Soekarno, 1 Juni 1945 dan Pancasila: Suatu Penjelasan

Dua minggu yang lalu, surat kabar ini lewat karikaturnya mempertanyakan mengapa lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 tidak diperingati ? Jawabannya tentu ada bermacam-macam sebab. Tetapi yang jelas peringatan yang berkaitan dengan peristiwa bersejarah tersebut, terakhir kalinya pada tahun 1968. Setelah tahun tersebut, kalau ada yang memperingatinya hanya untuk golongan terbatas saja.

Meskipun persitiwa bersejarah itu tidak diperingati bahkan dilarang oleh pemerintah Orde Baru, tetapi ada baiknya, kalau saya mencoba memberi beberapa penjelasan tentang pidato Soekarno yang cemerlang dan bersejarah itu dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Dalam awal pidatonya yang bersejarah itu, Soekarno mengatakan kepada anggota bahwa selama berlangsungnya sidang pertama BPUPKI yang berlangsung antara 29 Mei – 1 Juni 1945, belum ada orang yang mengemukakan dasar negara. Dan Soekarno adalah orang pertama yang akan mengemukakan hal tersebut.

Setelah itu Soekarno berbicara tentang perlunya Indonesia Merdeka dan juga tentang pengertian dasar negara, di mana dikatakannya bahwa setiap negara mempunyai dasar negara atas pandangan hidup. Sebagai contoh, Soekarno menyebutkan, Hitler mendirikan Jerman berdasarkan National Sozialirische Weltanschauung, Uni Soviet didirikan Lenin berdasarkan Marxistische Historisch Mataerialische Weltanschauung, negara Dai Nippon didirikan Nippon berdasarkan Tenno Kondo Saishin, dan agama Islam sebagai landasan negara Arab Saudi Arabia yang didirikan oleh Ibnu Saud serta Sun Yat Sen mendirikan Tiongkok berdasarkan San Min Chu I.

Selanjutnya Soekarno mengatakan bahwa ia setuju dengan pendapat dari tokoh Islam, seperti Dr Soekiman dan Ki Bagoes Hadikoesomo, bahwa perlunya mencari suatu persetujuan paham. Oleh karena itu, Soekarno menekankan tentang pentingnya mendirikan suatu negara Indonesia untuk semua orang. Untuk itu ada baiknya kalau kita simak kata-kata Soekarno itu.” Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk semua golongan? ,,,sudah tentu tidak? …Kita mendirikan suatu negara “semua buat semua,” lewat kata-kata diatas, sebenarnya Soekarno secara tidak langsung mengingatkan kita kepada polemiknya dengan Natsir pada tahun 1940, ketika Soekarno berada di pembuangan. Di sanalah melalui tulisannya di Pandji Islam,” Sebab apa Turki memisahkan agama dari negara ? “ Melalui tulisan itu, Soekarno ingin menegaskan tentang tidak perlu adanya persatuan dengan negara. Soekarno tidak melihat kemungkinan bisanya tercipta persatuan ini di negeri yang banyak orangnya bukan beragama Islam. Sebab bisa diduga, kalau wakil-wakil bukan Islam dan sebagian besar intelektual beragama Islam akan menolak dengan segala tenaga.

Kesan yang terlihat, bahwa pemisahan agama dan negara tampaknya sejalan dengan pendiriannya, setiap masalah yang tidak dinyatakan secara tegas dalam Al-Qur”an dan Hadis berarti memberi kebebasan bagi umat Islam untuk merumuskan dengan kondisi sosial mereka, asal tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Menurut Soekarno sendiri, bahwa istilah negara Islam hanyalah merupakan rumusan ulama dan intelektual Islam belaka, tanpa dasar yang tegas dari sumber ajaran Islam. Oleh karena itu, tidak ada keharusan negara Islam, yang dituntut dari umat Islam adalah yang diterapkan etika Islam dalam negara yang didirikan. Hal ini bisa diperoleh kalau masing-masing umat menyadari tanggung jawab bersama terhadap perwujudan cita-cita Islam dalam negara kebangsaan.

Oleh karena itu, apabila ditinjau dari jalan pemikiran Soekarno, tidaklah mengherankan, kalau Soekarno mengajukan dasar pertama yang baik menurut pendapatnya untuk dijadikan dasar negara Indonesia Merdeka,”… ialah dasar negara kebangsaan. Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia.” Pilihan Soekarno tersebut, dapat diartikan bahwa aspirasi tentang perlunya dasar negara Islam telah dikesampingkan dan bisa jadi ia menganggap cita-cita semacam itu sulit menampung aspirasi masyarakat Indonesia yang majemuk itu dan seperti apa yang dikatakan di atas, pilihan dasar negara Islam akan ditolak mentah-mentah oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia. Jadi lewat dasar negara kebangsaan, Soekarno menawarkan alternatif yang mampu menampung aspirasi masyarakat Indonesia yang majemuk itu.

Sebenarnya nasionalisme yang ditawarkan Soekarno bukanlah berarti nasionalisme dalam arti yang sempit. Nasionalisme yang diajukan Soekarno itu hendaknya perlu dipahami bersama dengan prinsip-prinsip dasar kedua Internasionalisme.

 

Selengkapnya…..

Satu pemikiran pada “Soekarno, 1 Juni 1945 dan Pancasila: Suatu Penjelasan

  1. Ping balik: Soekarno, 1 Juni 1945 dan Pancasila: Suatu Penjelasan « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s