Indonesia Menggugat

Indonesia Merdeka Sekarang!

Sekarang! Sekarang!

Soekarno

 

Soekarno adalah tokoh dengan daya tarik yang utama bagi PNI. Ia adalah seorang ahli pidato yang hebat. Pidato-pidatonya dengan penuh dengan dasar-dasar pokok pikiran nasionalis yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana yang dengan mudah dapat dimengerti oleh para pendengarnya. Ia menggunakan dongeng-dongeng dan cerita-cerita rakyat setempat yang popular, terutama cerita-cerita wayang, untuk mewujudkan pikiran-pikiran PNI yang nasionalis. (John Ingleson, 1986 : 57)  Dengan pidato-pidato seperti itu, sepanjang tahun 1928, Soekarno, mencatat kemenangan demi kemenangan; melalui kemahiran retoriknya ia dapat mengangkat pendengar-pendengarnya ke dalam antusiasmie, dan dirinya sendiri ke dalam ekstase.  Dikabarkan seorang wartawan Pemberita Kemadjuan melaporkan, dalam bulan Mei 1928, bahwa ia telah begitu terpesona oleh apa yang digambarkan oleh Soekarno, sehingga dengan tiba-tiba saja ia percaya bahwa ia sudah merdeka. Seorang pejabat tinggi pangreh praja bukannya mencatat apa yang dikatakan oleh Soekarno, melainkan malahan dengan penuh semangat bertepuk tangan pada akhir pidatonya, sehingga tidak lama kemudian ia dipecat dari jabatannya. Pada satu rapat umum di Batavia, ketika Soekarno terpaksa menghentikan pidatonya untuk beberapa saat, sekitar 1.600 orang tetap di tempat mereka masing-masing tanpa memperdulikan udara yang panasnya tak tertahankan lagi, karena takut tempat mereka akan diserobot orang lain jika mereka meninggalkannya  ( Bernhard Dahm, 1987 : 127 – 128 )

Sesudah pimpinan PKI, Soekarno adalah orang pertama yang mengerti, bahwa massa dan gerakan massa adalah merupakan kunci ke arah kemerdekaan Indonesia. Tak henti-hentinya Soekarno berkeliling ke seluruh Jawa untuk berpidato. Ia selalu mengingatkan kepada para pendengarnya tentang keagungan negeri ini pada masa lalu, berbicara mengenai kegelapan hari ini dan masa cerah pada hari esok. Ia memupuk kesadaran nasional bangsa, Soekarno berseru agar mereka tidak mengharapkan rasa kasihan dari kaum penjajah, sambil menunjukkan, bahwa dewan-dewan yang dibentuk tidak ada gunanya, dan akan tetap seperti itu, kendatipun orang-orang Indonesia asli yang menjadi mayoritas di dalamnya. Soekarno mengajak untuk menuntut diserahkannya kemerdekaan sekarang juga. Ketika para oponen Soekarno, sambil membantah mengeluarkan alasan, bahwa “rakyat belum siap”, ia menjawab “Indonesia merdeka sekarang! Setelah itu baru kita mendidik, memperbaiki kesehatan rakyat dan negeri kita. Hayolah, kita bangkit sekarang”

PNI telah menjadi partai massal, ia aktif di kalangan buruh, petani dan kaum borjuis-kecil di kota-kota. Kongres I PNI di Surabaya pada bulan Mei 1928 telah mengesahkan Program Partai, yang terdiri dari dua bagian, yaitu Program Maksimun dan Program Kerja. Di dalam Program Maksimum tercantumkan tujuan dari partai itu, yaitu didirikannya suatu tatanan masyarakat baru yang lebih progresif yang mampu untuk memperbaiki kehidupan dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia dengan jalan pencapaian kemerdekaan politik.

PNI telah mengumandangkan bahwa ia mewakili kepentingan-kepentingan dari sebagian besar penduduk, yaitu rakyat kecil – kamu Marhaen. Dari sinilah nama ideologi yang diciptakan oleh Soekarno – Marhaenisme. Yang paling penting dalam Marhaenisme adalah aspek anti-kolonialnya dan persatuan dari seluruh lapisan masyarakat sebagai syarat utama untuk bisa mencapai kemerdekaan nasional.

Soekarno telah berusaha untuk di dalam Marhaenisme menyatukan tiga ideologi, yang menurut keyakinannya mempunyai nilai-nilai yang sangat berharga dalam perjuangan pembebasan nasional. Itu adalah nasionalisme dari bangsa tertindas; Islamisme, yang diartikan olehnya tidak hanya sebagai Islam an sich namun juga sebagai suatu agama dan ajaran politik yang anti-kolonial. Marxisme, atau lebih tepatnya, hanya beberapa aspeknya. “ Marxisme itulah yang membuat saya punya nasionalisme berlainan dengan nasionalisme Indonesia yang lain …” demikian ditulisnya. Kedalam Marhaenisme, Soekarno juga telah memasukkan beberapa ide dari sosialisme  aliran borjuis–kecil, dasar “sosialisme Islam”, dan “ide-ide tradisional”, walaupun yang diambilnya hanyalah aspek-aspek yang senada dengan gagasannya mengenai demokrasi, mengenai perjuangan anti-imperiailis. Sebagai akibatnya, terbentuklah ajaran yang elektis, yang secara keseluruhan mengandung sifat-sifat yang subyektif dan idealis.

Para ideologi Marhaenisme menyatakan, bahwa berbedanya dengan Barat di Indonesia tidak ada kesenjangan kelas-sosial yang dratis, tidak ada juga perjuangan kelas. Mereka mengutamakan kesatuan nasional, sambil menandaskan, bahwa semua harus memusatkan tujuannya ke arah kemerdekaan. Walaupun Soekarno mengakui teori perjuangan kelas, ia mengatakan, bahwa ia selalu berusaha memperkokoh jiwa bangsa tidak sebagai kesadaran kelas, seperti yang biasa terdapat dalam gerakan buruh, tapi sebagai kesadaran bangsa, kesadaran nasional, sebagai nasionalisme. Dalam negeri kolonial, pertentangan-pertentangan kelas itu menjadi searah dengan pertentangan nasional, begitulah ia mengajarkan.

Soekarno mengajukan Marhaenisme sebagai dasar ideologi, bukan sebagai ideologi persatuan sementara dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan, namun sebagai persatuan yang kokoh-kuat dan langgeng, yang sangat diperlukan bagi dibentuknya di Indonesia suatu “masyarakat baru yang adil dan makmur. Memang tidak disebutkan jalan yang konkret untuk menuju ke masyarakat baru ini, semuanya dikonsentrasikan kepada masalah pembentukan suatu front yang luas dari seluruh bangsa demi untuk mencapai kemerdekaan. Walaupun Marhaenisme mempunyai sifat-sifat yang eklektis dan tidak konsekwen, namun ia telah memainkan peranan yang sangat berarti dalam menggalang lapisan masyarakat luas Indonesia dalam perjuangan mencapai kemerdekaan nasional dan pembebasan dari kaum penjajah asing.

Soekarno mengajarkan, bahwa sarana utama dalam perjuangan melawan kaum penjajah adalah tidak bekerja sama dan pemboikotan kepada segala jenis “dewan perwakilan” yang dibentuk oleh administrasi penjajah, ia menerangkan  bahwa PNI menolak politik kerja sama, sebab sudah benar-benar diyakini, bahwa PNI dan pemerintah mempunyai “kepentingan yang berbeda”, “Kepentingan yang saling bertentangan” Tak jemu-jemunya ia mempropagandakan ide ini.

Soekarno banyak sekali melakukan kegiatan. Siang hari ia berpidato di lapangan yang penuh dihadiri masyarakat, malamnya di ruangan yang tidak begitu besar, paginya di gedung-gedung bioskop. Pengaruh dari pidatonya sangat memukau. Para hadirin menghirup kata-katanya, sedetikpun ia tak pernah kehilangan kontak dengan mereka, ia mendapat semangat dari reaksi, pengertian dan sambutan para pendengarnya. Kesuksesan Soekarno yang utama bukan disebabkan oleh mendalamnya analisa-analisa yang diberikan, namun justru oleh karena imajinasinya yang hidup, oleh energinya dan juga kecakapannya berbicara. Dalam hal ini tidak seorang pun dari pemimpin politik negerinya yang bisa dalam hal, bahwa ia merupakan seorang ahli jiwa yang cemerlang, yang dengan cepat mampu menyerap kehendak dari saudara-saudara sebangsanya.

Di antara pendengar Soekarno terdapat tidak sedikit para pegawai pemerintah dan polisi yang menguping dan mengawasi segala tingkah-polanya. Tentu, Soekarno mempunyai cara sendiri dengan mana ia sering mengecoh agen-agen kolonial. Ia sering menggunakan ungkapan-ungkapan  dan dialek setempat, yang tidak dipahami oleh orang-orang asing, atau melengkapi kata-katanya dengan mimik muka, gerakan tangan atau badan yang menggamblangkan apa yang ia maksudkan, ia berusaha mengambil tempat-tempat yang tidak biasa untuk mengadakan pertemuan dengan para pemimpin gerakan lainnya. Propaganda dan agitasi dari para pemimpin PNI membuahkan hasil jumlah anggotanya meningkat gerakan pemuda menjadi lebih aktif.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s