Soekarno, Islam dan Negara

Warisilah Api Islam dan jangan kita warisi abunya ! Galilah Api Islam
(Soekarno)

Hubungan agama dan negara adalah tema yang selalu menarik perhatian untuk didiskusikan, dan senantiasa menimbulkan kontroversi perdebatan itu menjadi menarik bukan saja dari sudut akademis, tetapi juga dari sudut kepentingan. Kontroversial karena adanya pandangan yang paling bertolak belakang dan tak mungkin dipadukan. Menjelang tahun 2000 telah terjadi pedebatan mengenai hubungan agama (Islam) dan negara. Ada yang tidak dapat dibangun dengan penguasaan pandangan sekelompok orang mengenai agama mayoritas di suatu negara, sedangkan yang lain melihat bahwa penegakan syariat agama bukanlah penghalang dari tegaknya sebuah demokrasi. Di satu sisi berbicara mengenai hak seluruh orang atau kelompok dalam membangun negara, sedangkan yang lain berbicara mengenai hak kelompok mayoritas yang tentunya memiliki kepentingan yang lebih kompleks dan menjaga agar tidak terpinggirkan oleh kelompok minoritas.

Issue politik yang diperdebatkan pada esensinya tidak banyak bergeser dari apa yang diperdebatkan Soekarno dan Natsir. Tidak begitu banyak issue-issue baru yang muncul. Kalau pun ada sesuatu yang baru dalam perdebatan itu, hanyalah menyangkut fakta-fakta yang dipakai untuk meneguhkan argumentasinya. Adanya perdebatan dari dulu sampai sekarang berarti belum tuntasnya persoalan bagaimana hubungan dan posisi agama (Islam) dalam negara Indonesia. Dan menjadi bukti kuat bahwa dari sisi ideologis, konfigurasi dan polarisasi kekuatan politik di Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang tidak berubah signifikansinya.

Sebenarnya dikalangan Islam sampai sekarang terdapat pada tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan negara. Pertama, menyatakan bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Sistem ketatanegaraan atau politik ada didalamnya dan oleh karenanya dalam bernegara umat Islam hendaknya kembali pada kepada sistem ketatanegaraan Islam. Sistem politik Islami yang harus diteladani adalah sistem yang telah dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad dan oleh empat Al-Kulafa Al-Rasyidin. Kedua, berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannnya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul bisasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur, dan Nabi tidak pernah dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepaki satu negara. Ketiga, menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan. Tetapi aliran ini juga menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat yang hanya mengatur hubungan antar manusia dan sang Pencipta. Aliran ini berpendirian bahwa Islam tidak terdapat sistem politik tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara.

Mengenal Ajaran Islam

Soekarno kecil dibesarkan dari keluarga yang tidak memberi pengajaran agama Islam yang sesungguhnya. Ia mulai mengenal dengan ajaran Islam ketika Soekarno remaja yang melanjutkan studi di HBS, tinggal di rumah Tjokroaminoto Tokoh Sarekat Islam itu dalam memberikan pendidikan agama Islamterutama untuk membaca Al-Quran dengan cara mendatangkan guru ke rumahnya. Tentunya Soekarno terlibat di dalam kegiatan mengaji. Kendati Tjokroaminoto tampaknya tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang Islam ,setidak-tidaknya jika dibandingkan dengan para ulama yang mendirikan gerakan pembaruan agamayang sebenarnya. Tetapi dari Tjokroaminoto inilah Soekarno memperoleh pengetahuan tentang Islam.

Di kota Surabaya ini, Soekarno mulai berkenalan dengan pendiri Muhammdiyah, kiai Achmad Dahlan, yaitu pada waktu diadakannya tabligh di dekat rumah Tjokroaminoto. Maka sejak itu, Soekarno mulai tertarik dengan Achmad Dahlan dan akhirnya mendorong Soekarno untuk selalu menghadiri rabligh-tabligh Dahlan di tempat lainnya. Ketertarikan Soekarno pada Achmad Dahlan karena apa yang dilakukan oleh tokoh pembaru Islam itu berisi sesuatu yang selama ini dicari Soekarno, yaitu regenaration dan rejuvenation yang artinya adalah kebangkitan kembali dan peremajaan Islam. Tjkroaminoto dan Achmad Dahlan telah membuka wacana baru dirinya dalam pembacaan terhadap nash-nash ajaran Islam dengan pemahaman yang baru.

Ketika Soekarno belajar di THS, Bandung, ia berkenalan dengan A. Hasan, tokoh Persatuan Islam (PERSIS). Dari perkenalan sering terjadi percakapan antara keduanya mengenai berbagai masalah dan tak kurang pula dibicarakan masalah agama. Dari percakapan itu ada kesan bahwa Soekarno tadinya tidak banyak mengerti masalah-masalah agama Islam, namun percakapan itu cukup membuka hatinya. Walaupun terjadi perdebatan antara Soekarno dengan A. Hassan mengenai Islam dan Nasionalisme, hubungan antara keduanya tidak pernah renggang. Mereka selalu menganggap sebagai kawan yang selalu menjadi lawan polemiknya.

Pada umumnya pengetahuan Islam Soekarno didasarkan atas buku Lothrop Stoddard, The New World of Islam – dimana “dunia baru”-nya lebih menarik perhatiannya daripada Islam itu sendiri. Namun demikian, perasaan dasar keagamaan pada diri Soekarno pada waktu itu tidak bisa diabaikan. Umpanya ia melukiskan PNI sebagai “bersikap netral terhadap agama,” tidak dalam pengertian orang-orang komunis, yang sama sekali tidak mengakui adanya Tuhan, melainkan dengan maksud untuk memungkinkan semua aliran kepercayaan menjadi anggota partai itu.

Ketika Soekarno dijebloskan dalam penjara Bancey Bandung pada tanggal 28 Desember 1929 sebagai bagian dari penangkapan besar-besaran yang dilakukan Belanda yang mulai gelisah melihat kebangkitan nasionalisme , sebagai orang yang mencintai kemewahan dan jesenangan, Soekarno merasakan sebagai sebuah pengalaman yang menghancurkan. Pada saat itulah Soekarno mulai merasa perlu mempelajari Islam dengan baik.

 

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s