Soekarno dan Persatuan

Sejarah  Indonesia mencatat Soekarno sebagai tokoh yang mempersatukan masyarakat Indonesia yang menghuni sekitar garis khatulistiwa. Melalui tulisan dan pidato-pidatonya, ia senantiasa berbicara mengenai masalah persatuan. Ada pendapat yang mengatakan pemikiran politik Soekarno pada dasarnya bermuara pada persatuan.

Dalam pergerakan nasional terdapat organisasi yang yang mempunyai tujuan dan strategi politik yang tidak selalu sama. Di samping itu tidak terlihat adanya persatuan, mereka melawan secara terpisah-pisah. Ada pertentangan yang menimpa Sarekat Islam, gerakan massa pertama dalam sejarah Indonesia modern, yang mengakibatkan adanya perpecahan. Pertentangan antara SI dan PKI terpecah menjadi dua, yaitu SI Putih dan SI Merah, yang mengubah namanya menjadi Sarekat Rakyat. Usaha HOS Tjokroaminoto mencoba untuk memelihara persatuan partai gagal.

Nasionalisme

Suasana waktu itu sangat dipengaruhi oleh Soekarno, dan pada tahun 1926-1927 Soekarno menulis pada majalah politik Indonesia Moeda dalam tiga kali penerbitan berturut-turut dengan judul “ Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.” Dalam tulisan tersebut ia mengakui adanya perbedaan antara ketiga aliran pemikiran tersebut, tetapi dengan adanya persatuan tidak mustahil bangsa Indonesia mampu melawan penguasa kolonial. Ia sadar bahwa kelebihan jumlah penduduk tidak ada gunanya kalau tidak dibarengi dengan adanya persatuan. Ia melihat penguasa kolonial memecah belah masyarakat Indonesia. Hanya dengan cara itu penguasa kolonial  mampu melemahkan pergerakan Indonesia. Dalam alinea terakhir, ia menegaskan bahwa  ketiga aliran pemikiran tersebut mempunyai tugas, tujuan dan musuh yang sama yaitu mengusahakan kesatuan, Indonesia Merdeka dan Belanda.

Dr Ruth McVey, penulis sejarah modern Indonesia mengatakan bahwa  Soekarno hanya melihat rakyat Indonesia sebagai suatu kelompok yang tidak terbagi ke dalam kelas. Aliran  dan isme-ismelah yang membagi masyarakat. Dengan nasionalisme, ia mencoba menyatukan  aliran-aliran yang berbeda itu dalam satu arus. Kaum marxis dan Islam dapat hidup dalam tubuh nasionalisme seperti di rumah sendiri.

Pancasila

Pidato yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 dengan judul “Pancasila “ merupakan usaha Soekarno untuk mewujudkan sintesis dari persatuan dalam bentuk yang nyata. Ia merumuskan pemikirannya dengan melihat kenyataan yang ada. Para pemimpin Islam menghendaki negara Indonesia berdasarkan Islam dan juga tuntutan kepemimpinan Islam untuk memperoleh perwakilan yang memadai di pusat kekuasaan politik. Menurut Harry J Benda, diskusi tentang negara sekuler atau Islam adalah nomor dua dibandingkan dengan masalah yang sebenarnya  yaitu keseimbangan politik.

Dengan mengajukan Pancasila sebagai pandangan hidup, sebenarnya  Soekarno tidak langsung mencoba pilihan antara negara sekuler atau Islam, kata John D Legge. Untuk memuaskan golongan Islam, ia menawarkan prinsip ketiga, yaitu mufakat, di mana golongan Islam dimungkinkan mewarnai kehidupan bangsa Indonesia.

Dengan Pancasila, sebagai pandangan hidup bersama yang baru, diharapkan menjadi tali pengikat masyarakat Indonesia yang masuk ke dalam satu bangsa yang betul-betul bersatu. Tidak mengherankan kalau Soekarno meletakkan nasionalisme sebagai prinsip dasar utama. Pemikiran mengenai bangsa itu, mengutip banyak kata Ernst Renan dan Otto Bauer yang berbicara mengenai masalah kebangsaan.

Selengkapnya…..

Satu pemikiran pada “Soekarno dan Persatuan

  1. Ping balik: Soekarno dan Persatuan « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s