Soekarno, Kutu Buku dan Koleksi Buku

Dr Mahar Mardjono, mantan tim ketua Kepresidenan (1968-1970) menceritakan apa yang menarik perhatiannya ketika ia memasuki Istana Negara pertama kali untuk mengobati Presiden Soekarno, yang dipagi hari awal bulan Agustus 1965 menderita pusing, sempoyongan  dan muntah. Dr Mahar Mardjono yang berada di serambi, yang penuh dengan berbagai buku di berbagai bidang. Dan ketika ia berada diserambi belakang Istana, di mana Presiden Soekarno bercelana pendek dan berbaring, di atas tempat tidur itu. Dr Mahar Mardjono melihat berbagai  surat kabar dan majalah baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dari keterangan Dr Mahar Mardjono, kesimpulan yang diperoleh adalah Presiden Soekarno sangat berminat membaca dan mengoleksi sejumlah buku. Kesukaannya itu membawa dia sering menulis.

Sebenarnya awal ketertarikan  dengan buku, dituturkannya dalam autobiografinya, “ Pak Tjok  adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya padaku buku-bukunya, diberikan kepadaku miliknya yang berharga. Ia hanya tidak sanggup memberikan kehangatan yang kuharapkan langsung dari pribadinya kepada pribadiku. Karena tak seorangpun yang mencintaiku seperti yang kuidamkan, aku mulai mundur. Kenyataan-kenyataan yang kulihat dalam duniaku yang gelap hanyalah kehampaan dan kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri kedalam apa yang dinamakan orang Inggris : “Dunia Pemikiran”. Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputusasaan yang kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira. “

“ Seluruh waktu kugunakan untuk membaca. Sementara yang lain-lain bermain-main, aku belajar. Aku mengejar ilmu pengetahuan di samping pelajaran sekolah. Kami mempunyai perpustakaan yang besar di kota ini yang diselenggarakan oleh perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang Theosofi, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, di mana tidak ada batasnya buat anak seorang miskin. Aku menyelam sama sekali ke dalam dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku. Cita-cita mereka adalah penderitaan dasarku.”

Kesukaannya membaca itu mengantarkannya secara mental berbicara dengan Thomas Jefferson (penulis Declaration of Independence), George Washington (Presiden Amerikat Serikat Pertama), Paul Reverve, Gladstone, Sidney and Beatrice Webb, yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris, Mazzini Cavour, Garibaldi, Karl Marx (Nabi Kaum Proletar), Frederich Engels, Lenin, Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Soekarno mengibaratkan dirinya pernah mengalami kehidupan negarawan-negarawan besar itu. Soekarno sebenarnya adalah Voltaire. Soekarno adalah Danton, pejuang besar dari Revolusi Perancis. Soekarno menjadi tersangkut secara emosional dengan negarawan-negarawan diatas.

Karena Soekarno berdiam di kediaman H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam yang terkenal pada masa itu, maka ramailah berkunjung tokoh-tokoh pergerakan nasional. Kalau boleh menggunakan istilah John D Legge, yang menulis buku Sukarno Biografi Politik, di sana Soekarno tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berdialog dengan tokoh-tokoh itu. Kesenangan Soekarno membaca mengantarkan pada kata-kata pemikir India, Swami Vivakananda yang berbunyi demikian,” Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pakailah pengetahuanmu untuk diamalkan.” Ketika kesadaran itu mulai muncul, Soekarno mulai menerapkan apa-apa yang telah dibaca. Soekarno mulai memperbincangkan antara peradaban yang megah dari pikirannya dengan tanah airnya sendiri yang sudah bobrok. Pemikirannya ini akhirnya menyadarkan Soekarno menjadi seorang nasionalis yang menyala-nyala dan menyadari bahwa tidak ada alasan bagi anak muda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan diri dalam dunia khayal. Kenyataan yang dihadapi oleh Soekarno, negerinya miskin, malang dan dihinakan. Kesadaran itu pula menyebabkan menyebabkan Soekarno mendirikan Tri Koro Dharmo dan menulis di Oetoesan Hindia, milik Sarekat Islam.

 

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s