Soekarno, Kapitalisme dan Imperialisme

Pidato-pidato maupun tulisan-tulisan Soekarno sering diwarnai kritik terhadap kapitalisme maupun imperialisme hingga akhir kekuasaannya. Hal ini diawali dengan tulisan-tulisannya pada surat kabar Oetoesan Hindia pada tahun 1910-an milik Sarekat Islam, sebuah organisasi massa yang pertama, di mana Soekarno menjadi anggota. Di sana Soekarno menulis,” Hancurkan segera Kapitalisme yang dibantu oleh budaknya Imperialisme. Dengan kekuatan Islam Insya Allah itu segera dilaksanakan..” Di lain kesempatan mengatakan bahwa apabila Indonesia telah merdeka, yang memegang tampuk pemerintahan adalah bukan pengikut-pengikut kapitalisme maupun imperialisme. Kalau tidak, tidak mungkin tercipta masyarakat adil dan makmur, tanpa ada penghisapan manusia atas manusia.

Kapitalisme, kata Soekarno, ternyata menyebabkan kemiskinan dan kesengsaraan. Sistem ini adalah sistim yang mengeksploitisir sesamanya. Soekarno begitu marah, ketika mendengar ucapan penguasa Belanda yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia cukup hidup dengan pendapatan segobang sehari. Menurut Soekarno, Imperialisme adalah suatu nafsu. Suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain. Dia mengindentikan imperialisme dengan kolonialisme, dimana kolonialisme kuno pada masa VOC dan kolonialisme modern pada masa Hindia Belanda  Adanya imperialisme ini merupakan syarat yang perlu bagi hidupnya kapitalisme. Kata Onghokham, dilihat dari sudut ilmu sejarah maka perbedaan itu terletak pada sifat dan struktur kolonialisme yang diungkapkan pada kemauan dan kesanggupan Belanda untuk membentuk masyarakat Indonesia.

 

Marhaen

Ternyata sistem penjajahan yang berlangsung selama ratusan tahun bersendi atas kesuburan tanah, jumlah tenaga kerja yang berlimpah dan murah tidak banyak memberi peluang bekerja di luar pertanian dan terasa sulit mencari dan mendapatkan kesempatan kerja yang layak. Di samping itu ada permintaan tenaga kerja untuk kebutuhan perkebunan semakin meningkat, sedangkan tanah garapan semakin menyempit, hal itu membuat posisi sosial –ekonomis penduduk daerah pedesaan menjadi lemah, disebabkan mereka turun derajat dari petani menjadi buruh di daerah pedesaan. Istilah populernya Soekarno, Marhaen. Kata ini merupakan simbol penderitaan, akibat penjajahan yang dialami rakyat Indonesia selama ratusan tahun.

Konsep Marhaen yang dirumuskan Soekarno, tentu berlainan dengan konsep Proletarnya Karl Marx. Disini terlihat Soekarno bersifat kritis tidak begitu saja mengambil konsep yang dllontarkan pemikir-pemikir sosialis Barat. Konsep Proletar hanya mempunyai relevansi di negara-negara industri Barat, untuk masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat agraris tidak memungkinkan.

Kalau konsep Marhaen mewakili sebagian besar anggota masyarakat yang sengsara dan tertindas, sedangkan Proletar hanya mencakup sedikit anggota masyarakat saja. Dan yang membedakan keduanya adalah kaum Marhaen yang memiliki alat produksi, tetapi kaum proletar tidak memiliki alat produksi dan hanya menjual jasa. Melalui Marhaenisme sebagai teori perjuangan dipakainya untuk mengubur sistem kapitalisme maupun imperialisme dari muka bumi Indonesia yang kaya sumber alamnya, tetapi rakyatnya miskin.

Melalui tulisannya, “ Swadeshi dan Massa-Aksi di Indonesia” pada majalah Soeoloeh Indonesia Moeda (1932), Soekarno melukiskan akibat adanya penjajahan tidak memungkinkan munculnya kelas menengah dalam arti ekonomi, tidak seperti apa yang terjadi di India. Sebenarnya, kata Benyamin Higgins sekurang-kurangnya ada dua kesempatan dalam sejarah Jawa yang memungkinkan dorongan besar untuk tinggal landas.

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s