Soekarno, Mahasiswa dan Nasionalisme

Jangan tanya apa yang Negara berikan padamu,

Tetapi Tanya apa yang kamu berikan pada Negara.

(Jhon F. Kennedy)

 

 

Ketika Soekarno dilahirkan, masyarakat Jawa sedang mengalami perubahan ekonomi sosial dan politik sebagai dampak modernisasi. Selama seperempat abad sebelumnya, bersama negeri-negeri lain di Asia dan Afrika, Indonesia mulai merasakan dampak kuat tenaga ekspansif industri Eropa. Daerah jajahan Hindia Belanda justru secara mantap diciptakan selama periode ini. Mitos tentang nasionalisme nosionalisme adalah, kepulauan itu dijajah selama 350 tahun dibawah kekeuasaan Belanda sejak tahun 1602, ketika VOC mulai beroperasi, sampai Perang Dunia kedua. Dalam kenyataannya hanya menjelang akhir abad ke-19 kekuasaan Belanda berlaku atas kepulauan itu. Kegiatan-kegiatan Belanda selama 200 tahun sebelumnya hanyalah meletakkan dasar-dasar bagi kekuasaannya.

Ekspansi besar-besaran ekonomi ekspor Hindia sebagai akibat penanaman modal Belanda secara langsung ini telah disertai perluasan penguasaan territorial yang cepat. Sesudah 1870 sengaja dilakukan tindakan untuk membulatkan kekuasaan Belanda atas seluruh kepulauan Indonesia. Ekspansi territorial yang terjadi dengan tiba-tiba merupakan bagian dari gelombang persaingan imprealisme Eropa Barat yang pada akhir abad ke-19 membagi-bagi sebagian besar daerah-daerah yang terbelakang ini, sehingga terpecah-pecah menjadi jajahan Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Belgia. Meskipun Belandasudah ada di Indonesia sejak tiga abad, baru sesudah 1870 mereka bergerak mendirikan apa yang kemudian bisa di katakana sebagai kekuatan imperium baru.

Perkembangan ini mendapat reaksi dari golongan elite pribumi. Ada yang berhasil menyesuaikan dirinya dalam kekuasaan kolonial Belanda dengan menjadi ambtenar tanpa hasrat untuk mengubahnya. Ada yang berkeinginan memperoleh jaminan otonomi bagi bangsanya di masa depan, yang harus dicapai melaui kerjasama dengan penguasa dan melalui konsesi-konsesi yang diperoleh berangsur-angsur dari pemerintah Hindia Belanda. Ada juga yang melihat pada evolusi persekutuan Indonesia dengan Belanda. Tetapi bagi yang lain lagi, kehinaan dibawah telapak kaki penjajah merupakan kenyataan yang menyolok. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, menurut mereka, adalah perjuangan tanpa kompromi, bahkan mungkin dengan kekerasan untuk memperoleh kemerdekaan yang sempurna. Soekarno berada di dalam kategori terakhir ini, semenjak masa muda di dalam hasilnya membara rasa jijik terhadap diskriminasi yang dilakukan kekuasaan kolonial.

Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah suatu gejala baru yang berada dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa 1825 – 1830 misalnya, merupakan suatu gerakn setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan yang baru muncul pada awal abad ke – 20 Nasionalisme baru itu adalah hasil imprealisme baru. Ia harus dipandang sebagai bagian dari suatu gerakan lebih besar yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19. Dan gerakan itu hanya menentang kekuasaan colonial, tetapi juga memikirkan dan mengembangkan pandangan baru, yang sadar akan kepribadian nasional. Tentu kedua aspek itu berjalan sejajar, rasa kebangsaan ditempa kedalam pengalaman bersama melawan penindasan colonial, namun, gagasan-gagasan tentang kebangsaan kemudian penciptaan suatu negara modern.

Soekarno memang turut memberikan bentuk pada rasa kesadaran-diri yang baru, namun bukan Soekarno yang menciptakannya. Dasar-dasar pokok kesadaran baru itu terletak dalam proses perubahan sosial yang digerakkan oleh ekspansi politik dan kekuasaan colonial Belanda pad atahun-tahun kemudian. Pada abad ke-1, wakil-wakil VOC memang mengumpulkan hasil bumi, tetapi pengaruhnya hanya terbatas pada tatanan-tatanan politik dan sosial yang mereka temukan di sana, dan mereka bahkan menaruh sekedar rasa hormat terhadap kekuasaan pribumi yang ada. Namun, pada akhir abad ke – 19 pemerintah dan modal Belanda telah merombak Indonesia dilancarkannya kegiatan-kegiatan ekonomi baru telah mengganggu keseimbangan masyarakat-masyarakat agraris tradisonal. Kekuasaan-kekuasaan ekonomi bari itu mendorong munculnya kelas-kelas baru, mengikis kedudukan golongan elite tradisional dan mengendorkan banyak ikatan komunal yang telah memberikan lingkungan mantap bagi massa-rakyat itu, keadaan itu menciptakan kesatuaan politik untuk pertama kalinya pada kepulauaan itu, dan dengan demikian membuka situasi yang mungkin orang Indonesia melihat jauh ke luar melampaui penghotak-kotakan etnis kearah kemungkinan kesatuaan nasional. Perubahan-perubahan ini bukan saja turut menciptakan keresahan yang makin besar dikalangan penduduk sebagai suatu keseluruhan, tetapi juga, dalam arti yang lebih positif, menciptakan kesadaran baru tentang suatu dunia yang sedang mengalami perubahan, dan kepemimpinan politik yang dapat dijadikan saluran pengungkapan kesadaran baru itu.

Pada bulan Januari 1901 Ratu Wihelmina mengumumkan di depan parlemen program Pemerintah Belanda yang baru saja terpilih. Pemerintah mengakui bahwa sementara di msa lalu banyak perusahan dari orang-orang Belanda telah memperoleh keuntungan yang berlipat dari Hindia Belanda, penduduk di tanah jajahan itu sendiri menjadi miskin. Tujuan utama pemerintah jajahan di masa mendatang ialah memperbaiki kesejahtraan rakyat. Ratu Wilhelmina menambahkan bahwa bangsa Belanda “telah berhutang budi” kepada rakyat Hindia Belanda, perlahan-lahan memperluas kesempatan bagi anak-anak Indonesia dari golongan atas untuk mengikuti pendidikan berbahasa Belanda.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s