Persatuan Indonesia

Memang …aku gandrung persatuan. Oleh karena aku mengaku bahwa hanya dengan PERSATUAN lah bisa mencapai KEMERDEKAAN. Hanya dengan inilah yang bisa membawa kita kepada cita-cita sekalian.

(Soekarno, 24 September 1955)

 

Kendati PKI telah di bubarkan oleh Jendral Soekarto lewat Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Pidato kenegaraan 17 Agustus 1945 yang berjudul “Jangan sekali-sekali meninggalkan Sejarah”. Soekarno selaku presiden Republik Indonesia yang pertama tetap menyatakan bahwa ‘NASAKOM atau Nasatos atau Nasa apapun adalah unsure mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. “Secara tegas Soekarno memperingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak gontok-gontokan, tidak sembelih-sembelihan. Sebab hal itu justru akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecah inti hakiki dari revolusi. Selain itu Soekarno menegaskan bahwa ratusan ribu pembunuhan dan ratusan ribu penahanan, justru akan menjadi masalah politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan diantara kita.      Pernyataan Soekarno diatas, menunjukkan keinginannya untuk tetap mencoba  mempersatukan kemajemukan masyarakat Indonesia, tetapi dengan terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kemudian membawa korban ratusab ribu jiwa telah menyebabkab usahanya menjadi kandas. Komunisme yang dianggapnya sebagai factor objektif dari masyarakat Indonesia telah tersingkir.

Keinginan Soekarno tetap berpegang dengan konsep Nasakom sering ditafsirkan sebagai konsistensi dari alam pikiran Soekarno yang bermuara pada persatuan bangsa yang majemuk. Alam pikiran Soekarno yang senantiasa diarahkan kepada keperluan untuk mencari pandangan hidup bersama yang bisa dipakai pengikat masyarakat Indonesia yang majemuk kedalam satu bangsa yang betul-betul bersatu.

Meskipun Soekarno telah lama meninggalkan bangsa yang di cintainya, ia tetap hidup dalam struktur kesadaran bangsa Indonesia. Biografi Soekarno sampai kini masih tetap menjadi salah satu inspirasi. Kini Soekarno telah meninggalkan warisan intelektual dari sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia yang berupa teks yang bisa dianggap klasik dan bernilai abadi.

Tulisan Soekarno, ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (1926/1927), Marhaen (1932) dan pidatinya-Lajirnya Pancasila (1945), yang bermuara pada persatuan bangsa Indonesia merupakan teks yang tidak akan terhapus dari catatan kolektif bangsa Indonesia. Ketika sejarah pergerakan kebangsaan ini telah memasuki ‘pintu gerbang kemerdekaan’, dengan berdirinya negara nasional, warisan intlektual itu tetap utuh sebagai monumen dan dokumen.

Sebagai monumen, teks-teks itu mengingatkan bangsa yang mewarisinya pada impian yang pernah diimpikan, harapan yang pernah dipupuk dan perjuangan yang diperjuangkan. Sedangkan sebagai dokumen warisan itu tampil sebagai teks-teks yang mengajak gerakan yang datang. Kemudian untuk sekaligus membandingkan impian lama dan realitas kini, pemikiran lama dengan kecenderungan masa kini, visi lama dan keharusan masa sekarang.

 

Sejarah Indonesia mencatat bahwa Soekarno sebagai pemikir modern Indonesia  yang terpenting dan terbesar : kualitas keorsinilan alam pikiran Tan Malaka, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir setara Soekarno, tetapi tidak dalam kekuasaan pengaruhnya. Mereka bukan saja tandingan Soekarno. Ia bukan saja mempunyai kemajuan besar dalam menuangkan buah pikiran yang jernih kedalam berbagai tulisan. Soekarno adalah pula seorang orator yang sangat sulit dicari tandingannya dan kharismatis yang mampu menyampaikan buah pikirannya dengan gaya yang amat menarik dan mudah dimengerti, kepada khalayak ramai yang mendengarkannya.

Sikap kritis yang tajam dan amat mengahrgai kebebasan berpikir tentu saja dimiliki oleh Soekarno sebagai cendikiawan. Oleh karena itu dogmatisme menjadi musuhnya. Kualitas kecendikiawannya diperkuat dengan, cara berpikir Soekarno yang dialektis dan/atau sinkrietis. Soekarno jelas tidak phobi terhadap alam pikiran dari manapun berasal, tetapi juga tidak mau menerima begitu saja tanpa melalui proses perdebatan. Soekarno memiliki keberanian luar biasa dalam mengembangkan alam pikirannya. Ia tampak tidak pernah takut mengemukakan dan memperdebatkan ide-idenya dengan siapa saja. Seandainya ia merasa kurang mempunyai pengetahuan dalam satu bidang, Soekarno tidak malu bertanya dan berusaha sekeras mungkin untuk mendalaminya.

Ada tiga macam aliran pemikiran yang memberi kesan yang dalam kapadanya, dan oleh karena itu sedikit banyak mempengaruhi corak pemikiran-pemikran baru yang dilahirkannya. Aliran pertama pemikiran yang berasal dari kebudayaan Jawa. Aliran kedua berasal dari pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh pemikir Sosialis Barat, seperti Karl Marx, H.N. Brailsford, Piter Jelles Tnoelstia dan Karl Kauslky. Sedangkan aliran ketiga berasal dari pemikiran-pemikiran modernisme Islam yang berasal dari Mesir, Turki dan India. Tidak adanya pendidikan formal ini membuat Soekarno mengalami kesulitan memahami ajaran Islam dari sumber aslinya, yaitu buku-buku bahasa Arab. Yang menjadi bacaan utamanya adalah buku-buku yang ditulis dalam bahasa Barat.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s