Soekarno dan Islam

Seringkali orang salah duga. Seperti halnya kepada diri Soekarno. Kebanyakan orang menganggap bahwa Soekarno adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengobarkan semangat kebangsaan. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian, Sesuatu hal yang terlupakan adalah bahwa Soekarno juga mempunyai andil dalam menyumbangkan pikiran-pikiran tentang Islam.

Persepsi yang keliru disebabkan kesalahan para sejarawan yang menempatkan sebagai seorang tokoh nasionalis sekuler, yang sering berhadapan dengan nasionalis Islam. Akibatnya pikiran-pikiran yang berkaitan dengan Islam tidak begitu mendapat perhatian sewajarnya.

Untuk itu ada baiknya mendengarkan apa yang dikatakan Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Harun Nasution,” Di IAIN sekarang ini kepada mahasiswa saya anjurkan mempelajari pemikiran-pemikiran Islam Bung Karno karena memang beberapa pemikirannya cemerlang tetapi pada zamannya tidak bisa diterima. Soekarno ingin mendinamisasi ajaran Islam yang waktu itu itu statis. Pada waktu itu itu semua dpahami sebagai kehendak Tuhan, kita tak perlu berusaha. Tuhanlah yang akan memerdekakan kita dari Belanda. Tapi Soekarno berkata: Tidak! Nasib suatu bangsa tak akan berubah jika bangsa itu merubahnya senditi. Jika kita ingin merdeka kita harus mengusir Belanda.” Begitu kata Harun Nasution dalam Mahasiswa Dalam Sorotan. (1984)

Hampir sama dengan pendapat di atas, Ahmad Wahid, Intelektual muda HMI dalam Catatan Harian Pergolakan Pemikiran Islam menulis, pikiran-pikiran Soekarno tentang Islam sangat hidup, begitu inspiratif dan merupakan bagian dari kebangkitan pemikiran Islam sedunia, walaupun dalam beberapa bagian sulit bagi kita menerimanya.

Sampai saat ini ada beberapa sarjana membahas Soekarno dalam kaitannya dengan Islam. Seperti Tosan Suhastoyo, sarjana Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, membahas Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno dan Hatta (1920-1930), Badri Yatim, Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis Soekarno, Islam dan Nasionalisme dan sebuah disertasi yang dikerjakan Muhammad Ridwan Lubis dengan judul Pemikiran Soekarno tentang Islam dan Unsur-unsur Pembaharuannya, yang dipertahankan di depan penguji pada tanggal 14 Juli 1987 di perguruan tinggi yang sama.

Sarjana berkebangsaan Jerman, Bernhard Dahm dalam bukunya Soekarno and the Struggle for Indonesian Independence membahas tulisan-tulisan Soekarno mengenai Islam. Ketika Soerkarno berada dalam Pengasingan, baik di Endeh dan Bengkulu, sebanyak 22 halaman. Sedangkan Deliar Noer dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia menulis sebanyak 19 halaman tentang perdebatan antara Soekarno dengan M Natsir, berkaitan dengan perlu tidaknya persatuan agama dengan negara. Berdasarkan buku-buku di atas pembahasan tentang kaitan Soekarno dan Islam ditulis.

Sosialisasi

Soekarno  dibesarkan dalam masyarakat agraris, yang kebanyakan penganut “agama Jawa” kalau boleh meminjam istilah Cliford Geertz. Tetapi  setelah ia pindah ke Surabaya, Soekarno berdiam di kediamannya H.O.S. Thokroaminoto, tokoh Sarekat Islam. Di sana dia mulai mengenal Islam lebih banyak dibandingkan masa sebelumnya. Setelah menyelesaikan Hogere Burger School di Surabaya, kemudian ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan Technische Hogere School, di sana ia berkenalan dengan Achmad Hassan, tokoh Persatuan Islam.

Selengkapnya…..

Satu pemikiran pada “Soekarno dan Islam

  1. Ping balik: Soekarno dan Islam « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s