Indonesia Raya

“Suatu itikad, suatu keinsyafan rakyat

bahwa rakyat itu adalah satu bangsa”

(Soekarno)

 

Lagu kebangsaan setiap negara tidak sekadar menjadi simbol kenegaraan akan tetapi dari waktu ke waktu mengusik emosi – merangsang semangat dan nafsu agresi, mengubar amarah, dan pada titik ekstrem yang lain mampu meneteskan air mata warganya dalam isak tangis. Dalam hal ini adegan cucuran air mata ketika para olahragawan menerima medali dalam iringan lantunan lagu kebangsaan atau pada awal pertandingan besar seperti bola sepak atau pertandingan internasional rugby adalah bergumpal-gumpalnya berbagai emosi dalam gabungan yang mengharukan. Air mata mengucur dari ujung tubuh tanpa peduli betapa pun tinggi, besar dan kekarnya sang atlet.

Sebegitu rupa lagu-lagu kebangsaan mengharu-biru emosi sehingga lagu kebangsaan Perancis,  la Marseillaise, atau terjemahan Inggrisnya,  sejak  dikumandangkan pertama kali tahun 1795 tidak selalu mengalami nasib baik. Sejak diterima sebagai lagu kebangsaan, nasib lagu ini turun-naik dan timbul-tenggelam menurut rezim yang berkuasa dan hubungan emosionalnya terhadap lagu tersebut. Lagu ini dilarang oleh Napoleon dan beberapa rezim berikutnya sampai dikukuhkan kembali tahun 1879-84, hampir satu abad-sebagai lagu kebangsaan Perancis sampai hari ini.

Dengan sedikit mengakibatkan perbedaan, karena Jerman dan Perancis memuja tanah air sebagai “bapak”- “la patrie” dan “das Vaterland “ – dan orang Indonesia menganggapnya sebagai “ibu atau dewi“ dewi pertiwi“ atau “ibu pertiwi“ maka menyimak lagu ketiga bangsa itu dalam suatu perbandingan sangat merangsang pikiran. Di antara lagu-lagu kebangsaan sedunia, lagu Indonesia Raya paling dekat dari segi musikal dengan la Marseillais, Nyanyian Marseille, kalau tidak justru menimba inspirasi dari sana, dan bersama  Deutchland-Lied, Madah Jerman, menyimpan  semangat ideologis yang alot dan kental : persatuan, persaudaran, kebebasan, kemerdekaan, dan kewargaan. Ketika la Marseillaise memberikan perintah tempur dan perang dalam larik “aux arms citoyens, formez vous bataillons, marchomns“, “para warga panggullah senjata, bentukan pasukan, maju” suatu derap revolusi diumbar, dan penindasan ingin ditumbangkan. Lagu kebangsaan Jerman memuja tanah air dan lebih menjadi madah penuh keagungan tapi manis : “Deuchland, Deutchland uber alles, Uber alles in der Welt…Blub im Glanze dieses Gluckes, bluhe, deutsches Vaterland “ ,” Di dunia tak ada yang setara tanah Jerman …mekarlah dalam sinar kebahagian, kembanglah tanah tumpah darah Jerman.”

Nada imperatif la Marseilasse, dan mungkin juga secara tersembunyi nada imperial yang sangat kuat, terpantul dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, dalam naa-nada musikal maupun lirik yang diungkapkan dalam larik-larik syairnya. Bila diperhatikan dengan teliti akan kelihatan suatu gerakan progresi menakjubkan yang dikemukakan penggubah lagu kebangsaan di atas yaitu dari “bangun, sadar dan maju“ dalam bangoenlah jiwanya…sadarlah hatinya…dan majoelah negrinya” dan semuanya hanya bermuara kepada satu tujuan, yaitu demi “Indonesia Raya” yaitu the Great Indonesia. Seberapa “raya” besarnya secara ekstensif ? Seberapa tinggi “kebangoenan badan”, seberapa dalam “kesadaran budi”, dan seberapa besar “kemadjoean Pandoenya“ disadari secara intensif? Ketika Wage Rudolf Supratman mengubah lagu itu besar kemungkinan ia sadar tentang dua versi atau tepatnya dua dimensi makna “Indonesia Raya“, yaitu yang intensif dan ekstensif, dan lagu Indonesia Raya memadukan dua-duanya. Namun, yang tersisa bagi generasi sekarang mungkin semata-mata makna intensif Indonesia Raya,, yaitu jiwa harus dibangunkan, hati harus disadarkan, demi kemajuan negeri dan pandunya adalah “Indonesia cilik“ abad 21 ini. Sedangkan Indonesia Raya dalam dimensi ekstensif, dalam arti secara geografis dan terutama geopolitik lebih luas dari Indonesia sekarang, sudah hilang tanpa bekas dari kenangan kolektif dan dengan demikian tidak lagi menjadi bagian dari diskursus politik sehari-hari. ( Daniel Dhakidae : 2008 , hlm. 59 – 60 )

Saat kelahiran Soekarno dan Mohammad Hatta di daerah Surabaya dan Minangkabau, Indonesia belum muncul sebagai kesatuan politik. Dunia internasional  mengakui rangkaian kepulauan yang terbentang dari Sumatra sampai Papua sebagai Hindia Belanda. Setiap bangsa adalah hasil ciptaan daya khayal. Ia memperoleh kekuatannya dari kesadaran para warganya. Demikian lama sebelum negara Indonesia yang merdeka menjadi satu kenyataan  setelah Perang Dunia ke-II, ide tentang suatu kesatuan semacam itu harus tertanam dalam hati para warganya. ( Peter Carey : 1986 , hlm. 8 )

 

Nama Indonesia

Sebelum nama Indonesia dicipta, tidak ada nama pribumi yang mengacu pada keseluruhan kepulauan kita, meskipun kebanyakan pulau masing-masing mempunyai nama sendiri, seperti  pulau Sumatra yang juga dikenal dengan nama Andalas atau Pulau Perca, pulau Jawa, pulau Kalimantan, pulau Sulawesi, pulau Bali, dan sebagainya. Pulau Irian sebagai keseluruhan juga belum ada namanya. Dalam sejarah kuno, terutama dalam masa kejayaan kerajaan Majapahit, ada digunakan nama “Nusantara,” akan tetapi nama Nusantara mengacu pada sekalian pulau di kepulauan kita di luar pulau Jawa, jadi tidak termasuk pulau Jawa sendiri. ( Harya W Bachtiar : 2002 , hlm. 15 )

Para pelancong dan pejabat yang bukan orang Belanda menyebut kepulauan kita itu, antara lain,”The Eastern Seas (Lautan Timur)”,” The Eastern Islands (Kepulauan Timur) :, “Indian Archipelago (Kepulauan  Hindia)”. Belanda terkadang menggunakan istilah-istilah seperti “Hindia“,”Hindia Timur”, “ daerah jajahan Hindia”, “atau belakangan “Insulinde (pulau-pulau Hindia),” lalu selagi hubungan politik Belanda dengan kepulauan itu berkembang,” Hindia (Timur) Belanda”, dan Belanda memandangnya sebagai bagian  “tropisch Nederland (kawasan tropis Belanda)

Kata “Indonesia“ pertama kali digagas pada 1850 dalam bentuk “Indo-nesian“ oleh pelancong dan pengamat sosial asal Inggris, George Samuel Windsor Earl. Earl ketika itu sedang mencari istilah etnografis untuk mejabarkan “cabang ras Polinesia yang menghuni Kepulauan Hindia” atau “ ras-ras berkulit cokelat di kepulauan Hindia”. Namun, setelah menciptakan istilah baru itu, Eral langsung membuangnya – karena terlalu “umum” – dan menggantikannya dengan istilah yang dia anggap lebih khusus “ Melayunesias.”

Seorang kolega Earl, James Logan, tanpa mengindahkan keputusan Earl, memutuskan bahwa “Indonesian” sebenarnya adalah kata yang lebih tepat dan benar untuk digunakan sebagai istilah geografis, bukan etnografis. Dengan membedakan antara penggunaan kata itu secara geografis dan etnologis, Logan menjadi orang pertama yang menggunakan nama“ Indonesia“ untuk menjabarkan, walau secara longgar, kawasan geografis kepulauan Indonesia. Logan lantas terus menggunakan kata “Indonesia:” Indonesian“, dan  “Indonesians“ dalam arti geografis secara relatif bebas, tapi tidak ekslusif (:Indian Archipelago“ harus tetap dipakai“), dalam tulisan-tulisan berikutnya. Logan bahkan membagi “Indonesia“ menjadi empat kawasan geografis terpisah, membentang dari Sumatra sampai Formosa (Taiwan).

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s