dan, apapun jenis peninggalan itu, bisa juga membangkitkan perasaan seolah-olah kita berada di masa lampau yang diwakilinya.

Kenikmatan kita membaca dan mendengar kisah masa lampau juga dibentuk oleh pengetahuan bahwa semua itu terjadi di suatu tempat dan suatu waktu. Tak ubahnya dengan kita sekarang, yang berada di sebuah tempat dan di suatu waktu  Jadi, mendengar atau membaca kisah sejarah itu bisa dikatakan sebagai sebuah perlawatan yang seakan-akan membebaskan kita dari tirani waktu dan tempat – dua corak konteks yang abadi membelenggu kita  Bukankah kita selalu berada di suatu waktu dan di sutau tempat? Dengan sejarah seakan-akan kita dimungkinkan untuk berkelana menembus batas-batas waktu dan ruang. Kita, yang berada di sini pada waktu ini, diajak berkelana ke sana – ke mana saja – dan ke waktu lain – ke zaman apapun juga. Begitulah, pada saatnya, ketika kematangan refleksi telah semakin menaik, kisah-kisah sejarah yang mula-mula hanyalah hiburan dan kemudian terasa sebagai pembebas ini, akan memberikan juga kepada kita sesuatu yang lain, yaitu kearifan–kearifan dari seorang pengembara yang kembali ke kampung halaman setelah merantau mengarungi lautan luas ( Taufik Abdullah : 1998 , hlm. xi – xii )

Jika guna rekreatif itu terasa agak asing di Indonesia, maka lain halnya dengan guna yang sekarang tiba gilirannya kita soroti. Guna ini, yang karena sifat pengaruhnya yang mengilhami dapat kita sebut guna inspiratif, pada umumnya dianggap guna yang terpenting, jika pun bukan guna satu-satunya Pentingnya guna inspiratif ini dirasakan seluruh Dunia Ketiga pada umumnya. Di Indonesia, sejarah jenis ini, yang berfungsi inspiratif, seringkali dijalin di sekitar riwayat perjuangan pahlawan-pahlawan, seperti pahlawan pembela kemerdekaan selama masa-masa serbuan imperialisme dan kolonialisme Barat Misalnya, Dipati Unus, Fatahilah, Baabullah, Sultan Agung, Iskandar Muda, Hassanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa, Nuku, Trunijoyo, Untung Surapati, Pattimura, Imam Bonjol, Diponegoro, Antasari, Teuku Umur, Tengku Cik Ditiro, Si Singamangaraja dan lain-lain.

Tetapi guna inspiratif sejarah ini hanya terdapat di negeri-negeri berkembang saja, melainkan juga di negeri-negeri yang sudah maju. Memang guna ini bersifat universal. Meskipun mungkin itu disadari sebagaimana yang digambarkan di sini, namun di Dunia Ketiga penulisan sejarah yang sedikit banyak bersifat inspiratif cukup banyak terdapat. Kita kenal misalnya nama-nama Jules Michelet dengan Historie de France dan terutama Historie de la Revolution Framcaise ,Thomas Carlyle dengan The French Revolution dan Letters and Speeaches of Oliver Cromwell, serta Johann Gustav Droysen dengan Geschhite Alexander des Grossen dan Geshicte der Machfolger Alexanders. Sejarah inspiratif sering kali diungkapkan secara visual dan plastis berupa lukisan-lukisan maupun patung-patung. Cara yang sedemikian di Dunia Barat lebih banyak terdapat daripada di Indonesia maupun negeri-negeri berkembang lainnya karya biayanya tidak sedikit ( Nugroho Notosusanto : 1979 , hlm. 3 – 5 )

Ada tiga genre penulisan sejarah di Indonesia. Pertama-tama, kita sebut saja dengan istilah “sejarah ideologis“. Titik tolak yang paling penting dalam jenis sejarah macam ini adalah pencarian arti subyektif dari peristiwa sejarah  Masa lampau dipelajari bukan demi pengetahuan mengenai masa lampau demi lambang yang bisa diadakannya untuk masa kini. Kedua, suatu jenis penulisan sejarah yang kita namakan “sejarah pewarisan“. Ciri-ciri utama penulisan sejarah semacam ini adalah kisah kepahlwanan perjuangan kemerdekaan. Pelajaran yang dapat diambil dari karya-karya semacam ini adalah betapa patriot-patriot Indonesia berjuang menentang hambatan-hambatan serta menderita kesulitan-kesulitan fisik dan psikis demi mencapai kemerdekaan. Bila orang membacanya bisa timbul kesimpulan bahwa buku-buku itu adalah album yang berharga dari satu keluarga yang memungkinkan anggota-anggota keluarga itu mengagumi gambaran mengenai para ayah, paman, dan lain-lain. Ketiga, suatu jenis yang dapat digunakan “sejarah akademik“. Jenis penulisan sejarah semacam ini mencoba memberi gambaran yang jelas mengenai masa silam yang ditopang dengan tradisi akademik. Setiap klasifikasi jelas merupakan penyusunan yang bersifat sementara. Ketiga macam jenis di atas, sudah barang tentu, tidak dapat dipisah-pisahkan secara ketat satu sama lainnya, tapi penggolongan tersebut didukung oleh pandangan dari masing-masing sejarawan yang mempraktekannya. Klasifikasi ini, sekali lagi perlu ditekankan di sini, juga tidak mencerminkan kualitas dari masing-masing karya tersebut. (Taufik Abdullah : 1985 ,hlm. 27 – 29 )

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s