Soekarno dan Rakyat

Adalah menarik perhatian tingkah laku masa pendukung Partai Demokrasi Indonesia yang sebagian besar terdiri dari generasi muda dan kalangan rakyat jelata kelas bawah. Walaupun Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia tidak memberikan instruksi, tetapi tetap saja gambar-gambar Soekarno selalu ikut ditampilkan dalam setiap kampanye Pemilu 1987.

Kejadian tersebut dapat ditafsirkan sebagai manifestasi kerinduan terhadap tokoh yang berkarisma besar itu. Kerinduan semacam itu harus ditelusuri hubungan Soekarno dengan rakyat Indonesia, yang menyebabkan ia menjadi tokoh idola di kalangan muda yang sedang mencari identitas diri.

Perkenalan Soekarno dengan rakyat Indonesia secara luas diawali dengan situasi represif pada masa kekuasaan kolonial Hindia Belanda yang membuat rakyat mengharapkan atau menanti kedatangan tokoh penyelamat yang mampu melepaskan diri mereka dari penderitaan sepanjang kehadiran bangsa Barat ke dalam banyak wilayah kepulauan Nusantara.

Awal mulanya rakyat yang tertindas menaruh harapan besar terhadap HOS Tjokroaminoto, tetapi Tjokroaminoto menolak untuk dianggap sebagai Erucokro “Penyelamat.” Justru Tjokroaminoto menganggap yang dapat dianggap atau dikatakan sebagai penyelamat rakyat Indonesia itu adalah ideologi sosialisme.

Sebagai penggantinya, Soekarno dianggap sebagai penyelamat yang mampu membebaskan rakyat Indonesia dari cengkraman kolonialisme  itu. Menjelang akhir tahun 1920-an, beribu-ribu orang berbondong-bondong untuk menghadiri pidato Soekarno dan kemana Soekarno pergi, rakyat mengikutinya.

Zaman Emas

Pidato Soekarno mengikuti gaya gurunya, HOS Tjokroaminoto yang mendasarkan pada gaya pengucapan dalang. Hal itu tentu saja memberi kesempatan untuk digunakan kiasan-kiasan tradisional dan gaya suara tradisional dengan terampil ditampilkan oleh singa podium Soekarno, untuk membangun yang tidak ada sebelumnya dengan para pendengar mereka.

Massa pendengarnya semakin menjadi tergugah ketika Soekarno sendiri menghidup-hidupkan harapan zaman emas untuk menuju suatu masa depan yang gemilang. Ia berbicara tentang jalannya sejarah Indonesia. Hal itu tentu saja mengingatkan pemikiran historis Jawa tradisional yang dipengaruhi tulisan-tulisan kosmologi Hindu, yang memandang sejarah sebagai suatu lingkaran zaman yang bergerak.

Dulu Indonesia mengalami masa kejayaan, tetapi masa-masa penjajahan adalah masa gelap, kata Soekarno, masa mendatang adalah masa yang gemilang. Ramalan semacam itu mendapat tanggapan positif dari rakyat Indonesia khususnya rakyat Jawa yang mempercayai jalannya sejarah berbentuk siklus itu.

Sehingga tidak mengherankan kalau masyarakat petani, melihat Soekarno sebagai Ratu Adil, yang bertugas membawa perintah dan mengembalikan keharmonisan yang pernah dicapai dahulu serta menyatukan kerajaan setelah suatu masa kacau. Situasi semacam itu menempatkan dirinya sebagai penyelamat. Sehingga kartu keanggotaan PNI-nya yang berwarna merah sebagai jimat yang akan menjamin bagi mereka tempat dan kedudukan zaman emas,

Komentar terhadap betapa besarnya pengaruh Soekarno pada waktu itu. Seorang Sosialis Belanda, J De Kadt dalam bukunya berjudul De Indonesiche Tragedie menulis kata-kata sebagai berikut :

 

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s