Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno

Ketika menerima gelar Doctor Honoris Causa dalam Falsafah Ilmu Tauhid dari Universitas Muhammadiyah, Jakarta, 3 Agustus 1965 di Istana Negara, Presiden Soekarno dalam pidatonya, ”Tauhid adalah Jiwaku” mengatakan bahwa ia kurang memadai mendapatkan pejalaran agama Islam. Hal ini disebabkan latar belakang orang tua. Sambil mengacu pada ayat 86 dari  Asyo Sya’ara, ia menjelaskan bahwa sesungguhnya ayahnya termasuk orang-orang yang sesat, ia menganut apa yang dikenal  orang sebagai agama Jawa.

Soekarno mulai tetarik pada agama Islam, ketika berusia 15 tahun. Pada waktu itu Kiai Hadji Achmad Dahlan, seorang tokoh Muhammadiyah berdakwah di dekat kediaman HOS Tjokroaminoto, di mana Soekarno mondok. Ia mengaku mengerti dakwah Kiai Achmad Dachlan, sehingga ia mengikuti dakwah-dakwah selanjutnya dari Kiai Achmad Dachlan di Surabaya.

Dekat Allah

Di dalam sel yang kecil di Sukamiskin, ia mulai merenungkan tentang Sang Pencipta yang menciptakan jagat raya ini. Berkaitan dengan agama Islam, di tempat itu ia mulai berhasrat sekali mempelajari agama Islam, dengan membaca berbagai kitab-kitab agama Islam.

Keberangkatan Soekarno pada tanggal 17 Februari 1934 menuju Endeh tempat pembuangannya merupakan suatu perjalanan menuju kesepian. Baginya yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian umum, keberangkatannya dari pula Jawa itu merupakan pendahuluan dari apa yang akan dirasakannya dalam kehidupan sunyi-sepi yang menantikannya.  Pernah ia mengatakan bahwa dirinya yang berada di dalam kesepian dan kesendirian itu bagaikan burung Elang yang dipotong sayapnya.

Kedatangannya di Flores tidak mendapatkan sambutan apa-apa, bahkan pada mulanya banyak orang takut kepadanya. Ia mengatakan bahwa hanya ada dua atau tiga orang yang berani berkunjung kepadanya. Di tempat pengasingan itu, untuk pertama kalinya ia merasakan ketidakberdayaan  melawan tekanan penguasa kolonial. Ia teringat kembali akan keambrukan semua teorinya yang terdahulu di dalam sel penjara di tanah Pasundan. Di dalam kesepiannya itu Soekarno menyadarkan diri pada perlindungan Allah.

Selama berada di Endeh, selain membaca buku-buku Islam, seperti The Spirit of Islam, karangan Sayed Ameer Ali dan The Rising Tide of Color, The New World of Islam Lothrop Stoddard, ia juga seringkali berkorespondensi dengan Achmad Hassan, seorang ulama Islam yang terkenal di Bandung. Selama mempelajari Islam secara intensif ia mengalami semacam pertobatan.

Di dalam surat-surat Soekarno, yang dikenal dengan surat-surat Islam dari Endeh, Soekarno banyak berbicara tentang keadaan umat Islam di Indonesia yang diliputi oleh kebekuan dan kekolotan itu, Soekarno mengeritik kiai dan ulama yang dianggap kurang mempunyai kesadaran sejarah. Walaupun mereka  bisa mengutip ayat-ayat Al-Qur”an dengan benar, pengetahuan mereka mengenai sejarah umumnya kurang memadai.

Kegandrungan Soekarno akan pembaruan, yang kelihatannya memang bisa dimaklumi  mengingat kelumpuhan yang sedang menimpa dunia Islam, mendorongnya untuk melangkah jauh melampui batas-batas yang dhormati oleh setiap Muslim, bahkan oleh mereka yang menginginkan pembaruan sekalipun. Soekarno mempertanyakan kumpulan hadits Al Buchari yang sudah dinyatakan sahih itu dan percaya bahwa Buchari telah memasukan ke dalam kumpulan +hadits-hadits yang lemah,” yang untuk sebagian besar telah menyebabkan kemunduran Islam.

Di Bengkulu tempat pembuangan berikutnya, Soekarno menemukan satu lapangan baru di dalam “perjuangannya yang tak kenal damai”. Karena ia dilarang melawan kekuasaan asing, maka “murid Historische van Marx “ itu – sebagaimana ia dengan bangga menamakan dirinya – mengalihkan konsepnya mengenai dialektika yang terus berlangsung dari gelanggang politik ke gelanggang agama. Tetapi ia tidak melepaskan tujuan yang lebih besar yakni mencapai kemerdekaan dari dominasi Barat.

Di Bengkulu, Soekarno terjun ke dalam gerakan Muhammadiyah pada tahun 1938. Ia bekerja dan berjuang di bawah panji-panji modernisme Islam  Majalah Muhammadiyah Pandji Islam yang terbit di Medan memberi tempat bagi tulisan-tulisannya. Di sinilah polemiknya dengan M Natsir terjadi, yang berkenaan dengan bentuk negara Indonsia setelah merdeka. Apakah agama (Islam) dan negara bersatu atau berpisah? Soekarno dalam polemik ini merujuk buah pikiran tokoh-tokoh nasionalis Islam di Turki, India dan Timur Tengah.

Selengkapnya…..

2 pemikiran pada “Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno

  1. Ping balik: Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s