Api Islam Soekarno

Berbagai  problem umat Islam Indonesia,
dan  dalam  hal  ini  umat  Islam di mana
saja ialah kesenjangan yang cukup parah
antara    ajaran   dan  kenyataan.  Dahulu
Bung Karno menyeru umat  Islam  untuk
“menggali api Islam”, karena  agaknya ia
melihat  bahwa   kaum Muslimin saat itu,
mungkin    sampai   sekarang,  hanya  me
mewarisi   “abu” dan “arang“  yang  mati
dan statis dari warisan kultural mereka.

Nurcholis Madjid, 1992
Islam Kemodernan dan KeIndonesiaan

 

Sering orang salah duga. Seperti halnya pada diri Soekarno. Kebanyakan orang menganggap bahwa Soekarno adalah seorang selalu sibuk dengan mengobarkan semangat kebangsaan. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Ada yang terlewat sehingga menyebabkan kebanyakan orang tidak menyebut Soekarno sebagai pemikir Islam. Soekarno sebenarnya mempunyai andil dalam menyumbangkan pikiran-pikiran tentang Islam. Soekarno mempunyai pengetahuan yang lebih luas ketimbang sejumlah politisi Islam.

Pandangan yang keliru bisa jadi kesalahan terletak pada para sejarawan yang telah menempatkan Soekarno sebagai seorang tokoh nasionalis sekuler, yang sering berhadapan dengan nasionalis Islam. Akibatnya buah pikiran Soekarno yang berkaitan dengan Islam kurang begitu mendapat perhatian yang sewajarnya dari khalayak ramai. Kebanyakan orang tersentak ketika mengetahui buah pikiran Soekarno mengenai Islam begitu inspiratif.

Untuk itu ada baiknya kita mendengarkan apa yang dikatakan Prof Dr Harun Nasution Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Jakarta). “Di IAIN sekarang ini kepada mahasiswa saya anjurkan mempelajari pemikiran-pemikiran Islam Bung Karno karena memang beberapa pemikirannya cemerlang tetapi pada zamannya tidak bisa diterima. Soekarno ingin mendinamisasi ajaran Islam yang pada waktu itu statis.

Hampir sama dengan pendapat diatas, Ahmad Wahib dalam Catatan Harian Pergolakan Pemikiran Islam menulis bahwa pikiran-pikiran Soekarno tentang Islam sangat hidup, begitu inspiratif dan merupakan bagian dari kebangkitan pemikiran Islam sedunia, walaupun dalam beberapa bagian sulit bagi kita menerimannya.

Sampai saat ini ada beberapa sarjana membahas tentang Soekarno kaitan dengan Islam. Seperti Tosan Suhastoyo, sarjana Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, membahas Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno dan Hatta (1920-1930), Badri Yatim, sarajana Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis Soekarno, Islam dan Nasionalisme. Sebuah disertasi yang dikerjakan Mohammad Ridwan Lubis dengan judul “Pemikiran Soekarno tentang Islam dan Unsur-unsur Pembaharuannya“, yang dipertahankan di depan penguji pada tanggal 14 Juli 1987 di perguruan tinggi yang sama. Mungkin saja ada tulisan lain yang belum diketetahui.

Sosialisasi

Soekarno dibesarkan dalam masyarakat agraris, yang kebanyakan penganut agama Jawa, kalau boleh meminjam istilah Cliford Gertz. Tetapi setelah Soekarno pindah ke Surabaya, ia tinggal di rumah HOS Tjokroaminto, tokoh Sarekat Islam yang terkenal. Pada waktu itu, Tjokroaminoto sudah tiga tahun lamanya memimpin Sarekat Islam (SI). Organisasi berubah dari sebuah organisasi dengan tujuan terbatas – perbaikan kaum pedagang yang beragama Islam – menjadi sebuah organisasi yang kian lama bersifat politik dan akhirnya menjadi partai, yang menjadi tempat bertemu beragam orang.

Di sana Soekarno mulai mengenal Islam lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Ia belajar di pengajian Muhamadiyah, Surabaya.  Setelah menyelesaikan HBS di Surabaya, kemudian Soekarno pindah ke Bandung untuk melanjutkan THS. Kemudian Soekarno mendirikan Algemeene Studi Club di Bandung, yang nanti menjadi cikal bakal Perserikatan Nasional Indonesia kemudian berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia. Dan Soekarno menjadi ketuanya.  Sebuah partai politik yang berdasarkan paham kebangsaan.

Karena aktivitasnya dalam pergerakan kemerdekaan, Soekarno ditangkap pemerintah Hindia Belanda dengan tuduhan hendak menggulingkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda.  Soekarno dimasukkan dalam penjara Banceuy pada bulan Desember 1929. Setelah mendapat putusan hukuman penjara selama 4 tahun, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Selama di penjara Soekarno dilarang membaca buku-buku politik. Di dalam penjara Sukamiskin, ia mulai merenungkan arti hidup ini. Di tempat itu pula ia mulai berhasrat mempelajari agama Islam secara lebih mendalam.  Soekarno membaca buku-buku Islam yang diberikan tokoh Persis (Persatuan Islam) Ahmad Hasan yang sering mengunjunginya. Soekarno  juga mendalami Al-Quran. Sejak itu, sebagaimana dituturkan kepada penulis biografinya, Cindy Adam, Soekarno tidak pernah meninggalkan salat lima waktu.

Klik Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s