Borobudur

Bhineka tunggal ika

Tan hana dharma mangrwa

(Mpu Tantular)

 

Sejak Borobudur diketemukan kembali, dimunculkan dari kegelapan masa lalu dan dari selubung semak belukar di tahun 1814 oleh Sir Thomas Stanford Raffles, monumen ini terus-menerus mendapat perhatian dari orang-orang berilmu, termasuk Raffles sendiri. Letnan Gubernur Jendral Ini kemudian memaparkan sendiri keberadaan dan keadaan Candi Borobudur dalam bukunya “History of Java” yang ditulis secara akademis dan diterbitkan 1817. Berkat tulisan tersebut warisan budaya nenek moyang kita menjadi terkenal di dunia. ( Daoed Joesoef , 2004 : 11 – 14 )

Sewaktu belum dipugar saja, dalam keadannya kurang terurus dan dengan lingkungan kurang mendukung, Candi Borobudur telah mampu menarik perhatian wisatawan luar dan dalam negeri. Bersama-sama dengan Candi Prambanan, ia sudah menjadi andalan bagi pengembangan ekonomi regional, dalam hal ini daerah Jawa Tengah, yang berporoskan industri keparawisataan. Kedua candi tersebut secara faktual sudah merupakan pementasan alam yang semakin ramai dikunjungi orang-orang dari segala penjuru dunia dan tanah air.

Namun keramaian pengunjung berpotensi besar untuk mengganggu bangunan monumen dan merusak situsnya dan tidak dengan sendirinya membawa manfaat yang langsung dapat dirasakan oleh penduduk setempat. Sedangkan mrereka inilah yang seharusnya dapat diharapkan untuk ikut menjaga dan memelihara kelestarian monumen dan situsnya seperti yang dahulu terjadi semasa zaman kerajaan. Raja yang memutuskan berdasarkan otoritasnya, untuk membangun candi, tetapi rakyat sekitarlah yang mengelolanya sehari-hari dengan imbalan berbagai fasilitas dari sang penguasa, misalnya pembebasan dari kewajiban membayar pajak tertentu.

Kita harus belajar pada apa yang sudah terjadi di Bali. Kebudayaan penduduknya yang begitu spesifik sudah dieksploitasi begitu rupa hingga ke-Bali-annya yang khas itu mulai menghilang. Salah satu biro perjalanan di negeri Belanda berbunyi: “Kunjungilah Bali sebelum ia menghilang“  Ungkapan tersebut mengandung kebenaran dan, karenanya, pantas memprihatinkan. ( Daoed Joesoef, 2004 : 85 – 86 dan 92)

Candi Borobudur dalam bentuk dasarnya merupakan punden berundak-undak tetapi disesuaikan dengan agama Buddha Mahayana untuk menggambarkan Kamadhatu (bagian kaki yang tertimbun dan tetutup oleh susunan batu rata), Rupadhatu (bagian yang terdiri tas lorong-lorong dengan pagar-pagar tembok dan penuh hiasan serta relief-relief yang seluruhnya sampai 4 km panjangnya, di antaranya  melukiskan Lalitavistara dsb) dan Artupadhatu (bagian atas yang terrdiri atas batur-batur bundar, dengan lingkaran-lingkaran stupa yang semuanya tidak dihiasi sama sekali). Puncaknya berupa sebuah stupa besar sekali. Arca-arca Buddha di Borobudur banyak sekali, lengkapnya berjumlah 505 buah. ( Soekmono, 1984 : 87 )

Bila Candi Borobudur itu didirikan tidaklah dapat diketahui dengan pasti  Tidak diketahui pada siapa sebenarnya yang memerintahkan pembangunan itu dan untuk apa sesungguhnya bangunan itu didirikan. Memang tidak ada dokumen tertulis sama sekali yang dapat memberikan sesuatu keterangan Namun demikian, suatu perkiraan dapat diperoleh. Tulisan-tulisan singkat yang dipahat di atas pigura-pigura relief kaki asli candi menunjukkan huruf-huruf yang sejenis dengan apa yang biasa didapatkan pada prasasti-prasasti dari akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9. Dan kenyataan ini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tentunya candi Borobudur itu didirikan di sekitar tahun 800 Masehi.

Keseimpulan demikian ternyata sesuai benar dengan kerangka sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Jawa Tengah pada khususnya  Periode antara pertengahan abad ke-8 dan pertengahan abad ke-9 terkenal sebagai Abad Emas wangsa Sailendra. Kejayaan ini ditandai oleh jumlah besar candi-candi, yang menggambarkan adanya semangat membangun yang luar biasa, baik di lembah maupun di lereng gunung bagian tengah Pulau Jawa. Candi-candi yang ada di lereng-lereng gunung semuanya adalah bangunan agama Siwa, sedangkan yang bertebaran di dataran-dataran adalah bangunan baik dari agama Siwa dan Buddha. Demikianlah kesimpulan yang dapat ditarik lebih lanjut ialah bahwa Candi Borobudur tentunya dibangun atas perintah salah seorang raja dari wangsa Sailendra, yang juga terkenal dalam sejarah karena usahanya untuk menjunjung tinggi agama Buddha Mahayana.

Nama “Sailendra” muncul untuk pertama kalinya dalam prasasti batu yang diketemukan di desa Sojomerto di dekat kota Pekalongan. Ternyata bahwa dalam piagam prasasti tersebut nama itu adalah nama orang, Keluarga Sailendra khusus yang terkenal dalam sejarah sebagai pengikut ajaran Sang Buddha yang setia, tetapi Sailendra dari prasasti Sojomerto ternyata menganut agama Hindu. Prasasti Mantyasih pun jelas bersifat agama Buddha, sehingga raja-raja yang didaftar di dalamnya tentunya beragama Hindu pula.

Sehubungan dengan adanya pertentangan yang timbul dari bahan yang tersedia maka banyak sarjana berpendpat bahwa dalam pertengahan kedua abad ke-8 itu ada dua keluarga raja yang memerintah di Jawa Tengah. Kedua keluarga itu adalah wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan wangsa Sailendra yang beragama Buddha.

Klik Selengkapnya…..

Satu pemikiran pada “Borobudur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s